TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Mengingat


__ADS_3

Paman Adam. Marsya merindukan Paman. " Marsya memeluk Adam. 


"Paman juga merindukanmu." Adam langsung menggendong Marsya. 


"Apakah Paman membawakan Marsya kue? Marsya sangat ingin memakan kue. "


"Tentu Marsya. " Adam mencium kening Marsya. 


Tak lama kemudian, supir Adam datang sambil membawakan kotak kue. 


"Itu kuenya Marsya. Paman menepati janji kan? "


"Iya, Paman Adam yang terbaik. " 


Adam menurunkan Marsya dari gendongannya. Marsya pun berlari mendekati kue itu. 


Saat melihat Marsya sedang berlari, tiba-tiba saja Adam mengingat dua bocah yang pernah bertemu dengannya. 


"Kenapa aku teringat dengan bocah itu?  sebenarnya bocah itu anak siapa sih?" Adam berbicara sendirian di dalam hatinya. 


....


"Jimmy, kuenya enak sekali. Apakah kamu tidak ingin mencoba kue ini? " Tommy menawarkan sepotong kue kepada Jimmy. 


"Sebentar Tommy. Aku sedang sibuk."


"aaak,  aku menyuapimu Jimmy. Buka mulutnya. " Tommy menyuruh Jimmy membuka mulutnya. 


Jimmy pun membuka mulutnya. Ia mulai mengunyah kue yang di suapi oleh Tommy. 


"Bagaimana rasanya? Enak kan? " Tommy bertanya kepada Jimmy.


"Enak Tom. " Tapi yang menjawab pertanyaan Tommy adalah Alis. 


"Aku bertanya kepada Jimmy, bukan kepadamu Alis? " Tommy sedikit kesal.


"Baiklah, Alis mengerti. " Alis melanjutkan memakan kue yang ada di tangannya sampai habis. 


"Kalian berdua diamlah. Aku sedang fokus." Jimmy sambil menguyah kue angkat bicara. 


Dia sedang sibuk mengetikkan sesuatu di keyboard komputernya. 


"Yes, aku berhasil. Aku telah berhasil mengambil data dari Perusahaan Manggala Grup." 


Tommy dan Alis melihat ke arah Jimmy. 


"Sebentar lagi, kita akan tau siapa itu Adam Manggala." Jimmy melihat kedua wajah adiknya secara bergantian. 

__ADS_1


"Pria yang tadikah Jimmy? " Tommy terlihat Jimmy dengan sangat antusias. 


"Iya. " Jimmy menjawab sambil menganggukkan kepalanya. 


"Siapa itu? " Alis mengajukan pertanyaan kepada kedua kakaknya. 


"Sebentar lagi kamu akan mengetahuinya, tadi kami berdua telah bertemu dengannya." 


"Makanya perhatikan kami berdua saat di toko tadi? Kamu sih Alis. Siapa suruh main game terus. " Jimmy mulai menceramahi Alis. 


"Tadi itu, Alis bukan main game. Tapi Alis membaca." Wajah Alis berubah menjadi cemberut. 


"Sorry, aku pikir kamu sibuk main game." Jimmy meminta maaf karena sudah salah paham kepada adiknya. 


Tommy pun berusaha mencairkan suasana. 


"Liat foto ini! Wajah Adam kecil sangat mirip denganmu Jimmy. Jika saja dia seorang perempuan, pasti dia juga akan sangat mirip dengan Alis." Tommy menujuk foto yang ada di layar komputer Jimmy. 


"Jangan-jangan." Jimmy dan Tommy serentak mengatakan kata itu.


"Ayah kita. " Alis menyambung ucapan kedua kakak laki-lakinya.  Mareka berdua menganggukkan kepala kepada Alis. 


"Tapi, kalau dia memang ayah kita. Kenapa dia tidak pernah mencari kita. " Wajah Alis berubah menjadi lesu. 


"Karna dia tidak mengetahui jika dia sudah mempunyai anak. " Jimmy menjawab pertanyaan Alis tanpa ragu. 


"Jika dia memang ayah kita. Liatlah Jimmy, Tommy, wajahnya sangat tampan. Ayahku sangat tampan sekali. " Alis secara spontan mengatakan Adam adalah Ayahnya. 


Jimmy dan Tommy cuman bisa bertatap tatapan saat mendengar Alis sedang memuji Adam. 


