TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
sama suka 21+


__ADS_3

"Pak, aku harus pergi dulu. Ada seseorang yang sedang menungguku. " Lisa dengan cepat keluar dari mobil. 


Wanita itu berjalan menuju sebuah mobil yang berwarna hitam. 


Dari kejauhan Adam melihat wanita cantik akan menghampirinya. Dengan cepat Adam membukakan pintu. 


"Dia peka juga. " Lisa berbicara di dalam hatinya. 


"Sekarang kemana lagi? " Adam bertanya sambil menghidupkan mesin mobil. 


"Aku ingin cepat-cepat berberes. "


Mendengar perkataan itu, Adam melihat ke arah Lisa. 


"Kau mau pergi kemana? "


"Aku akan pergi dari semua ini. Aku sangat lelah dengan drama menyedihkan seperti ini. "


"Tidak ada yang perlu aku cemaskan, Ibuku sudah meninggal, Ayahku sudah meninggal. Hanya tersisa aku dan kedua anakku. " 


"Dan aku. " Adam menambahkan kedua kata itu. 


Lisa melihat ke arah Adam. 


"Yah, bagaimana pun mereka adalah anak-anakku. Tanpa aku mereka tidak akan ada di dunia ini. Aku adalah sumber mereka. " Mobil itu melaju dengan santai. 


"Apa kau ingin menikah denganku? " Adam dengan spontan berbicara seperti itu kepada Lisa. 


"Yah." Lisa terus melihat wajah Adam yang terlihat begitu santai. 


"Kau menerimaku? " Adam kembali memastikan. 


"Tentu, kau Ayah dari anak-anakku. Tanpa dirimu mereka tidak akan ada di dunia ini. Mereka bersumber darimu. " Lisa membalas ucapan Adam. 


"Kau sudah dewasa," Adam tersenyum tipis. 


"Kau menghinaku? "


"Tidak, aku memujimu. " Adam sesekali melihat ke arah Lisa.


"Terkadang pujian itu seperti seolah-olah sedang mengejekku. Aku membenci pujian. " Lisa memalingkan wajahnya dan melihat ke kaca mobil yang berada di sampingnya. 


Adam diam saja mendengar ucapan Lisa. 


"Dasar bocil. " Adam berbicara di dalam hatinya. 


.....


Mereka berdua telah sampai di rumah Lisa. 


Jimmy dan Alis sudah menunggu mereka berdua. 


"Ayah, " Alis berlari mendekati Adam. 


"Hai cantik Ayah. " Adam mencium kening Alis dan menggendongnya. 


"Bagaimana dengan Ibu? Apakah dia masih mengamuk Ayah? " Alis berbisik ke telinga Adam. 


"Sepertinya hari ini dia lebih santai. Kau jangan mengganggunya. Ayah takut, dia akan mengamuk dan memakan dirimu yang kecil ini. " Adam berbalik berbisik ke telinga Alis. 


"Begitukah, aku tidak akan mendekatinya. Dia hampir seperti nenek lampir kemaren. " Mendengar perkataan itu, Adam tak sengaja tertawa lepas. 


"Apa yang kalian bisikan? Apakah kalian sedang membicarakanku?" Lisa menatap Ayah dan anak perempuan itu.


"Lihatlah, dia mempunyai sihir untuk mengetahui pembicaraan kita. " Alis kembali berbisik kepada ayahnya dan memeluk erat leher ayahnya. 


"Hah, aku benar-benar tidak percaya semua ini. " Lisa pergi meninggalkan ayah dan anak perempuan itu. 


Sedangkan Jimmy hanya sebagai penonton saja. 


"Aku mencium aura kecemburuan. " Jimmy mengikuti Ibunya. 


"Jimmy, bereskan barang-barangmu. Kita akan pergi dari tempat ini. "


"Yah," Jimmy hanya menjawab dengan kata yang singkat. 


 


Dihari itu, mereka sibuk mengemasi barang-barang. Hal itu dibantu oleh Adam, Bi Minah, Pak Karman, dan Alim sebagai pengawal kedua bocah lucu yang nakal. 


....


Dua hari kemudian. 


Lisa sedang menulis sesuatu di dalam laptopnya, sedangkan Adam juga sibuk dengan laptopnya. 


