
Tak berselang waktu lama, seorang paru baya dan dua gadis muda masuk ke dalam apartement itu. Mereka bertiga membawa belanjaan yang lumayan banyak.
"Permisi Tuan"
permisi Nyonya."
Wanita paru baya itu menyapa Adam dan Lisa. Ia pun tidak lupa membungkukkan badannya kepada Adam dan Lisa yang diikuti oleh dua gadis muda yang sedang mengekorinya.
Saat itu, Adam hanya mengangguk.
Sedangkan Lisa begitu terkejut dengan kedatangan mereka.
Melihat expresi Lisa, Adam tersenyum tipis.
"Apa kau sedang melihat sesuatu yang aneh? " Adam menggoda Lisa.
"Menurutmu? " Lisa menatap Adam dengan tatapan sinis.
Setelah itu, Adam menggerakkan telunjuknya. Gerak geriknya seolah-olah menyuruh ketiga Asisten Rumah Tangga itu untuk segera ke dapur.
Batapa hebatnya, ternyata mereka bertiga sudah mengetahui keinginan majikannya.
Mereka bertiga pun dengan cepat pergi ke dapur.
"Hmp. " Lisa memberi kode kepada Adam.
Adam pun dengan santai melihat ke arah Lisa.
"Apakah orang yang mengganti pakaianku mereka bertiga? " Lisa bertanya kepada Adam.
"Iya. " Adam kemudian menyandarkan kepalanya ke kursi dan kemudian memejamkan matanya.
"Apakah mereka bertiga benar-benar Asisten Rumah Tanggamu? " Lisa kembali bertanya kepada Adam.
"Iya. " Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Adam.
"Jadi, bukan kau ya. Aku pikir kau semesum itu. "
"Aku pikir kau sudah berani-beraninya mengganti pakaianku. Kalau begitu aku akan meminta maaf kepadanya. "
"Ya, aku maafkan. " Dengan santai Adam membalas jawaban Lisa.
"Aku sedang tidak berbicara denganmu. Aku sedang berbicara sendirian. "
Hal tersebut membuat Adam tersenyum tipis.
"Tingkah lakumu masih saja seperti anak-anak. " Adam berbicara di dalam hatinya.
Tiba-tiba saja ia mengingat masa lalunya.
Saat itu dia sedang duduk dengan Lili di tepi sebuah danau.
Adam terus saja melihat wajah Lili.
Di wajah itu tersimpan kesedihan. Tapi entah bagaimana pada saat itu Adam berpikir Lili adalah wanita yang sangat cantik.
Dibalik keganasannya tersimpan kelembutan seorang wanita mungil.
"Apa yang kau lihat-lihat? Apakah aku begitu cantik? "
"Jangan-jangan, kau menyukaiku ya?" Lili bertanya kepada Adam yang sedang memperhatikan wajahnya.
"Tidak. "
"Aku heran saja dengan wajahmu. Aku melihat sesuatu di lubang hidungmu. Upilmu terlihat begitu jelas. " Adam dengan spontan pun tertawa.
"Benarkah? " Dengan cepat Lili membersihkan upilnya. Wajahnya pun mulai memerah saat menyembunyikan rasa malunya.
"Kruuuuuuk. " Bunyi perut lapar membuyarkan bayangan masa lalu Adam.
Dengan spontan Adam membuka matanya dan mulai tertawa lepas.
Ia melihat expresi wanita yang tidak begitu jauh dari sandaran kursinya.
"Apakah bunyinya terlalu keras? " Lisa bertanya kepada Adam.
__ADS_1
"Cukup keras. " Senyuman tipis Adam membuat Adam terlihat begitu tampan.
Wajah Lisa mulai memerah.
"Menurutmu, apakah mereka bertiga juga mendengarnya? " Lisa kembali bertanya kepada Adam.
"Lima puluh, Lima puluh. Jika rumah ini begitu sunyi, menurutku mereka bertiga juga mendengar itu. Karna bunyinya begitu keras. "
"Benarkah? " Expresi Lisa begitu serius.
Saat itu Adam cuman membalas jawaban pertanyaan Lisa dengan menganggukkan kepalanya.
Karena merasa sangat malu. Lisa pun mencari alasan untuk membantu ketiga Asisten yang berada didapur.
"Sepertinya, aku harus bantu mereka. " Lisa dengan cepat pergi meninggalkan Adam.
"Kau masih sama saja. Seorang Lili yang mengganti nama menjadi Lisa. Kalian masih sama saja." Adam kembali menyandarkan badannya ke kursi dan memejamkan matanya.
1 jam kemudian.
"Tuan, makanannya sudah siap."
"Nyonya Lisa menyuruh anda untuk makan bersama-sama. "
"Baiklah. " Adam dengan cepat pergi ke meja makan.
Betapa terkejutnya Adam saat melihat begitu banyak makanan sudah tersaji rapat di atas meja makan.
"Ada apa dengan exspresimu. Ayo duduk, aku sudah sangat lapar." Lisa mulai memerintah Adam.
"Apa ini? "
"Apakah sedang merayakan sesuatu? " Adam masih saja terkejut dengan hidangan yang ada di depannya.
Ia kemudian menarik salah satu kursi dan duduk di sebelah Lisa.
