
"Mi, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa jalanmu aneh begitu?"
Skakmat...
Jessica dibuat mati kutu oleh pertanyaan Kevin, ia bingung harus menjawab apa sekarang, karena tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya. Otaknya bekerja keras mencoba mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Kevin.
"Hahahah! Mami tidak sengaja terjatuh di kamar mandi, dan paha Mami sedikit memar, makanya terasa sakit saat di gunakan untuk berjalan." jelas Jessica.
"Ck, dasar ceroboh, itulah akibatnya jika kau tidak berhati-hati."
Rey menutup mulutnya dengan jarinya dan berusaha menahan diri untuk tidak tertawa. Sedangkan Kakek Lu langsung bisa menebak kenapa Jessica bisa berjalan agak mengkangkang.
"Hahaha! Sepertinya prosesnya berjalan lancar, kakek tunggu hasil terbaiknya."
"Diamlah kau pak tua!"
Kalimat dingin Rey langsung menghentikan tawa kakek Lu, kakek Lu merinding sendiri melihat tatapan tajam Rey yang begitu menusuk. Rasanya dia seperti sedang mengikuti uji nyali setiap kali melihat sorot mata Rey yang lebih mengerikan dari tatapan Iblis.
"Sica, ayo dinikmati dan jangan sungkan-sungkan." Kakek Lu mencoba mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin di marahi Rey lagi.
Dan selanjutnya sarapan mereka lewati dengan tenang dan hening, tak ada percakapan, hanya dentingan sendok dan piring yang memecah dalam keheningan. Bahkan Laurent yang biasanya sangat bawel pun kini diam seribu bahasa dan inilah etika yang selalu Rey ajarkan pada putrinya ketika berada di meja makan.
Dan usai sarapan. Kakek Lu membawa Laurent dan Kevin pergi berjalan-jalan. Dia ingin melakukan apapun dengan kedua cicitnya tersebut dan berusaha mengenal Kevin lebih dalam, dan mungkin dia harus berusaha sedikit lebih keras mengingat jika bocah itu sangat sulit untuk didekati.
Sedangkan Rey dan Jessica tidak pergi kemana pun, ada beberapa Email yang harus Rey periksa. Meskipun ada Lee Chan yang bisa mengurus semuanya, tapi dia tetap tidak bisa lepas tanggungjawab sebagai seorang pemimpin.
****
Sejak semalam Antolin tidak bisa merasa tenang setelah dia mengetahui bila Jessica sedang pergi bersama Rey. Dalam hatinya terus bertanya-tanya mengenai apa hubungan antara Rey dan Jessica sampai-sampai mereka berdua pergi berlibur bersama.
Dan karena memikirkan hal tersebut sampai-sampai membuat pekerjaannya di rumah sakit sedikit terbengkalai, dan demi menjernihkan fikirkannya, Rey memutuskan untuk mengajak Jimin dan Ricko berkumpul di cafe milik Dio.
"Jadi maksudmu kau ingin mengibarkan perang dengan, Rey begitu?" tanya Ricko setelah mendengar keluhan hati Antolin.
"Saran kecil dariku, sobat. Lebih baik kau mundur saja, dan lagi pula wanita di dunia ini bukan dia saja, apalagi kau tau sendiri jika dia tidak bisa menerima perasaanmu dan berkali-kali menolak perasaanmu. Jadi apalagi yang bisa kau harapkan dari hal itu?"
__ADS_1
"Dan sebaiknya kau tidak berfikir tolol dengan mengorbankan persahabatan kita hanya karna satu wanita."
Antolin mengacak rambutnya dan mendesah berat. "Dasar bodoh, memangnya kapan aku mengatakan jika aku ingin mengibarkan bendera perang dengan, Rey? Dan aku bukan bocah, aku tidaklah setolol itu. Aissh, sepertinya tidak ada gunanya aku berbicara dengan kalian. Kalian tidak ada yang berguna apalagi memberikan jalan keluar yang terbaik untukku." ujar Antolin setengah frustasi.
Ting..!
Antolin mengeluarkan ponselnya dan ada satu pesan masuk dari Sunny, kedua mata pria itu membelalak setelah membaca isi pesan dari Sunny, kemudian pria itu menyapukan pandangannya dan mendapati gadis itu duduk di sudut ruangan. Terlihat Sunny kembali sibuk dengan ponselnya dan tak berselang lama ponsel Antolin kembali berdenting.
Tiba-tiba Antolin berdiri dan meninggalkan Jimin serta Ricko begitu saja. Antolin pergi ke atap gedung dan menemukan Sunny telah menunggunya di sana.
"Sunny-ya, sekarang jelaskan apa maksud dari pesanmu ini!" pinta Antolin to the poin.
Sunny menatap Antolin dan mendesah berat."Apa masih belum jelas, Senior? Apa lagi yang perlu aku jelaskan padamu? Aku memanggilmu kemari hanya ingin memperingatkanmu, aku tau kau mencintai Jessica, tapi aku harap kau tidak akan melakukan kesalahan dengan menghancurkan hubungannya dengan Tuan Lu."
"Bagaimana pun juga, dia adalah ayah biologis dari putranya. Jika kau benar-benar mencintainya, kau pasti bisa melepaskan dia demi kebahagiaannya. Karena aku tidak akan tinggal dan membiarkan siapa pun menghancurkan kebahagiaan sahabatku. Jadi fikirkan baik-baik ucapanku ini." Sunny menepuk bahu Antolin dan meninggalkannya begitu saja.
