Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Terlihat Buruk


__ADS_3

Rumah sakit baru saja kedatangan seorang pasien yang merupakan korban tabrak lari, korban itu adalah seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan dan saat ini sedang dalam keadaan kritis.


Wanita itu mengalami pendarahan hebat di kepala dan perutnya, dan jika tidak segera di selamatkan akan sangat berakibat fatal pada ibu dan bayinya.


Jessica selaku dokter yang bertanggung jawab, dengan bantuan beberapa perawat, Jessica mencoba melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan keduanya. Tidak ada yang boleh meninggal, keduanya harus selamat, itulah yang Jessica pikirkan saat ini.


"Dokter, keadaan pasien semakin menurun," lapor salah seorang perawat yang membantu Jessica di meja operasi.


"Awasi terus tekanan darahnya dan pastikan pasien tidak sampai kehilangan kesadarannya. Kita harus melakukan tindakan secepat mungkin sebelum terlambat."


"Baik, Dokter!!"


.


.


"Fyuhhh..."


Jessica menyeka peluh dari keningnya. Wanita itu merasa lega karena operasinya berjalan lancar. Nyawa ibu dan bayinya selamat dan itu sangat melegakan bagi Jessica serta beberapa perawat yang membantunya.


Saat ini dokter cantik itu tengah beristirahat di ruang prakteknya. Jessica benar-benar merasa lelah. Bukan hanya fisiknya, tapi juga mentalnya. Mentalnya selalu di uji ketika dia dihadapkan pada hidup dan matinya seseorang ketika di meja operasi.


Terkadang Jessica merasa takut, dia takut jika ia tidak bisa menyelamatkan nyawa pasiennya. Tapi sepanjang karirnya menjadi seorang dokter bedah. Tak sekalipun Jessica melakukan kesalahan apalagi kegagalan. Tangan dinginnya telah menyelamatkan puluhan nyawa, bahkan ketika orang itu sendiri tak lagi memiliki keyakinan untuk tetap hidup.


Cklekk...


Jessica mengangkat wajahnya setelah mendengar decitan suara pintu di buka dari luar. Terlihat Sunny datang sambil membawa dua cup kopi yang salah satunya ia berikan padanya


"Kau terlihat sangat berantakan, Jess. Sekali-kali kau harus mengambil cuti. Jangan terlalu memforsir dirimu dengan pekerjaan. Tubuhmu bukanlah mesin. Mesin saja terkadang bisa lelah, apalagi tubuh manusia." Ujar Sunny memberi nasehat.


Jessica menghela nafas. "Akan aku pertimbangkan." Jawab Jessica seadanya.


Benar apa yang Sunny katakan. Akhir-akhir ini Jessica memang jarang mengambil cuti apalagi pergi berlibur. Ia dan Rey sama-sama sibuk jadi tidak memiliki waktu untuk melakukannya.


Ponsel milik Jessica tiba-tiba berdering dan nama Lee Chan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Penasaran kenapa Lee Chan menghubunginya. Dengan segera Jessica menerima panggilan tersebut.


"Ada apa, Chan?" tanya Jessica to the poin.

__ADS_1


"Nyonya Boss, mobil kami mengalami kecelakaan. Aku dan Boss sama-sama terluka dan bisakah kau datang kemari sekarang jugu? Aku dan Boss ada di sekitar kedai makan bibi Jang."


"APA!! Baiklah aku akan segera ke sana."


"Jess, ada apa? Kenapa kau terlihat begitu panik?" tanya Sunny penasaran.


"Mobil Rey mengalami kecelakaan. Dia dan Chan sekarang sedang terluka, aku harus segera ke sana untuk memastikannya."


"Apa?! Lalu kenapa mereka tidak langsung pergi ke rumah sakit atau klinik terdekat saja?!"


Jessica menggeleng. "Aku juga tidak tau. Aku pergi dulu." Jessica beranjak dari hadapan Sunny dan begitu saja. Tak lupa dia juga membawa peralatan medisnya. Dalam hatinya Jessica hanya bisa berdoa, semoga tidak terjadi hal buruk pada mereka berdua. Rey terutama.


-


Rey menekan luka di pelipisnya dengan beberapa lembar tisu. Tidak ada luka berarti yang ia dan Lee Chan alami. Hanya luka ringan di sana-sini saja. Dan itu tidak berakibat fatal, yang sedikit serius hanya luka di pelipis kirinya saja.


"Kau dari mana saja?" tanya Rey pada Lee Chan setelah beberapa saat menghilang.


"Ano, Boss. Itu, aku habis pipis." Dustanya.


