
Melati bertemu dengan Ibu Agam.
Sang Ibu berterus terang kepada Melati bahwa dia sangat menginginkan Agam mempunyai anak. Yang artinya Melati harus segera menikah dengan Agam.
"Wah, jadi yang membuat kue ini kamu? "
"Iya Nyonya. "
"Jangan panggil aku Nyonya. Panggil Ibu sayang. "
"Eh, iya. " Melati berusaha tersenyum semanis mungkin.
"Ibu pengen mencoba kue masakan aku nggak? Paling tidak Ibu harus memberikan koreksi rasa untukku. "
"Ok, Ibu dengan senang hati akan mencobanya."
Marbela pun mulai duduk di salah satu kursi meja makan.
Melati dengan hati-hati memotong kue dan memberikannya kepada Ibu dengan menggunakan piring kecil.
*Semoga ibu menyukainya. *
Ibu menerima dengan senang hati.
*Ternyata Ibunya Agam sangat ramah ya. Dia itu wanita yang baik, dan juga dia sangat cantik.* Melati memuji wanita yang sedang menyicipi kue buatannya.
"Bagaimana Bu? "
"Enak sayang. Kamu jago membuatnya. Ibu yakin, pasti Agam akan menyukainya. "
"Oh ya, duduk di sebelah Ibu sayang."
Melati pun mengikuti keinginan Marbela.
Bibi yang menjaga Agam dari kecil melihat pemandangan itu dari kejauhan.
*Mereka sangat mudah akrab rupanya. * Bibi merasa senang melihat kedua wanita itu.
"Oh iya Melati, kamu bertunangan dengan Agam semenjak kapan? "
Deg.
*Aduh, aku harus jawab apa ini. *
"Semenjak kemaren Bu. "
Ibu melihat Melati dari atas sampai bawah.
__ADS_1
*Dia tidak terlalu buruk. Yang terpenting dia termasuk wanita yang cantik. *
"Pekerjaan orangtua kamu apa Melati? "
Melati tiba-tiba saja menundukkan kepalanya.
"Ibu dan Ayahku sudah meninggal Bu. Aku yatim piatu sekarang."
Seketika Marbela menutup mulutnya. Bertanda mungkin dia sudah salah bicara. Jangan sampai Agam marah jika dia menanyakan hal sensitif itu.
"Maafkan Ibu Melati, Ibu tidak tau. " Marbela menepuk-nepuk pundak Melati.
"Tidak apa-apa Bu. "
Kemudian Agam datang menuruni tangga.
"Hmm." Agam berusaha berdehem agak keras.
Melati pun melihat ke arah sumber suara.
"Ada apa Bu? kok datang sepagi ini."
"Emangnya Ibu tidak boleh datang ke rumah ini? Tidak boleh melihat anak dan calon menantu Ibu, begitu? "
"Agam tidak melarang Bu. Agam cuman bertanya. "
Ibu memalingkan wajahnya dan kemudian tersenyum kepada Melati.
"Agam itu memang pria kulkas Melati. Kamu yang sabar ya menghadapi dia. "
*Cih, aku yang sabar Bu. Bukan dia. Kalian berdua sama saja. " (Agam)
Agam mulai duduk salah satu kursi meja makan.
"Wah, ada kue ni. Ibu yang buat ya? " Agam yang menyukai kue langsung memotong kue itu dan memakannya.
"Rasanya enak Bu. Sering-sering ya, Agam rindu masakan Ibu. "
Melati dan Marbela saling menatap.
"Itu masakan Melati, bukan masakan Ibu. Kamu gimana sih Agam. "
Agam agak kaget dan melihat ke arah Melati. Lalu dia tersenyum.
"Maaf ya sayang, aku nggak tau."
"Kue buatan kamu enak sayang. "
__ADS_1
*Sayang? dia memanggil aku sayang.*
Agam mengedipkan sebelah matanya.
*Dasar mesum.*
"Syukurlah jika kamu menyukainya. "
Agam pun sengaja bangkit dari duduknya.
Dia kemudian melangkahkan kaki menuju Melati dan mencium pipi Melati.
"Makasih untuk kuenya sayang. "
Melati sungguh terkejut mendapat perlakuan itu.
Agam yang melihat itu hanya tertawa.
Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hahaa.
Melati pun menatap tajam ke arah Agam. Namun yang di tatap tampak acuh tak acuh.
*Kamu pasti marah kan? tapi aku lagi senang sekarang. Lumayan bisa memcium pipi. Tapi kalau udah nikah... * Agam kembali tersenyum tipis sambil mengambil kue yang di potong.
*Lihat, pasti dia sangat bahagia karena sudah menyentuhku. Aku mengutukmu Agam.*
Melati terus saja memandangi Agam.
Namun kemudian, Marbela memanggil Melati.
"Melati, kamu baik-baik aja kan? "
Namun Melati larut dalam pikirannya sendiri.
"Melati. " Ibu memegang tangan Melati.
"Iya Bu. "
"Kedatangan Ibu mengganggu kalian berdua ya?"
"Atau kalian jadi canggung bermesraan gara-gara kedatangan Ibu? "
*Canggung bermesraan? apaan lagi ini? *
Agam dan Melati saling menatap kemudian melihat ke arah Ibu.
Bersambung....
__ADS_1