TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
bersedih atas kematian Tommy


__ADS_3

Lisa menatap tajam ke arah Dokter dan Perawat meskipun air matanya membasahi pipinya.


"Kalian bekerja sama dengan siapa? Apa saja yang telah kalian rencanakan? " Lisa berusaha mengintrogasi Dokter dan Perawat itu.


Mereka berdua hanya menunduk dan tidak mengucapkan kata sepatah kata pun.


"Hei, jawab aku! " Lisa mulai membentak.


"Jawab aku!" Lisa berteriak kepada Dokter dan Perawat.


Wajah Lisa terlihat pucat dan tubuhnya sedikit gemetar menahan amarahnya.


Adam yang mendengarkan hal itu lansung saja menghampiri Lisa dan menenangkan Lisa.


"Tenangkan dirimu Lisa, aku sendiri yang akan turun tangan soal ini. Kendalikan emosimu."


"Ini rumah sakit, jangan membuat keributan atau pun membuat wibawamu turun. Jangan permalukan dirimu dengan tindakanmu sendiri. " Adam dengan suara pelan berusaha memperingatkan Lisa.


Sedangkan Agam, Marbela dan beberapa pengawal masuk ke dalam ruangan itu karena mereka mendengar teriakan Lisa.


"Apa yang harus Ibu lakukan? " Marbela menatap anaknya karena telah merasa bersalah.


"Ibu telah lalai menjaga Tommy. " Marbela mengusap air matanya yang terus saja membasahi pipinya.


"Jangan salahkan diri sendiri Ibu. "


"Tenanglah, ada sesuatu yang tidak beres disini. " Agam menyuruh Ibunya untuk tetap tenang. Lalu dia menggenggam tangan Ibunya.


"Kuatkan diri Ibu. Ini semua bukan karena Ibu. " Agam berusaha menyakinkan Ibunya.


Setelahnya, mereka semua terdiam melihat exspresi Lisa yang menatap ke arah Dokter dan Perawat dengan tajam.


"Maaf, saya harus pergi dulu Nona. Masih ada pasien yang harus saya periksa. " Sang Dokter perpamitan kepada Lisa.


"Hei, aku bertanya kepadamu dan kamu dengan berani tidak menjawab pertanyaanku. "


"Kau dan kau aku pecat. " Lisa memecat Dokter dan Perawat yang ada di hadapannya.


"Maaf Nona, Nona tidak bisa memecat saya. Nona cuman anak angkat dari pemilik rumah sakit ini. Ada orang yang lebih berhak memecat saya dari pada Nona. " Sang Dokter dengan berani mengatakan hal itu kepada Lisa.


Kemudian Dokter dan perawat itu membungkukkan badan kepada Lisa, lalu melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu.


"Aku tau siapa dalang dari semua ini. " Perkataan Lisa di dengar oleh Dokter dan Perawat.


Seketika Dokter dan Perawat itu menghentikan langkahnya.


"Aku yakin kalian akan berhenti setelah mendengarkan ucapanku. " Lisa berbicara di dalam hatinya.


"Kalian terkejut kan? Bilang kepada bos kalian, aku tidak akan pernah tinggal diam. Mata adalah mata, Gigi adalah gigi. " Mendengar perkataan Lisa, wajah Dokter dan Perawat itu terlihat gelisa.


"Dan untuk kalian, lihat apa yang akan aku lakukan!" Ancaman Lisa terdengar sangat serius.


Setelah mendengar perkataan Lisa, Dokter dan Perawat itu melanjutkan langkah kakinya.


"Aku benar-benar akan membuat perhitungan dengan mereka semua. " Lisa kembali berbicara di dalam hatinya.

__ADS_1


Saat itu Lisa menghela nafasnya panjang-panjang. Dia berusaha menenangkan dirinya meskipun itu semua hanya sia-sia.


Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


"Mereka telah menyatakan perang kepadaku."


"Mereka sangat berani bermain-main dengan darah dagingku. " Lisa terus saja memandangi pintu dimana Dokter dan Sang Perawat itu keluar.


Melihat Lisa yang sangat pucat. Adam menyuruh Lisa untuk duduk.


Namun pada saat itu, Lisa tiba-tiba saja pingsan. Tubuhnya hampir terjatuh ke lantai dan Untung saja Adam dengan cepat menangkap tubuh Lisa.


Adam pun menggendong Lisa dan meletakkan tubuh Lisa ke sebuah sofa.


"Agam. " Adam memanggil saudaranya.


Agam dengan cepat mendekati Adam.


"Tolong selidiki siapa dalang dari semua ini." Adam memberi perintah kepada Agam.


"Mereka telah berani membunuh anak kandungku. Aku berjanji dengan diriku sendiri, aku akan menghabisi mereka dengan tanganku sendiri. " Adam berbicara di dalam hatinya.


"Baiklah saudaraku. Kuatkan hatimu. " Agam menepuk-nepuk pundak saudaranya.


Tiba-tiba Arsena yang merupakan sekretaris Adam sampai di ruangan itu. Dia datang dengan beberapa pengawal.


Agam melihat ke arah Arsena dan beberapa pengawal itu. Namun Adam tetap saja melihat ke wajah Lisa. Adam tidak peduli lagi dengan siapapun yang datang ke ruangan itu.


Arsena dan beberapa pengawal membungkukkan badan kepada Agam dan Marbela.


