
Seminggu kemudian.
Lisa sudah beberapa hari berdiam diri di dalam kamar.
"Ibu." Alis membuka kamar Ibunya.
"Apa yang membuat Ibu sangat bersedih?" Alis bertanya kepada Ibunya yang di dampingi kedua kakaknya.
Lisa berdiri dari duduknya.
"Sepertinya kalian bertiga harus tau. Ibu harus menceritakan ini semua kepada kalian. "
Mereka bertiga naik ke ranjang Ibunya.
"Apakah Ibu menyimpan rahasia? " Jimmy memberanikan diri untuk bertanya kepada Ibunya.
Lisa menatap ketiga anaknya.
"Dulu, Ibu memiliki orangtua yang sangat harmonis. Kehidupan Ibu sangat bahagia. Namun tiba-tiba semuanya berubah menjadi buruk."
Jimmy, Tommy dan Alis terus saja mendengarkan Ibunya berbicara.
"Nenek kalian yang bernama Ayuandini William meninggal dunia karena tertembak. 2 bulan kemudian Kakek kalian menikah lagi dan mempunyai satu orang putri. Beberapa bulan kemudian, Ibu mempunyai seorang saudara perempuan lagi. Lebih tepatnya dia adalah adik Ibu. Mereka semua dibawa kerumah milik nenek dan mereka di biarkan menetap di rumah Nenek. "
"Setelah itu, Ibu hamil kalian bertiga dan Ibu di usir dari rumah begitu saja. Beberapa hari yang lalu, Ibu melihat dari berita bahwa perusahaan kakek kalian kebakaran. Hal itu membuat kakek kalian di larikan ke rumah sakit dan kemudian .... " Air mata Lisa mulai menetes.
"Dan kemudian, Kakek kalian meninggal dunia di rumah sakit. Maaf, Ibu belum sempat mengenalkan kalian kepada kakek kalian. Dia telah meninggal dunia. " Lisa dengan suara bergetar berusaha menjelaskan semuanya kepada anak-anaknya. Kemudian Lisa menghapus air matanya dengan tangannya.
Mereka bertiga saling menatap.
"Ibu jangan bersedih lagi. Jimmy sudah mengetahuinya. Arkan Gunawan adalah kakek kami. Jimmy sudah memberitahu kepada Tommy dan Alis. Kakek pantas mengalami itu semua. Kakek sangat jahat kepada Ibu. Dia mengusir Ibu dari rumah Nenek."
"Bagaimana pun juga, dia adalah kakek kalian. " Lisa menatap ketiga anaknya.
"Tapi kakek menelantarkan Ibu dan kami. Dia tidak pernah mencari keberadaan Ibu. " Jimmy menatap balik kepada Ibunya.
"Ibu, jangan bersedih lagi. Ibu masih mempunyai kami bertiga. Kami tidak akan pernah meninggalkan Ibu." Tommy angkat Bicara.
"Iya, kami sangat menyayangi Ibu. " Alis memeluk Ibunya yang di ikuti oleh Tommy dan Jimmy.
....
Beberapa hari sudah berlalu. Jimmy, Tommy dan Alis pergi ke sekolah seperti biasanya.
Mereka telah di tunggu oleh Adam dan Pak Karman di depan gerbang.
"Ayah, Alis merindukan Ayah. " Alis meminta gendong kepada Ayahnya.
"Bagaimana belajarnya? Apakah menyenangkan? " Adam mencium kening Alis.
"Sangat memusingkan Ayah. " Alis memeluk leher ayahnya, saat berada di pelukan Ayahnya.
"Pak Karman, saya ingin bersama anak-anak saya sepuluh menit. " Adam meminta izin kepada Pak Karman.
"Baik Tuan"
__ADS_1
Ketiga kurcaci itu di suruh masuk ke dalam mobil yang lumayan besar.
"Woah, mobil ayah sangat bagus. Ini mobil terluas dan terbagus yang pernah Alis lihat Ayah. " Alis memuji mobil Ayahnya.
"Benarkah. " Adam hanya tersenyum tipis.
Di dalam mobil itu sudah di sediakan beberapa makanan dan mainan.
"Boneka Hello Kitty" Alis mengambil boneka itu.
"Ayah, apakah Alis boleh mengambil boneka ini? Alis sangat menyukainya. Alis akan membawa boneka ini ke rumah. " Adam hanya menganggukkan kepalanya dan itu bertanda ia mengizinkan Putri kecilnya membawa boneka itu.
.....
Sepuluh menit telah berlalu.
Ketiga kurcaci itu masuk ke dalam mobil Pak Karman.
"Kapan yah Tom, Ayah dan Ibu bersatu? " Alis bertanya kepada Tommy.
"Kita doakan saja yang terbaik Alis. Apakah kamu sangat menyukai Hello kitty.? " Tommy mengalihkan perhatian adiknya.
"Iya, Alis menyukainya. " Alis menjawab pertanyaan Tommy.
"Kamu suka memukul, namun kamu suka hello kitty. Apakah semua wanita sepertimu." Jimmy mulai angkat bicara.
"Apakah kamu iri denganku? " Alis memamerkan bonekanya.
"Tidak, aku hanya heran melihatmu. " Jimmy mulai mengejek adiknya.
...
