TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Tommy sudah di makamkan


__ADS_3

Lisa terbangun dari pingsannya. Saat itu Adam sudah berada di sampingnya.


Tanpa ekspresi Lisa melihat ke arah Adam.


"Syukurlah kamu sudah sadar." Adam menepuk-nepuk pundak Lisa.


"Aku tidak selemah itu. " Lisa menyingkirkan tangan Adam. Lalu dia menatap orang-orang yang ada di ruangan itu.


Ketika Lisa menatap Marbela. Marbela dengan cepat mendekati Lisa.


"Ibu minta maaf, Lisa. "


"Ibu memang pantas di salahkan atas kematian Tommy. " Marbela meneteskan air mata, dia benar-benar merasa bersalah atas kematian cucunya.


Marbela terduduk lemas ketika meminta maaf kepada Lisa.


"Jangan salahkan diri sendiri Ibu. " Ucapan Lisa terdengar sangat datar.


"Ini bukan salah Ibu. Ini semua telah di rencanakan oleh seseorang."


Marbela pun memegang tangan Lisa. Tangannya sedikit gemetar saat memegang tangan Lisa.


"Usaplah air mata Ibu. " Lisa pun melepaskan salah satu tangannya dari genggaman tangan Marbela, kemudian menghapuskan air mata Marbela.


"Ini bukalah kesalahan Ibu. " Lisa menatap wajah perempuan paru baya yang sedang merasa bersalah di hadapannya.


Namun pada saat itu, Marbela tetap saja bersedih dan air matanya terus saja membasahi pipinya.


"Ibu, tatap mata Lisa. Dengar Ibu, ini semua bukanlah kesalahan Ibu. Jangan menyalahkan diri sendiri atas kesalahan yang tidak pernah di perbuat oleh diri sendiri. " Lisa berusaha menyakinkan Marbela.


"Orang yang melakukan ini semua benar-benar tidak punyai hati nurani, Ibu. "


"Dia tidak punya otak, dia hanya memikirkan harta dan harta. " Lisa kembali mengusap air mata Marbela dengan jari-jari mungilnya.


Adam maupun Agam hanya diam melihat drama yang terjadi di hadapan mereka.


Tak berselang waktu lama, Arsena yang merupakan sekretaris Adam memasuki ruangan itu.


"Cekrek. "


Arsena melangkahkan kaki menuju Adam.


"Ini pesanan Tuan untuk Nyonya Marbela dan Nyonya Lisa. Maaf Nyonya atau Nona? " Arsena sedikit berfikir.


"Ah, Ibu dari anak-anak Tuan saya panggil Nyonya saja. " Arsena meletakan pakaian itu di atas meja.


Adam hanya menganggukkan kepala kepada sekretarisnya sebagai ucapan terimakasih.


" Tuan, Pemakamannya sudah di siapkan. " Arsena melapor kepada tuannya.


"Bagus. Hubungi anak-anak, kita semua akan bertemu di tempat pemakaman saja. "


"Baik Tuan. " Arsena kembali keluar dari ruangan itu.


"Tunggu, apakah anak-anak sudah mengetahui semuanya? " Lisa bertanya kepada Adam.


"Iya. Mereka berhak tau. "


"Sekarang kamu bersiap-siaplah Lisa. Pakai pakaian itu. " Adam pun keluar dari ruangan itu yang di ikuti oleh Agam.


"Kami akan menunggu di luar, Bu. " Agam berpamitan kepada Marbela.


Saat itu Marbela hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah kepergian mereka berdua, Lisa pun mengambil pakaian yang ada di atas meja. Salah satu pakaian itu dia berikan untuk Marbela.


Marbela yang menerima itu, terlihat heran dengan tingkah Lisa.


"Apakah kamu baik-baik saja? " Marbela bertanya kepada Lisa.


"Saya baik-baik saja, Bu. " Lisa berdiri dan pergi menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian.


"Aku yakin, pasti Lisa hanya pura-pura kuat untuk semua ini. " Marbela berbicara di dalam hatinya.


"Seorang Ibu pasti rapuh saat mendengar salah satu dari anak tercintanya meninggal dunia. "


"Walau bagaimana pun Ibu adalah Ibu. " Marbela berbicara di dalam hatinya.


....


Tommy baru saja dimakankan.


Jimmy dan Alis berada di samping Ibunya.


"Jimmy, Alis. " Lisa memanggil kedua anaknya tanpa menoleh.

__ADS_1


Dengan cepat Jimmy dan Alis melihat ke Ibunya.


Waktu itu wajah Lisa terlihat lumayan pucat.


"Kalian berdua pulanglah duluan dengan Bi Minah dan Pak Karman."


Lalu Lisa melihat ke arah Alim.


Alim yang menyadari itu membungkukkan badan kepada Lisa.


"Alim, tolong jaga anak-anak saya."


"Jangan biarkan mereka terluka atau pun lecet. " Tatapan Lisa sudah berubah. Dia terlihat seperti sedang memendam kebencian.


"Tapi Ibu, .... " Alis seperti ingin menyampaikan sesuatu. Namun perkataannya di potong oleh Lisa.


"Tidak ada tapi-tapi Alis. Jangan membantah. " Tatapan Lisa begitu tajam ketika melihat ke arah Alis.


Alis yang melihat tatapan Ibu terlihat agak menciut. Ia kemudian berdiri dan melangkahkan kaki ke belakang Ayahnya.


Adam yang menyadari gadis kecilnya sedang menghindari Ibunya.


