
Suara derungan motor saling berlomba menunjukkan ketidaksabaran penunggangnya untuk segera melaju. Jalanan pada malam ini begitu lengang. Seorang wanita berpakaian menantang memegang bendera merah.
Tak jauh dari posisinya berdiri, tampak belasan motor sudah siap untuk saling menggila. Suara riuh penonton tak kalah dengan bisingnya raungan mesin motor yang telah berada pada posisi masing-masing.
Jalan gelap nan panjang ini akan menjadi saksi kenekatan para pembalap liar yang bersiap untuk saling menunjukkan kemampuannya. Malam yang menjadi penentu bagi mereka yang akan menjadi sang penguasa jalanan. Sejauh mana nyali yang dimiliki sanggup membawa mereka untuk melakukan banyak hal gila di lintasan.
Bendera merah yang dipegang tinggi telah siap untuk diturunkan. Sorakan penonton semakin membahana memecah kesunyian malam. Botol-botol bir saling beradu. Asap rokok, lembaran uang, dan masih banyak lagi yang melebur dalam kemeriahan.
"KEVIN LU!!"
Suasan ramai di lintasan mendadak hening setelah teriakan keras seorang pria yang berdiri beberapa meter di belakang wanita si pemegang bendera menggema. Semua mata kini tertuju padanya. Pria itu berada dalam kegelapan, sehingga tidak ada yang bisa melihat seperti apa rupanya sampai akhirnya dia melangkah ke depan dan..
"PAPI!!!"
.
.
Tampak dua orang pria berbeda usia tengah dilanda kebisuan sesaat. Pria yang lebih tua itu menghela nafas berat, dan berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kaca besar yang menghubungkan ruang itu dengan pemandangan kota metropolitan London.
Sedangkan pria yang lebih muda muda hanya menatap Pria yang lebih tua darinya dengan datar. "Kenapa aku harus pindah kampus, Pi?!" setelah cukup lama diam. Sebuah pertanyaan keluar dari bibir pemuda itu.
Pria itu yang sebenarnya adalah Rey berbalik, dan menatap putranya tenang. "Sudah jelaskan, kau harus memperbaiki sikapmu itu, yang penuh dengan keangkuhanmu dan kenakalan, apa kau tidak sadar jika sikapmu itu malah menjadikanmu seperti seorang mahasiswa yang bandal di kampusmu?! Suka berkuasa, memaki orang, dan menghajarnya! Apakah hal itu pantas untuk pemuda yang berasal dari keluarga baik-baik?!"
"Lalu apa masalahnya? Bukankah Papi juga pernah muda? Lagipula kita adalah donatur terbesar di kampus itu. Jadi wajar dong jika aku bertindak semauku?!"
"Aku tahu kita adalah donatur paling besar di kampus itu, tapi kau memnfaatkannya untuk berkuasa, dan merendahkan setiap orang! Dan tindakanmu itu sangatlah tidak wajar!!" Ujar Rey dengan tegas dan menatap sang putra tajam.
Sedangkan Kevin hanya membuang muka. "Cih, siapa yang memberitahukanmu? Si botak sialan itu?!" ucap Kevin datar.
"Jaga ucapanmu itu, Kevin Lu!" Bentak Rey sedikit marah. "Lihatlah, sikapmu yang seperti ini secara tidak sadar telah membuat rendah marga Lu! Kau dulu tidak seperti ini, kenapa sekarang kau jadi sangat urakan dan suka membuat masalah."
Lalu Rey memperhatikan penampilan putra sulungnya yang jauh dari kata baik. Pakaian seperti brandalan, anting dan tatto serta eyeliner yang membuat tatapannya semakin tajam.
__ADS_1
"Pakaianmu, anting di telingamu, dan tatto di lenganmu, apa-apaan semua itu? Kevin, Papi dan mamimu mendidikmu agar kau bisa menjadi pemuda yang baik. Tapi kenapa kau malah jadi seperti ini?!" bentak Rey emosi. Kekecewaan terlihat jelas pada sorot mata Rey yang tajam.
Kevin memilih diam kali ini, sejujurnya baru kali ini dia melihat sang ayah semarah itu, karena selama ini dia selalu di manjakan dari kecil olehnya.
"Kau sudah besar Nak, umurmu sudah 19 tahun. Belajarlah untuk melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Sebagai orang tua, Papi hanya tidak ingin kau menjadi pemuda brandalan seperti ini. Kau adalah harapan Papi dan Mami, Kevin! Belajarlah menjadi lebih baik, dan mamimu bisa menangis darah jika melihatmu menjadi seperti ini." Jelasnya lagi.