Antolin mengusap wajahnya dan berteriak dengan kencang. "Kenapa semua jadi serumit ini. Dan apakah ini waktunya aku menyerah dan melepaskanmu, Jess? Karena tidak mungkin juga aku mengorbankan perasabatanku dengan Rey hanya karna dirimu." Antolin menutup matanya.
Dia akan mengambil keputusan yang tidak akan dia sesali pada akhirnya. Seribu cinta masih bisa dia dapatkan, tapi tidak dengan persahabatan. Dan jika dia harus memilih, Antolin akan lebih memilih persahabatannya dengan Rey. Dan lagi pula bukankah cinta tidak harus selalu memiliki?
****
Melihat sikap Nyonyanya yang tidak sewajarnya. Salah satu penjaga yang berada di sana segera melaporkan tindakan Tiffany pada Rey.
"Tuan, nyonya pulang membawa pria lain tapi kami tidak berani menegur apalagi menghentikannya." lapor orang itu pada Rey.
'Aktifkan semua CCTV di sana termasuk CCTV di kamar Tiffany dan sambungkan pada lapotopku. Aku ingin melihat langsung apa yang mereka lakukan di sana.'
"Baik, Tuan."
Pria itu memutuskan sambungan telfonnya kemudian melakukan tugas dari Rey. Semua CCTV di mansion telah diaktifkan termasuk kamera tersembunyi yang sengaja Rey pasang dikamar Tiffany, Rey sengaja memasang kamera di sana karna dia ingin mengawasi Tiffany secara langsung.
Kamar adalah area pribadinya dan tidak menutup kemungkinan dia bisa menemukan sesuatu yang berguna dengan kamera itu terpasang di sana. Dan tentu hal itu membuahkan hasil, Tiffany bersekongkol dangan kekasihnya untuk melenyapkan dirinya agar bisa menguasai seluruh hartanya.
Dan Rey hanya mengikuti alurnya, ia ingin tau sampai di mana Tiffany akan menjalankan rencananya.
__ADS_1
******* dan erangan berkali-kali lolos dari mulut Tiffany saat laki-laki itu 'Jhon' mencumbunya dengan keras. Saat ini keduanya sedang bergulat panas dikamar milik Tiffany, ketiadaan Rey di sana tentu Tiffany manfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Dan tanpa ia sadari, ada puluhan kamera yang selalu memgawasi gerak-geriknya.
"Aaaahhh...! Lebih cepat lagi, Jhon. Aaahh, lebih cepat lagi." Rancau Tiffany sambil memejamkan matanya.
"Kau menikmatinya, baby?"
"Hhhnggg, came on, ouugghh.. Ahhhhh... aaahhhh..!"
Keringat memenuhi tubuh keduanya yang tak terlapisi sehelai benang pun. Jhon terus menginvasi tubuh Tiffany dan semakin mempercepat hujamannya di liang kewanitaan milik wanitanya.
Dan selama ini bukan Rey yang selalu menikmati tubuh Tiffany tapi Jhon, Tiffany tidak bisa melepaskannya karena laki-laki itu selalu tau bagaimana cara memuaskan dirinya.
Dan sementara itu, Rey yang melihat langsung benar-benar merasa jijik pada mereka berdua terutama Tiffany.
Rey mematikan laptopnya dan berjalan keluar meninggalkan kamarnya, di depan pintu dia tidak sengaja berpapasan dengan Jessica, wanita itu baru dari taman belakang untuk memetik beberapa tangkai mawar yang kini berada dalam pelukkannya.
"Aaahhh..!" Jessica tersentak saat Rey tiba-tiba menarik lengannya dan menghimpit tubuhnya pada tembok. "Rey, apa yang kau lakukan? Banyak orang di sini, bagaimana jika mereka sampai melihat kita?" Panik Jessica sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Memangnya siapa yang peduli." Jawab Rey kemudian menyergap bibir Jessica dan melum** nya singkat. "Tidak ada yang berani menegur kita." Kembali dia melum** bibir Jessica dan ciuman kali ini lebih lama dari ciuman mereka sebelumnya.
Tidak hanya **********, Rey juga berusaha mengobrak-abrik isi dalam mulut Jessica dan mengabsen satu persatu gigi putihnya.
Berbeda dengan Rey yang terlihat biasa saja, Jessica justru terlihat sedikit panik karna banyak pasang mata yang menatap mereka dari kejauhan.
Tak ingin semakin kehilangan muka, buru-buru Jessica mendorong tubuh Rey hingga tautan bibir mereka terlepas. Dan situasi itu segera Jessica manfaatkan untuk melarikan diri.
Sedangkan Rey hanya bisa menghela nafas kecewa, dan menggoda Jessica ternyata lebih menyenangkan dari yang dia kira. Dan Rey semakin menginginkan wanita itu untuk selalu berada disisinya, bukan hanya fisiknya tapi Rey juga menginginkan hatinya.
Meskipun saat ini Jessica belum mencintai dirinya, tapi cepat atau lambat Rey merasa yakin jika wanita itu akan mencintainya.
-
Bersambung.
__ADS_1