
Dering pada ponselnya mengalihkan perhatian Rey dari laptopnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat nama Jessica menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Kemudian Rey bangkit dari duduknya dan berjalan menuju balkon kamarnya. "Kau belum tidur?" tanya Rey to the poin.
'Aku tidak bisa tidur, bagaimana dengan Laurent, apakah dia sudah tidur?'
"Dia baru saja tidur, lalu bagaimana dengan Kevin?"
'Dia sudah tidur dari tadi, aku sangat merindukan putriku, bisakah besok kau mempertemukanku dengannya dan membiarkan dia tidur di rumahku? Kebetulan besok aku free, aku mengambil cuti selama dua hari agar bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama, Laurent.'
"Tentu, besok aku akan menjemput kalian jam tujuh, kita bisa pergi bersama-sama. Cepatlah tidur, ini sudah larut malam." Pinta Rey.
Kemudian Rey memutusan sambungan telfonnya dan memasukkan ponsel itu ke dalam saku celanaya, sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah diwajah tampannya.
Hati Rey terasa menghangat, ia selalu merasakan debaran aneh ketika mendengar suara Jessica, menatap matanya dan melihat senyum indah diwajah cantiknya. Dalam hidupnya, ini pertama kalinya ada wanita yang berhasil mengetuk pintu hatinya yang selama ini selalu tertutup rapat.
Rey meninggalkan balkon dan kembali ke kamarnya. Kemudian mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak nomor Lee Chan. Panggilannya tersambung namun tidak ada jawaban dari seberang sana, Rey mendesah berat.
"Sebenarnya dia sedang tidur atau sekarat sih," geram Rey kemudian melemparkan ponselnya begitu saja pada ruang kosong disampingnya berbaring.
Rey menutup matanya dan dalam hitungan detik laki-laki itu sudah terlelap dalam mimpinya.
.
.
.
Tiffany memicingkan matanya melihat Rey datang dengan pakaian casual, sebuah jeans hitam, t-sirt putih polos berlengan pendek press body yang dibalut long vest hitam berlebel Gucci. Rambut coklatnya yang biasa ditata rapi saat ini dibiarkan sedikit berantakkan.
"Kau tidak pergi ke kantor hari ini?" tanya Tiffny setelah Rey duduk dikursinya. Tiffanya mencoba bersikap baik dan berencana memperbaiki hubungannya dengan Rey.
"Aku berencana untuk membawa Laurent jalan-jalan, aku sengaja mengambil cuti dua hari agar memiliki banyak waktu untuk putriku." Ujarnya datar.
"Benarkah? Jadi kau berencana membawa kami jalan-jalan, apakah ini sebagai ucapan maaf karena kau sudah bersikap kasar padaku semalam? Rey, aku tau kau memang mencintaiku." Tiffany berhambur memeluk Rey.
Rey menyentak tangan Tiffany dan melepaskan pelukkannya dengan paksa.
Rey menyeringai dingin "Memangnya siapa yang ingin mengajakmu untuk pergi? Lagi pula aku tidak berniat untuk meminta maaf padamu nona Hong. Laurent, bibi Sica dan Kevin mungkin sudah menunggu kita, sebaiknya kita bergegas." Rey bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tanganya pada Laurent.
"Pa, jadi kita akan pergi bersama bibi cantik dan kakak Kevin?" kedua mata Laurent berbinar-binar mendengar Rey akan mengajak Jessica dan Kevin untuk berjalan-jalan bersama. Rey mengangguk "Hore, Papa memang yang terbaik, aku semakin menyayangi Papa." Laurent berhambur ke dalam pelukan papanya.
__ADS_1
"TUNGGU, KALIAN TIDAK BOLEH PERGI." teriak Tiffany.
Wanita itu mengejar Rey dan menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu kau mengajak Jessica dan anaknya sementara aku tidak? Aku adalah istrimu, dan seharusnya aku lebih berharga dan lebih penting dari mereka. Ingat Rey Lu, aku adalah wanita yang memberimu anak, sementara mereka hanyalah orang asing."
