
Aroma tubuh Jessica yang semerbak bunga sakura yang baru saja bermekaran segera memasuki lubang hidung Rey, dan harus Rey akui jika aroma tubuh Jessica benar-benar sangat harum dan bisa memabukkan dirinya.
Rey menarik pinggang ramping milik Jessica dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya, Rey melihat wajah Jessica dengan seksama.
Hidung mancung, bibir tipis, mata coklat yang menawan, alis yang ramping, bulu mata lentik, serta pipi yang tampak merah merona. Jessica adalah wanita tercantik yang pernah Rey temui di dalam hidupnya setelah sang ibu pastinya. Dia mengeluarkan semacam aura elegan yang tidak bisa ditandingi oleh orang lain.
Melihat tatapan Jessica yang dipenuhi dengan cinta kepadanya. membuat Rey merasakan kebanggan tersendiri pada dirinya. Dia tidak terlalu mengerti apa itu cinta sampai Jessica datang dan mengisi ruang kosong dalam relung hatinya. Bahkan bisa dibilang dia sama sekali tidak terlalu berpengalaman soal itu. Karena Rey belum pernah berpacaran sebelumnya.
Tapi semenjak pertemuannya kembali dengan Jessica setelah insiden di dalam itu sembilan tahun yang lalu. Dia benar-benar merasakan sebuah perasaan yang luar biasa. Rey merasakan perasaan asing ketika menatap matanya atau melihat senyum di bibirnya. Hingga akhirnya Rey menyadari jika yang dia rasakan itu adalah cinta.
Jessica mendorong tubuh Rey, mencoba untuk melepaskan pelukan pria itu tapi tidak bisa."Rey, lepaskan!! Bagaimana jika tiba-tiba ada yang masuk ke ruangan ini? Ini adalah tempat umum" ucap Jessica setengah panik.
"Kau hanya berusaha untuk kabur dariku, Nyonya Lu. Bukankah ini adalah area pribadimu. Seharusnya mereka mengetuk pintu dulu sebelum masuk kemari."
"Tapi tetap saja, Rey. Ini adalah-"
"Dan aku tidak suka penolakan!!" Rey menyela cepat kemudian mengecup singkat bibir ranum Jessica yang selalu tampak menggoda di matanya. "Lagipula bibirmu terlalu manis untuk di biarkan saja," ucapnya dengan seringai yang sama.
"Rey," rengek Jessica namun tetap di indahkan oleh Rey. Rey kembali menyergap bibir Ellena dan melum** nya. Memagutnya dengan penuh kelembutan namun menuntut. Dan Jessica benar-benar tidak kuasa untuk menolaknya lagi.
Tapi Rey bukanlah pria bodoh yang tidak sadar dengan posisinya saat ini. Rey segera mengakhiri ciumannya dan tersenyum tipis.
"Kau sangat menggemaskan jika sedang panik dan gugup. Ya sudah, aku pergi dulu. Malam ini jangan pulang duluan, tunggu aku, aku akan menjemputmu." Rey menangkup pipi Jessica dan pergi begitu saja.
Akhirnya Jessica bisa bernapas lega setelah melihat Rey pergi. Laki-laki itu benar-benar membuatnya merasakan perasaan yang tidak wajar. Dadanya selalu berdegup kencang dan otaknya seakan berhenti berpikir. Rey benar-benar sukses membuatnya berdebar tak menentu.
"Rey Lu. Sebenarnya sihir apa yang kau gunakan untuk menjeratku. Kau benar-benar membuatku tak berdaya."
-
"Kakak Kevin...."
"Omo!! Uhuk... Uhuk..."
Kevin terbatuk karena tersedak makanan di dalam mulutnya ketika melihat Laurent keluar dari kamarnya dengan wujud yang sangat mengerikan. Bocah itu memakai riasan seperti lipstik dan blush di kedua pipinya.
