
Di dalam mobil, Melati hanya diam dan melihat ke arah jalanan. Dia tidak memperhatikan Agam sama sekali.
"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?"
"Apa? " Melati kemudian melihat ke arah Agam.
"Kamu seperti banyak pikiran. "
"Aku tidak memikirkan apa-apa. "
"Benarkah? aku tidak percaya. "
"Ya sudah jika tidak percaya." Melati mulai diam.
Mobil itu melaju dengan sedang, kemudian terparkir ke tempat parkiran yang luas.
"Kita sudah sampai, turunlah dari mobil. "
"Bukankah kita akan berbulan madu? "
"Kamu sangat mengharapkannya ya? "
*Iiih, siapa juga yang mengharapkan. "
Melati masih saja terdiam di dalam mobil, hingga Agam menegur dirinya.
"Kamu mau turun sendiri atau aku turunin? "
"Aku turun sendiri. "
" Ya sudah kalau gitu. " Agam keluar dari mobil.
Kemudian Melati juga keluar dari mobil.
Lalu Agam mengambil koper di dalam garasi mobil. Melati pun mendekati Agam, dia berniat untuk membawa kopernya sendiri.
"Kamu mau apa? "
"Aku mau mengambil koperku? "
__ADS_1
"Buat apa? "
"Aku akan membawanya sendiri. "
"Tidak usah, aku saja yang membawanya."
"Aku ini adalah suamimu dan kamu adalah istrinya. " Agam mencoba untuk memberi penekanan.
"Apa maksudmu? "
"Perkataan aku benar kan? "
"Benar sih, tapi ada yang ketinggalan bahwa kita itu..... " Perkataan Melati terhenti karena dengan cepat Agam mencium pipinya.
"Kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan ya? " Melati memukul perut Agam.
Agam pun tertawa dengan renyahnya.
"Mengambil kesempatan dalam kesempitan bagaimana? Ingat Melati, kamu itu istri sahku. Kita menikah secara resmi."
"Terserah kamu saja, pokoknya aku sedang mengantuk sekarang. "
"Kamu mengajakku tidur ya? " Agam mulai mengusili istrinya.
"Dasar laki-laki mesum. "
"Aku tidak mesum. "
"Heh, kamu itu mesum. " Melati mulai menunjuk Agam dengan jarinya.
Kemudian Agam memegang jari telunjuk itu.
"Jangan menunjukku begitu, kamu mulai berperilaku kurang ajar kepadaku. Aku tidak menyukainya. "
Entah kenapa Melati merasa bersalah setelah mendengar ucapan Agam.
Agam kemudian meninggalkan Melati dengan membawa kedua koper milik mereka.
"Ikuti aku. "
__ADS_1
Dengan terpaksa Melati mengikuti Agam dari belakang.
*Apa aku benar-benar keterlaluan ya?* Melati berbicara dengan dirinya sendiri sambil mengekori Agam. Hingga keduanya masuk ke dalam lift.
Mereka berdua hanya diam seribu bahasa di dalam lift. Agam tengah memikirkan sesuatu dan tampak memasang wajah serius.
Sesekali Melati melirik Agam yang memasang wajah serius.
*Kalau di perhatikan betul, dia tidaklah buruk. Dia itu lelaki yang juga rupanya. Lihat postur tubuhnya itu, benar-benar menggiurkan. *
Hingga tiba-tiba pintu lift terbuka. Agam keluar dari lift dan di ekori oleh Melati.
"Kita akan menginap di apartementku dalam beberapa minggu ini."
"Aku ingin minggu yang tenang, aku harap kamu bisa mengerti. "
Agam memasukkan kode ke sebuah apartement dan masuk ke apartement itu dengan di ekori oleh Melati.
Melati hanya diam mendengar perkataan Agam.
"Kita akan tidur sekamar, tidak ada ceritanya untuk tidur di kamar yang berbeda. "
"Kita ini cuman suami istri pura-pura. Aku cuman istri bayaranmu. "
"Siapa bilang? "
"Apakah kamu lupa dengan perjanjian kita? "
"Hmp, bagaimana jika perjanjian kita itu di batalkan saja?"
"Maksud kamu apa? "
"Yah kita seperti sepasang suami istri yang senormalnya. "
"Apa sih maksud kamu? "
"Kamu pasti mengerti maksudku. " Agam pun meninggalkan Melati.
Dia membawa kedua koper itu ke dalam sebuah kamar.
__ADS_1
"Apakah maksud dia itu.... " Melati tidak melanjutkan perkataannya.
Bersambung....