TIDAK PERLU DENDAM

TIDAK PERLU DENDAM
TPD2_Ayo bikin anak


__ADS_3

Melati terbangun dari tidurnya ketika memeluk Adam. Sepasang suami itu saling berpelukan saat tidur.


*Oh Tuhan, apa yang aku lakukan? kenapa aku memeluk dia* (Melati)


Melati dengan hati-hati melepaskan pelukannya dari suaminya.


Dan setelah itu melihat wajah suaminya.


*Dialah dia, dia begitu tampan. Hidungnya begitu mancung, dan kulitnya sangat bersih. *


Melati kemudian melihat langit-langit kamarnya.


*Apakah kami bisa jadi suami istri yang sesungguhnya?*


Setelah itu Melati bangkit dari ranjang dan pergi menuju kamar mandi. Wanita itu melaksanakan ritual paginya yaitu dengan mandi pagi.


Ketika Melati sudah selesai dengan ritualnya. Wanita itu pergi menuju dapur.


*Aku akan membuatkan nasi goreng yang istimewa untuk dirinya. *


Melati pun mulai sibuk memasak di dapur.


Setelah itu dirinya menyajikan nasi goreng tersebut di atas meja makan.


*Aku harus membangunkan dia. * Melati pun melangkahkan kaki menuju kamar.


Ketika dia berada di dalam kamar. Melati tidak melihat suaminya.


Dan tak lama kemudian, sang suami keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya.


*Wow, dada bidangnya begitu menggoda. * Melati berusaha menelan air liurnya.


*Ya Tuhan, suamiku. *


"Ada apa? " Agam menyadari bahwa istrinya sedang terpesona melihat dirinya.


*Kamu tergiurkan? makanya jangan sok jual mahal. *


"Aku sudah membuat nasi goreng. Mari makan bersama."


"Tunggu sebentar, aku akan mengganti pakaian. " Agam melihat Melati yang sedang mematung.


Wanita itu nyaris tidak berkedip sama sekali.


"Apakah kamu ingin melihat aku mengganti pakaian? "


"Mmm, maafkan aku. Aku akan keluar. "


Agam pun tersenyum melihat istrinya yang sedang malu-malu.


"Kamu lucu juga jika memasang wajah seperti itu ya. Lumayan menggemaskan. " Agam tersenyum kecil.


Dengan cepat lelaki itu memakai pakaiannya.


Kemudian keluar dari kamar dan melihat Melati yang sedang menunggunya di meja makan itu.


Agam mulai melangkahkan kaki menuju meja makan dan kemudian duduk di salah satu kursi meja makan itu.


"Wow. Kamu bisa masak juga. " Agam melihat nasi goreng yang di buat oleh Melati kemudian melihat lagi ke arah Melati.


"Apa? kamu tidak menyukai nasi goreng?"


"Secara, kamu itu lelaki elit. "


Agam hanya tersenyum tipis. Dia berusaha menahan tawanya saat melihat wajah Melati yang terkesan judes.


"Aku akan mencobanya. "


Agam mulai menyantap nasi goreng yang buatkan oleh istrinya.


"Paling tidak, kamu sudah berusaha untuk memasak. "


*Hei, aku sudah sering memasak untuk kamu. Kamu saja yang tidak menghargainya. Dasar laki-laki tidak peka.*


Melati menyantap nasi goreng buatannya dengan wajah kesal.


***

__ADS_1


Ritual makan nasi goreng sudah selesai mereka lalui.


Melati membereskan meja makan dan kemudian membawa piring kotor ke dapur.


Wanita itu mencuci piring kotor.


Sedangkan Agam sesekali melihat Melati dari kejauhan.


*Bagaimana memulai pembicaraan dengannya ya?


Ibu menginginkan cucu, jika ingin cucu aku harus bekerja sama dengan Melati untuk membuatnya. *


*Hei, aku membuat. * Agam tersenyum kecil. Untung saja hal itu tidak di lihat oleh Melati karena Melati sibuk dengan kegiatannya.


Setelah menyuci piring, Melati duduk di sofa dan mulai mengeluarkan ponselnya.


Biasa, wanita itu akan melanjutkan flm korea tontonannya kemaren.


Agam yang duduk di sofa yang berbeda dengan Melati selalu saja memperhatikan Melati.


"Apa yang kamu lakukan? " Padahal Agam sudah tahu bahwa Melati sedang menonton flm korea.


"Aku sedang menonton flm korea. "


"Boleh aku ikut? "


"Ya boleh. " Melati mulai menggeser posisi ponselnya, agar Agam bisa melihat flm yang di tonton oleh Melati.


