
Novel ini terinspirasi dari komik menculik seorang ibu. Mungkin sama di bagian anak mereka yang kembar cewek-cowok. Cerdas dan punya pemikiran dewasa. Terpisah dan kemudian ketemu lagi. Tapi gak ada unsur plagiat sama sekali.
Jalan cerita dan isi di dalamnya beda banget dari komik itu. Apalagi di bab 47, udah masuk SS 2. Di mana kisahnya berlanjut ke cerita cinta si kembar (Lebih Tepatnya Kisah Cinta Kevin)
-
Memiliki akhir yang bahagia dalam kisah cintanya, sudah pasti menjadi impian setiap wanita yang ada di seluruh belahan dunia.
Diawali dengan sebuah perkenalan, berkencan, pesta pertunangan yang kemudian diteruskan dengan sebuah resepsi pernikahan. Berdiri di atas Altar bersama mempelai pria,memakai gaun pengantin yang cantik nan mewah, dengan disaksikan para keluarga dan tamu undangan.
Kemudian kedua mempelai saling mengikat janji untuk setia sehidup semati hingga maut memisahkan, tak terkecuali Jessica. Akhir seperti itulah yang dia impikan untuk ending dalam kisah cintanya. Tapi mimpi hanyalah mimpi, karena mimpi-mimpi indahnya itu telah hancur dalam sekejap mata.
Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya malah berubah menjadi hari paling menyakitkan yang tak akan pernah bisa dia lupakan sampai kapan pun.
Hari ini, tepat di hari pernikahannya, calon suaminya menghianatinya dan berselingkuh dengan wanita lain. Dan parahnya lagi, wanita itu adalah sepupu Jessica sendiri. Menyakitkan memang, karena dikhianati oleh dua orang yang paling dia sayangi.
Di sini Jessica sekarang. Gadis itu terlihat berjalan sempoyongan dilorong sebuah Hotel. Aroma alkohol yang begitu kuat tercium dari tubuhnya yang masih terbalut gaun pengantin berwarna putih gading.
Meskipun sedang dalam pengaruh alkohol, namun Jessica masih sepenuhnya sadar. Hanya kepalanya saja yang rasanya ingin pecah.
Jessica memutuskan untuk tidak pulang dan memilih bermalam di tempat lain. Dia tidak ingin bertemu dengan siapa pun untuk saat ini, terlebih-lebih kakak sepupunya yang selama bertahun-tahun menunpang hidup pada keluarganya. Dan semua kebaikan yang dia dapatkan malah di balas dengan sebuah penghianatan.
Jessica tersenyum miris dalam hati. Dia sungguh tak menduga akan di sakiti oleh mereka berdua sampai sedalam ini. Jika saja Jessica bisa menyadarinya sejak awal. Pasti dia tidak akan terluka sampai sedalam ini.
Jessica menghentikan langkahnya diantar dua pintu. "Kamar 205 atau kamar 206? Kenapa aku tidak mengingatnya?" ucapnya bergumam. "Ah, mungkin kamar 206, ya kamar 206." ucap Jessica yakin tidak yakin.
Matanya membelalak saat dia menyadari sesuatu. "Eoh, tidak dikunci, hahahahha pasti kamar ini." Ucapnya semakin yakin.
Bruggg..!!
Jessica merebahkan tubuhnya yang terasa lelah pada kasur king size yang terletak di tengah ruangan. Sebenarnya bukan hanya tubuhnya saja yang terasa lelah, tapi juga hati dan perasaannya.
Cklekk..!
Decitan suara pintu di buka dari luar memaksa Jessica untuk membuka kembali matanya yang mulai memberat. "Siapa itu?" serunya bertanya. Tapi tidak ada jawaban.
Samar-samar Jessica melihat jika yang datang adalah seorang pria, tapi sayangnya dia tidak melihat seperti apa rupa pria itu karena penerangan di dalam kamar yang tidak dinyalakan, hanya ada cahaya temaram dari sang dewi malam.
"Aaahhh..!" Jessica memekik kencang karena pria itu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya. "Yakkk! Apa yang kau lakukan? Menyingkirlah, kau itu berat. Lagi pula apa yang kau lakukan di sini? Ini kamarku?"
"Seharusnya aku yang bertanya, ini adalah kamar yang sudah aku tempati sejak tiga hari yang lalu."
"A-apa? Ja-jadi aku salah kamar? Menyingkirlah, aku tidak bisa bangun jika kau terus menindih tubuhku. Menyingkir dan biarkan aku pergi sekarang."
"Tidak semudah itu. Sekujur tubuhku terasa panas dan aku membutuhkan pelepasan sekarang. Soo, kau harus menemaniku malam ini."
Kedua mata Jessica membelalak. "A-apa? Kau sudah gila, lepaskan aku sekarang atau aku akan berterii....!" ucapan Jessica terputus karena pria itu lebih dulu membekap bibirnya.
Jessica benar-benar tidak berdaya sekarang, kedua tangannya kini berada dalam cengkraman tangan besar laki-laki itu dan kakinya mengunci pergerakannya.
