
Hani yang sudah mendapatkan Nomor Azzar tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. tanpa berpikir panjang dia lalu menelpon Azzar.
"Halo..."
"Halo.. Maaf Siapa ini? ucap azzar yang lagi bersantai diteras dengan umminya
"Saya yang kamu tegur tadi pagi"
"Yang mana?" Tanya azzar yang masih bertanya dalam pikirannya.
"Temannya Naura"
"Kamu, Beraninya kamu menelpon saya atas semua yang sudah kamu lakukan kepada teman kamu sendiri" Ucap Azzar emosi
"Iya maaf-maaf tapi saya janji kok nggak akan ulangi lagi. lagian kan Naura juga masih baik-baik saja kan?"
"Segampang itu kau bilang?. coba saja Naura tidak melarang saya, mungkin saya sudah melaporkan mu ke polisi dan menjebloskanmu kepenjara"
"Iya, saya berterima kasih banget sama Naura sudah tidak melapor saya hingga saya masih menghirup udara bebas sampai saat ini. dan saya juga mau berdamai denganmu mas"
"Ada perlu apa kamu telpon saya?"
"Jangan ngeGas dong? nanti gantengnya luntur Loh. saya hanya mau berkenalan sama Mas. karena sejak tadi pas kita ketemu sepertinya saya mulai tertarik sama Mas" Ucap Hani yang sedang berbaring di atas kasurnya
"Tapi maaf saya tidak tertarik sama kamu, jadi saya minta tolong jangan hubungi saya lagi"
"Terserah Mas saja. apa mau terima telpon saya ato tidak tapi konsekuensinya ya Kalau sesuatu akan terjadi lagi dengan Naura, Majikan kesayangan Mas itu"
"Kamu berani ngancam saya?"
"itu bukan ancaman Mas tapi syarat agar kamu mau meneripa telpon saya kapanpun yang saya mau. Itu saja" Ucap Hani sambil tersenyum
"Dari mana kamu dapat nomor telpon saya?
"Dari mana lagi kalau bukan dari majikan kamu itu, tadinya sih saya juga minta alamat rumah kamu tapi berhubung dia juga tidak tau makanya saya hanya bisa dapat no Hp kamu saja"
__ADS_1
"Jangan pernah kamu mengunjungi rumah saya Ya"
"Ok tidak masalah. asal mas mau ketemuan Nanti malam. gimana?" Ajak Hani
"Maaf, saya tidak bisa bertemu dengan wanita malam-malam, Kalau mau besok pagi saja disekolah"
"Ok Sayang, kalau begitu sampai jumpa besok pagi ya...Daaaahhh" ucap Hani kemudian mematikan telponnya
"Dasar perempuan aneh. ada juga ya perempuan seperti itu" Gerutu azzar
"Siapa Nak, sepertinya kamu tidak nyaman berbicara sama dia?" Tanya ummi saat Azzar meletakkan handphone disebelahnya
"Itu Ummi teman Naura yang pernah membayar perampok untuk menculik Naura untuk diperkosa"
"Astagfirullah, kejam sekali wanita itu"
"Untung saja saya tepat waktu sampai disana sebelum mereka melakukannya ummi" ucap azzar yang langsung memikirkan kejadian itu.
"Terus mengapa Kamu tidak melaporkannya polisi? setidaknya dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu"
"Baik sekali Nak Naura, kamu memang tidak salah pilih nak. kamu hanya perlu saja membuatnya jatuh cinta dan membuat dia cinta sama Allah dan mematuhi semua perintah dan larangan Allah"
"Iya Ummi. azzar akan berusaha untuk menjalankan amanah ummi. Terimakasih Ummi sudah mendukung hubungan azzar"
"iya Nak. sama-sama. kalau begitu ummi kekamar dulu ya"
"iya ummi. Azzar juga mau masuk kamar ini"
Azzar dan umminya kemudian masuk kekamar masing-masing. sesampainya dikamar, Azzar kembali memikirkan Naura. mengapa Naura memberikan nomornya kepada Hani?. untuk memperjelas hal ini akhirnya Azzar mencoba menanyakan langsung ke Naura.
"iya Mas ada apa?" Tanya Naura yang mengangkat telponnya
"kamu masih tanya kenapa? kamu sudah salah besar sama saya"
"Maksudnya saya memberikan Nomor mas ke Hani ya?" Tanya Naura menebak maksud Azzar
__ADS_1
"Iya, kenapa kamu berikan ke Hani?"
"habisnya gangguin waktu istirahat saya sih. cuma karena minta nomor hp mas nizam. ya sudah saya kasih aja"
"tapi dia sudah ganggu kenyamanan saya juga, gimana dong?"
"Ya sudah.... tinggal blokir saja. Gampangkan?" Naura memberikan saran.
"wiiihhh... Ketahuan nih sering blokir-blokir nomor orang. Kalau saya nggak diblokir kan nomornya" canda Azzar sambil tersenyum
"Ehmm tergantung sih"
"Kok tergantung?"
"Iya. kalau mas juga mengganggu istirahat saya, bukan tidak mungkin nomor mas juga saya blokir"
"wah... jadi takut diblokir juga"
"Ya sudah kalau begitu matikan telponnya karena saya mau istirahat"
"Oh, baiklah kalau begitu. walau sebenarnya masih mau ngobrol lama sama nona shaliha" ucap azzar dengn wajah sedih
"Maaf saya tidak punya banyak waktu meladeni cowok melow kayak mas azzar"
"Benar-benar menyedihkan"
"sudah ya... selamat menikmati telponan dengan gebetan baru...."
"Ehhh......" disaat Azzar ingin memperjelas kalimat terakhir, namun Naura sudah mematikan sambungan telponnya.
"Maksud Naura tadi apa ya? apa dia cemburu?" batin Azzar yang coba menebak maksud Naura.
Azzar terus berpikir wajah jutek Naura saat mengucapkan kata itu hingga tak sadar ia tertidur.
.....
__ADS_1