*Bagaimana cara mengatakannya ya? * Agam menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Seolah-olah mempunyai intuisi sendiri, Melati mengetahui bahwa ada sesuatu hal yang ingin di sampaikan oleh Agam kepada dirinya.


"Apa? katakan saja. "


Agam agak kaget.


*Dia bisa membaca fikiranku? *


"Ada hal yang ingin aku bahas kepadamu. Tapi aku harap kamu jangan marah. Kita bisa mendiskusikan hal ini dengan cara yang baik-baik. "


Kemudian dirinya melihat ke arah ponselnya. Jari mungil itu menghentikan flm yang sedang dia tonton.


Melati kemudian melihat lagi ke arah Agam.


Tiba-tiba saja, bel apartement itu berbunyi.


Ada seorang wanita yang akan membersihkan apartement tersebut.


"Tunggu sebentar. " Agam berdiri dari duduknya dan membukakan pintu apartement.


Ada seorang wanita pembersih yang bodynya sangat aduhai.


Dua gunung milik wanita itu sangat besar.


Melati kemudian menyusul suaminya. Dia melihat wanita pembersih yang sangat aduhai.


"Saya di tugaskan untuk membersihkan apartement ini Tuan. "


"Dengan pakaian begitu? " Melati menyahut di belakang Agam.


Agam seketika melihat ke arah Melati.


*Jadi begini tingkah Agam yang sebenarnya? laki-laki memang tidak bisa di percaya. *


"Saya akan membersihkan apartement ini sendirian. Saya Istri Tuan Muda ini. "


Mendengar kalimat yang lontarkan oleh Melati, wanita itu melihat ke arah Agam.


"Bagaimana Tuan? " Sang Wanita bertanya dengan wajah semanja mungkin.


*Cih, masih berani menggoda dia. *


"Kamu pulang saja. Nanti kamu akan di hubungi oleh sekretaris saya. "


Agam tampak mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


"Ini bonus untukmu. "

__ADS_1


"Terima kasih Tuan. " Mata wanita itu berbinar saat menerima uang dari Agam.


*Dasar wanita matrek. * Melati masih mengutuk di dalam hatinya.


Kemudian Agam menutup pintu apartemen itu.


Sepasang suami istri itu kini berubah dengan situasi yang sangat canggung.


"Ayo kita melanjutkan yang tadi. "


Agam melewati Melati yang sedang di landa rasa cemburu.


Dia sangat jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa suaminya menatap bola kembar milik wanita tadi.


Entah kenapa, dia menjadi kesal saat mengingatnya.


Melihat tingkah Melati yang seperti itu. Agam agak tertawa.


"Apa yang kamu tertawakan? apa kamu bahagia melihat wanita tadi? "


"Lumayan, cukup menyegarkan mata. "


"Cih, pria itu dimana-mana sama saja. Dasar hidung belang. "


"Aku masih bisa mendengarnya. "


Agam masih saja tertawa.


"Kamu cemburu? "


"Siapa yang cemburu? " Suara Melati mulai meninggi.


"Tuh kan, kamu cemburu. "


"Hei, aku tidak berkata bahwa aku cemburu. "


"Tapi tindakanmu itu menunjukkan bahwa kamu sedang cemburu. "


"Tidak, aku tidak cemburu. " Ekspresi Melati saat itu lumayan lucu bagi Agam.


"Oh ya. " Agam mulai menggoda Melati.


"Apaan sih. "


"Emang apa yang ingin kamu bicarakan? jika tidak penting lebih baik aku menonton saja. "


"Ayo bikin anak. "


Deg.


Perkataan Agam bagaikan sambaran petir.


"Maksudmu apa? "


"Ya sudah jelaskan, aku ingin kita memproduksi anak. Ibuku sangat menginginkan cucu, jadi mohon kerja samanya. "


Deg.


*Apa-apaan sih dia. Dia sedang tidak gila kan? *


"Kamu gila. "


"Hei, aku tidak gila. Aku serius dengan ucapanku. "


"Bagaimana jika aku tidak mau?"


"Aku akan memaksamu. " Agam mulai menatap Melati dengan tatapan yang tidak biasa.


Dengan cepat Melati memalingkan wajahnya.


*Sudah ku duga, dia benar-benar sudah gila.*


"Aku akan memberi kamu waktu untuk berfikir. Silahkan pikirkan perkataanku. Jika kamu menolak, aku bisa saja memaksa. " Agam kemudian meninggalkan Melati dan masuk ke dalam kamar.


Perkataan lelaki itu terdengar sangat serius.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2