TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
TPD2_


__ADS_3

Melati sibuk menyantap mie instannya, sedangkan Agam juga demikian.


Mereka sibuk dengan makanan dan pikiran mereka masing-masing.


Tiba-tiba ponsel Melati berbunyi, setelah di lihat panggilan telefon itu berasal dari ibu mertuanya yaitu Ibu Marbela.


Melati pun mau tidak mau harus mengangkat panggilan telfon itu.


"Hallo Bu. "


"Iya, hallo sayang. Kamu lagi apa? "


"Aku lagi makan mie instan Bu. "


"Mana Agam? "


"Agam juga lagi makan mie instan Bu." Melati mengganti sorot kameranya dengan kamera belakang.


"Itu Agam Bu. "


"Bolehkah Ibu berbicara dengan Agam? "


"Tentu Bu. "


Melati pun berdiri dan menyerahkan ponselnya kepada Agam.


"Ibu ingin bicara kepadamu. "


Agam tidak menjawab perkataan Melati, lelaki itu hanya mengangkat sebelah alisnya dan mengambil ponsel itu di tangan Melati.


"Hallo Bu, ada apa? "


Melati mulai meninggalkan Agam untuk memberi privasi kepada Agam.


"Aku akan menelfon Ibu. Tunggu sebentar. " panggilan telfon itu di matikan oleh Agam.


Kemudian Agam berdiri dan menyerahkan ponsel itu kepada Melati.


"Terima kasih ponselnya. " Agam meninggalkan Melati.


"Kamu mau kemana? "


"Aku ingin mengambil ponselku di dalam kamar."


"Kenapa? kamu mau ikut? "


"iss. " Melati memalingkan wajahnya.


Agam seperti menahan senyumnya.


Lelaki itu melangkahkan kaki menuju kamarnya dan mengambil ponselnya diatas nakas.


Lelaki itu menelfon Ibunya.

__ADS_1


"Hallo Bu. "


"Iya hallo nak. "


"Gimana, kamu sudah berbicara dengan Melati? "


"Belum Bu. "


"Bicarakan baik-baik, kalau kamu ingin segera punya anak. Kalian harus membiasakan diri untuk berdiskusi. "


Agam hanya mendengarkan Ibunya mengoceh.


"Agam, kamu dengar Ibu kan. "


"Dengar Bu. "


"Kamu harus segera punya anak, Ibu nggak mau tau ya. Buat anak itu kan mudah, dan lagian kamu bisa merasa kenikmatannya."


Wajah Agam mulai memerah mendengar pembicaraan Ibunya.


Agam sedang merasa malu jika membahas hal itu.


"Agam, kamu begong ya."


"Tidak Bu. "


"Ibu tenang saja, Agam pasti segera memberi Ibu cucu. Ibu hanya perlu bersabar. "


"Ibu, aku dan Melati itu baru saja menikah. Mana bisa dengan sekejab langsung melahirkan Bu, kan harus hamil dulu dia. "


Ibu seperti menghela nafasnya di seberang sana.


"Ibu nggak mau tau, kamu harus segera membuat Melati hamil Agam. "


Ibu mematikan ponselnya.


"Kenapa Ibu jadi tamperamen begini? Apa dia salah minum obat. " Agam hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan melempar ponsel itu ke atas ranjang tempat tidur.


Kemudian lelaki itu keluar dari kamar. Dia melihat wajah Melati yang saat ini sudah beralih untuk menonton flm korea.


Agam memperhatikan Melati yang sedang tertawa melihat flm itu.


"Senyumnya itu. "


Tanpa di sadari Agam juga tertawa melihat Melati yang tertawa.


***


Hari sudah semakin malam, dua manusia yang berada di apartement itu sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Melati sibuk menonton flm korea, sedangkan Agam sibuk memeriksa emailnya.


Hingga tiba-tiba lampu apartement mereka mati mendadak.

__ADS_1


Melati yang agak takut dengan kegelapan berteriak.


"Agam. "


"Agam, aku takut. "


Agam dengan cepat melangkah ke arah Melati.


Melati dengan cepat memeluk Agam.


"Aku sangat takut. " Melati menyembunyikan tubuh mungilnya di dada bidang milik Agam.


Agam dengan refleks membalas pelukan Melati. Dia menepuk-nepuk pundak Melati.


Tapi tak beberapa menit kemudian, lampu apartement mereka hidup.


Melati kemudian melepaskan pelukannya.


"Maafkan aku Agam. "


Melati kemudian bercari alasan agar bisa melarikan diri dari Agam.


"Aku akan pergi tidur. "


"Ya, tidur yang nyenyak. "


Melati pun masuk ke dalam kamar.


"Mungkin aku sudah gila, aku memeluk Agam. Aduh, kenapa memalukan sekali sih. " Melati menghentak-hentakkan kakinya di atas kasur.


Hingga kemudian wanita itu tertidur meskipun rasa malu dan kesal masih menyelimuti dirinya.


Agam yang sudah selesai dengan kerjanya masuk ke dalam kamar.


Kondisi kamar itu agak gelap karna lampu utama kamar tersebut sudah di matikan.


Agam dengan hati-hati naik ke atas ranjang. Dia tersenyum melihat Melati yang sudah tertidur.


"Kenapa wajahnya imut begitu? " Agam mengelus rambut Melati.


Pria itu hendak mencium kening istrinya. Namun Melati bergerak.


"Ah tanganku. " Agam berbicara berbisik dan menepuk tangannya yang mengelus rambut Melati.


Mungkin pikirnya Melati akan mengamuk jika mengetahui dirinya telah mengelus dan berniat mencium keningnya. Lelaki itu menghentikannya dan memilih untuk tidur.


Ternyata pada waktu itu Melati tidak tertidur penuh. Dia masih tetap merasakan jika Agam telah mengelus rambutnya. Bahkan dia merasakan hembusan nafas Agam yang ingin mencium dirinya. Makanya pada saat itu dia bergerak.


Namun saat ini dia membelakangi Agam dan kemudian tersenyum.


***


Di pagi harinya, mereka berdua terbangun. Posisi mereka di pagi itu adalah saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2