Rey mengangkat wajahnya ketika melihat sebuah mobil yang sangat ia kenal tiba-tiba berhenti di tepi jalan. Dan tak lama berselang seorang wanita berparas cantik turun dari mobil tersebut dan menghampirinya. Dan kedatangan wanita itu tentu saja mengejutkan Rey yang sungguh-sungguh tidak menyangka akan kedatangannya.


"Jessica?!"


.


.


Sebuah perban terlihat menutup luka di pelipis kiri Rey dan plaster menutup luka di tulang pipinya. Jessica menghela nafas lega jika ternyata luka-luka suaminya tidak ada yang serius. Hanya luka di pelipisnya yang agak dalam. Jessica juga sudah mengobati luka-luka Chan dan menutupnya dengan perban.


"Apa yang terjadi, Rey? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Jessica meminta penjelasan.


"Dari mana kau tau jika aku kecelakaan dan ada di sini?" alih-alih menjawab. Rey malah balik bertanya.


"Lee Chan, aku tau dari dia. Dia menghubungiku dan mengatakan jika kalian berdua mengalami kecelakaan." Jessica menjelaskan.


Chan langsung tersenyum tiga jari melihat tatapan mematikan Rey. Dan jarinya membentuk huruf V. Pasti Rey akan memarahinya habis-habisan setelah ini. Begitulah yang saat ini tengah Chan pikirkan

__ADS_1


Alasan kenapa Rey tidak ingin memberitahu Jessica karena dia tidak ingin membuat istrinya itu sampai cemas. Dia bisa memberikan sedikit penjelasan ketika tiba di rumah. Tapi Chan malah menghubunginya dan mengatakan serta memberitahu Jessica perihal kecelakaan yang baru saja mereka alami.


"Mobilmu biarkan di sini saja, akan aku panggilkan orang bengkel. Sebaiknya kalian pulang dengan mobilku saja."


"Hn, baiklah."


-


"Omo!! Papa, apa yang terjadi padamu? Kenapa Papa bisa terluka seperti ini?" kaget Laurent ketika melihat perban membebat pelipis kiri ayahnya. Keterkejutan juga di tunjukkan oleh Kevin.


"Tapi lukanya tidak serius bukan?" tanya Kevin memastikan.


Rey menggeleng. "Hanya luka kecil saja. Beberapa hari juga akan membaik. Mobil Papa mengalami masalah dan kami mengalami kecelakaan tunggal," jelas Rey.


"Kami?!"


"Hn, Paman Lee Chan." Kata Rey menjawab kebingungan putrinya. "Sebaiknya segera ganti seragam kalian. Papa mau istirahat dulu, kepala Papa sangat pusing." Rey menepuk kepala kedua buah hatinya dan pergi begitu saja.


Efek benturan yang ia alami tadi membuat kepalanya pusing dan serasa ingin pecah. Rey ingin istirahat sebentar, mungkin satu jam sudah cukup.


Dan kedatangan Rey di kamar mengalihkan perhatian Jessica yang sedang menyisir rambut panjangnya di depan cermin. Wanita itu baru saja selesai mandi. Jessica menghampiri Rey yang hanya menatap datar padanya.


"Ini obatnya. Sebaiknya segera minum supaya pusing dan nyerinya bisa berkurang." Jessica memberikan beberapa butir obat dan satu gelas air putih pada Rey.


"Aku akan tidur sebentar. Kepalaku rasanya ingin pecah. Sebaiknya kau tidak usah kembali ke rumah sakit. Istirahatlah di rumah selama beberapa hari, kau terlihat buruk dan kau juga terlihat agak kurusan."


Jessica tidak memberikan jawaban apa-apa. Sebagai gantinya wanita itu menganggukkan kepala. Jessica merasa lelah dan memang sudah waktunya untuk mengambil cuti.


Awalnya Jessica berniat untuk berhenti dari pekerjaannya itu dan fokus pada rumah tangganya. Tapi hati kecilnya tidak mengijinkannya. Dan setelah bicara dari hati ke hari dengan Rey, akhirnya Rey pun mengijinkan dirinya untuk bekerja lagi.


Menjadi seorang dokter adalah impian Jessica sejak lama. Tujuannya kenapa Jessica ingin menjadi seorang dokter supaya ia bisa membantu orang yang membutuhkan tanpa harus memikirkan jumlah biaya yang di butuhkan.


Saat ini Jessica bekerja di rumah sakitnya sendiri. Rumah sakit itu merupakan hadiah ulang tahun pernikahan yang Rey berikan padanya. Dan Jessica merubah beberapa prosedur yang ada. Dengan memberikan keringan bagi mereka yang tidak mampu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak di sana.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2