
Setelah pertarungan selesai, Agam dan Arsena membersihkan diri.
Mereka memakai setelan pakain yang baru, karena pakaian yang tadi sudah cukup kotor.
"Keahlian kamu sudah semakin berkembang Arsena. Aku benar-benar menguji ke ahlianmu. " Agam menepuk-nepuk pundak Sekretarisnya.
"Terima kasih Tuan. "
"Oh ya, kalau boleh tau. Apa rasanya mempunyai istri? "
"Ah, sulit di jelaskan Tuan. Istri itu terkadang makluk yang menyenangkan, namun terkadang dia adalah makluk yang menyeramkan. Mereka cukup memusingkan. " Arsena tertawa.
"Nanti Tuan akan mengerti jika Tuan sudah menikah. "
Agam hanya menaikkan satu alisnya.
"Tuan, mari kita ke kantor. "
Arsena membungkukkan badannya.
Agam pun melangkahkan kaki ke mobilnya dan masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati di jalan Tuan. " Semua anggota membungkukkan badannya.
Agam hanya mengeluarkan tangannya dan memberi gerakan.
Itu bertanda dia menyuruh anggotanya untuk melanjutkan kegiatan masing-masing.
Sedangkan di rumah, Melati duduk di ruangan tamu dengan Marbela.
"Sebaiknya, pernikahan ini di laksanakan secepat mungkin. Bagaimana menurut kamu Melati? "
"Iya, terserah Ibu saja. Melati akan menurut Bu. "
"Eh, kamu tau nggak. Agam itu adalah tipe manusia yang sangat menjaga privasinya."
"Iya Bu. " Melati hanya mendengarkan ocehan calon Ibu Mertuanya itu.
Sampai-sampai Melati menguap. Dia dengan cepat menutup mulutnya dengan tangannya.
"Maaf Bu. "
"Kamu mengantuk ya? Kamu tidur jam berapa semalam? "
"Aku tidak melihat jam Bu. " Melati memperbaiki kancing bajunya.
"Kalian tidak melakukan itu kan? "
Deg.
*Apa ini maksudnya? itu apaan sih? *
__ADS_1
"Tidak Bu. " Melati mulai panik sendiri.
"Syukurlah begitu, Ibu percaya Agam itu adalah laki-laki yang sangat baik. Dia termasuk pria yang penyayang. Kamu beruntung mendapatkan pria sepertu dia. "
"Iya Ibu. " Melati menundukkan kepalanya.
"Kamu mengantuk bukan? silahkan tidur ke kamarmu."
Melati dengan cepat mengangkat kepalanya.
"Ibu. "
"Nggak papa Melati, jika kamu mengantuk tidur saja dulu. " Marbela memegang tangan Melati.
"Terima kasih ibu. " Melati memeluk Marbela.
"Iya, sama-sama sayang. Kamu jangan sungkan kepada Ibu ya. "
"Iya Bu. "
***
Beberapa minggu kemudian.
Pernikahan baru saja selesai di langsungkan. Acara pernikahan itu di laksanakan secara tertutup.
Saat ini Agam dan Melati berada di dalam mobil yang sama.
"Kamu memikirkan apa? "
Lamunan Melati mulai buyar.
"Aku tidak memikirkan apa-apa. "
Tutur bicara mereka tidak seformal dulu lagi. Mereka sudah berbicara dengan santainya.
"Tuan, bolehkah saya bekerja? "
Saat itu Melati masih saja melihat jalanan, dia tidak melihat ke wajah suaminya.
Agam pun memegang tangan Melati.
"Jangan memanggil saya dengan sebutan Tuan Melati. Saya ini sekarang adalah suamimu. "
Melati tidak menjawab apa-apa.
*Kamu tidak ingat, kamu itu membayarku untuk menjadi istrimu. Apa kamu lupa dengan perjanjian yang kamu buat sendiri?* Melati berbicara di dalam hatinya.
"Saya akan menjadi suami yang terbaik untukmu. "
*Kamu sedang bersandiwara kan di depan sekretarismu? kamu licik Agam.*
__ADS_1
"Melati, kamu baik-baik saja bukan? "
"Ya, aku baik-baik saja Tuan. "
"Tolong jangan panggil saya Tuan. Panggil saja saya Agam."
"Baiklah Agam. "
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Arsena melihat Agam dari kaca spion.
*Sepertinya Tuan Agam memang mencintai Nona Melati. *
*Semoga anda bahagia Tuan. Selamat atas pernikahannya. *
Sampai mobil itu berhenti di kediaman Agam.
Bibi dan beberapa pelayan sudah menyambut ke datangan Agam.
"Bi, bagaimana dengan pakaian kami? "
"Sudah Tuan. "
Agam menganggukkan kepalanya.
"Gantilah pakaianmu Melati. Kita akan menginap di apartemenku untuk sementara waktu. "
*Kenapa harus menginap di apartemen? kita kan bisa menginap disini saja, apakah dia merencanakan sesuatu.*
"Agam. " Melati memanggil Agam.
Agam menoleh melihat ke arah Melati.
Lelaki itu menghampiri Melati.
Dia menggenggam tangan Melati.
*Pasti dia sedang bersandiwara lagi, para pelayan dan juga bibi sedang menyaksikan sekarang. *
Melati hanya pasrah dan mengikuti Agam.
Mereka berdua menaiki tangga sambil bergandengan tangan.
"Wow, Tuan Agam romantis sekali. " Salah satu pelayan bersuara.
Tapi teman dari pelayan itu menginjak kaki sang pelayan.
"Diamlah. "
Sang pelayan menutup mulutnya dengan tangannya.
bersambung....
__ADS_1