
Adam melihat Lisa yang menutup wajahnya dengan selimut.
"Apakah dia begitu malu? dia seperti ABG saja. " Adam berbicara sedikit pelan.
"Diam Kau, aku masih bisa mendengar. " Suara Lisa terdengar oleh Adam.
"Baiklah, selamat bermimpi indah. " Adam mengucapkan selamat malam kepada Lisa. Namun Lisa tidak membalasnya.
"Ayah, ayo kita kembali tidur. " Alis mengajak Ayahnya untuk tidur kembali.
"Ayo Sayang. " Adam menggendong Alis.
Mereka pun tertidur dengan pulas.
....
Di pagi hari yang cerah, Jimmy dan Alis terbangun duluan dari Ayah dan Ibunya.
"Kak, lihatlah."
" Ayah dan Ibu masih ketiduran. Kenapa tidak ada hal yang romantis lagi? " Alis sangat heran melihat Ayah dan Ibunya.
"Maksud kamu Alis? " Jimmy bertanya kepada Alis.
"Tadi malam, Alis melihat Ayah dan Ibu sedang bermesraan. " Alis berbicara dengan pelan supaya tidak membangunkan Ayah dan Ibunya.
"Benarkah? " Jimmy berusaha memastikan.
"Benar Kak Jimmy, Alis melihatnya dengan jelas. "
"Ah, Alis punya ide. "
Tiba-tiba saja Lisa berpindah posisi, sehingga dirinya agak mendekat ke tubuh Adam.
Alis dengan cepat meletakkan tangan Adam ke diatas tangan Lisa.
"Itu lebih romantis. Sekarang kita foto Ayah dan Ibu Kak. " Alis mengambil ponsel Ayahnya.
"Kak, ponselnya terkunci. Bagaimana dong? " Alis mengeluh kepada Kakaknya.
"Sini, biar Kakak bantu." Tidak sampai lima menit, Jimmy sudah berhasil membuka kunci ponsel Ayahnya.
"Ini. " Jimmy menyerahkan ponsel itu kepada Alis.
"Kakak memang yang terbaik. " Alis mengambil ponsel itu kemudian memfoto Ayah dan Ibunya.
"Kita juga harus memfoto Ayah dan Ibu memakai hp Ibu. " Alis meletakkan ponsel Ayahnya di atas nakas dan mengambil ponsel Ibunya.
"Foto yang bagus Alis. " Jimmy memberi perintah kepada Adiknya.
"Ok Kak, ini sudah selesai. "
Mereka berdua melihat hasil foto itu.
"Ayah dan Ibu memang serasi ya Kak. " Alis memuji Ayah dan Ibunya kepada Jimmy.
"Iya, ayo kita siap-siap. " Jimmy mengajak Adiknya untuk bersiap-siap pergi ke sekolah.
__ADS_1
Alis pun meletakkan ponsel Ibunya di atas nakas yang sama.
Mereka berdua lalu keluar dari kamar itu.
Tak lama kemudian, Adam terbangun dari tidurnya.
Saat membuka mata, Adam langsung melihat wajah cantik Lisa yang sedang tertidur.
Meskipun kamu tidur, kamu tetap cantik Lisa.
Adam memuji kecantikan Lisa. Saat itu, ia menyadari tangannya berada di atas tangan Lisa.
Lihatlah, tanganmu begitu kecil.
Adam sedikit tersenyum.
Tiba-tiba Lisa membuka matanya. Ia merasa tangannya sedang di timpa sesuatu yang agak berat.
Lisa melihat tangan Adam sedang menggenggam tangannya.
"Apa yang kau lakukan? " Lisa langsung menarik tangan mungilnya dan duduk.
"Berani-beraninya kau menyentuhku. " Lisa memarahi Adam.
"Saat ini aku hanya menyentuh tanganmu, apakah kamu tidak ingat? dulu aku pernah menyentuh aset berhargamu dan kita saling menikmatinya. " Adam dengan santai mengucapkam kata-kata itu.
"Kau .... " Lisa menatap Adam dengan tatapan tajam.
"Tidak usah menatapku seperti itu." Adam berdiri dan mengambil peregangan.
"Aku pinjam kamar mandimu ya. " Tanpa mendengar persetujuan Lisa, Adam pergi saja menuju kamar mandi.
"Dia tidak melakukan apa pun. Syukurlah kalau begitu. "
"Eh, bagaimana dengan anak-anak? Apakah Bibi sudah datang? " Lisa mengingat anak-anaknya dan dengan cepat ia keluar dari kamar itu.
