TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
Tommy di nyatakan meninggal


__ADS_3

Marbela telah berbicara dengan Tommy ketika Tommy terbangun dari tidurnya. Mereka berdua sempat bercanda ria.


Setelah itu, Adam berpamitan kepada Lisa dan Ibunya karena ada sesuatu yang mendesak yang harus dia urus.


Tak lama kemudian, Marbela menawarkan diri untuk menjaga Tommy di ruangan itu. Kemudian Marbela menyuruh Lisa dan kedua anaknya untuk pulang sementara karena Jimmy dan Alis perlu ganti pakaian serta beristirahat di rumah.


Saat Lisa dan kedua anaknya meninggalkan ruangan Tommy, saat itu ada seorang laki-laki yang berpakaian serba hitam sedang melihat ke arah ruangan Tommy. Laki-laki itu tampak sedang merencanakan sesuatu.


" Lihat saja Lisa, aku pastikan kau akan menyerahkan semua harta yang aku minta. "


"Kau akan memohon dan akan bersyujud di hadapanku. "


"Kita lihat saja itu. " Laki-laki itu terus saja memperhatikan orang-orang yang ada di ruangan itu satu persatu.


Setibanya di rumah, Lisa menyuruh anak-anak untuk mengganti pakaian. Kemudian Lisa menyuruh bibi untuk menyiapkan makanan malam, sekalian untuk orang-orang yang telah menjaga Tommy di rumah sakit.


Lisa pun bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit lagi, sedangkan Jimmy dan Alis di titip oleh Lisa kepada Bi Minah.


"Jimmy, Alis. Kalian berdua di rumah saja ya bersama Bi Minah, tolong jangan nakal ya Nak." Lisa mengelus rambut Jimmy dan Alis.


"Ibu mau ke rumah sakit dulu untuk menjenguk Tommy dan sekalian Ibu mau membawakan makanan ini untuk nenek kalian." Lisa menatap kedua anaknya dalam-dalam.


"Tapi Alis ikut Bu. Alis pengen ikut. " Alis mulai rewel untuk bisa ikut bersama Ibunya.


"Sayang, tunggu di rumah aja ya bersama Kak Jimmy dan Bi Minah. " Lisa mencium kening Alis.


"Iya Alis, kita di rumah saja." Jimmy berusaha memujuk adiknya, supaya adiknya tidak ikut bersama Ibunya.


"Tapi Kak?." Alis mengeluh kepada Jimmy.


"Alis. " Jimmy menatap Alis.


"Mm, iya deh. " Alis mulai mengalah. Wajahnya cemberut, tapi masih saja terlihat lucu.


Tiba-tiba ponsel Lisa berbunyi.


"Eh, ini nomor baru. " Lisa mengangkat panggilan telfon itu.


"Hallo, ini siapa ya? " Lisa bertanya kepada orang yang menelfonnya.


"Hallo Nona Lisa, saya Irvan. Tolong cepat ke rumah sakit Nona. "


"Tommy, ini soal Tommy Nona... Ah, " Tapi perkataan Irvan terpotong, seperti ada seseorang yang menyuruh Irvan untuk diam saja.


"Iya, memangnya Tommy kenapa Irvan? " Lisa masih saja terlihat santai.


"Nona cepat saja datang ke rumah sakit ya. Beberapa pengawal telah menjemput Nona ke rumah. "


"Kenapa harus di kawal segala Irvan? " Lisa kembali bertanya kepada Irvan.


"Tut, Tut tut. " Panggilan telfon itu seperti di matikan.


"Iih, kenapa tidak sopan sekali sih? " Lisa sangat dongkol kepada Irvan.


Tak berselang waktu lama, bel rumah Lisa berbunyi.

__ADS_1


Lisa bergegas membuka pintu yang di ikuti oleh Bi Minah, Jimmy dan Alis. Mereka semua begitu penasaran siapa yang telah mengetuk pintu mereka.


Ketika pintu di buka, beberapa pengawal membukukkan badan kepada Lisa.


"Selamat Malam Nona Lisa, saya di perintahkan oleh Tuan Agam dan Tuan Adam untuk menjemput Nona. "


"Emang kenapa saya harus di jemput segala? " Lisa merasa sangat heran melihat beberapa pengawal yang ada di rumahnya.


Lisa pun menatap Alim yang merupakan pengawal kedua anaknya. Namun pada saat itu Alim cuman menundukkan kepala karena tidak berani menatap mata Lisa.


"Baiklah, terserah apapun itu. Sekarang saya mau ke rumah sakit untuk menjenguk anak saya. " Lisa berjalan menuju mobilnya.


Kemudian beberapa pengawal mengikuti Lisa. Mereka masuk ke dalam mobilnya sedang salah satu pengawal masuk ke dalam mobil Lisa.


"Eh, kamu mau kemana? " Lisa bertanya kepada salah satu pengawal.


"Saya mau masuk Nona, saya di perintahkan untuk selalu berada di dekat Nona. " Laki-laki itu duduk di sebelah Pak Karman.