"Sayang, sekarang pulanglah dengan Bi Minah dan Pak Karman. "


"Mungkin Ibu sedang lelah." Adam berusaha menghibur anaknya.


"Tatapan Ibu begitu mengerikan. " Alis menatap punggung Ibunya dengan tatapan tidak suka.


"Sudahlah Sayang. Sekarang pulang ya. " Adam berusaha menutupi kekecewaannya kepada Lisa.


"Jimmy, tolong bawa Alis pulang ya. "


"Baiklah Ayah. " Dengan cepat Jimmy berdiri dan menghampiri adiknya.


"Alis, ayo kita pulang. " Jimmy menggenggam tangan adiknya.


Mereka berdua pun pulang.


"Agam, tolong ikuti anakku. "


"Bawa Ibu bersamamu. Aku ingin bicara sebentar dengan Lisa. "


Agam dengan cepat memapa Ibunya masuk ke dalam mobil.


"Ibu, jangan berfikiran begitu. Ini semua bukan salah Ibu." Agam berusaha menenangkan Ibunya.


Setelah hanya tinggal mereka berdua di pemakaman itu. Adam menghampiri Lisa.


"Apakah kau sudah selesai? " Adam bertanya kepada Lisa.


"Selesai atau belum selesai. Ini semua bukan urusanmu. Kau dan pengawal kau pergi saja dari tempat ini. "


Mendengar perkataan itu Adam sedikit merasa tersinggung.


"Pengawalku berada di seberang sana. Kau tidak berhak marah kepada mereka. "


"Dan juga, kenapa kau marah kepada anak-anak? Perbaiki sifatmu. " Adam mulai menatap Lisa dengan tajam.


"Mereka anak-anakku. Kau jangan ikut campur. " Lisa membalas perkataan Adam tanpa melihat ke arah Adam.


"Tapi mereka ada karena mereka berasal dariku. Kau lupa?"


"Hah, jangan pikir mereka hanya anakmu saja. Mereka juga anakku." Adam mulai jengkel menghadapi Lisa.


Kemudian Adam dengan berani memegang pundak Lisa.


"Kau berdirilah."


"Ayo pulang. " Adam mengajak Lisa untuk pulang.


"Jangan sentuh aku!" Lisa melihat ke arah Adam.


"Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu!" Adam membalas tatapan Lisa.


Lisa pun berdiri dan mendorong Adam.


"Jika bukan gara-gara kau, Tommy tidak akan seperti itu. Dia tidak akan tertusuk. "


"Ini semuanya bersumber dari kau. " Tatapan Lisa begitu tajam.


"Hmp, ya .... Semuanya bersumber dariku. Jika aku tidak ada, mereka bertiga juga tidak ada. "


"Berhenti bersikap seperti ini. " Adam pun memegang tangan Lisa dan menarik tangan Lisa .


"Ayo kita pulang!"

__ADS_1


"Aku tidak mau pulang. Aku ingin bersama anakku. " Lisa berusaha melepaskan tarikan Adam.


Ketika itu Adam berhenti.


"Sadarlah Lisa, Tommy sudah meninggal Lisa."


" Tolong sadarlah."


"Apakah kau tidak menyayangi Jimmy dan Alis? " Tiba-tiba hujan deras mengguyur mereka.


Arsena dan beberapa pengawal berlari ke arah mereka untuk memayungi.


Karna Lisa yang sulit di jinakkan. Adam terpaksa menggendong Lisa.


"Hei, lepaskan aku. "


"Lepaskan aku Adam. " Lisa berusaha memberontak.


Entah kenapa tiba-tiba Adam mengeluarkan sebuah suntikan di dalam kantongnya.


Dia dengan cepat menyuntikkannya kepada Lisa.


"Apa yang kau lakukan? "


"Istirahatlah. "


Tiba-tiba Lisa pun tidak sadarkan diri di gendongan Adam.


"Maafkan aku Lisa. " Adam dengan cepat membawa Lisa ke dalam mobil.


***


Hari itu, Lisa di bawa oleh Adam ke sebuah Apartement.


Adam menidurkan Lisa ke sebuah kamar.


Beberapa jam kemudian.


"Ah, dimana aku?" Kepala Lisa terasa sakit.


"Kenapa aku di sini? " Lisa melihat ke sekelilingnya.


Waktu itu dia melihat seorang pria yang sedang tidur di sebuah sofa.


Lisa berusaha bangkit dari tempat tidurnya.


"Siapa yang mengganti pakaianku? Apakah dia?"


Lisa benar-benar mengutuk di dalam hatinya.


"Berani-beraninya kau!" Lisa terlihat begitu kesal.


Dia dengan cepat melangkah ke arah Adam.


"Dasar laki-laki mesum. " Lisa memukul Adam dengan bantal yang ada di dekat sofa itu.


"Ah, apa yang kau lakukan?" Adam memegang bantal itu dengan kuat.


Mata mereka sempat saling bertemu.


Lisa kemudian melepaskan bantal itu dan memukul Adam dengan tangan kosong.


"Dasar laki-laki mesum. "


Lisa terus saja memukuli Adam.


"Hei, " Adam kemudian memegang tangan Lisa dan menyebabkan Lisa berada di atas Adam.


Saat itu Adam tersenyum.


"Apa kau ingin membuat pengganti Tommy?"


"Aku bisa mengabulkannya."


Dengan cepat Lisa berusaha untuk duduk.


wajah Lisa terlihat memerah.


"Kau gila. " Lisa memalingkan wajahnya.


Saat itu, Adam tertawa geli melihat ekspresi Lisa.


"Kau benar-benar belum berubah Lili. " Adam berbicara di dalam hatinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2