TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Alis memergoki Ayah dan Ibu


__ADS_3

Saat itu Adam melihat Lisa yang sedang berjalan ke arah balkon.


"Apakah dia tidur sambil berjalan? " Adam mengucek-ngucek kedua matanya.


"Jam berapa sekarang?" Adam melihat jam yang ada di tangannya, karena sebelum tidur dia lupa melepaskan jam di tangannya.


"Baru jam 3 pagi." Adam bangun dan mengikuti Lisa ke arah balkon.


Dia ternyata sadar, kenapa harus ke balkon di jam 3 pagi?


Adam kebingungan melihat keanehan Lisa.


"Hah. " Adam tersenyum tipis.


"Dia menyukai bintang di langit yang gelap. Seperti anak kecil saja. " Adam berbicara di dalam hatinya.


Adam terus melangkahkan kaki mendekati Lisa.


"Apa yang sedang kau lakukan? " Adam bertanya kepada Lisa.


Lisa dengan cepat melihat ke arah Adam.


"Kau mengagetkanku. " Lisa menatap Adam dengan tajam.


"Maaf," aku memang sengaja melakukannya.


Adam tertawa semberingah melihat reaksi Lisa.


"Kau bahagia? " Lisa terus saja menatap Adam.


"Aku hampir saja terkena serangan jantung. " Lisa dengan kesal memarahi Adam.


Adam diam saja dan ikut memandangi bintang seperti yang di lakukan Lisa sebelumnya.


"Kau juga menyukai bintang? " Lisa bertanya kepada Adam.


"Tidak juga. Kalau kamu? " Adam balik bertanya kepada Lisa.


"Aku sangat menyukainya. Mereka begitu cantik. " Lisa tersenyum bahagia sehingga membuat wajahnya semakin cantik.


"Iya, mereka cantik. " Namun Adam melihat ke wajah Lisa.


Kau tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Sekarang kau benar-benar telah menjadi sosok wanita yang dewasa.


Adam memuji Lisa di dalam hatinya.


"Benarkan? jangan bilang kau juga menyukainya. " Lisa melihat ke arah Adam.

__ADS_1


Dengan cepat Adam mengalihkan pandangannya dari wajah Lisa.


"Ya, aku sedikit menyukainya sekarang. "


"Aku menyukaimu. " Adam berbicara di dalam hatinya.


"Kenapa Kau terbangun? " Tiba-tiba Lisa menanyakan kenapa Adam terbangun.


"Entahlah, aku tiba-tiba saja terbangun. " Adam berbohong kepada Lisa.


"Mungkin karena Kau tidak tidur dikamar Kau sendiri. Dulu, aku juga begitu. " Tanpa di sadari Lisa curhat kepada Adam.


"Apakah barusan kau curhat kepadaku? " Adam bertanya kepada Lisa.


"Tidak, itu hanya pernyataan. " Lisa menjawab dengan wajah yang sedikit cemberut.


Tanpa di sadari, Adam tersenyum melihat ekspresi Lisa.


"Tingkahnya masih terlihat seperti anak kecil. " Adam kembali berbicara di dalam hatinya.


Kemudian secara perlahan Adam mendekati Lisa.


"Apa yang kamu lakukan? kenapa kamu semakin mendekat? " Hal itu membuat Lisa sedikit gugup.


"Tadi Kau memanggilku dengan sebutan Kau, sekarang Kau memanggilku dengan sebutan Kamu. Kau begitu tidak konsisten. " Adam menatap Lisa dengan intens, sesekali dia melihat ke arah bibir seksi milik Lisa.


"Hah," Adam tersenyum tipis.


"Apakah kau sedang gugup sekarang? " Adam bertanya kepada Lisa dengan santai.


Adam melihat Lisa dari unjung kaki sampai ujung kepala.


Wajah Lisa begitu tegang dan sedikit pucat.


"Kau, apa yang kau perhatikan? " Lisa dengan gugup bertanya kepada Adam.


"Tidak. Aku tidak menyangka saja, Kau masih pendek seperti yang dulu. " Adam terlihat begitu bahagia.


Adam mengukur tinggi Lisa dengan badannya.


"Kau begitu pendek Lisa. Lihat, tubuhmu cuman setinggi dada bagiku. " Adam mulai mengejek Lisa. Dia tertawa bahagia.


"Memang kenapa jika aku pendek? " Lisa menatap Adam yang sedang menertawakan dirinya.


"Setidaknya, Kau tetap Ibu dari anak-anakku. " Adam kembali menatap Lisa.


"Kau mengejekku. " Lisa melangkahkan kaki meninggalkan Adam. Tapi tiba-tiba saja Lisa tersandung sesuatu. Hal itu membuat dirinya hampir terjatuh.

__ADS_1


Namun dengan sigap Adam menangkap Lisa.


Mata mereka berdua sempat saling menatap.


"Apakah kau baik-baik saja? " Adam menanyakan keadaan Lisa.


"Kenapa jantungku berdetak begitu cepat? dia terlihat begitu tampan. " Lisa mulai melamun dan berbicara sendirian di dalam hatinya.


"Ayah, Ibu, kalian berdua sedang apa? " dari sudut sana, Alis mengagetkan Ayah dan Ibunya.


"Lepaskan aku. " Lisa dengan cepat melepaskan diri dari Adam.


"Ah, Ibu malu ya? " Alis menggoda Ibunya.


"Tidak apa-apa. Ayah dan Ibu begitu serasi. Silahkan lanjutkan kembali. " Alis dengan cepat kembali masuk.


"Ah, Putriku. " Adam sedikit tersenyum malu.


"Ah, ini gara-gara Kau. " Lisa terlihat begitu malu tetapi menunjukkan kekesalannya.


"Apa salahku? aku hanya ingin membantumu. "


Tapi Lisa tidak menghiraukannya dan tetap pergi meninggalkan Adam.


"Hei, seharusnya kau mengucapkan terima kasih kepadaku. " Adam mengikuti Lisa yang meninggalkan dirinya sendirian di balkon itu.


"Hah, dia tersipu malu. Tampangnya begitu lucu. " Adam berbicara sendirian sambil tertawa bahagia.


"Aku kenapa merasa malu juga ya? . " Adam bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.


"Alis, " Lisa memanggil putri kecilnya.


"Aku kebelet pipis Ibu. Aku tidak sengaja melihat Ayah dan Ibu. Ibu tidak berhak memarahiku, aku tidak sengaja melihatnya. " Alis mengunci kamar mandi sebelum Lisa berhasil mendapatkannya.


"Apa Kau ingin memarahi Alis? " Adam bertanya kepada Lisa.


"Tidak, aku akan tidur kembali. Jangan ganggu aku. " Lisa dengan cepat kembali tidur dan menarik selimutnya.


Tak butuh waktu lama, Lisa menarik selimutnya kembali untuk menutupi wajahnya sendiri.


Ini begitu memalukan. Aku harus cepat-cepat tidur dan melupakan semua ini.


Bersambung...


Jangan lupa like dan coment ya, supaya Autor lebih semangat lagi untuk apload.


Terima kasih.

__ADS_1


Salam dari Autor.


__ADS_2