"Oya, memangnya atas dasar apa kau mengatakan jika mereka hanyalah orang asing? Seharusnya kau lebih tau hal itu dari pada diriku, baik-baik di rumah dan jangan coba-coba untuk keluar rumah hari ini atau kau siap untuk aku lempar keluar dari sini, Laurent-na, ayo."
"Oke, Papa."
Laurent mengerutkan dahinya melihat Rey mengeluarkan sebuah benda hitam bertali dari dalam saku celananya. "Pa, kenapa Papa menutup mata kiri Papa dengan benda itu? Apa mata kiri Papa sakit lagi?" tanyanya memastikan.
Rey menggeleng. "Tidak Nak, mata kiri Papa baik-baik saja, hanya sedikit sakit jika terkena cahaya. Pakai sabuk pengamanmu dan kita berangkat sekarang."
"Oke Papa."
****
Kevin tidak tau kenapa pagi ini ibunya begitu sibuk. Sampai-sampai dia harus meminta bantuan pada Sunny untuk menyiapkan banyak makanan, Kevin tidak merasa heran mengingat jika Ibunya itu sangat payah dalam hal memasak, karena hampir setiap hari dirinya yang menyiapkan sarapan dan makan malam untuk mereka berdua.
Kevin bersandar pada tembok dapur sambil bersidekap dada, memperhatikan Ibunya yang sibuk menata makanan-makanan itu di dalam wadah, sementara Sunny sibuk memasak menu ke lima.
"Hei, bocah! Jangan berdiri saja di sana, kemarilah dan bantu Mami menata dan menyusun makanan-makanan ini sebelum mereka tiba."
Kevin memicingkan matanya. "Mereka? Siapa? Dan sebenarnya kita mau pergi kemana sih?Kenapa Mami begitu sibuk?" Kevin beranjak dari posisinya dan menghampiri Jessica.
"Papa?" Kaget Sunny, Sunny mematikan kompornya dan menghampiri Jessica , dia butuh penjelasan sekarang "Jelaskan padaku, Jess!! Apa maksud kata 'papa? Jangan bilang jika kau sudah bertemu dengan pria yang menidurimu malam itu?" tanya Sunny meminta sebuah penjelasan.
Jessica mengambil nafas panjang dan menghelanya. Sepertinya tidak ada gunanya menyimpan rahasia dari Sunny dan akhirnya Jessica memutuskan untuk memberi taunya tentang siapa ayah kandung Kevin sebenarnya
"Aku juga baru mengetahui kebenaran ini, kemarin Rey menemuiku dan mengatakan semua kebenaran yang berhasil dia ungkap jika sebenarnya wanita yang tidur bersamanya malam itu bukanlah Tiffany, tapi diriku. Dia mencuri Laurent sesaat setelah dia dilahirkan dan membawanya pada Rey, Tiffany mengaku jika itu adalah anak mereka berdua, rupanya Tiffany tau jika malam itu aku berada di Garden Hotel, dia masuk untuk memastikan siapa pria yang tidur denganku dan setelah dia tau orang itu adalah Rey. Tiffany tidak menyia-nyiakannya dan memanfaatkan situasi yang ada." tutur Jessica panjang lebar.
"Tunggu-tunggu, jadi maksudmu tuan Lu yang tidur denganmu malam itu adalah Rey Lu yang itu, CEO dan pendiri Lu Empire?" Jessica mengangguk. "Ya Tuhan, Sica... Rasanya aku mau pingsan, dan bisakah kau mencubitku karena aku masih harus memastikan ini mimpi atau bukan."
Kevin meninggalkan dapur setelah mendengar deru suara mobil memasuki halaman rumahnya. Terlihat Rey dan Laurent turun dari mobil tersebut dan menghampiri Kevin yang mematung dalam posisinya.
"KAKAK..!" seru Laurent seraya berlari menghampiri Kevin lalu memeluknya "Aku merindukan, Kakak, apa Kakak juga merindukanku?" tanya Laurent memastikan.
Kevin melonggarkan pelukan Laurent dan menyentil gemas kening bocah itu. "Gadis bodoh, tentu saja aku merindukanmu." Lalu pandangan Kevin bergulir pada Rey. "Apa kau tidak ingin memelukku?" Rey mensejajarkan tingginya dengan Kevin kemudian menarik bocah itu ke dalam pelukannya. "Aku masih sangat merindukanmu, tidak bisakah kita bersama lebih lama lagi?"