"Yak!! Bocah, apa yang kau lakukan pada mukamu itu? Kenapa kau terlihat seperti Dakocan?"
Laurent mencerutkan bibirnya." Dakocan apa?Apa Kakek Kevin tidak melihat jika aku begitu cantik, huh?!" protes Laurent merasa tidak terima karena di bilang mirip Dakocan oleh Kevin.
"Ck, cantik apanya?! Sebaiknya segera hapus make up-mu itu, aku benar-benar ingin muntah melihatnya."
__ADS_1
"Yakk!!! Kakak Kevin, kenapa kau begitu jahat dan kejam padaku?! Aisshh, lama-lama mulutmu seperti papa. Tajam dan berbisa." Sambil menghentakkan kakinya kesal. Laurent segera kembali ke kamarnya untuk menghapus make up di wajahnya.
"Ck, dasar gadis aneh. Jelek begitu di bilang cantik. Menggelikan!!"
-
Sudah hampir satu bulan Tiffany di tahan di kantor polisi. Bukannya bertobat dan menyadari semua kesalahannya. Dia malah semakin menggila, setia hari berteriak dan memaki para petugas, melemparkan kata-kata kasar pada semua orang, sampai-sampai dia di bilang kurang waras dan di pisahkan dari napi yang lain.
Tiffany di jebloskan ke dalam penjara setelah upayanya untuk melukai Laurent gagal. Rey menjebloskan wanita itu ke dalam penjara dan menjatuhinya dengan hukuman mati. Dan rencananya Tiffany akan di eksekusi pada akhir bulan ini.
"BRENGSEK, CEPAT KELUARKAN AKU DARI SINI!! AKU HARUS KELUAR UNTUK MENGHABISI MEREKA SEMUA. CEPAT KELUARKAN AKU!!!"
BRAK...
Tiffany terlonjak kaget saat sebuah belati melewat cepat ke arahnya. Nyaris saja pisau itu menancap pada kepalanya. "Yakk!! Wanita gila, tidak bisakah kau diam dan jangan membuat keributan!!" teriak napi lain yang sangat geram dengan tingkah Tiffany, hampir setiap hari wanita itu berulah.
"Brengsek kau!! Kemari kau!! Biarkan aku memberikan pelajaran padamu!!"
"Dasar wanita gila, mau mati saja masih banyak bertingkah!" seru napi yang lainnya.
Jika saja mereka satu sel mungkin Tiffany sudah habis di tangan mereka. Beruntung Polisi langsung memisahkan dan menempatkan Tiffany disebuah sel yang hanya di tempat dirinya oleh satu napi saja.
-
"MALAM, Bossss!" sapa si pria jangkung ketika melihat Rey baru saja keluar dari ruang kerjanya. Dan pria itu masih cengengesan tak jelas sambil melambaikan tangan kearahnya.
Rey memicingkan matanya. "Kau kenapa, Chan? Apa kau sakit? Kau terlihat mengerikan," ucap Rey dingin ketika ia sudah berada satu meter dihadapan sahabat yang sudah merangkap sebagai asisten pribadinya tersebut.
"Kau ini tega sekali Boss, aku kan sedang berbahagia, tak bisa yah kau melihat orang senang sedikit," dengus Lee Chan sebal.
"Hn."
"Kau tahu aku sedang bahagia Boss, semalam aku menemukan lima kucing liar baru, setelah aku membuang empat kucing liar lamaku yang mulai karatan. Oh Tuhan, ini adalah saat-saat yang paling menyenangkan yang pernah ada dalam hidupku," ucap Lee Chan panjang lebar dengan mata berbinar dan wajah bahagianya. Sedangkan Rey hanya memutar jengah matanya.
"Dasar sinting." Ucapnya dan berlalu.
"Yakk!! Boss, tunggu aku!!!"
.
.