"Saya tau dan saya paham Tuan Agam. " Arsena menjawab pertanyaan Agam.


"Semuanya, siapkan profesi pemakaman untuk Tuan Kecil Tommy. Kita harus segera memakamkannya. " Arsena memberi perintah kepada pengawalnya.


"Baik, kami laksanakan. " Mereka kembali membungkukkan badan kepada Agam dan Marbela. Kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.


Sedangkan di rumah, Jimmy dan Alis sangat bersedih mendengarkan kabar buruk itu.


"Alis ingin pergi ke rumah sakit Bi. Alis harus melihat Tommy. " Alis mengajak Bi Minah untuk pergi ke rumah sakit.


"Iya Bi, kami berdua adalah saudara Tommy. Kami harus melihat Tommy. " Jimmy mulai angkat bicara.


Namun Bi Minah melihat ke arah Alim yang merupakan pengawal mereka.


"Tidak bisa Bi Minah. Saya belum mendapat perintah untuk membawa Nona Alis dan Tuan Jimmy ke rumah sakit. " Seolah-olah Alim mengatahui maksud Bi Minah melihat ke arahnya.


"Kenapa Alis tidak boleh ke rumah sakit? Alis sangat ingin bertemu dengan Tommy Paman Alim. " Alis terlihat sangat marah.


Namun Jimmy hanya menatap Alim dengan tatapan tanda tanya.


"Nona, Tuan. di rumah sakit sangat berbahaya. Ada orang yang ingin mencelakakan kalian berdua. Ayah kalian tidak ingin itu semua terjadi. Makanya di luar rumah ini sangat banyak pengawal. Rumah ini telah di kawal dengan ketat. Paman dan semuanya di perintahkan untuk menjaga Nona Alis dan Tuan Jimmy. "


"Tolong kerja samanya. " Wajah Alim terlihat memohon kepada Nona Kecil dan Tuan Kecilnya.


"Setidaknya lakukan ini semua untuk Ibu Nona Alis dan Ibu Tuan Jimmy. Jangan pasang wajah sedih kepada Ibu Nona Alis dan Ibu Tuan Jimmy. Paman yakin, Ibu Nona dan Tuan sangat bersedih saat ini. Tolong mengertilah kondisi ini. " Mata Alim seperti memerah saat menjelaskan itu. Dia seolah-olah sedang menahan tangisnya di depan Nona Kecil dan Tuan Kecilnya.

__ADS_1


Saat itu Alis menangis tersedu-sedu sambil di peluk oleh Bi Minah.


Jimmy juga terlihat meneteskan air matanya.


"Apakah Paman tau siapa yang melakukan itu semua kepada Tommy? " Dengan spontan Jimmy bertanya kepada Alim.


Namun pada saat itu, Alim hanya menggelengkan kepalanya.


Jimmy pun menepuk-nepuk pundak adiknya.


"Tenanglah Alis. Disini masih ada Kakak. " Jiwa ke Kakakan Jimmy muncul menjadi sosok yang lemah lembut kepada adiknya.


Melihat Jimmy yang sangat bersedih, Alim mendekati Jimmy dan memeluk Jimmy.


"Apa yang harus kami lakukan Paman? Kami tidak ingin melihat Ibu bersedih. Namun pada kenyataannya kami memang sangat bersedih." Jimmy memeluk Alim dengan erat. Air matanya terus saja membasahi pipinya.


"Paman yakin, Jimmy dan Alis pasti bisa melewati ini semua. " Tanpa di sadari air mata Alim membasahi pipinya. Ia dengan cepat membersihkannya tanpa sepengetahuan Alis, Jimmy maupun Bi Minah.


"Kenapa aku berubah menjadi selembek ini? " Alim berbicara di dalam hatinya.


***


Proses pemakaman Tommy di lakukan secara tertutup. Hanya orang-orang penting yang bisa hadir di dalam pemakaman itu.


Bersambung...


***


Di sini aku mau menginformasikan kepada pembaca setia aku, bahwa aku sedang menggalang dana bantuan untuk orang-orang yang sangat membutuhkan.


Aku dan teman-temanku akan menyalurkan dana bantuan itu dengan turun langsung ke lapangan serta cek langsung bagaimana latar belakang dan kondisi kehidupan mereka, karena pada saat ini sangat banyak bantuan yang tidak tepat sasaran. Orang yang seharusnya mendapat bantuan tidak mendapat bantuan dan orang yang tidak berhak mendapat bantuan malah mendapat bantuan.


Masih banyak orang sini yang menahan lapar karena kesenjangan ekonomi.


masih ada anak di sini tidak lanjutkan pendidikan karena tidak punya uang.


Bahkan ada anak yang berkeinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi namun tidak bisa melanjutkannya karena mereka berasal dari keluarga kurang mampu dan bahkan mereka merupakan salah satu dari anak yatim, maupun yatim piatu.


Terpaksa tinggal bersama nenek yang tua rentah dan nenek itulah yang menjadi tulang punggung mereka.


Serta masih banyak kisah lainnya.


Bagi kamu yang mau berdonasi, silahkan kirimkan bantuannya ke :


BANK BRI


Nomor rekening : 7651-01-004280-53-1


Atas Nama : MAYANG SARI RUSTAM


terima kasih banyak ya.


Semoga dengan donasi ini, mereka semua merasa terbantu oleh kita semua.


love you guys....

__ADS_1


__ADS_2