
Agam merasa terhibur dengan wanita mabuk yang berada di dalam kamarnya.
Wanita mabuk itu berbicara yang ujungnya kemana-mana, lebih tepatnya dia sedang meluahkan unek-uneknya kepada Agam.
Agam hanya mendengarkan wanita itu mengoceh dan sesekali mengomentarinya.
"Baiklah, karena aku sedang baik hari ini. Kau di perbolehkan duduk di sofa itu." Wanita itu menunjuk-nunjuk Agam.
Agam hanya tertawa melihat wanita mabuk itu.
Yah, hanya dia seorang wanita yang berani menunjuk-nunjuk Agam seperti itu.
"Yah, anggap saja begitu." Agam kembali terkekeh.
Sudah lama rasanya, Agam tidak tertawa receh seperti itu. Dia terlihat begitu menikmatinya.
"Sekarang kau dengarkan aku."
"Iya, saya akan mendengarkan anda nona." Agam menuruti perkataan wanita mabuk itu.
Oh my god, seorang Agam di perintah oleh wanita mabuk. Apakah wanita mabuk itu waras? Agam itu laki-laki berbahaya dan berkuasa. Dia berani-beraninya memerintah seorang Agam.
"Kau tau tidak, hidupku sangat lucu."
"Hahaa, sangat lucu sekali. Karena Ayahku baru saja meninggal dunia. Aku seorang diri sekarang."
"Ibumu kemana?" Agam malah bertanya kepada wanita mabuk itu.
"Ibuku meninggal dunia ketika melahirkan aku, sepertinya aku anak pembawa sial."
"Ibu meninggal, Ayah meninggal. Semua orang meninggal." Suara wanita itu terdengar sedih.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Kau tau, kami sudah bangkrut. Tidak ada uang lagi."
__ADS_1
"Kalau anda bangkrut, kenapa anda mabuk-mabukan?"
"Aku tidak mabuk. Kau dengar, aku tidak mabuk." Tapi wanita itu tidak mengakui bahwa dirinya sedang mabuk.
Cih, terserah saja.
Agam kembali tertawa.
***
Di pagi harinya, wanita itu terbangun dari tidurnya.
Tanpa melihat ke kiri dan ke kanan, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Bahkan dia tidak melihat Agam yang sedang duduk sembari membaca majalah di atas sofa.
Dia bangun juga rupanya.
Agam melihat jam yang sudah menunjukkan jam setengah sebelas.
Dia tetap berlalu lalang tanpa mengetahui ada orang lain juga di dalam kamar itu.
Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan dirinya.
"Selamat pagi Nona Pemabuk." Agam mengatakan selamat pagi kepada wanita itu.
Wanita yang bernama Melati itu cukup terkejut.
Dia membalikkan badannya, dan untuk sekian detik mata mereka sempat bertatap-tatapan.
"Ka, kau siapa?" Tiba-tiba bayangan tadi malam muncul di kepalanya.
*Sial, kenapa aku masuk ke dalam kamar ini? Aku kan tidak punya uang untuk membayarnya.
__ADS_1
Untuk sekarang, apa yang harus aku lakukan? Apakah laki-laki itu sudah menodai diriku.
Tapi tidak, aku masih memakai pakaian lengkap tadi*.
"Apakah anda ingin mengatakan sesuatu kepada saya?"
"Kira-kira, siapa lelaki brengsek yang telah mencampakkan anda?"
"Oh ya, anda bilang, anda sudah bangkrut dan Ayah anda sudah meninggal dunia. Benarkah semua itu?" Agam malah menanyakan pertanyaan secara bertubi-tubi.
*Sial, apakah aku mengatakan semuanya kepada Sibrengsek ini?
Aaah, itu memalukan Melati. Kamu telah membongkar aibmu sendiri*.
Namun dengan angkuhnya, Melati melihat ke arah pria itu.
"Itu bukan urusanmu."
"Jangan mencampuri urusanku." Entah kenapa Melati berubah menjadi galak saja. Padahal saat ini dia begitu gemetar berhadapan dengan laki-laki itu. Apalagi mereka cuman berdua di dalam kamar itu. Dia takut, laki-laki itu bisa melakukan hal apa saja kepada dirinya.
*Wow, cukup berani juga wanita pemabuk ini.
Apa dia sedang menantangku?
Hahaaa*.
Jadi selama ini, tidak ada orang yang berani menatapnya seperti itu. Apalagi membentak atau menantang seperti yang di lakukan oleh Melati.
Namun, seketika ketegangan mereka mencair, ketika Agam mengatakan sesuatu kepada Melati.
"Jadi, kamu ini jones ya?"
Deg.
__ADS_1
Pertanyaan tersebut berhasil membuat melatih tersipu malu.