
Melati sedang bertanya kepada ART paru baya apakah Agam mempunyai wanita lain atau gimana.
Ternyata semuanya di luar dugaan Melati.
Melati ini adalah wanita pertama yang di bawa oleh Agam ke rumahnya. Bisa di simpulkan Melati ini adalah wanita spesial bagi Agam. Tetapi Melati tidak sadar dengan itu.
*Berarti dia laki-laki terhormat. Dia tidak suka main dengan perempuan jal*ng. Kenapa aku merasa beruntung ya. *
Melati menyantap makanannya dan mulai menghabiskannya.
Bahkan dia tidak bertanya siapa nama wanita baru baya yang menemaninya itu.
Dia hanya memanggil wanita itu dengan sebutan Bibi.
"Bi, Tuan Agam berapa bersaudara? "
"Tuan Agam dua bersaudara. "
Sang Bibi berusaha menyembunyikan fakta bahwa Agam dan saudaranya itu beda Ibu.
Yah, seperti yang di ketahui. Agam ini hanya satu ayah dengan saudaranya yang bernama Adam. Tapi mereka memiliki hubungan yang sangat baik dan bahkan saling melindungi.
Adam memilih hidup terpisah dengan keluarga kecilnya. Sedangkan Agam harus meneruskan semua usaha keluarganya termasuk menjadi Ketua Mafia, yang keadaannya sekarang masih baik dan aman terkendali.
Makan malam sudah usai. Melati membantu Bibi untuk membereskan meja makan.
Melati pernah bertanya, kenapa ini di bereskan secepat mungkin. Lalu bagaimana dengan Agam. Apakah dia tidak makan malam?.
Namun wanita paru baya itu tidak menjawabnya.
__ADS_1
Seperti ada yang di sembunyikan di rumah itu. Tetapi Melati tidak tau apa yang sedang mereka sembunyikan.
"Bi, biar Melati saja yang mencuci piring. "
"Tapi Nona. "
"Tidak apa-apa Bi. Melati hanya ingin melakukannya. "
"Kita melakukannya berdua Nona. Saya tidak enak hati jika tidak membantu Nona. Sebagian tugas saya di rumah ini adalah membantu Nona dan menemani Nona. "
"Menemani saya? "
"Iya, karena Tuan Agam termasuk orang yang sangat sibuk Nona. Katanya Nona akan kesepian di rumah ini. "
*Dia sampai memikirkan hal itu. Apakah dia termasuk laki-laki yang romantis? *
Melati tidak menjawab perkataan wanita paru baya itu lagi.
"Jadi yang memasak itu adalah Bibi? "
Bibi hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Sudah berapa lama Bibi bekerja di sini? "
"Sudah lama Nona. "
*Hanya itu jawabannya. Sudah lama? *
"Iya, sudah lama Bi. Maksud saya sudah berapa tahun? "
__ADS_1
"Semenjak Tuan Agam kecil Nona. Saya selalu mengabdi ke keluarga ini. Tugas saya adalah untuk setia kepada Tuan Agam dan Tuan Adam. Tapi sekarang saya hanya di fokuskan untuk mengabdi kepada Tuan Agam."
*Mengabdi?*
*Mengabdi maksudnya, semua hidupnya adalah untuk lelaki itu. Kok aku ngeri ya membayangkannya. Berarti tidak ada kebebasan sama sekali di hidupnya. Bibi ini tidak pernah merasakan ke bebasan.*
Melati hanya tersenyum mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Bibi.
"Baiklah kalau begitu Bi. Saya permisi masuk ke dalam kamar dulu ya. "
"Iya Nona. "
Melati mulai melangkahkan kaki menaiki tangga.
Rumah mewah dan megah itu begitu sepi. Buat apa kemewahan ini, buat apa kemegahan ini. Tetapi yang terasa hanyalah sebuah rasa yaitu kesepian.
Kesepian dan hampa.
Melati membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamarnya.
*Aku merindukan lelaki itu.
Apa aku bilang? aku merindukan dia, hah. *
Melati menyangkal perkataannya dirinya sendiri. Dia tidak mau mengakui bahwa dirinya merindukan Agam.
"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu."
Bersambung ....
__ADS_1
kira-kira apa yang akan di lakukan Melati ya?