TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Rahasia Ibu


__ADS_3

Bell istirahat berbunyi. Anak-anak disuruh mengambil makan siang yang telah di sediakan oleh pihak sekolah.


"Jimmy, kapan kamu akan menceritakan rahasia yang tadi pagi?" Tommy mengingatkan kakaknya.


"Sebentar lagi, ketika kita sedang makan. Aku berjanji kepada kalian berdua." Jimmy melihat ke arah Tommy yang ikut mengantri di belakangnya.


Jadi, sekolah mereka ini menyediakan makanan untuk siswa dan siswi mereka. Orangtua mereka membayar lebih untuk makanan tersebut.


Saat makan siang, Anak kelas rendah di perbolehkan membawa tas. Karena setelah makan siang mereka diperbolehkan untuk pulang.


Jimmy, Tommy, dan Alisya memilih duduk di pojokan. Saat itu mereka duduk hanya bertiga saja.


Jimmy mengeluarkan beberapa foto di dalam tasnya.


"Aku menemukan foto keluarga Ibu." Jimmy meletakkan satu foto di atas meja. Beberapa foto lainnya masih berada di tangannya.


"Foto Ibu?" Alis sangat tertarik dengan ucapan kakaknya. Dia langsung mengambil foto itu dan menatapnya jelas-jelas.


"Iya, itu adalah foto Ibu kita ketika berusia 5 tahun. Setahun sebelum ibunya meninggal dunia." Jimmy melanjutkan menyendok makanannya ke dalam mulut.


"Berarti wanita di foto ini adalah Nenek Kita. Lihat Tommy! wajahnya sangat mirip dengan ibu yang sekarang." Alis menyuruh Tommy untuk melihat fotonya. Tommy terpaksa menghentikan kegiatannya menyendok makanan ke dalam mulutnya.


Alis memberikan foto itu kepada Tommy. Tommy melihat foto itu dengan seksama.


"Benar, wanita yang ini sangat mirip dengan Ibu. Tapi..Mata ibu lebih mirip dengan lelaki ini."


"Iya, kamu benar Tommy. Aku juga berfikir begitu semalam. Mereka yang di sebelah kanan dan kiri itu adalah Kakek dan Nenek Kita." Jimmy memperlihatkan foto lainnya.


"Ini adalah foto Ibu dengan Kakek. Kakek Kita bernama Arkan Gunawan. Oh ya, ternyata dulunya nama ibu adalah Lili Gunawan, bukan Lisa Bastian." Jimmy membongkar rahasia lainnya.


"Wah, sepertinya Kak Jimmy mengetahui banyak hal. Apakah Kak Jimmy sudah meretas suatu data?" Alis tersenyum bangga kepada Kakaknya.


Jimmy Bastian adalah seorang anak yang hebat meretas data. Ia sangat handal dalam hal mencuri data perusahaan atau pun rahasia perusahaan. Ia sangat hebat dalam hal IT.


"Tidak hanya itu Alis, aku hampir mengetahui rahasia keluarga Ibu. Tetapi aku belum mengetahui siapa Ayah kita. " Wajah Jimmy berubah agak murung.


"Tidak apa-apa Jimmy, yang penting kamu sudah berusaha. Kami berdua sangat bangga denganmu. Iyakan Alis? " Tommy berusaha menyemangati Jimmy.


"Iya Tommy, Alis sangat bangga dengan Kak Jimmy. Kak Jimmy yang terbaik." Alis memuji kehebatan Jimmy.


Terkadang Alisya ini memanggil Jimmy dengan sebutan Kakak, namun terkadang ia cuman memanggil Jimmy dengan sebutan nama saja.


"Terimakasih," Jimmy kembali memperlihatkan foto lainnya kepada adik-adiknya.


"Ini adalah foto keluarga baru Kakek kita. Ini namanya Merry Gunawan, ini namanya Kirana Gunawan dan ini namanya Tika Gunawan." Jimmy menunjuk orang yang ada di foto itu satu persatu.

__ADS_1


"Jadi, setelah Nenek Kita sudah meninggal dunia. Kakek kita mengambil alih semua harta warisan Nenek Kita. Kakek kita menikah lagi. Dia memiliki 2 orang putri dari Nenek Tiri." Jimmy kembali menyendok makanan dan memasukan makanan itu ke dalam mulutnya.


"Kakek jahat sekali. Aku tidak menyangka Kakek Kita sangat jahat." Alis kemudian meminum air putih.


"Lalu apa lagi yang terjadi? " Tommy mulai penasaran.


Jimmy meminum air putih dan melanjutkan penjelasannya. Ia memperlihatkan satu foto lagi.


"Ini foto Kirana Gunawan dengan Rivaldo Efendy. Ternyata Rivaldo Efendy adalah mantan tunangan Ibu Kita yang di ambil oleh Kirana Gunawan."


