
Adam melangkahkan kaki menuju putranya sambil menggendong Alis.
Adam dengan sekejab menggendong Jimmy.
"Ayo Lisa."
Lisa dengan terpaksa mengekori Adam yang mengendong kedua anaknya.
Mereka berempat masuk ke dalam mobil.
Alis tetap saja menempel kepada Ayahnya. Sedangkan Jimmy sudah menempel kepada Ibunya.
"Apakah kamu kesulitan membesarkan mereka berdua sendirian? " Adam menatap Lisa dalam-dalam.
Lisa memalingkan wajahnya melihat jalanan yang sedang mereka lewati.
"Kadang aku merasa sulit, namun kadang aku merasa bahagia karena kesepianku hilang oleh mereka bertiga. "
"Mereka bertiga membuat hidupku lebih bersemangat. " Lisa berbicara tanpa melihat Adam.
Suasana di dalam mobil itu tiba-tiba hening seketika.
"Ayah, jangan tinggalkan Alis ayah. " Alis yang sedang tertidur mengingau memanggil Ayahnya.
"Alis"
"Alis"
"Heh, bangun nak." Adam membangunkan putri kecilnya.
Alis membuka matanya.
"Alis mengingau ya? Tenang aja sayang, Ayah tidak akan meninggalkan Alis. " Adam berusaha meyakinkan putrinya.
"Ayah berjanji? " Alis membuat janji dengan Ayahnya.
"Janji sayang. " Adam memeluk Alis.
"Kalau begitu, mari kita membuat perjanjian ayah. Mana kelingking Ayah?" Alis mengangkat kelingkingnya.
Adam mengikuti putrinya.
Dengan cepat, Alis menyilangkan kelingkingnya dengan kelingking besar ayahnya.
"Janji ya yah, jangan ingkar janji." Alis dengan wajah imut menatap ayahnya.
"Iya Sayang Ayah. " Adam mencium kening putrinya. Saat itu Lisa memperhatikan ayah dan anak itu dalam diamnya.
"Apakah Alis menyayangi Ayah? " Adam bertanya kepada putrinya.
"Tentu Ayah. " Alis menjawab pertanyaan Ayahnya dengan gemas.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Lisa terus saja memperhatikan tingkah Adam dan Alis.
Ayah dan anak ini seperti berpacaran saja.
Lisa tanpa sengaja sudah mengakui bahwa Adam adalah Ayah dari anak-anaknya.
"Sekarang, maukah Alis mencium Ayah?"
"muaach." Dengan cepat, Alis langsung mencium Ayahnya.
Adam tertawa dengan semberingah.
__ADS_1
Ayah dan anak itu.
"Cih... "
Lisa menggelengkan kepalanya melihat kebahagiaan Adam dan Alis.
Alis begitu bahagia saat bersama Ayahnya.
Lisa menghela nafasnya panjang-panjang.
Tak lama kemudian, mereka semua telah sampai di rumah Lisa.
Adam menggendong Alis keluar dari mobil. Sedang Lisa menggendong Jimmy keluar dari mobil.
"Mereka berempat terlihat seperti keluarga sempurna yang bahagia." Supir berbicara sendirian di dalam mobil.
Lisa melangkahkan kaki untuk membukakan pintu masuk. Ia seperti sangat kesulitan.
"Biar aku bantu. " Adam dengan cepat menarik tangan Lisa.
Adam pun membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
Lisa dengan cepat menghidupkan lampu.
Jadi mereka tinggal di rumah yang seperti ini. Tempat ini tidak begitu buruk.
Adam melihat sekitarnya.
"Kamar Alis dimana? " Adam bertanya kepada putrinya.
"Di sana Ayah. " Alis menunjuk kamarnya.
"Ayah, Ayah tidur di sini saja. " Alis berbicara dengan manja dan memeluk Ayahnya.
"Ayah bisa tidur di kamar Alis atau di kamar Jimmy Ibu. " Alis mencari solusi.
"Benarkan Ayah. " Alis bertanya kepada Ayahnya.
