TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Hari begitu cepat berlalu


__ADS_3

"Kring! kring! " Alarm ponsel Lisa berbunyi.


Lisa dengan malas meraih ponselnya dari nakas.


"Kenapa hari terasa begitu cepat. Rasanya aku baru saja tidur, dan sekarang aku harus bangun lagi. Masa mudaku yang malang. " Lisa memaksakan dirinya untuk duduk. Ia pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya.


Setelah itu, ia pergi ke meja kerjanya. Ia menghidupkan laptop.


"Apa ya? " Lisa berusaha berfikir dan fokus. Ia sedang memikirkan ide untuk tulisannya.


....


Lima Puluh Menit telah berlalu.


"Tingtong! Tingtong! "


Suara bel rumah itu berbunyi, Lisa mengangkat pantatnya dari kursi kebesarannya. Ia melangkahkan kaki dengan cepat.


"Pasti itu Asisten Rumah Tangga yang telah di janjikan oleh Pak Toni. Dia datang sepuluh menit lebih cepat dari waktu yang seharusnya." Lisa melihat jam yang ada di ponselnya dan berbicara sendiri dengan suara pelan.


"Cekrek! "


Ia membuka pintu kamarnya dan menuruni tangga untuk membuka pintu utama.


"Cekrek!"


"Saya di suruh Pak Toni untuk datang ke rumah ini Nona." Wanita paruh baya itu menatap wajah Lisa.


"Apakah ibu yang bernama Bi Minah? " Lisa memperhatikan wanita paruh baya itu dari bawah sampai ke atas. Sebelumnya Pak Toni sudah memberitahu Lisa bahwa ada Asisten Rumah Tangga yang akan datang ke rumahnya jam 6 pagi.


"Iya, itu nama saya Nona. Apakah Nona yang bernama Nona Lisa? "


"Iya, itu nama saya Bi. Silahkan masuk Bi Minah." Lisa mempersilahkan Bi Minah untuk segera masuk.


Lisa menjelaskan tugas Bi minah selama lima belas menit.


"Itu dulu penjelasan dari saya Bi, jika bibi lupa saya akan membuat catatan untuk Bibi." Lisa memegang pundak wanita paruh baya itu.


"Oh ya Bi, jika Bibi lelah berulang dari rumah Bibi. Bibi bisa tidur di sini saja." Lisa memperlihatkan kamar Asisten Rumah Tangga.


"Iya Nona. Terimakasih, tapi Bibi berulang saja dari rumah. Soalnya rumah Bibi lumayan dekat dengan rumah Nona."

__ADS_1


"Baiklah Bi, tidak masalah. Tapi Bi, jika saya menyuruh Bibi untuk menginap di rumah ini tolong di maklumi ya Bi. Barang kali ada yang mendesak nantinya, seperti saya tiba-tiba saja sakit dan saya tidak bisa mengurus anak-anak. " Lisa menatap wanita paruh baya itu.


"Oo walah. Kalau soal itu saya mengerti Nona."


Bi minah menatap wajah cantik majikannya.


"Nona Lisa ini sangat cantik sekali, padahal baru bangun tidur dan tidak memakai riasan. Skincarenya apa ya? wajahnya bening sekali." Bi Minah bicara di dalam hatinya. ia terus menatap wajah Lisa secara intens dan tersenyum.


"Kenapa Bibi tersenyum? Apakah ada sesuatu di wajah saya? " Lisa menegur Bi Minah yang tersenyum menatap wajahnya.


"Tidak Nona, Nona Lisa sangat cantik sekali. Saya tidak menyangka, Nona terlihat seperti wanita yang belum memiliki anak." Bi Minah memuji kecantikan Lisa.


Sebenarnya Bi Minah ini sudah mengetahui kisah majikannya, karna ia adalah keluarga jauh dari Pak Toni.