Alis dan Jimmy terus saja memandangi Ayah dan Ibunya yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. 


"Menurutku, Ayah dan Ibu sangat serasi. " 


"Aku juga berfikir begitu. Tapi mereka terlalu sibuk dengan aktivitas masing-masing. " Jimmy tampak sedang merencanakan sesuatu.


"Aku punya ide, kau mengganggu Ayah dan aku mengganggu Ibu. Setelah itu kita hubungi Paman Alim dan pergi bermain ke rumah Nenek Marbela."


"Kita akan membiarkan mereka berdua menikmati kebersamaan mereka. "


"Bagaimana menurutmu? " Jimmy bertanya kepada adiknya. 

__ADS_1


"Aku sangat setuju. "


Mereka berdua melancarkan rencana mereka. 


Alis mendekati Ayahnya sedangkan Jimmy mendekati Ibunya. 


"Ayah, aku ingin pergi ke rumah Nenek. " Alis menyentuh Adam dengan telunjuk kecilnya. Telunjuk itu menyentuh pinggang Adam yang lumayan kekar seksi. 


"Bagaimana caranya kau pergi kesana? " Adam berbicara tanpa melihat Alis. Dia terus saja melanjutkan pekerjaannya. 


"Aku sudah menghubungi Paman Alim, Aku dan Kakak akan pergi bersama Paman Alim. "


"Tapi kita harus berangkat besok pagi. "


"Ini belum pagi, ini masih sore. Aku bisa kesini pagi-pagi."


Adam menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah Alis. 


"Ibumu akan marah. "


"Dia tidak akan marah jika Ayah membujuknya. "


"Kau ingin aku dimarahi juga? Dia seperti nenek lampir jika sedang marah. "


"Iya, aku setuju itu. "


"Tapi, jika aku dan kakak pergi menginap ke rumah nenek. Ayah dan Ibu punya kesempatan untuk melakukan pendekatan. Setidaknya pacaranlah seperti anak ABG. "


Adam sangat kaget mendengar ucapan anak perempuannya.


"Aku ingin bermain di rumah nenek Yah. "


"Ayah bisa kan membujuk Ibu demi aku? " Alis memasang wajah centilnya dengan mengedipkan sebelah matanya kepada ayahnya. 


"Kau centil. " Adam menyentuh pipi anaknya menggunakan telunjuknya yang lumayan besar. 


Alis tersenyum lebar karena dia berhasil menghasut Ayahnya. 


"Lisa?" Adam memanggil Lisa. 


"Tidak Adam, kau telah terjebak. "


"Kau sudah mengetahuinya? " Adam bertanya kepada Lisa. 


"Tentu, aku sangat tau bagaimana sifat anak-anakmu. "


"Anak-anakku? "


"Iya, jika mereka berperilaku buruk berarti mereka anakmu dan jika berperilaku baik berarti dia anakku. "


"Tapi kita berdua yang membuat mereka. "


"Izinkan saja mereka pergi. "


"Kalian berdua boleh pergi. " Adam melihat Alis dan Jimmy. 


"Ibu kalian mengizinkannya. "


"Aku tidak ada bilang mengizinkannya. " Lisa menatap Adam. 


"Tapi aku mengizinkan mereka. " Adam mengedipkan sebelah matanya. 


"Ah, Ibu mengizinkan kalian. Pagi-pagi sebelum jam 7 pagi, kalian sudah harus berada di apartement ini. Kalian mengerti? " Lisa menatap kedua anak lucu dan nakal itu.


"Baik Ibu. " mereka berdua serentak mengucapkan dua kalimat itu. 


Tak lama kemudian mereka berdua di jemput oleh Alim. 


....


10 menit setelah kepergian mereka. 


"Kau merencanakan sesuatu," Lisa melihat ke arah Adam yang berdiri di sampingnya. 


"Kau sudah mengetahui rencananya. " Adam dengan cepat menci...um bi.. Bir Lisa dengan ***** dan lahap. 


Lisa membalas itu semua, dia mengalungkan tangannya ke leher Adam. 


Mereka saling menikmati ci...uman itu. 


"Ah, kau sudah lihai. " Adam memuji Lisa dan me.. Re.. Mas pan.. Tatnya. 