Saat itu jantung Lisa berdetak kencang.
"Iya sayang. " Adam terlihat semberingah. Wajahnya terlihat begitu tampan saat menunjukan ekspresi bahagia.
"Ibu, bolehkan Ayah tidur di sini? " Alis dengan wajah bantal yang menggemaskan bertanya kepada ibunya.
Lisa hanya bisa pasrah dengan keinginan anaknya. Dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Yeh, Ayah tidur sini. " Alis memeluk Ayahnya.
Sedangkan Jimmy terlalu malas untuk bangun. Dia sangat mengantuk.
"Alis dan Jimmy tidur di kamarku saja. " Lisa mulai angkat bicara.
"Dimana kamarmu? " Adam bertanya kepada Lisa.
"Sebelah sana. " Lisa menunjuk kamarnya.
Adam pun mengekori Lisa.
Lisa meletakkan Jimmy ke kasurnya, sedangkan Adam juga melakukan hal yang sama. Dia meletakkan Alis di sebelah Jimmy.
Adam dan Lisa saling bertatap-tatapan.
"Apa? " Lisa berusaha memberi pertanyaan kepada Adam.
__ADS_1
"Aku tidur dimana? " Adam agak kebingungan.
"Ayah tidur di sebelah Alis dan Jimmy. Ayo Ayah. "
Alis memberi ruang supaya Ayahnya bisa tidur di tengah-tengah.
Aku bisa frustasi melihat ini semua. Apa yang harus aku perbuat?
Lisa seperti bertanya-tanya dengan kondisi yang sekarang.
Adam dan aku kan bukan suami istri. Kenapa kami harus tidur di ranjang yang sama?
Lisa melihat Adam yang memperagakan posisi berbaring di antara anak-anaknya.
Lisa sedikit kesal, kemudian meninggalkan mereka bertiga. Ia pergi ke kamar mandi untuk aktivitas wajib malamnya.
Lisa menggosok gigi, mencuri wajahnya dan memakai skincare malamnya. Setelah itu dia menganti pakaiannya dengan menggunakan pakaian tidur.
Saat dia kembali. Adam dan kedua anaknya sudah ketiduran.
Dia tidur begitu cepat.
Lisa menghela nafasnya dan melepaskan ikatan rambutnya.
Kalau di lihat-lihat, dia begitu menarik. Hidungnya mancung, badannya kekar, kulitnya putih bersih.
Mata Lisa tidak sengaja melihat ke arah celana Adam.
Tidak, tidak. Jangan pikirkan itu Lisa.
Ah, si*l.
Lisa pergi untuk mematikan lampu.
Entah kenapa, Lisa mendekati Adam dan melihat wajah Adam lebih dekat lagi.
Bibirnya begitu seksi.
Tiba-tiba Adam membuka matanya.
"Apakah kau memikirkan hal yang kotor? " Adam dengan spontan bertanya kepada Lisa.
"Aa, aak, " Lisa tiba-tiba saja agak gagap. Dia menghela nafasnya panjang-panjang.
"Aku kira tadi ada sesuatu di wajahmu." Lisa berusaha mencari pembelaan.
kau berbohong Lisa, jelas-jelas tadi kau melihat wajahku. Tidak ada apa-apa dengan wajahku. Kau cuman berusaha mencari alasan agar tidak ketauan. Kau mulai mengakui bahwa aku tampan kan? hah, jangan mengelak Lisa.
Ternyata dari tadi Adam mengintip apa yang di lakukan oleh Lisa.
"Tidurlah." Adam tidak ingin memperpanjang masalah karena dia mulai mengantuk.
Lisa dengan cepat tidur di sebelah Jimmy.
Bersambung...
Buat pembaca setia autor :
Terima kasih ya telah menjadi pembaca setia Autor. Autor meminta maaf jika karya tulisan ini kurang menarik atau kurang menyambung.
Tapi Autor berharap para pembaca Autor memberi like, komentar, atau masukannya atas novel ini.
#salamhangatdariautor
__ADS_1