"Anak-anak, kita sudah sampai di rumah." Pak karman mematikan mesin mobilnya, lalu membukakan Tuan Kecil dan Nona Kecilnya Pintu mobil.
Mereka bertiga pun keluar dari mobil itu.
....
Di kediaman Gunawan.
Merry terlihat sedang berdandan dengan glamor.
"Sekarang, tidak ada lagi yang menghalangi. Sibangka itu sudah di duga meninggal dunia. " Merry pergi meninggalkan tempat riasnya dan kemudian pergi menuju meja makan.
Anak dan minantunya sudah menunggu di meja makan.
"Apa kabar Sayang?" Merry mencium Pipi Kirana, tetapi dia tidak mencium Pipi Tika.
Pada saat itu, Rivaldo sedikit kebingungan dengan tingkah Ibu mertuanya.
"Mari kita makan dengan tenang hari ini. "
Merry duduk dan mulai menyantap makanan yang ada di meja makan.
"Apakah Ibu tidak bersedih sama sekali? Ayah baru saja meninggal dunia dan sekarang lihatlah penampilan Ibu. " Tika menegur Ibunya.
__ADS_1
"Ibu bersedih sayang. Tapi yang berlalu biarlah berlalu. Semua ini telah terjadi, kita tidak bisa merubahnya." Merry dengan santai kembali menyantap makanannya. Begitu juga dengan Kirana dan Rivaldo.
"Drama apa yang terjadi di rumah ini? " Rivaldo berbicara di dalam hatinya.
"Apakah kalian semua ini tidak mempunyai hati nurani lagi? " Tika menepuk meja makan dan melemparkan piring ke lantai.
"Braak. "
"Ada apa denganmu? " Merry berteriak kepada anaknya.
"Ada apa denganku? seharusnya aku yang bertanya kepada Ibu. Ada apa dengan Ibu? Ketika ayah di rumah sakit, kenapa Ibu melarangku pergi ke rumah sakit. " Tika menatap wajah Ibunya dengan kesal.
"Aku sudah muak dengan semua ini" Tika pergi meninggalkan meja makan dan pergi menuju kamarnya.
"Maafkan Tika ya Rivaldo. Tika masih bersedih dengan kepergian Ayahnya. Maklum dia itu adalah anak bungsu. Anak yang sangat di manja oleh Ayahnya, dan sekaligus sangat dekat dengan ayahnya. " Merry berusaha mencari alasan atas perilaku Tika yang kurang sopan.
"Saya mengerti ibu" Rivaldo melanjutkan makannya. Sesekali Rivaldo melihat istri dan ibu mertuanya dengan tatapan aneh.
Jadi beberapa hari yang lalu, Arkan Gunawan bertengkar dengan Merry. Hal itu di lihat oleh Tika.
"Apakah kamu ingin bertemu dengan anak memalukan itu?" Merry memarahi suaminya.
"Itu adalah urusanku." Arkan menatap Merry.
"Urusanku? hah, kenapa harus menemui anak itu. Apakah kamu tidak mencintaiku lagi? Aku ingin, kamu jangan pernah menemui anak itu lagi. " Merry sedikit berteriak kepada suaminya.
"Kenapa tidak boleh hah? dia adalah anakku. Dia cukup mengalah selama ini. Aku ingin menemuinya dan bertemu dengan ketiga cucuku. " Kali ini Arkan menatap Merry dengan tatapan tajam.
"Tidak Boleh. " Merry menyuntikkan sesuatu kepada Arkan, sehingga Arkan mulai pingsan.
"Ibu" Tika tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan itu.
"Tika, apa yang kamu lakukan disini? " Merry sangat terkejut melihat Tika.
"Apa yang telah Ibu lakukan kepada Ayah? " Tika bertanya kepada Ibunya.
"Ibu hanya membuat ayah beristirahat sejenak. Ibu tidak ingin Ayah kemana-mana lagi. Dia harus beristirahat. Ibu tidak akan pernah mengizinkan Ayah menemui Lili. " Merry menyuruh pelayan untuk meletakkan Arkan ke tempat tidur.
"Maksudnya. " Tika menatap Ibunya.
"Lili sudah kembali ke negara ini. Dia membawa tiga anak haram."
"Kalau kamu tidak percaya, ini fotonya. " Merry menunjuk foto yang ada di atas meja kerja Arkan.
Dengan cepat Tika pergi ke meja tersebut.
"Kak Lili, dia memiliki anak-anak yang menggemaskan. Aku sudah mempunyai keponakan yang lucu-lucu. " Tika terlihat bahagia.
"Apa? kau bahagia melihat ketiga anak haram itu?" Merry sedikit kesal.
"Iya, aku bahagia melihat mereka. " Tika membawa foto-foto itu keluar dan masuk ke dalam kamarnya, lalu mengunci pintu kamarnya.
"Kenapa Ibu sangat membenci Kak Lili? Dia kakak terbaikku, aku sangat merindukannya." Tika terus saja memperhatikan foto itu.
"Dulu, hanya Kakak yang peduli denganku. Aku harus segera menemukan Kakak. " Tika melihat satu persatu foto itu kembali.
__ADS_1
"Keponakanku sangat menggemaskan. Mereka lucu sekali. "
Bersambung...