
Marbela mendapat kabar dari Pengawal bahwa Adam telah mempunyai 3 orang anak. Salah satu dari anak Adam telah terkena tembak oleh Baron yang merupakan saudara dari Camilla.
"Benarkan mereka bertiga itu anak Adam?" Marbela melihat beberapa foto yang di foto oleh pengawalnya.
Tak lama kemudian Marbela pergi ke sekolah Jimmy dan Alis.
Di sekolah itu Marbela melihat Alim yang berdiri lurus layaknya seorang pengawal di depan gerbang sekolah.
"Kenapa Alim berada di sini? " Marbela bertanya kepada supirnya.
"Dia di suruh oleh Tuan Muda Agam untuk mengawal Jimmy dan Alis Nyonya Besar. " Sang Supir berusaha menjelaskan informasi yang dia dapat.
"Hmp, tampaknya semua orang sudah mengetahui kecuali saya sendiri. " Marbela sedikit murung.
Namun akhirnya, wajah Marbela kembali ceria saat melihat Jimmy dan Alis keluar dari sekolah. Mereka di sambut oleh Alim dan Pak Karman.
Dengan cepat, Marbela keluar dari mobil. Marbela berlari menuju Jimmy dan alis. Dia langsung memeluk mereka berdua.
"Sayang, aku Nenek kalian. " Marbela begitu terharu melihat Jimmy dan Alis.
Alim yang merupakan Pengawal dari Jimmy dan Alis berusaha menjelaskan kepada mereka berdua.
"Tuan Jimmy, Nona Alis. Nyonya Besar Marbela adalah Nenek Kalian. "
"Nyonya Besar Marbela adalah Ibu dari Tuan Adam dan Tuan Agam. " Alim berusaha memberitahu Jimmy dan Alis.
Meskipun Adam adalah Anak Tiri Marbela, namun Marbela menganggap Adam sebagai anak kandungnya. Karena Marbela yang membesarkan Adam semenjak Adam masih bayi. Ibu kandung dari Adam meninggal dunia ketika melahirkan Adam, dan kemudian Ayah Adam yang bernama Lou Manggala menikahi Marbela sebagai Ibu Sambung Adam.
"Nenek." Alis memeluk Neneknya, begitu juga dengan Jimmy.
"Bagaimana kondisi saudara kalian? " Marbela bertanya kepada Jimmy dan Alis.
"Dia sedang berada di rumah sakit Nenek. " Alis menjawab pertanyaan Neneknya.
__ADS_1
"Iya Nek, Tommy baru saja selesai di operasi. " Jimmy menambahkan jawaban Alis kepada Neneknya.
"Syukurlah kalau begitu. Semoga dia baik-baik saja. " Marbela tersenyum haru melihat wajah Alis dan Jimmy begitu mirip dengan Adam ketika kecil.
"Nama cucu tercantik Nenek siapa? " Marbela menanyakan nama Alis.
"Namaku Alis Nek. Dan ini kakakku, namanya Jimmy. " Alis memperkenalkan namanya dan nama Kakaknya.
"Nama kalian bagus sekali, sama persis seperti orangnya. " Marbela begitu gemas melihat kedua cucunya.
"Nek, ayo kita ke rumah sakit. Kita harus menjenguk Tommy. " Alis mengajak Neneknya untuk menjenguk Tommy.
"Iya Nek, mungkin Tommy sudah bangun. Iyakan Alis? " Jimmy melempar pertanyaan kepada Alis.
"Iya Kak Jim. Alis yakin, Tommy pasti sudah bangun. " Hari itu Alis memanggil Jimmy dengan sebutan Kak Jim.
"Baiklah Alis, Jimmy, ayo kita pergi ke rumah sakit." Dengan semangat Marbela mengajak mereka berdua ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Marbela dan kedua cucunya pergi ke ruangan Tommy dengan di dampingi oleh Alim dan dua orang supir.
"Ayo masuk Nek. " Alis menarik tangan Marbela untuk masuk ke ruangan Tommy.
Adam begitu terkejut saat melihat Marbela datang ke ruangan itu.
"Ibu. " Adam langsung memanggil Marbela.
Marbela pun melihat ke arah Adam dan Lisa. Kemudian Marbela menatap Adam.
"Kenapa kamu tidak bilang ke Ibu? " Marbela bertanya kepada Adam.
"Karna Adam yakin, Ibu akan mengetahuinya meskipun Adam tidak menceritakannya. " Dengan santai Adam menjawab pertanyaan Marbela.
Saat itu Marbela hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Itu tidak adil Adam, seharusnya Ibu mengetahui langsung dari kamu. Bukan dari orang lain." Dengan cepat Marbela mendekati Adam dan Lisa yang diikuti Alis maupun Jimmy.
Marbela menatap Lisa, namun Lisa hanya menunduk malu. Dia belum siap menghadapi semuanya tapi harus menghadapinya.
"Nenek, ini adalah Ibu kami. " Alis memperkenalkan Ibunya kepada Marbela.
"Jadi ini Ibu kalian. " Marbela tersenyum ke arah Alis dan Jimmy. Kemudian dia kembali menatap Lisa.
"Angkat dagumu Nak. " Marbela memberi perintah kepada Lisa.
Dengan berat, Lisa mengangkat dagunya dan menatap Marbela.
"Maafkan saya Bu, " Lisa meminta maaf kepada Marbela.
"Tidak usah meminta maaf Nak." Dengan cepat Marbela memeluk Lisa.
"Apakah yang kamu lalui begitu berat? " Marbela bertanya dengan suara pelan dan melepaskan pelukannya dari Lisa.
Saat itu Lisa hanya menganggukkan kepalanya. Lisa meneteskan air mata karena dia di peluk oleh Marbela. Hal itu mengingatkan dia dengan sosok Ibunya.
"Kenapa menangis Sayang?" Marbela kembali memeluk Lisa.
"Tenanglah Sayang. " Marbela berusaha menghibur Lisa.
"Aku sangat merindukan sosok Ibuku. " Lisa kemudian memeluk Marbela dengan erat. Tanggisan Lisa lepas seketika.
Marbela pun menepuk-nepuk pundak Lisa yang sedang menangis.
"Tenanglah Sayang. Anggap Ibu seperti Ibumu sendiri. " Marbela sangat terharu melihat Lisa yang begitu rapu.
"Terima kasih Ibu. " Lisa masih saja menangis.
Bersambung...
__ADS_1