"Selamat pagi Ibu. " Alis menyapa Ibunya.
"Selamat pagi juga Ibu. " Jimmy juga menyapa Ibunya.
"Iya, pagi Sayang. " Lisa tersenyum manis, kemudian menyentuh kedua kepala anaknya.
"Ibu bantu Bibi sebentar ya Sayang. " Lisa berpamitan kepada anak-anaknya.
"Apakah sudah selesai Bi? " Lisa bertanya kepada Bibi.
"Hampir selesai Nona. " Bibi terlihat sibuk dengan kegiatannya.
"Bagaimana keadaan Tuan Tommy, Nona?" Bi Minah bertanya kepada Lisa.
"Dia sudah selesai di operasi Bi. Setelah anak-anak ke sekolah, saya akan menjenguknya ke rumah sakit. " Lisa menjawab pertanyaan Bi Minah.
"Mm, begitu Nona. Semoga Tuan Tommy cepat sembuh ya Nona. "
"Amin Bi. "
"Tapi nanti, Apakah saya boleh ikut melihat Tuan Tommy Nona? " Bi Minah menawarkan diri untuk ikut.
__ADS_1
"Iya, tentu Bi." Lisa mengizinkan Bi Minah untuk ikut melihat Tommy.
Eh, tapi Nona Alis dan Tuan Jimmy bilang Ayah mereka sedang menginap disini. Kenapa aku belum melihat dia ya?
Bi Minah sangat penasaran dengan sosok pria yang merupakan Ayah dari anak-anak Lisa.
...
Tiba-tiba bel di rumah itu berbunyi.
"Siapa ya, yang bertamu pagi-pagi ini? Apakah itu Pak Toni?" Lisa berbicara sedikit pelan.
"Biar Bibi bukakan pintunya Non. " Bi Minah menawarkan diri untuk membukakan pintu.
"Tidak usah Bi, biar saya saja yang membukakan Pintu. " Lisa dengan cepat membukakan Pintu.
Tiba-tiba saja ada seorang pria yang membawakan setelan jas dan ia membungkukkan badan kepada Lisa.
"Maaf Nyonya, nama saya Arsena. Saya datang kesini untuk mengantarkan pakaian Tuan Adam. "
Kemudian supir yang mengantarkan Lisa kemaren keluar dari mobil.
"Arsena itu adalah Sekretaris Tuan Adam Nona. Dia di suruh Tuan Adam untuk mengantarkan pakaiannya ke rumah Nona. " Sang Supir menjelaskannya kepada Lisa.
"Jangan panggil dia Nona, panggil dia Nyonya. " Arsena membentak sang supir.
"Maaf, maksud saya Nyonya. " Sang Supir memperbaiki panggilannya.
"Tidak apa-apa Pak. Bapak boleh panggil saya Nona atau Nyonya itu terserah saja. " Lisa tidak memperdulikan hal itu.
"Jadi Nyonya? " Arsena menyodorkan pakaian Tuannya.
"Ah iya, silahkan antarkan saja jas itu kepada Adam. Dia berada di dalam kamar saya. " Lisa menunjuk kamarnya yang berada di lantai atas.
Dengan malu Arsena menolak itu semua.
"Maaf Nyonya, saya tidak berani masuk ke dalam kamar Nyonya. Bisakah Nyonya membantu saya memberikan pakaian ini kepada Tuan Adam. " Tatapan Arsena terlihat memohon kepada Lisa.
"Tidak apa-apa, masuk saja dan berikan pakaian itu kepada Tuanmu. " Lisa tetap bersikeras menyuruh Arsena mengantarkan pakaian itu kepada Adam.
"Maaf Nyonya, saya sungguh tidak berani. Tolong bantu saya Nyonya. " Kali ini Arsena sangat memohon kepada Lisa.
Melihat Arsena yang memohon, Lisa merasa tidak tega.
"Baiklah. " Lisa mengambil pakaian itu.
"Silahkan masuk. " Lisa menawari Arsena untuk masuk.
"Tidak usah Nyonya. Saya menunggunya di dalam mobil saja. " Arsena menolak tawaran Lisa.
"Baiklah, terserah kamu saja. " Lisa masuk dan menutup pintunya.
*Ah, aku harus mengantarkan pakaian ini kepadanya. Ini gimana dong? aku merasa sedikit malu.
Bagaimana kalau dia sedang bertelanjang di kamarku? apa yang harus aku lakukan*?
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan koment ya.
Terima kasih.