"Bersabarlah sebentar lagi, Nak. Tak lama lagi kita berempat pasti akan berkumpul bersama." Ucap Rey seraya mengeratkan pelukannya. "Di mana Mamimu?" Rey melonggarkan pelukkannya.
__ADS_1
"Dia ada di dalam dan sedang menyiapkan makanan bersama Bibi Sunny." Jawab Kevin.
"Masuklah, aku akan panggilkan mami." Kevin membuka pintu dibelakangnya lebar-lebar dan mempersilahkan Rey dan adik kembarnya untuk masuk.
Kevin meninggalkan Rey dan Laurent di ruang tamu, dia pergi ke dapur untuk memberi tau Jessica bila Rey dan Laurent datang. "Mi, mereka sudah datang dan ada di sini." sontak Jessica mengangkat wajahnya.
"Mereka sudah datang?" kaget Jessica Kevin mengangguk. "Sunny-ah, kau selesaikan saja ya, aku menemui mereka dulu."
"Bibi cantiikkk..!" Laurent berseru kencang dan menghampiri Jessica yang membuka lebar-lebar kedua tangannya lalu membawa gadis itu ke dalam gendongannya.
Jessica menghampiri Rey dan menyernyit bingung melihat benda hitam bertali menutup mata kirinya.
"Apa mata kirimu sakit lagi?" tanya Jessica memastikan, Rey menggeleng dan menjelaskan apa alasannya sampai menutup kembali mata kirinya.
Jessica mendesah berat. "Bukankah sudah aku katakan supaya tidak membuka perbannya sampai kau merasa tidak ada keluhan lagi." tegas Jessica sedikit mengomel.
"Iya, iya, lain kali aku akan lebih mendengarkanmu lagi. Dan bisakah kita berangkat sekarang?"
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil perbekalan kita dulu." Ucap Jessica kemudian beranjak dari hadapan Rey dan pergi ke dapur, di sana Sunny baru saja menyusun perbekalan yang akan Jessica bawa.
Jessica menghentikan langkahnya saat melihat Rey yang tengah disibukkan dengan ponselnya. Dia terlihat semakin tampan saat sedang serius apalagi dengan penampilan casualnya, meskipun sedikit serampangan tapi hal itu tidak mengurangi sedikit pun ketampanannya, justru Rey terlihat jauh lebih tampan dari biasanya.
"Mau dipandang sampai matamu keluar dia akan tetap tampan." Bisik Sunny yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping Jessica.
Wanita itu terkekeh geli melihat perubahan pada ekspresi Jessica. "Kekeke, jangan bengong saja, sana gih... pangeranmu sudah menunggumu." Sunny mendorong Jessica supaya sahabatnya itu segera menghampiri Rey.
Rey memasukkan ponselnya ke dalam long vestnya saat menyadari kedatangan Jessica, dan tersenyum tipis. "Sudah siap?" Jessica mengangguk. "Berikan padaku." Rey mengambil keranjang yang penuh dengan makanan dari tangan Jessica dan keduanya berjalan menuju halaman di mana mobil Rey diparkirkan.
Di sana Laurent dan Kevin sudah menunggu dan duduk di jok belakang.
"Tuan Lu, tolong jaga mereka berdua ya. Jangan sampai barbie hidup itu pulang dalam keadaan tergores sedikit pun, karena jika Anda tidak menjaganya, saya pasti akan membuat perhitungan dengan Anda."
"Kau tidak perlu cemas, aku pasti akan menjaga mereka baik-baik."
Jessica dan Laurent melambai pada Sunny, dan mobil Rey perlahan meninggalkan halaman luas rumah Jessica dan melaju menuju jalanan yang padat kendaraan.
Hari ini Rey berencana untuk membawa mereka bertiga pergi ke Busan dan berlibur di sana selama dua hari. Rey ingin bisa lebih dekat dengan Jessica dan Kevin, mengingat jika mereka belum pernah saling mengenal sebelumnya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.