
"Lili, apakah kamu baik-baik saja? "
"Pergilah,"
"Menjauhlah dari semua ini, kamu berhak berbahagia nak. " Lisa seolah-olah mendengar suara ibunya di balik kegelapan.
"Iya, lebih baik kamu menjauh sayang. "
"Menjauhlah dari semua ini. " Lisa juga mendengar suara yang sangat mirip dengan suara Caroline. Orang yang selama ini telah membantu kehidupannya.
"Sayang, cucu kakek. Pergilah sejauh mungkin. "
"Pergilah ke suatu tempat dimana mereka tidak akan bisa menyentuhmu. "
"Kakek mengharapkan kebahagiaanmu. "
"Berbahagialah Sayang. "
Tiba-tiba saja Lisa terbangun dari tidur.
Keringatnya begitu bercucuran di area jidatnya.
"Mimpi apa aku? " Lisa langsung duduk dan melihat seorang laki-laki yang sedang tertidur di atas sofa.
"Apa maksud mimpi ini? " Lisa sedikit berfikir.
"Apakah aku harus meninggalkan semua ini? pergi sejauh mungkin, dimana mereka tidak akan bisa menemukanku. "
Kemudian Lisa mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas.
Beberapa pesan terlihat baru saja masuk ke dalam emailnya.
Lisa dengan cepat membaca isi pesan tersebut.
"Hmp, ini artinya aku bisa melakukannya. "
"Dalam waktu 3 hari lagi, aku akan mendapatkan uang ratusan juta dari tulisanku. "
"Uang ini bisa aku gunakan untuk membeli rumah yang kecil, membangun bisnis kecil dan menyekolahkan anakku. "
"Ha, aku mempunyai ide. " Lisa tersenyum puas dengan ide yang sedang berada di kepalanya.
Ia pun dengan cepat menulis idenya di dalam ponselnya.
"Baiklah, aku siap melakukan ini semua. Aku tidak takut kehilangan apapun. " Wajah Lisa terlihat begitu serius.
Lisa menelfon Pak Toni.
"Ayolah, angkat Pak Toni. "
"Ini sangat darurat. "
Lisa berulang kali menelfon Pak Toni.
Dan akhirnya....
"Hallo, ada apa Nona? "
"Kenapa anda menelfon saya di jam segini?"
"Baru menunjukkan jam 3 pagi Pak Toni. "
"Hmp, "
"Saya ada permintaan Pak. "
__ADS_1
"Katakanlah. "
"Saya sudah menuliskannya dan saya telah mengirimkannya ke email Bapak. "
"Tolong lakukan segera ya Pak. "
"Saya ingin pergi secepat mungkin. "
Lisa pun mematikan panggilan telfonnya.
"Ini sudah beres. " Lisa tersenyum puas.
.......
Pagi harinya.
"Apa yang sedang kau lakukan? " Adam tiba-tiba saja mengejutkan Lisa.
"Aku tidak melakukan apa-apa. " Lisa kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kau membuat apartementku berantakan. Kertas apa ini?" Adam terlihat memendam amarahnya.
"Aku menulis, jangan menggangguku. "
"Kauuu, " Adam menunjuk Lisa, karna sebagian kertas berada di perutnya dan malahan tadi berada di atas kepalanya.
"Diamlah. " Lisa meletakkan telunjuknya kemulutnya sebagai isyarat menyuruh Adam untuk diam.
"Aku tidak bisa tinggal diam soal ini. "
"Kau merusak hari cerahku. " Adam pergi meninggalkan Lisa dan membanting pintu kamar itu.
"Hei, kau menganggu konsentrasiku. " Lisa berteriak dari dalam kamar apartement.
"Kau merusak hari cerahku. " Adam berbicara sendirian.
"Ah, aku sudah selesai. "
"Aku tinggal menemui Pak Toni. "
Dari kejauhan Adam memperhatikan kegilaan Lisa.
"Apa lagi yang akan dia lakukan? "
"Dia benar-benar membuat aku pusing. " Adam memegang kepalanya yang tidak sakit.
"Hei Kau, " Tiba-tiba saja Lisa mengagetkan Adam
"Apa? "
"Dia benar-benar membuatku serangan jantung." Adam berbicara di dalam hatinya.
"Tolong antarkan aku, aku ingin menemui seseorang. Bersiap-siaplah. "
"What, Kau memerintahku? "
"Siapa lagi. Hanya kau dan aku yang ada di apartement ini. " Lisa pergi meninggalkan Adam.
"Dia benar-benar memperbudakku. " Adam mengomel di dalam hatinya.
.......
"Stop, disini. "
"Baiklah Nyonya. " Adam meminggirkan mobilnya.
