TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
TPD2_


__ADS_3

Setelah pertarungan selesai, Agam dan Arsena membersihkan diri.


Mereka memakai setelan pakain yang baru, karena pakaian yang tadi sudah cukup kotor.


"Keahlian kamu sudah semakin berkembang Arsena. Aku benar-benar menguji ke ahlianmu. " Agam menepuk-nepuk pundak Sekretarisnya.


"Terima kasih Tuan. "


"Oh ya, kalau boleh tau. Apa rasanya mempunyai istri? "


"Ah, sulit di jelaskan Tuan. Istri itu terkadang makluk yang menyenangkan, namun terkadang dia adalah makluk yang menyeramkan. Mereka cukup memusingkan. " Arsena tertawa.


"Nanti Tuan akan mengerti jika Tuan sudah menikah. "


Agam hanya menaikkan satu alisnya.


"Tuan, mari kita ke kantor. "


Arsena membungkukkan badannya.


Agam pun melangkahkan kaki ke mobilnya dan masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati di jalan Tuan. " Semua anggota membungkukkan badannya.


Agam hanya mengeluarkan tangannya dan memberi gerakan.


Itu bertanda dia menyuruh anggotanya untuk melanjutkan kegiatan masing-masing.


Sedangkan di rumah, Melati duduk di ruangan tamu dengan Marbela.


"Sebaiknya, pernikahan ini di laksanakan secepat mungkin. Bagaimana menurut kamu Melati? "


"Iya, terserah Ibu saja. Melati akan menurut Bu. "


"Eh, kamu tau nggak. Agam itu adalah tipe manusia yang sangat menjaga privasinya."


"Iya Bu. " Melati hanya mendengarkan ocehan calon Ibu Mertuanya itu.


Sampai-sampai Melati menguap. Dia dengan cepat menutup mulutnya dengan tangannya.


"Maaf Bu. "


"Kamu mengantuk ya? Kamu tidur jam berapa semalam? "


"Aku tidak melihat jam Bu. " Melati memperbaiki kancing bajunya.


"Kalian tidak melakukan itu kan? "


Deg.


*Apa ini maksudnya? itu apaan sih? *

__ADS_1


"Tidak Bu. " Melati mulai panik sendiri.


"Syukurlah begitu, Ibu percaya Agam itu adalah laki-laki yang sangat baik. Dia termasuk pria yang penyayang. Kamu beruntung mendapatkan pria sepertu dia. "


"Iya Ibu. " Melati menundukkan kepalanya.


"Kamu mengantuk bukan? silahkan tidur ke kamarmu."


Melati dengan cepat mengangkat kepalanya.


"Ibu. "


"Nggak papa Melati, jika kamu mengantuk tidur saja dulu. " Marbela memegang tangan Melati.


"Terima kasih ibu. " Melati memeluk Marbela.


"Iya, sama-sama sayang. Kamu jangan sungkan kepada Ibu ya. "


"Iya Bu. "


***


Beberapa minggu kemudian.


Pernikahan baru saja selesai di langsungkan. Acara pernikahan itu di laksanakan secara tertutup.


Saat ini Agam dan Melati berada di dalam mobil yang sama.


"Kamu memikirkan apa? "


Lamunan Melati mulai buyar.


"Aku tidak memikirkan apa-apa. "


Tutur bicara mereka tidak seformal dulu lagi. Mereka sudah berbicara dengan santainya.


"Tuan, bolehkah saya bekerja? "


Saat itu Melati masih saja melihat jalanan, dia tidak melihat ke wajah suaminya.


Agam pun memegang tangan Melati.


"Jangan memanggil saya dengan sebutan Tuan Melati. Saya ini sekarang adalah suamimu. "


Melati tidak menjawab apa-apa.


*Kamu tidak ingat, kamu itu membayarku untuk menjadi istrimu. Apa kamu lupa dengan perjanjian yang kamu buat sendiri?* Melati berbicara di dalam hatinya.


"Saya akan menjadi suami yang terbaik untukmu. "


*Kamu sedang bersandiwara kan di depan sekretarismu? kamu licik Agam.*

__ADS_1


"Melati, kamu baik-baik saja bukan? "


"Ya, aku baik-baik saja Tuan. "


"Tolong jangan panggil saya Tuan. Panggil saja saya Agam."


"Baiklah Agam. "


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Arsena melihat Agam dari kaca spion.


*Sepertinya Tuan Agam memang mencintai Nona Melati. *


*Semoga anda bahagia Tuan. Selamat atas pernikahannya. *


Sampai mobil itu berhenti di kediaman Agam.


Bibi dan beberapa pelayan sudah menyambut ke datangan Agam.


"Bi, bagaimana dengan pakaian kami? "


"Sudah Tuan. "


Agam menganggukkan kepalanya.


"Gantilah pakaianmu Melati. Kita akan menginap di apartemenku untuk sementara waktu. "


*Kenapa harus menginap di apartemen? kita kan bisa menginap disini saja, apakah dia merencanakan sesuatu.*


"Agam. " Melati memanggil Agam.


Agam menoleh melihat ke arah Melati.


Lelaki itu menghampiri Melati.


Dia menggenggam tangan Melati.


*Pasti dia sedang bersandiwara lagi, para pelayan dan juga bibi sedang menyaksikan sekarang. *


Melati hanya pasrah dan mengikuti Agam.


Mereka berdua menaiki tangga sambil bergandengan tangan.


"Wow, Tuan Agam romantis sekali. " Salah satu pelayan bersuara.


Tapi teman dari pelayan itu menginjak kaki sang pelayan.


"Diamlah. "


Sang pelayan menutup mulutnya dengan tangannya.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2