Dan tidak ada yang bisa dia lakukan selain pasrah dan mengikuti apa yang dilakukan oleh pria asing itu, tubuhnya benar-benar tidak berdaya, ia tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan.
Dan Jessica tidak akan bisa menyalahkan pria itu apalagi menuntutnya. Karena pria itu melakukannya dalam keadaan tidak sadar, mabuk berat.
__ADS_1
'Sial, kenapa harus dengan pria asing? Mahkota paling berhargaku, kenapa harus laki-laki brengsek ini yang mengambilnya?' batin Jessica marah.
Dia mencoba untuk meronta dan melepaskan diri dari pria itu, tapi sayang... tenaganya tidak sekuat itu.
"Aaahh..!" gadis itu! Ralat, tapi wanita itu kembali memekik. "Sial, kenapa tubuhmu begitu berat." sekuat tenaga Jessica menyingkirkan tubuh laki-laki itu kemudian bangkit dari posisinya.
Setelah berhasil lepas, Jessica bergegas meninggalkan kamar tersebut juga penghuni di dalamnya.
Wanita itu menghentikan langkahnya, kemudian dia menoleh pada pria yang sedang terlelap di atas tempat tidurnya, dan mendesah berat. Rasanya semua yang baru saja terjadi bagaikan mimpi, tapi mimpi itu adalah hal yang nyata.
Dan Jessica tidak akan pernah melupakan kejadian malam ini. Tragedi di mana dia kehilangan harta paling berharganya sebelum dia menikah.
"Jessica, sedang apa dia di tempat ini? OMO!! Jangan-jangan dia frustasi karena ditinggal oleh Mark dihari pernikahannya dan memutuskan untuk mencari pelarian dengan pria hidung belang? Ck,ck,ck! Benar-benar murahan. Ngomong-ngomong seperti apa rupa pria yang tidur dengannya? Aku jadi penasaran."
Wanita itu melangkahkan kaki jenjangnya dan memasuki kamar yang baru saja Jessica tinggalkan. Matanya menyipit melihat sosok pria terlelap dalam posisi tengkurap. Wanita itu mendekati si pria untuk melihat seperti apa rupanya, kedua matanya membelalak.
"Bu-bukannya dia adalah Rey Lu ! CEO dari Lu Empire?" wanita itu memekik tak percaya.
Sudut bibirnya tertarik keatas membentuk seringai tipis. "Sepertinya aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Mark, aku rasa kau tidak ada gunanya lagi untukku. Dan kau, keponakanku tersayang. Maafkan aku sepupuku tersayang, karena harus melakukan hal ini padamu. Kau yang melakukannya tapi aku yang akan menikmati hasilnya."
Ia segera naik dan duduk disamping Rey berbaring, dia berpura-pura menangis seolah-olah menyesali sesuatu.
.
.
.
"Uggghhh...!!"
"Chan!!! Sepertinya tiang bodoh itu sudah bosan hidup." Rey menggeram rendah. Ia berani bersumpah, jika sahabat yang merangkap sebagai Asisten pribadinya itu telah memasukkan sesuatu ke dalam minumannya.
"Hiks, hiks, hiks..!"
Samar-samar Rey mendengar suara tangisan seorang wanita , lantas ia menoleh dan mendapati seorang wanita tengah duduk di lantai sambil menekuk kedua kakinya. Rey memicingkan matanya.
"Kaukah yang bersamaku semalam?" tanyanya memastikan.
Rey bangkit dari posisinya dan memakai kembali pakaiannya. "Asistenku akan mengurusnya dan memberimu ganti rugi."
"Tuan, tunggu." Seru wanita itu sambil menahan lengan Rey. Wanita itu kembali meneteskan air matanya. "Aku tidak butuh uangmu, tapi pertanggung jawaban darimu. Kau sudah mengambil mahkota paling berhargaku dan aku menuntut agar kau bertanggung jawab!!"
Rey menyeringai dingin. "Memangnya siapa kau? Kau fikir ****** sepertimu bisa mengaturku. Aku akan bertanggung jawab jika kau benar-benar mengandung anakku, dan kau bisa menemuiku sepuluh bulan dari sekarang." Rey melanjutkan langkahnya dan meninggalkan wanita itu begitu saja.
"Rey Lu, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Tunggu dan lihat saja apa yang bisa dilakukan seorang Tiffany Hong!"
-
'Delapan tahun kemudian'
"Aaaahh...!! Akhirnya aku kembali lagi ke negeri ini."
Seorang wanita berparas cantik baru saja menginjakkan kakinya dibandara Incheon. Dia terlihat begitu cantik dan menawan diusianya yang baru saja menginjak dua puluh sembilan tahun. Disampingnya terlihat sosok bocah laki-laki berparas rupawan bermata abu-abu dan berambut hitam. Mereka adalah sepasang Ibu dan anak.
__ADS_1
Ini adalah pertama kalinya Jessica menginjakkan kakinya di Korea setelah kepergiannya delapan tahun yang lalu.
Ya... delapan tahun yang lalu Jessica meninggalkan Korea dan pergi ke Inggris. Tapi kepergiannya tentu bukan tanpa alasan. Keluarga besarnya tidak bisa menerima anaknya yang terlahir tanpa ayah.