__ADS_1
"Ha, itu mobilnya. Kau di dalam mobil saja. "
"Aku ingin mengurus sesuatu. " Lisa dengan cepat keluar dari mobil dan masuk ke dalam mobil seseorang.
"What, aku di perlakukan sebagai supir. Seorang mantan ketua geng Mafia di perlakukan sebagai seorang supir. " Adam memukul-mukul setir mobilnya dan memukul kepalanya sendiri.
"Aku benar-benar bodoh telah mencintai si bocil itu. "
"Apakah semuanya sudah selesai Pak? " Lisa bertanya kepada Pak Toni.
"Apakah Nona yakin? " Toni tidak percaya dengan semua ini.
"Saya yakin Pak, seribu persen yakin. " Wajah Lisa terlihat sangat serius.
"Baiklah. " Toni tidak berani menyanggah keputusan Lisa.
"Stempel tanda tangan saya ada bersama bapak. Lakukan sesuka hati Bapak. Yang terpenting serahkan semuanya kepada Aland Bastian."
"Rumah, usaha saya, rumah sakit, berserta semuanya. Saya tidak menginginkannya lagi. "
"Saya lelah dengan semua ini. Akar permasalahannya karena Nyonya Caroline menyerahkan semua hartanya kepada saya. Hal ini membuat keponakannya membenci saya. Ya, seharusnya harta itu berada di keponakannya Aland Bastian. "
"Sepertinya, saya terlahir dengan sejuta masalah yang membuat saya tidak bahagia. Saya ingin memulai semuanya dari nol dan hidup bahagia dengan kedua anak saya. "
"Saya ingin menjauh dari semua ini. Ayah yang lebih mencintai Merry dari pada ibu saya sendiri. Ayah yang lebih mencintai Kirana dari pada diri saya sendiri. Dia memberikan harta yang seharusnya milik saya kepada orang yang sangat dia cintai. Kemudian meninggal dengan cara seperti itu. "
"Apa lagi yang saya harapkan. Ibu kandung saya sudah meninggal dunia. Ayah kandung saya sudah meninggal dunia. Saya yatim piatu sekarang. Saat ini saya hanya ingin berjuang demi anak-anak saya. "
"Saya mulai lelah dengan semua ini Pak Toni. " Lisa memegang tangan Pak Toni.
"Jangan berputus asa Nona Lisa, Nona masih muda dan masih bisa menikah lagi. "
"Lihatlah, Nona wanita yang kuat. Nona cantik, Nona punya karya. "
"Hmp, saya sudah mengetahui berita terbarunya. " Toni tersenyum kepada Lisa.
"Maksudnya? " Lisa bertanya melihat ekspresi Toni yang tidak biasa.
"Buku Nona terjual ratusan juta. Nona bisa membeli rumah, bangun usaha dan menyekolahkan anak-anak dengan menggunakan uang itu. "
"Ucapan saya benarkan? "
Hal itu benar-benar mengagetkan Lisa.
"Ya, dari mana Bapak bisa mengetahui hal ini?"
"Tidak usah di pikirkan. Anggap saja semua ini sebagai keajaiban kehidupan di kehidupan Nona. "
"Be happy Nona Lisa. "
Toni sangat bangga kepada Lisa, karena di umurnya yang tergolong muda, dia tumbuh menjadi wanita yang berani melepaskan dendamnya.
"Ada hal yang ingin saya tanyakan kepada Nona. "
"Apa itu? " Lisa bertanya kepada Toni.
"Kenapa Nona memilih pergi dan menjauh? Kenapa Nona tidak melawan mereka? Orang-orang akan menganggap Nona sebagai wanita bodoh karena membiarkan ini semua begitu saja. " Toni begitu penasaran untuk mendengar jawaban Lisa.
"Ah, jika aku berlaku sebaliknya sama saja aku mempunyai perilaku buruk sepertinya mereka. Aku percaya dengan kata karma. Suatu saat nanti mereka akan mendapatkan karmanya. Hal yang membuatku tenang, aku tidak perlu berbuat apa-apa untuk menghukum mereka. Biarkan karma yang menghukum mereka secara perlahan. Aku sangat percaya dengan itu. "
Mendengar jawaban itu, Toni hanya terdiam.
"Lihat saja apa yang akan terjadi dengan mereka untuk selanjutnya. Aku tinggal mendengar dan melihat saja. "
"Kenapa aku begitu takut mendengar jawaban itu. " Toni berbicara di dalam hatinya.
__ADS_1
"Bulu kudukku terasa merinding. " Toni berusaha untuk berperilaku setenang mungkin.
bersambung.