....


"Wah, dekorasi kue ini sangat cantik sekali. Ini seperti dekorasi kuenya Lili." Tiba-tiba saja Kirana mengucapkan kata-kata itu dengan pelan. Dan hal itu, didengar oleh suaminya. 


Saat mendengar kata itu, Rivaldo langsung melihat ke arah istrinya dan langsung melihat ke arah kue yang di puji oleh istrinya. 


"Kue itu, dekorasi kue itu." Rivaldo berbicara di dalam hatinya. 


Jadi disaat Rivaldo berulang tahun, Lili pernah memberikan Rivaldo sebuah kue. 


Beberapa tahun yang lalu. 


"Ini adalah kue buatanku, semoga kamu menyukainya. Aku sangat menyayangimu." Lili mencium pipi Rivaldo. 


"Benarkah, sepertinya kamu berbakat membuat kue. Dekorasinya cantik. Cantik seperti orang yang membuatnya." Rivaldo memuji Lili.


"Benarkah? Selamat ulang tahun sayang. I love you." Lili memeluk badan besar Rivaldo. 

__ADS_1


Tiba-tiba saja, Ibu Rivaldo mengampiri Rivaldo dan Kirana. Hal itu membuat lamunan Rivaldo terhenti. 


"Anak dan menantu Ibu. Terimakasih sudah datang ya sayang." Ibu rivaldo bergantian memeluk Rivaldo dan Kirana. 


Hal itu juga diulangi oleh Ayah Rivaldo. 


Ibu Rivaldo bernama Sarah Efendy dan Ayah Rivaldo bernama Mardy Efendy. 


"Kapan nih, Ibu mengendong Cucu. Ibu sangat ingin mengendong Cucu dari kalian berdua. " Sarah menatap Kirana dengan malas. 


"Masak iya,  sudah beberapa tahun menikah masih saja belum mempunyai anak. Kamu bukan mandul kan Kirana." Sarah tanpa perasaan mengatakan hal yang dia rasa kepada Kirana. 


"Kami sedang berusaha Ibu. Kata dokter, kami berdua sehat-sehat saja. Tidak ada yang mandul Ibu. " Rivaldo mewakili Kirana untuk menjawab pertanyaan Ibunya.


"Begini saja. Kata Ibu, Ibu sangat ingin menggendong cucu. Bagaimana jika Ibu mengendong anak Ibu saja? Ibu buatkan


Rivaldo seorang adik." Kirana pergi meninggal mereka bertiga. 


"Menantu kurang aa.. " Sarah tidak melanjutkan perkataannya. Ia tidak mau merusak hari bahagianya. 


"Aku setuju dengan Kirana, Bagaimana jika kita membuatkan Rivaldo seorang adik." Mardy berbisik ke telinga Sarah. 


Tiba-tiba saja, wajah Sarah berubah agak kemerahan. 


"Apaan sih Ayah?" Sarah terlihat jutek kepada suaminya.


"Apakah kalian berdua setuju membuatkanku seorang adik?" Rivaldo menatap Ayah dan Ibunya. 


"Kalau begitu, selamat bertempur nanti malam." Rivaldo pergi meninggalkan Ayah dan Ibunya.


"Ayah sih," Sarah menatap suaminya. 


"Ayolah Ibu, lagiankan kita cuman punya  satu anak. Tambah satu lagi tidak apa-apa kan? Ingat, Ibu menikah dengan ayah pas umur 15 tahunan." Mardy tersenyum genit ke arah istrinya, dan kemudian merangkul pinggang seksi istrinya. 


"Ayah!" Sarah melototkan matanya kepada Mardy. 


"Apa sayang? " Mardy mencium pipi istrinya. 


"Jangan mulai. " Sarah mencubit pinggang Mardy. 


"Ahg." Mardy berhasil membuat istrinya tersenyum. 


"Gitu dong Ibu, kan makin hot. " Mardy kembali berbisik ketelinga istrinya. 


Meskipun umur Sarah sudah memasuki 50 tahunan, Badan Sarah masih terlihat sangat seksi. Ia terlihat seperti berumur tiga puluhan. 


Jadi dulunya, Sarah ini cepat menikah dengan Mardy, karena dulunya dia hamil diluar nikah ketika ia masih duduk di bangku SMP. 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2