__ADS_1
Chan terus saja mengoceh tidak jelas sepanjang perjalanan yang membuat Rey merasa muak. Rey tidak tau ketika sedang mengandung dulu ibu Chan ngidam apa sampai-sampai dia melahirkan anak yang begitu menggelikan seperti Lee Chan
Dia tidak terlihat lelah meskipun mulutnya terus saja berkomat-kamit tidak jelas. "Hahaha, mereka sangat manis dan menggemaskan. Aku sangat menyukai mereka Boss. Rasanya aku menemukan dunia baru yang selama ini begitu aku impikan." Ujar Lee Chan di tengah kesibukannya dalam mengemudi.
Pria jangkung itu terus saja mengoceh tidak jelas, dan hal itu membuat Rey semakin kesal dibuatnya.
"Diam atau ku sumpal mulut bawelmu itu!!"
Lee Chan mendengus. "Aahhh, Boss!! Kau sungguh tidak asik!!"
"Putar balik mobilnya kita harus menjemput Jessica," perintah Rey tak ingin di bantah. Seolah-olah jika kata-katanya itu adalah hal yang sangat mutlak.
.
.
Hari ini Rey memutuskan untuk pulang lebih cepat dari pekerjaannya dan menjemput Jessica di Rumah Sakit seperti yang sudah dia janjikan tadi.
Saat ini mereka berdua masih berada di dalam ruang praktek Jessica. Rey menunggu wanitanya itu berbenah sebelum pulang, sedangkan sang lelaki hanya memperhatikan dengan sangat jelas setiap gerakan yang dilakukan sang wanita.
Sepanjang ia berbenah, tidak henti-hentinya Jessica berceloteh ria menceritakan segala hal yang terjadi hari ini. Sementara Rey yang sedang duduk di sofa ruangan itu hanya menjadi pendengar yang baik. Hanya memperhatikan sang istri seperti ini, sudah membuatnya senang.
Lima bulan mengenal wanita itu tidak membuatnya bosan ketika melihat senyum menawan sang dara. Tidak membuatnya jenuh untuk mendengarkan semua celotehnya. Rey tersenyum tipis bukan karersang kekasih di saat ia sedang sibuk. Rey merasa bersyukur karena dia bisa pulang lebih cepat hari ini.
Melihat Jessica tersenyum seperti saat ini, merupakan hadiah yang sangat luar biasanya dari hadiah yang ia terima dalam hidupnya. Senyum Jessica dan kedua buah hati mereka merupakan sumber kekuatan bagi seorang Rey Lu. Semahal apapun hadiah yang ia terima dari orang lain ketika berulang tahun, itu tidak akan cukup berharga di bandingkan dengan senyuman sang istri dan kedua buah hatinya yang sudah lebih dari cukup.
"Berhentilah tersenyum seperti itu, Rey. Apa kau tidak sadar jika senyummu itu malah membuat aku merasa ngeri," Rey menaikan sebelah alisnya, mendengar ucapan Jessica yangtiba-tiba lari jalur dari cerita sebelumnya.
"Kau sendiri harusnya melihat seperti apa wajahmu saat tersenyum. Seperti orang gila," Jessica mendelik tidak suka mendengarnya. Tidak lama, ia kembali membalas ucapan Rey dengan senyum kemenangan terlihat jelas di wajah cantiknya.
"Hanya orang gila, yang mau dengan orang gila." Rey mendengus mendengarnya.
Tapi itu tidak bertahan lama, karena ia membenarkan perkataan sang suami. Dan senyum tipisnya kembali terlihat di wajah tampannya. Begitu pula dengan Jessica, wanita itu ikut tersenyum juga.
.......
...'Tak masalah jika waktu tiba-tiba berhenti berputar. Karena saat itu kuta kita abadikan kebersamaan kita selamanya, menciptakan banyak moment-moment indah. Aku tidak akan keberatan meskipun harus hidup di sebuah dimensi lain, selama aku masih bersamamu, aku pasti mampu.'...
-
Bersambung.
__ADS_1