Bi Minah menatap kasian sekaligus bangga ke arah Lisa. Bagaimana tidak, di usia yang tergolong masih muda, Lisa harus berdiri sendiri mencari nafkah dan membesarkan ketiga anaknya. Dia adalah wanita tangguh.


"Bi, saya membangunkan anak-anak sebentar ya! Bibi silahkan membuat sarapan untuk anak-anak. Tenang saja, saya akan cepat turun untuk membantu Bibi." Lisa mengedipkan sebelah matanya dan pergi meninggalkan Bibi.


"Cekrek! "


Lisa mendekati anak sulungnya.


"Jimmy, bangun nak." Lisa mengecup kening anaknya.


"Lima menit lagi Bu." Jimmy menatap Ibunya.


"Tidak ada negosiasi Jimmy! Ayo bangun, mandi dan sarapan pagi. Kamu harus pergi ke sekolah. "


Jimmy dengan malas bangkit dari tempat tidurnya, dan melangkah menuju kamar mandi.


Lisa mengangkat pantatnya dari ranjang kecil milik Jimmy.


"Satu selesai, tinggal dua lagi." Lisa keluar dari kamar Jimmy.


Tiba-tiba Tommy dan Alisya keluar dari kamar mereka.


"Eh, anak ibu sudah cantik dan ganteng. " Lisa sangat bangga kepada Tommy dan Alis, karena tidak perlu lagi membangunkan mereka berdua. Tugas wajib Lisa sudah selesai.


Kemudian mereka bertiga menuruni tangga dan pergi menuju meja makan.


Tommy dan Alis melihat wajah baru di rumah mereka.

__ADS_1


"Itu siapa Ibu?" Alis bertanya kepada Ibunya.


"Itu adalah Asisten baru rumah kita, nama Bibi itu adalah Bi Minah. "


"Mm, Bi Minah. " (Suara Alisya)


"Bi Minah." Suara Tommy terdengar sangat pelan.


"Tommy, Alis. Tunggu di meja makan, Ibu akan membantu Bi Minah sebentar. "


"Tapi Ibu, Alis ingin berkenalan dengan Bi Minah." Alis menatap wajah ibunya.


"Sesi kenalnya nanti saja Alis, Bibinya sedang sibuk. Ok sayang. Duduk di kursi meja makan. "


"Baiklah Ibu." Alis duduk di kursi meja makan yang diikuti oleh Tommy.


Tak beberapa lama kemudian, Jimmy menuruni tangga menuju meja makan.


Jimmy menarik kursi dan mendudukkan pantat kecilnya.


"Kenapa Kak Jimmy lelet sekali." Alis menatap Jimmy.


"Aku ketiduran. " Jimmy menjawab pertanyaan Alis dengan wajah mengantuk.


"Apakah kamu bergadang? " Tommy kembali menanyai Jimmy.


"Iya, semalam aku mencari sesuatu. Nanti aku akan menceritakannya di sekolah." Jimmy menatap Tommy dan Alis secara bergantian.


"Kenapa tidak sekarang saja? " Alis bertanya kembali kepada Jimmy.


"Ini adalah rahasia. Misi ini harus segera kita pecahkan." Jimmy melihat ke arah sekitar.


"Bibi itu siapa? " Jimmy melihat orang baru yang tidak dia kenal di dapur bersama Ibunya.


"Itu adalah Bi Minah. Bi Minah adalah Asisten baru di rumah kita." Lagi-lagi Alis menjawab pertanyaan Jimmy.


"hmp, " Jimmy hanya mendehem saja mendengar jawaban adiknya.


Setelah beberapa menit kemudian. Bi Minah dan Lisa menyajikan sarapan pagi di meja makan. Mereka pun menyantap makanan dengan lahap.


Kemudian mereka berpamitan kepada Ibu Mereka untuk pergi ke sekolah. Hari ini dan selanjutnya, mereka tidak akan diantar oleh Lisa ke sekolah. Melainkan, mereka akan di antar oleh supir baru . Supir baru mereka bernama Pak Karman.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2