"Tapi kau menyukainya. " Lisa membalas ucapan Adam dan menatap wajah Adam. 


Adam tersenyum tipis. 


"Daging tak bertulangku ingin masuk kedalam sarangnya. Dia sangat butuh pelayanan. " Adam berbisik ke telinga Lisa. 


Lisa dengan cepat meremas gundukan di bawah itu dan tersenyum nakal. 


Adam juga tersenyum nakal menikmati pelayan seperti itu. 


Mereka berdua saling tersenyum. 


"Kau menantangku sayang. " Adam kembali melum.. At bi..bir sek..si itu. 


Hal itu di balas oleh Lisa. 

__ADS_1


Lisa dengan cepat memasukkan tangannya ke dalam penutup daging tanpa bertulang. 


Dia menurun les..leting..nya.. 


Adam tersenyum nakal menikmati itu. 


Dia me..re..mas kedua bukit milik lisa.


"Ah, " Lisa melepaskan tautan mu..lut Adam.


Lisa tampak menikmati permainan Adam. 


Dengan cepat, Adam menyimbah baju kaus putih milik Lisa dan mengeluarkan bakso dari mangkuknya. 


Dia me..lu. .mat la.. Hap bakso tersebut. 


"Sayang. " Lisa memanggil Adam dengan sebutan Sayang. 


Tapi Adam tetap melanjutkannya tanpa menjawab sepatah kata pun. 


Tanpa di sadari daging tanpa bertulang milik Adam sudah lepas dari penutupnya. 


Mi..lik Adam men..ju..lang seperti telah bersi..ap untuk me..nu..suk 


Adam dengan cepat membalikkan Lisa dan mendorongnya ke dinding tembok apartement. 


Dia dengan sigap melepaskan segitiga milik Lisa. 


Mengang..kat rok mi..ni Lisa dan menusukkannya. 


"Ah, sayang. "


"Enakkan sayangku. "


Adam mulai memompanya sambil me..re..mas bukit ke..nyal milik Lisa. 


"Aku ingin seperti ini terus. " Dengan tersengal-sengal Lisa berani mengucapkan kata kotor itu. 


"Bagus baby. " Adam terus memainkan gerakkannya. 


"Sayang, ci..um aku. " Lisa memutar kepalanya untuk melihat Adam. 


Adam dengan cepat me..lu..mat bi..bir itu. 


Mereka melakukan itu dalam waktu singkat. 


Sesekali Adam meng..hen..takkan ba..ta..ng pan..jangnya. 


"Aw, sayang. Lebih da..lam la..gi. "


Lisa begitu menikmati permainan Adam. 


"Aku keluar sayang. "


"Aku juga."


Lisa menikmati keluarannya. 


Adam dengan cepat mencabut dan membalikkan badan Lisa supaya menghadap dirinya. 


Dia dengan cepat menyu..su seperti bayi dan mengeluarkan pe..cunya yang ken..tal di pa..ha ber.. Sih milik Lisa.


Sedangkan Lisa me..re.  mas rambut Adam. 


"Oh, sayang. "


Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Lisa. 


Setelah semuanya keluar, Adam tersenyum nakal ke arah Lisa. 


"Kau hebat baby. " Adam melu.. Mat bi..bir Lisa. 


"Punyamu begitu besar? " Lisa bersuara saat Adam melepaskan tautannya. 


"Ini milikmu sayang. " Adam mengelapnya dengan menggunakan tisu. 


"Aku tau itu. Milikku untuk selamanya. " Lisa menarik rok pendeknya. 


"Kau hebat juga. " Lisa memuji Adam. 


"Kau pernah melakukannya dengan laki-laki lain? " Adam melirik Lisa.. 


"Tidak, aku hanya membayangkannya saja. "


"Ok, ubah topik pembicaraan sebelum aku melahapmu lagi. " 


"Aku bersedia untuk di lahap." 


Mendengar ucapan itu, Adam tertawa lepas. 


"Kau sudah dewasa. "


"Aku memang sudah dewasa, buktinya aku sudah mempunyai anak. "


"Bersamaku. " Adam menambahkan kalimat Lisa. 


Lisa tertawa lepas mendengar sambungan kalimat itu. 

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2