
Merry menarik tangan anaknya keluar dari pesta dan masuk ke dalam kamarnya.
"Apa kamu gila Kirana? "
"Apa yang kamu lakukan Kirana? " Merry memarahi anaknya.
"Maksud Ibu apa?" Kirana bertanya kepada Ibunya.
"Kenapa kamu tidak memakai cel*na dal*m? Ibu bisa menebaknya. Kamu jangan berbohong. " Merry menatap tajam ke arah anaknya.
Kenapa dia bisa tau?
Kirana melihat Ibunya yang menatap tajam ke arahnya.
"Sepertinya aku lupa Ibu. Maafkan aku. " Kirana agak tersenyum kepada Ibunya.
"Kamu bukan anak kecil lagi Kirana. Bagaimana mungkin kamu lupa menggunakan cel*na dal*m. " Merry memarahi anaknya.
Dia berjalan dengan cepat menuju lemarinya dan melemparkan cel*na dal*m ke wajah anaknya.
"Pakai itu. memalukan. " Merry sangat murka melihat tingkah laku anaknya yang tidak memakai cel*na dal*m dan pergi meninggalkan anaknya.
Aku heran. Bagaimana mungkin dia mengetahui aku memakai cel*na dal*m atau tidak? apa dia punya indra ke enam?
Kirana dengan cepat memakai cel*na dal*m yang di lemparkan oleh Ibunya kepadanya.
Ia tanpa rasa malu dan bersalah pergi meninggalkan kamar itu. Kirana pun kembali bergabung ke dalam pesta.
....
Dua tahun telah berlalu. Rivaldo minta izin kepada Lili untuk pergi menghadiri sebuah seminar ke suatu kota.
"Aku akan pergi menghadiri seminar Lili. " Pada saat itu Rivaldo sudah lama berubah kepada Lili.
"Baiklah Sayang. " Lili mencium Pipi Rivaldo.
"Saat aku keluar kota nanti, tolong jangan terlalu sering menghubungiku Lili. Aku akan sedikit sibuk nantinya."
"Aku tidak ingin mendengar keluhanmu atau pun cerewetmu. Apakah kamu mengerti Lili?" Rivaldo menambahkan kalimatnya.
"Aku mengerti Sayang. " Lili bergayutan di lengan kekar milik Rivaldo.
__ADS_1
Aku akan memberikan sebuah kejutan istimewa untukmu. aku sudah membeli tiket dan sebuah kado yang spesial untukmu. Aku yakin, kamu pasti menyukainya.
Lili tersenyum bahagia memikirkan idenya.
"Kenapa kamu tersenyum? " Rivaldo bertanya kepada Lili.
"Tidak, aku hanya bahagia saat aku bisa terus bersama denganmu Sayang. " Lili kembali tersenyum.
....
"Kamu mau kemana Kak? " Lili bertanya kepada Kirana yang sedang memasukan pakaiannya ke dalam koper.
"Aku mau libur bersama teman-temanku. " Kirana menjawab pertanyaan Lili tanpa melihat wajah Lili.
Aduh, kenapa bertanya sih? Kamu bodoh ya, aku tuh mau berkencan dengan tunangan kesayanganmu. Aku ingin bersenang-senang dengannya dan berbagi ranjang dengannya.
"Mmm begitu Kak. Selamat liburan ya. " Lili pergi meninggalkan kamar Kirana.
Ah, tidak usah bilang saja. Toh, dia juga tidak akan peduli denganku. Dalam dua tahun ini Kak Kirana agak berubah kepadaku.
Lili menghela nafasnya panjang-panjang.
Lili pun masuk ke dalam kamarnya dan memilih barang-barang yang akan dia bawa.
Malam itu Lili dan Kirana sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
Kirana berangkat pada pagi hari sedangkan Lili berangkat pada siang hari.
Aku akan memberi kejutan kepada Kak Rivaldo. Aku tidak sabar untuk melihat expresinya. Itu pasti menyenangkan.
Lili terus saja tersenyum tipis saat berada di dalam pesawat.
Lili memperhatikan pemandangan yang bisa di lihat dengan jelas lewat jendela Pesawat Terbang.
Pemandangan ini sangat indah. Kota yang aku tinggali terlihat kecil saat di lihat di atas sini.
Lili terus saja tersenyum tipis.
Setibanya di bandara Lili menyeret kopernya untuk memasuki sebuah taksi.
"Ke hotel A Pak. " Lili menyebutkan hotelnya.
__ADS_1
"Baik Non. " Mobil taksi itu melaju dengan cepat.
Tak lama kemudian, Lili sampai di hotel itu. Tanpa aba-aba apapun, Lili langsung cek in dan masuk ke dalam kamar pesanannya.
Sebentar lagi aku akan bertemu dengan tunanganku. Hmp, hari ini adalah hari jadian keduaku dengan dirinya. Selamat anniversary kedua Sayangku.
Wajah Lili terlihat begitu semberingah.
Sesampainya di tempat seminar Rivaldo. Lili di suruh menunggu oleh Sekretaris Rivaldo yang bernama Fandy.
Ternyata dari kejauhan Kirana melihat kedatangan Lili.
Kirana melihat Lili dan Fandy berbincang-bincang. Tak lama kemudian, Fandy mendekati Kirana.
"Saya ingin, Rivaldo jangan sampai tau bahwa Lili berada di sini. Saya akan mentransfer uang ke dalam rekeningmu. Apakah di transfer ke nomor rekening yang sama? " Kirana bertanya kepada Rivaldo.
"Iya Nona. Saya pikir Nona tidak harus mengirimi saya uang seperti itu." Fandy menatap selingkuhan bosnya itu.
"Tidak apa-apa Fandy. Anggap saja ini sebagai bonus gaji . " Kirana mengedipkan sebelah matanya kepada Fandy.
Bagaimana mungkin wanita ini berselingkuh dengan tunangan Adik Tirinya sendiri? apakah dia tidak punya hati nurani lagi? aku bingung dengan pola pikir orang kaya seperti dia.
Fandy pergi meninggalkan Kirana.
Kirana tersenyum tipis saat melihat Lili yang sedang memegang sebuah kado.
Kenapa dia membawa kado?
Kirana sedikit berpikir.
*Ah, hari ini adalah hari jadian mereka. Anniversary mereka. Ini adalah waktu yang tepat untuk memperlihatkan segalanya kepada Lili.
Selamat menikmati kado yang aku berikan Adik Tiriku yang mungil*.
Kirana tersenyum dengan kejam sambil melihat ke arah Lili.
Bersambung....
Jangan lupa like dan koment ya, terima kasih semuanya.
Like dari pembaca membuat Autor bersemangat untuk apload setiap harinya.
__ADS_1
terima kasih.
Salam dari Autor.