TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Berebutan untuk di gendong Ayah


__ADS_3

Rivaldo baru saja pulang bekerja. Dia melihat Lisa dan beberapa orang masuk ke dalam ruangan.


"Siapa yang sakit? Kenapa Lisa masuk ke dalam ruangan itu?"


"Bukankah itu Adam Manggala dan saudaranya? Kenapa mereka mengekori Lisa? Anak siapa yang di gendong itu? " Rivaldo semakin bertanya-tanya.


"Adam Manggala ganteng ya." Salah satu perawat memuji ke gantengan Adam ke perawat satunya.


"Iya, tapi adiknya juga ganteng."


"Maksudmu Agam Manggala? Aku dengar sekarang ini dia adalah ketua geng mafia. "


"Eh, kau jangan terlalu keras." Perawat itu mencubit lengan temannya.


"Kenapa sih? " Perawat itu terlihat kesal.


"lebih berbisik bicaranya."


"Iya-iya. "


"Permisi." Adam mengagetkan kedua perawat itu.


"Iya Tuan. Ada apa? "


Kedua perawat itu saling tatap-tatapan.


"Saya mau bertanya, orang di ruangan itu sakitnya apa ya Sus? " Rivaldo bertanya kepada mereka berdua.


"Oh itu, ada anak yang tertembak di punggungnya. Anak itu baru saja selesai di operasi. Ibu dari anak itu adalah anak angkat dari pemilik rumah sakit ini. "


"Anak angkat? berarti dia anak angkat dari Nyonya Caroline Bastian. " Rivaldo agak terkejut.


"Ia Tuan." Kedua perawat itu dengan serentak menjawab.


"Terima kasih Sus." Rivaldo pun pergi dari tempat itu.


Rivaldo sedikit berlari untuk masuk ke dalam ruangan istrinya yang sedang koma.


"Ada apa Tuan? " Asisten Rumah Tangga Rivaldo bertanya kepada Rivaldo.


"Saya tidak apa-apa Bi. " Rivaldo tersengal seperti baru saja selesai meraton.

__ADS_1


"Lisa, apakah kamu sudah tidur? " Agam membangunkan Lisa.


"Belum, aku hanya menutup mataku. " Lisa menjawab pertanyaan Agam.


"Lisa, aku sudah berdiskusi dengan Adam. Kamu dan anak-anak tidur di rumah saja. Biar saya dan anak buah saya yang menjaga Tommy di sini."


"Kamu dan anak-anak akan di antar oleh Adam untuk pulang. Kasian mereka, mereka harus tidur di tempat yang seperti ini. Biasanya di tempat seperti ini anak kecil di larang masuk." Agam berusaha membujuk Lisa.


"Bagaimana saya bisa percayai kamu? " Lisa bertanya kepada Agam.


"Kamu harus mempercayai saya, karena saya adalah Paman dari anak-anakmu. Saya menyayangi mereka seperti anak saya sendiri." Agam menatap Lisa dengan lembut.


"Apakah kamu mempunyai anak sebelumnya? " Lisa kembali bertanya kepada Agam.


"Tidak. "


"Tapi saya Paman Mereka, saya tidak mungkin melukai keponakan saya sendiri. " Agam berusaha meyakinkan Lisa.


Lisa melihat anak-anaknya yang tertidur pulas.


Kasian mereka harus tidur seperti itu.


"Apakah kamu tega melihat mereka tertidur seperti itu? " Agam kembali membujuk Lisa.


Ya, aku tidak tega melihat mereka tertidur seperti itu.


"Baiklah, saya akan pulang membawa anak-anak untuk tidur di rumah. Itu adalah keputusan yang terbaik untuk mereka. Lagian mereka bisa masuk ke ruang ini karena saya adalah anak angkat dari Nyonya Caroline Bastian. Perawat dan Dokter itu mengenal saya. Saya yakin, mereka semua akan bekerja sama untuk memberikan perawatan yang terbaik untuk anak saya. " Lisa melihat ke arah Agam.


"Saya mengucapkan terima kasih atas bantuan kamu Agam. Saya sangat menghargainya. " Lisa dengan tulus mengucapkan terima kasih kepada Agam.


"Iya Lisa, sama-sama. "


Agam keluar untuk memanggil Adam.


"Lisa setuju. " Agam mengedipkan sebelah matanya kepada Adam.


Adam masuk ke dalam ruangan tanpa bicara apapun kepada Agam.


"Saudaraku sangat kaku. Seharusnya dia mengucapkan terima kasih kepadaku, atau memelukku kek. " Agam mengeluhkan perlakuan saudaranya sendiri.


"Apakah dia gengsi melakukan itu? " Agam berbicara seperti orang gila.

__ADS_1


Kedua pengawalnya yang bernama Ucok dan Irvan hanya menggelengkan kepala ketika melihat Agam seperti itu.


"Gengsi, aku nggak gengsi kok. " Agam berbicara sendirian.


"Terima kasih ya adikku." Agam memperagakan seolah-olah memeluk seseorang.


"Sepertinya dia sudah gila. " Ucok berbisik ke telinga Irvan.


"Aku juga memikirkan hal yang sama. " Irvan juga berbisik ke telinga ucok.


Adam melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan.


Lisa menatap Adam yang baru saja memasuki ruangan.


"Aku akan membangunkan mereka dulu." Lisa melangkahkan kaki menuju kedua anaknya yang sedang tertidur pulas.


"Alis, Jimmy, bangun sayang. "


"Ayo kita pulang. Alis dan Jimmy boboknya di rumah aja ya nak. " Lisa berusaha untuk menggendong Alis.


"Ibu, Alis mau di gendong sama Ayah. " Alis berbicara dengan nada manja.


Dengan refleks, Lisa melihat ke arah Adam.


"Biar aku saja yang menggendong Alis, Lisa." Adam dengan cepat menggendong Alis.


Melihat adiknya yang sedang di gendong oleh Ayahnya. Jimmy tidak mau tinggal diam.


"Jimmy juga ingin di gendong oleh Ayah. " Jimmy melihat Ayahnya yang sedang menggendong Alis.


Kenapa mereka berdua berebutan untuk di gendong oleh dia?


Lisa secara tidak langsung terasa di abaikan oleh anak-anaknya sendiri.


Bersambung...


Buat pembaca semuanya, jangan lupa like dan beri saran ya di kolom komentar.


terima kasih


#Salamdariautor

__ADS_1


__ADS_2