"Tapi, kamu kan bisa mengikuti saya dengan menggunakan mobil lain. Tidak harus berada di mobil ini juga. Ah," Lisa mengeluh kepada pengawal itu.


"Maafkan saya Nona, ini merupakan perintah dari Tuan saya. " Kemudian pengawal itu menyuruh Pak Karman untuk menjalankan mobilnya.


"Ayo, jalan Pak. " Pengawal itu mengambil alih untuk memerintah Pak Karman.


"Loh, itu kan supir saya. Saya yang bayar supirnya, bukan kamu dan bukan Tuan kamu. Kenapa kamu berani-beraninya memerintah supir saya. " Lisa terlihat kesal dengan pengawal itu.


"Maafkan saya Nona. " Pengawal itu meminta maaf kepada Lisa.


"Sudahlah. " Lisa menjawab Sang Pengawal dengan jutek.


Dua puluh menit kemudian Lisa dan beberapa pengawalnya sampai di Rumah Sakit Bastian.


Pengawal dengan cepat keluar dari mobil dan membukakan Lisa pintu mobil.


"Silahkan Nona. " Pengawal itu mempersilahkan Lisa untuk keluar dari mobil.


"Ada gunanya juga kamu. "


"Makasih ya. " Lisa mengucapkan terima kasih kepada pengawal itu.


Namun pengawal itu hanya diam dan tidak membalas ucapan Lisa.


"Kalau orang bilang Terima kasih, kamu tuh seharusnya menjawab atau membalas kek. Jangan seperti batu." Lisa menasehati Sang Pengawal.


"Maaf Nona. " Sang Pengawal kembali meminta maaf kepada Lisa. Namun Lisa mengabaikannya.


Lisa pun berjalan dengan cepat sambil membawa dua rantang makanan untuk orang yang telah menjaga anaknya.


Ketika sampai di luar ruangan anaknya, Lisa melihat semua orang sedang bersedih.


"Ada apa ini? Kok sedih semua. " Lisa bertanya dengan suara pelan. Ia pun menatap Marbela, namun pada saat itu air mata Marbela terus saja mengalir dan membasahi pipinya.


"Sut, pegang ini. " Lisa menyuruh Irvan dan Ucok untuk memegangi rantang makanan.


Saat itu raut wajah Irvan dan Ucok terlihat begitu sedih.

__ADS_1


"Ada apa Bu? apa yang terjadi?" Lisa mendekati Marbela. Kemudian Lisa menatap Adam maupun Agam.


"Ini ada apa Adam? Kok sedih semua. " Lisa bertanya kepada Adam.


Namun dengan raut wajah sedih Adam tidak menjawabnya. Dia malah memegang bahu Lisa.


"Maafkan kami semua Lisa. " Adam meminta maaf kepada Lisa.


"Apa maksud dari semua ini? " Lisa mulai bertanya-tanya.


"Jangan-jangan." Lisa bergegas masuk ke dalam ruangan anaknya. Saat itu Dokter dan Perawat hanya menundukkan kepala mereka ke lantai.


"Dok, apa yang terjadi dengan Tommy? " Lisa bertanya kepada Dokter dan Perawat.


Dokter itu mengangkat kepalanya dan menatap Lisa.


"Maafkan kami Nona Lisa. Kami sudah melakukan yang terbaik. "


"Tuan Kecil Tommy tidak bisa di selamatkan Nona. Kami semua ikut berbela sungkawa atas dahulunya putra Nona. " Dokter dan Perawat membungkukkan badan kepada Lisa.


Lisa dengan cepat menghampiri Tommy.


"Tommy, Tommy. Tom, " Lisa berusaha membangunkan anaknya.


"Sayang, Tommy. " Air mata Lisa mulai membasahi pipinya.


"Nak, bangun Nak. "


"Sayang. " Namun tidak ada sahutan dari Tommy.


Adam kemudian mendekati Lisa.


"Lisa, sudahlah. Cukup ikhlaskan Tommy, relakan dia. "


"Doakan dia, semoga dia hidup tenang di alam sana. " Adam dengan berlinang air mata berusaha menguatkan Lisa.


Namun, tiba-tiba Lisa menampar Adam.


"Paak. "


"Diam Kau. Dia belum meninggal. " Lisa masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.


Adam dengan cepat memeluk Lisa. Air matanya mengalir dengan deras.


Adam menangis setelah sekian lamanya. Air mata itu menandakan kesedihan yang mendalam bagi seorang Adam.


"Lepaskan aku, lepaskan Adam. Katakan kepadaku bahwa ini semua tidak benar. Tadi pagi anakku masih baik-baik saja. Sekarang mana mungkin dia seperti itu. "


"Ini tidak mungkin. "


"Aku tidak percaya dengan ini semua. Pasti ada yang sengaja melakukannya. " Lisa berusaha melepaskan pelukannya dari Adam. Lisa pun mendekati Dokter yang ada di ruangan itu.


"Apa kau bekerja sama dengan seseorang? " Lisa menatap Dokter itu dengan tajam. Namun air matanya tetap saja membasahi pipinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2