TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Tersadar


__ADS_3

Lisa sedang duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong.


"Maafkan Ayah, ayah sangat menyayangimu. " Kata-kata itu masih saja tergiang di telinga Lisa.


"Apakah terjadi sesuatu. Kenapa Ayah meminta maaf kepadaku? Aku kira Ayah sangat membenciku. "


"Ibu, Ibu. " Alis memanggil Ibunya.


"Mari kita makan malam bersama-sama Ibu. Ibu terlihat sangat kurus." Alis menarik tangan Ibunya.


Lisa mengangkat pantatnya dari sofa dan berdiri. Kemudian dengan terpaksa melangkahkan kaki menuju meja makan.


Alis terus saja menarik tangan Ibunya, sedangkan Jimmy menarik kursi untuk Ibunya.


Tommy mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk Ibunya.


"Apakah Ibu ingin sayur juga?" Tommy bertanya kepada Ibunya.


Lisa hanya menganggukkan kepala.


"Dimana Bibi? Apakah Bibi tidak makan bersama dengan kita? " Lisa bertanya kepada anak-anaknya.


"Bibi sudah pulang Bu." Jimmy menjawab pertanyaan Ibunya.


"Oh iya, Ibu lupa. " Lisa melihat sekitarnya.


"Kenapa lantai atas sangat gelap sekali? " Lisa kembali bertanya kepada anak-anaknya.


"Aku belum menghidupkan lampu Ibu. Biasanya hal itu dilakukan oleh Ibu. Ibu melarang kami untuk melakukan tugas Ibu, terkhusus menghidupkan lampu. " Jimmy menjawab pertanyaan Ibunya.


"Benar, Ibu marah jika kami melakukannya." Alis menyambung perkataan Jimmy.


"Benarkah?" Lisa menatap satu persatu anak-anaknya.


"Benar Ibu. " Dengan serentak, mereka menjawab pertanyaan Ibu.


"Lalu siapa yang menyiapkan makanan ini di meja makan?" Lisa bertanya kepada anak-anaknya.


"Bibi Ibu, kami bertiga tinggal membuka penutup makanannya. " Jimmy kembali menatap Ibunya dengan aneh. Ia turun dari kursi dan mendekatkan kursinya kepada sang Ibu.


Jimmy naik ke atas Kursi itu.


"Apakah Ibu sakit? " Jimmy menempelkan punggung tangannya ke kening Ibunya.


"Kepala Ibu tidak panas. Aku pikir Ibu tidak sakit. Ibu hanya pelupa. " Jimmy pun turun dari kursi.


Lisa kembali menatap satu persatu anak-anaknya.


"Apa yang telah aku lakukan? Aku seperti Ibu yang menelantarkan anaknya sendiri."


"Aku tidak boleh larut dengan kesedihan ini. Aku tidak boleh egois. Bagaimana pun aku ini adalah seorang Ibu. Mereka membutuhkanku. "


Lisa mulai menyantap makanannya. Di sela-sela itu, Lisa bertanya kepada anak-anaknya.


"Anak-anak. "


"Iya Ibu"


"Ya Bu"


"Iya Ibu"

__ADS_1


"Apakah kalian sudah mandi? "


"sudah Ibu" Mereka bertiga menjawab dengan serentak.


"Tapi Ibu belum mandi. " Alis menegur Ibunya.


"Ibu akan mandi sebentar lagi. "


"Mandi malam tidak baik untuk kesehatan Ibu. " Alis menegur Ibunya.


"Hmp, Lisa menghela nafas panjang-panjang. "


"Apakah kalian sudah belajar? " Lisa kembali bertanya kepada anak-anaknya.


"Tommy sudah Ibu. Tapi Alis dan Jimmy belum belajar. Mereka belum mengerjakan Pekerjaan Rumah mereka. "


"Benarkah Tommy? "


"Yah, Jimmy Asyik main komputer sedangkan Alis sibuk berlatih bela diri. "


"Lalu bagaimana denganmu? Kamu sibuk berlatih main musik. " Alis menatap Tommy dengan tajam.


"Aku berlatih main musik setelah selesai membuat Pekerjaan Rumah."


"Baiklah, maafkan aku. " Alis meminta maaf kepada Tommy.


"Bisakah kalian tidak berisik. Kepala Ibu terasa mau pecah. " Lisa meminta anak-anaknya untuk diam.


"Bagaimana tanda-tanda kepala mau pecah? Apakah benar kepala manusia bisa pecah? " Alis kembali bersuara dan bertanya.


Lisa hanya tersenyum dan kemudian tertawa.


"Iya yah, bagaimana mungkin kepala manusia bisa pecah? kalau pecah berarti kita tidak akan mempunyai kepala lagi. " Jimmy angkat bicara dan tertawa. Hal itu di ikuti oleh Alis dan Tommy.


"Jimmy, hentikan itu. " Tommy mulai menegur Jimmy.


"Oh, maafkan aku Ibu. " Jimmy meminta maaf kepada Ibunya.