"Rivaldo Efendy mempunyai perusahaan yang bernama RB Grup. Kakek kita mempunyai perusahaan William Grup. Mereka bekerja sama untuk mengusir Ibu kita dari rumah karena ibu mengandung kita. Aku pikir, itu hanyalah sebuah alasan. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan. "


"Aku tidak mengerti, kenapa mereka jahat sekali kepada Ibu. Aku sepertinya sangat membenci kakek sekarang. " Jimmy kembali meminum air putihnya.


Alis dan Tommy saling bertatapan.


"Alis tidak menyangka Kakek kita sejahat itu." Alis mengalihkan pandangannya kepada Jimmy.


"Harta warisan Nenek di ambil alih oleh kakek. Kemudian Kakek mengusir Ibu Kita dari rumah. Alis membenci kakek."


"Terus, tunangan Ibu berhianat, dia menikahi saudara ibu." Alis melanjutkan kata-katanya. Ia mulai menyimpulkan penjelasan Jimmy.


"Bukan hanya tunangannya yang bersalah. Mereka berdua bersalah Alis." Jimmy meralat kesimpulan Alis.


"Tapi tunggu, nama nenek kita siapa Jimmy. Kamu belum memberitahunya." Tommy menanyakan nama neneknya.


"Kamu belum menyebutkannya. " Mereka berdua serentak mengucapkan kata-kata itu.


"Benarkah, hehee. Aku terlalu bersemangat menjelaskannya." Jimmy tertawa menanggapi adik-adiknya.


"Teng! Teng teng! Miu miu! "


"Bel sudah berbunyi, ayo cepat habiskan makanannya. Nanti Pak Karman terlalu lama menunggu kita." Tommy angkat bicara mengingatkan kakak dan adiknya.


Tak lama kemudian, mereka bertiga keluar dari sekolah dan melihat Pak Karman sedang menunggu di gerbang.


"Pak Karman! " Alis memanggil Pak Karman.


"Itu mereka. " Pak Karman tersenyum sambil melambaikan tangan kepada Alis.


Mereka bertiga mendekati Pak Karman, kemudian mereka berempat memasuki mobil.


Alisya duduk di depan di sebelah Pak Karman, sedangkan Jimmy dan Tommy duduk berdua di kursi belakang.


"Kenapa Nona Alis sedikit lambat keluar? Apa terjadi sesuatu Nona?" Pak Karman menghidupkan mesin mobilnya.

__ADS_1


"Tidak Pak Karma, kami terlalu lama mengunyah makanan."


"Benarkan Kak Jimmy? " Alis bertanya kepada Jimmy.


"Ya, benar. " Jimmy dengan malas menjawab pertanyaan Alis.


"Kami harus tetap menghabiskannya agar makanan yang kami makan tidak membazir Pak Karman."


"Ya kan Kak Tommy? " Alis malah bertanya kepada Tommy.


"Iya Alis. " Tommy hanya menjawab dua kata.


"Tuh kan, benar Pak Karman. " Alis menatap Pak Karman yang sedang mengemudikan mobil.


"Ooo, begitu Nona Alis. Bagus Nona, kita memang tidak boleh membazirkan makanan. Orang-orang di sana, masih banyak kelaparan karena tidak mendapatkan makanan Nona." Pak Karman tersenyum kepada Alis dan kemudian kembali fokus mengemudikan mobilnya.


Hingga akhirnya, mereka semua sampai di rumah.


....


"Cepatkanlah Kirana, kenapa kamu lama sekali berdandan. " Rivaldo mulai kesal menunggu Kirana.


"Sebentar Sayang," Kirana berteriak dari dalam kamar.


"Kenapa semua pria begitu pendesak? Benar-benar tidak mengerti wanita. " Kirana mengoleskan lipstik di bibir seksinya.


"Sempurna," Kirana memuji dirinya sendiri.


Kemudian dia keluar dari kamar menarik sebuah koper yang lumayan besar.


"Apa kamu mau pindahan? Kenapa membawa koper sebesar ini?" Rivaldo sangat pusing dengan tingkah istrinya.


"Kita hanya menginap 2 hari, dan kamu membawa koper seperti orang pindahan. Aku benar-benar tidak mengerti." Rivaldo menatap wajah istrinya.


"Bi, bawakan koper ini ke dalam mobil. " Kirana tidak memperdulikan suaminya. Ia melangkah lebih dulu menuruni tangga, kemudian di ekori oleh Rivaldo.


"Apakah kamu sudah mengurus kado untuk ibuku? " Rivaldo bertanya kepada Kirana sambil menuruni tangga.


"Sudah. Aku membelikan cincin untuk ibumu." Kirana berhenti sejenak di anak tangga. Ia memperlihatkan sebuah kotak cincin kepada Rivaldo.


"Baguslah, aku pikir kamu lupa! Oh ya, jika ibu bertanya atau menyinggungmu saat pesta ulang tahun nanti. Aku harap kamu diam saja. Aku tidak ingin ada perdebatan." Rivaldo mendahului Kirana menuruni tangga.


"Apa? " Kirana sangat kesal dengan perintah suaminya.


" Pasti nanti, aku akan sangat tertekan. Nenek lampir itu mulutnya sangat berbisa." Kirana berbicara dengan pelan, kemudian mengekori suaminya menuruni tangga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2