"Sate kacang, sate padang, Ayam tepung, ayam goreng bumbu, dendeng cabe hijau, asam padeh daging, sup, sayur terasi kangkung, mentimun, ikan bakar, ayam bakar, mie goreng, randang, martabak mesir, buah semangka, saus, jeruk manis, apel yang sudah di kupas, irisan buah mangga, irisan buah nenas. "
"Hah, ini semua ide siapa? " Adam melihat ke arah asistennya.
"Apa yang salah? " Tanpa rasa bersalah, Lisa mengambil potongan semangka.
"Ayo kita makan. "
"Mmm, buah ini sangat segar. "
"Kalian bertiga, ayo kita makan bersama-sama. " Lisa mengajak ketiga asisten itu untuk makan bersama-sama.
Ketiga Asisten itu malah melihat ke arah Adam.
"Duduklah, mari kita makan bersama-sama. "
"Makanan sebanyak ini tidak akan habis oleh kami berdua. "
"Jika nanti sisa, silahkan bawa untuk keluarga kalian yang berada di rumah. "
"Apakah mukadimahnya sudah selesai? " Lisa menatap Adam dan ketiga Asisten itu.
"Duduklah. " Lisa menyuruh mereka bertiga untuk duduk.
Mereka bertiga pun menarik kursi dan terpaksa ikut duduk di samping majikannya.
"Hari ini, berpura-puralah sebagai anggota keluargaku. Aku sudah lama tidak makan banyak dengan hidangan sebanyak ini. "
Ketiga Asisten itu terlihat kebingungan dengan perkataan yang telah di ucapkan oleh Lisa.
"Ikuti saja keinginan dia. " Saat itu, Adam kembali bersuara.
"Sekarang ini, isi air minum kalian. Mari kita bersulang."
Dengan cepat, Lisa mengangkat air minumnya.
"Ayo kita lakukan. "
Mereka bertiga pun bersulang.
__ADS_1
Saat itu, Lisa terlihat menikmati hidangan yang ada di meja makan.
"Mmm, makanan itu begitu enak. " Lisa berulang kali mengucapkan kalimat itu.
"Di saat sedih seperti ini, aku harus banyak-banyak makan supaya bisa memberi tubuhku nutrisi dan tenaga. "
"Otakku butuh nutrisi dan vitamin. "
Mendengar ocehan itu. Adam hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku wanita yang berada di sampingnya.
"Sepertinya, dia sudah mengiklaskan kepergian putranya. " Adam berbicara di dalam hatinya.
"Apa yang kau lihat? " Lisa bertanya kepada Adam.
"Apa kau, ingin ini juga?" Dengan cepat Lisa menyuapi Adam.
"Aaaak, buka mulutnya. "
Dengan terpaksa Adam membuka mulutnya.
"Enakkan? "
"Jangan bilang, kau tidak menyukai hidangan ini." Malam itu, Lisa terlihat begitu bersemangat.
"Aku menyukainya. " Adam mengunyah makanan yang berada di mulutnya.
Ketiga Asisten yang berada di samping mereka berusaha menyembunyikan haru mereka. Karena mereka begitu terharu melihat seorang Adam yang akhir-akhir ini sering menyembunyikan senyumnya.
Yap, sebenarnya semenjak beberapa tahun belakangan ini Adam begitu jarang tersenyum. Ia sering merasa kesepian dan terlihat begitu sedih.
Namun, semua itu berubah saat dia berada di dekat Lisa. Dia menjadi lelaki yang lebih hidup lagi semenjak dia bertemu kembali dengan Lisa.
Melihat exspresi ketiga Asisten, Adam dan Lisa menghentikan suapan makanan mereka masing-masing.
"Ada apa dengan mereka? " Lisa bertanya kepada Adam.
"Entahlah. "
"Kau sudah lama mengenal mereka, kenapa kau tidak tau bagaimana mereka? " Lisa kembali mengoceh kepada Adam.
"Aku bukan bapaknya, jadi aku tidak tugas untuk mengenal mereka lebih dalam. "
"Sssst. "
"Jawaban apa itu. " Lisa terlihat begitu kesal mendengar jawaban Adam.
"Santap saja makananmu. " Adam mulai memarahi Lisa.
"Kau bukan Bapakku, jangan memerintahku. "
Mendengar jawaban itu, Adam melihat ke arah Lisa.
Namun anehnya Lisa tertawa geli ke arah Adam, yang membuat Adam juga tertawa melihat tawaan Lisa.
"Kau benar-benar wanita aneh. "
"Kau benar-benar wanita aneh. " Lisa mengikuti kata-kata Adam.
"Apa kau sedang mengolokku? "
"Apa kau sedang mengolokku? " Lisa kembali mengikuti perkataan Adam.
"Ok, sepertinya bocah ini sedang main-main denganku. " Adam berbicara di dalam hatinya.
"I say, i love you. Dengarkan kan? "
"I say, i love you. Dengarkan kan? " Lisa kembali mengikuti perkataan Adam.
"Ya, aku dengar. i love you too. " Lisa pun masuk ke dalam jebakan Adam.
Ketiga Asisten cuman bisa senyum-senyum saat melihat mereka berdua sedang saling menggoda di hadapan mereka bertiga.
"Semoga mereka berdua cepat di satukan oleh Tuhan. " Seorang Asisten paru baya berbicara di dalam hatinya.
Bersambung....
__ADS_1