Jessica diberikan dua pilihan sulit oleh sang ayah, menitipkan bayinya dipantiasuhan atau pergi dari Korea. Dan akhirnya, Jessica memilih pilihan kedua karena tidak tidak ingin berpisah dengan putranya.
Tanpa Jessica sadari, delapan tahun yang lalu dia melahirkan sepasang bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Karena yang Jessica tau salah satu anaknya meninggal sesaat setelah di lahirkan.
Tapi tentu saja itu tidak benar. Karena bayi perempuan Jessica diambil oleh kakak sepupunya sesaat setelah dia di lahirkan, dan bayi itu Tiffany bawa pada CEO group Lu sebagai bukti jika dia hamil dan melahirkan anaknya.
Bocah laki-laki itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Ma, sebenarnya kita ada di mana?" tanyanya penasaran. "Tempat ini sangat asing dan terlihat tidak bagus sama sekali." ucap bocah itu sambil menyapukan pandangannya kesegala penjuru arah.
"Apa maksudmu tidak bagus sama sekali? Jangan terlalu awal menyimpulkan sebelum kau melihat bagaimana keseluruhan negeri ini, dan Mami jamin kau akan jatuh cinta dan betah tinggal di sini."
"Aku tidak yakin, dan kita lihat saja nanti. Ngomong-ngomong di mana bibi Sunny? Bukankah dia bilang akan menjemput kita?" ujar bocah itu.
Jessica mendesah berat. "Mami juga tidak tau, seharusnya dia sudah ada di sini. Bagaimana jika kita mencarinya saja? Mungkin dia juga sedang mencari kita." Kevin tidak menjawab, dan sebagai gantinya bocah itu menganggukkan kepalanya.
Sudah hampir sepuluh menit mereka berputar-putar, tapi batang hidung Sunny masih belum juga terlihat. Jessica mencoba menghubunginya tapi nomor ponselnya malah tidak aktif
"Assshhh..! Di mana sebenarnya kau, Sunny Kim."
"Aku di sini."
"OMO?" Nyaris saja Jessica terkena serangan jantung dadakan karena ulah Sunny. Wanita itu mendelik tajam dan menatap Sunny marah."YAKK!! APA KAU INGIN MEMBUATKU JANTUNGAN, EO!!" amuk Jessica pada perempuan bertubuh mungil tersebut.
Sunny pun segera meminta maaf pada Jessica dan mereka berdua berpelukkan.
"Beginikah para wanita jika bertemu? Aisshh! Sungguh menggelikan."
Pandangan mereka berdua kemudian bergulir pada Kevin yang terlihat memutar matanya. Jessica terkadang tidak mengerti putranya tersebut, dia begitu dingin dan bermulut tajam. Dan dia tidak tau sifat siapa yang sudah menurun padanya.
"Hei, Nak, apa kau tidak ingin memeluk bibimu yang cantik ini?" Sunny mensejajarkan tingginya dengan Kevin sambil merentangkan kedua tangannya.
"Aku bukan bocah lagi bibi, dan aku tidak suka berpelukkan." Sunny terkekeh, dia tidak merasa tersinggung dengan ucapan bocah itu. Ia sudah mengenal Kevin dengan sangat baik.
"Jaga bicaramu, Kevin! Seharusnya kau bisa lebih sopan pada orang yang lebih tua. Mami tidak pernah mengajarimu bersikap kurang ajar seperti ini pada orang yang lebih tua!!." Jessica menjitak gemas kepala putranya tersebut "Aku lapar, bisakah kita pergi dari sini sekarang."
"Dasar perut karet, bukankah Mami sudah makan satu jam yang lalu. Tapi kenapa sekarang sudah lapar lagi!! Kadang-kadang aku merasa heran, bagaimana mungkin bentuk tubuh Mami tetap bagus padahal makanmu sangat banyak."
"Ck, bocah ini. Kenapa mulutmu pedas sekali."
Sunny terkekeh pelan "Hei nak, apakah Mamimu selalu merepotkanmu? Begini-begini Bibi mengenalnya dengan sangat baik."
Kevin mengangguk. "Bibi tau bukan jika Mamiku itu payah dalam segala hal? Jangankan memasak, memasak air saja tidak bisa. Untungnya dia memiliki putra yang berguna sepertiku yang bisa merawatnya dengan sangat baik." Tutur Kevin panjang lebar.
Mata Sunny membelalak. "Maksudmu kau yang memasak untuk Mamimu?" Kevin mengangguk membenarkan. "Astaga, benar-benar sulit dipercaya. Kau adalah seorang Dokter yang hebat, tapi kenapa kau begitu payah dalam banyak hal, Jess!"
Jessica mendecih dan menatap keduanya dengan kesal. "Kalian berdua berhentilah memojokkanku. Dan kau, Kevin!! Ingin rasanya Mami ingin sekali memasukkanmu lagi ke dalam perut. Berhentilah menjadi anak durhaka!!:
"Mami terlalu berlebihan." ucap Kevin dan pergi begitu saja.
"Hei bocah, tunggu kami!"
__ADS_1
-
Bersambung.