.....


Setelah selesai makan. Ketiga kurcaci itu di suruh tidur oleh Lisa. Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing.


Lisa membereskan piring kotor, kemudian mencuci piring tersebut di wastafel.


Setelah mencuci piring, ia masuk ke dalam kamar.


"Cekrek" Lisa membuka pintu.


Lisa masuk ke dalam kamar dan duduk di meja kerjanya sambil melihat foto kalung garuda.


"Siapa pemilik kalung ini? Kenapa aku begitu penasaran?" Lisa kembali menutup foto yang ada di ponselnya.


"Ayah sudah meninggal dunia, Ibu juga meninggal dunia. Sekarang ini yang aku miliki hanyalah ketiga anak-anakku."


"Aku heran, selama tujuh tahun tidak bertemu dengan Ayah. Kenapa Ayah tidak pernah mencariku? Ayah membiarkanku telantar, dimana hati nurani Ayah? Dan sekarang tiba-tiba saja Ayah meninggal dunia. Ayah sangat jahat." Lisa mengatakan Ayahnya sangat jahat.


Lisa kembali terngiang-ngiang ucapan ayahnya.


"Maafkan Ayah, Ayah sangat menyayangimu.


Mata Lisa mengeluarkan air mata. Lisa mengusap air matanya sendiri.

__ADS_1


"Sekarang ini, aku tidak boleh menangis lagi. Ayah dan Ibuku sudah meninggal dunia. Merry menghancurkan semuanya. Ia mengambil seluruh harta dan perusahaan Ibu yang tersisa."


"Ibu? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menghancurkan mereka atau mengambaikan mereka?" Lisa memegang kepalanya.


"Tenang, tenang Lisa. Seorang Lisa harus tetap tenang. Aku tidak boleh dendam kepada siapapun. Semua ini adalah takdir. Iya, ini semua adalah takdir."


Lisa mengangkat pantatnya dari kursi kerja dan pergi ke ranjang tidurnya. Lisa merebahkan badannya.


"Good night dunia yang kejam. " Lisa memejamkan kedua matanya.


.....


Di kediaman Gunawan.


"Apakah kamu tidak cemas dengan Ayahmu yang meninggal dunia?" Rivaldo bertanya kepada istrinya.


"Buat apa aku cemas? Yang terpenting itu adalah harta Ayah. Aku bisa mengusai perusahaan Ayah. Aku mendapat harta warisan dari Ayah. " Kirana menjawab pertanyaan suaminya.


"Apakah di otakmu cuman ada harta dan harta? Apakah hati nuranimu tidak dipakai lagi?" Rivaldo bertanya kepada Istrinya.


"Maksudnya? " Kirana menatap Rivaldo.


"Kirana, Ayahmu baru saja meninggal dunia. Ayah kandungmu meninggal dunia." Rivaldo menatap Kirana.


"Sayang, dia bukan Ayahku. Ayahku telah meninggal dunia karena kecelakaan mobil."


"Apa? Coba ulangi lagi Kirana. " Rivaldo sangat terkejut.


"Ayahku bukan Arkan Gunawan. Ayahku bukan dia."


"Ibu mengatakan semuanya kepadaku. " Kirana berusaha menjelaskan semuanya kepada Rivaldo.


"Pantas saja. " Rivaldo mengucapkan dua kata.


"Apa? " Kirana tidak mengerti maksud Rivaldo.


"Pantas saja kau tidak mempunyai hati nurani. Kau bersama Ibumu hanya penjilat. Di otak kalian hanya ada harta dan harta. " Rivaldo membanting pintu kamar, lalu pergi meninggalkan kamar itu menuju ruangan kerjanya.


"Seharusnya aku menikahi Lili, bukan menikahi Kirana. Apakah penyesalan ini sebuah karma dari tuhan? Aku telah menyiayiakan orang yang sangat mencintaiku demi wanita seperti Kirana. " Rival terus mengoceh menuju ruangan kerjanya. Ia berbicara dengan suara pelan.


....


"Sayang. " Camilla menyambut Adam yang baru pulang kerja.


Camilla memeluk Adam dan mencium pipinya.


"Sayang, mari kita makan malam. " Camilla bergayutan di lengan Adam.


"Aku sudah makan malam Camilla. " Adam berusaha melepaskan gayutan istrinya.


"Tapi aku belum makan malam sayang. Aku menunggumu untuk makan malam bersama. " Camilla menarik tangan Adam ke meja makan.


"Baiklah, aku hanya akan menemanimu makan malam. Tapi aku tidak ikut makan malam karena aku sudah makan malam. Aku kekecangan Camilla. " Adam mengikuti Camilla ke meja makan.


"Ok sayang. Setidaknya aku di temani makan malam. " Camilla terlihat sangat bahagia.


Bersambung...


........


Jangan lupa like, komen dan vote supaya author lebih semangat lagi untuk upload.

__ADS_1


salam dari Author


__ADS_2