Kevin menatap Rey lama. Kata-kata terakhir ayahnya menampar perasaan Kevin. Kevin menutup matanya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati ibunya jika dia sampai mengetahui apa yang telah ia lakukan selama ini.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Kevin mengangkat wajahnya dan menatap Rey dengan tatapan melunak.
"Ikutlah, Papi pulang ke Korea dan lanjutkan kuliahmu di sana."
Kevin menarik nafas panjang dan menghelanya. "Baiklah, aku akan ikut pulang denganmu ke Korea!!"
-
Jari-jarinya lentiknya bergerak lentur dengan pasti menyiratkan garis-garis halus pada selembar kertas putih. Menuangkan untaian gambar dalam khayalnya pada kertas. Tentu saja, apalagi yang bisa Luna lakukan selain menggambar saat dosennya belum datang.
Sebenarnya gadis cantik itu cukup kesal. Bagaimana tidak, hari ini dosennya datang terlambat lagi hingga satu mata pelajaran tapi dia belum juga datang. Menunggu adalah hal yang paling Luna benci, itulah kenapa dia paling benci dengan namanya menunggu.
Walau pun sudah enam tahun dia tak pernah bertemu lagi dengan pria itu, tapi Luna takkan melupakan wajahnya. Gadis itu hafal betul bentuk wajah sang pemuda. Maniknya yang berwarna abu-abu, rambut hitamnya, kulitnya yang putih bak porselen, hingga wajah tampannya yang selalu terlihat dingin dan minim eskpresi, tak satupun tertinggal.
"Wow!! Lihatlah siapa pemuda yang ada dalam lukisan ini?!"
Luna menghela nafas panjang. Gadis bertubuh mungil itu bangkit dari duduknya dan merebut kembali kertasnya dari tangan Sebastian.
"Jangan sembarangan mengambil milik orang lain jika kau tidak ingin di tuduh sebagai pencuri!!" Luna menyenggol lengan Bastian dan melewatinya begitu saja.
"YAKK!! LUNA NERO!!"
Tapp...!!
Luna menghentikan langkahnya karena teriakkan Bastian. Gadis itu kemudian berbalik dan menatap tajam pemuda yang berjalan menghampirinya. Tapi langkahnya di hentikan oleh dua gadis yang entah dari mana datangnya tiba-tiba saja sudah ada di hadapan Bastian.
__ADS_1
"Hanya pengecut yang beraninya sama perempuan." Ucap salah satu dari kedua gadis itu.
"Apa yang kalian lakukan?! Menyingkir dari jalanku dan biarkan aku memberi pelajaran pada gadis kurang ajar itu!!"
"Tidak akan!! Kami tidak akan membiarkanmu menyentuhnya!!"
"Kalian sudah bosan hidup ya?!" bentak Sebastian marah.
Byurrr...
Tanpa ragu sedikit pun Laurent dan Teresa menuangkan minuman yang mereka bawa tepat di atas kepala Bastian. Dan hal itu tentu saja mengejutkan semua orang. Bagaimana tidak, dua gadis itu sepertinya baru saja membangunkan dua ekor singa yang sedang kelaparan.
Luna maju dan menengahi kedua sahabatnya itu. "Teman-teman, sudah cukup. Tidak ada gunanya kalian terus meladeni manusia seperti dia. Karena besok ataupun nanti pasti akan berulah lagi. Aku lapar. Bagaimana kalau kita ke kantin saja?" Luna menatap kedua gadis di sampingnya dan keduanya mengangguk dan berseru kompak.
"Setuju....!!!"
.
.
"Omo!! Aku tidak salah membaca bukan?"
Luna dan Teresa langsung mengangkat wajahnya setelah mendengar pekikan keras Laurent. Keduanya menatap gadis itu penuh tanya.
"Ada apa?" tanya Teresa penasaran.
"Mama baru saja memberitahuku jika saudara laki-lakiku akan pulang hari ini bersama papa dan akan kuliah di kampus kita."
Deggg...
Luna tersentak kaget mendengar penuturan Laurent. Jika yang di pikirkan memang benar. Itu artinya Kevin yang akan pulang? Luna tanpa sadar telah menggigit bibir bawahnya dan meremas gelas minumannya.
"Ya Tuhan, apa itu artinya aku akan bertemu kembali dengan Kevin?"
__ADS_1
-
Bersambung.