
Seorang bocah laki-laki terlihat sibuk dengan ponsel pintarnya, berbeda dengan kebanyakkan bocah pada umumnya yang suka bermain game dan sejenisnya, dia justru lebih tertarik dengan sesuatu yang sama sekali tidak dimengerti dan dipahami sama sekali oleh bocah seusianya. Tapi dia menang sangat istimewa.
Meskipun dia masih berusia delapan tahun, tapi Kevin memiliki IQ yang tinggi, sehingga tidak sulit baginya untuk mengingat sesuatu yang sulit sekalipun.
Dibandingkan harus bermain game yang tidak berguna, dia lebih tertarik untuk mempelajari sesuatu yang berhubungan dunia bisnis, dia bercita-cita saat besar nanti ingin menjadi pembisnis muda yang sukses karena dengan begitu sang Ibu tidak perlu bersudah payah lagi bekerja dan mencarikan nafkah untuk dirinya. Sungguh pemikiran yang dewasa, nak!!
Cklekk..!
Decitan suara pintu di buka mengalihkan perhatiannya. Bocah itu bangkit dari duduknya ketika melihat siapa yang datang.
"Mami kau terlihat pucat, sebaiknya istirahat dulu, aku tidak ingin kau sampai jatuh sakit dan merepotkanku lagi." Ucap bocah sambil memberikan segelas air putih pada sang Ibu.
Alih-alih marah dengan ucapan putranya, Jessica malah terkekeh apalagi melihat wajah dingin putranya yang semakin terlihat menggemaskan itu. Dan sekarang Jessica tidak merasa heran lagi, bagaimana bisa Kevin mewarisi sifat seperti kutub Utara.
"Sekarang Mami tau kenapa kau bisa memiliki sifat seperti kutub utara, kau benar-benar memwarisi sifat papimu, dan Mami harap untuk kedepannya kau bisa bersikap lebih baik dan lebih lembut lagi pada Laurent, jangan terlalu galak lagi padanya, kau mengerti." wanita itu 'Jessica' tersenyum tipis sambil mengacak rambut coklat putranya.
"Apa maksud Mami berkata seperti itu? Tunggu, jangan bilang jika paman Lu sebenarnya adalah papiku dan Laurent saudariku?" Kevin menatap Jessica tak percaya, dan anggukan Jessica memperjelas semuanya.
Kevin menepuk jidatnya. "Oh astaga, aku sudah menduganya sejak awal, tapi aku tidak berani membuka suara, dan sekarang aku mengerti kenapa aku bisa begitu patuh pada paman Lu dan tidak melarang Mami untuk dekat dengannya, jadi semua ini alasannya."
Jessica mendekati Kevin kemudian berlutut dihadapan putranya itu. "Mami harap kau tidak membenci papimu, dia tidak pernah bermaksud untuk menelantarkan kita berdua, hanya saja keadaan yang tidak memungkinkan untuknya bisa menemukan kita berdua." Ucap Jessica sambil mengunci iris mata milik Kevin.
Kevin menggeleng . "Mami tidak perlu mencemaskan hal itu. Karena aku bisa memahami semuanya, dan jika ada orang yang harus disalahkan maka orang itu adalah penyihir jahat itu. Mami tenang saja, aku pasti akan berusaha untuk membuat kita berempat bisa berkumpul dan menjadi keluarga yang utuh." air mata Jessica jatuh begitu saja setelah mendengar ucapan Kevin.
Jessica meraih bahu Kevin dan membawa bocah itu kedalam pelukkannya. Dan setelah enam tahun berjuang, akhirnya dia memetik dari semua perjuangan dan kesabarannya.
"Apa aku melewatkan sesuatu?"
Suara dingin itu mengintrupsi mereka untuk melepaskan pelukkannya. Seorang pria dalam balutan kemeja putih, yang lengannya di gulung sebatas siku dibalut vest hitam dan celana bahan berwarna hitam pula berjalan menghampiri Ibu dan anak itu sambil menyunggingkan senyum setipis kertas.
Kevin melepaskan pelukkan Jessica dan menghampiri pria itu dan langsung memeluknya. "Kenapa begitu lama, kenapa baru sekarang aku bisa menemukanmu, padahal sudah sejak lama aku mencarimu." Lirih Kevin seraya mengeratkan pelukkan ayahnya.
__ADS_1
Suaranya terdengar parau seperti menahan isakan. "Jangan pergi lagi, jangan tinggalkan kami lagi, aku mohon." Rey menutup matanya dan membalas pelukkan Kevin, memeluk tubuh mungil bocah itu dengan sangat erat.
"Tidak Nak, Papa tidak akan meninggalkanmu lagi, tidak akan pernah. Dan bersama-sama kita akan memberikan pelajaran pada orang yang sudah membuat kita berempat terpisah." Ucapnya.
Melihat pertemuan yang begitu mengharukan itu membuat Jessica tak kuasa untuk menahan air matanya. Rey terlihat mengulurkan tangannya dan meminta Jessica untuk mendekat, wanita itu mendekat dan masuk ke dalam pelukkan Rey.
Rey sudah pernah kehilangan mereka sekali, dan dia tidak akan kehilangan mereka untuk yang kedua kalinya. Rey akan menebus semua waktu bersama mereka yang terbuang di masa lalu dan menciptakan memory baru yang indah bersama mereka berdua.
"Di mana, Laurent? Kenapa kau tidak membawanya kemari?" tanya Jessica setelah Rey melepaskan pelukannya.
"Aku baru saja pulang dari kantor dan langsung mampir di sini. Jadi aku tidak membawanya," jawab Rey.
Jessica menggulirkan pandangannya pada jam yang menggantung di dinding. "Kau sudah makan malam? Perlu aku siapkan?" tawarnya. Rey menggelang.
"Tidak perlu, kebetulan aku sudah makan malam tadi. Aku mampir ke sini karena ingin bertemu dengan putraku." Rey tersenyum dan mengulirkan pandangannya pada Kevin. "Nak, apa kau tidak membenci, Papa?" Rey mensejajarkan posisinya dengan Kevin dengan berlutut di depan bocah laki-laki itu.
Kevin menggeleng. "Itu bukan salah, Papa. Jadi untuk apa aku harus membenci, Papa. Aku justru sangat senang karena akhirnya bisa bertemu dan berkumpul lagi denganmu." Rey tersenyum lebar, kemudian membawa Kevin ke dalam pelukannya.
"Itu juga yang aku harapan selama ini, Pa. Memiliki keluarga yang utuh dan hidup dengan bahagia."
"Dan, Papa akan mewujudkannya untukmu,"
*****
"Mama dari mana saja, dan siapa laki-laki itu? Apa Mama selingkuh dari papa?"
Kedatangan Tiffany di rumah langsung diberondong beberapa pertanyaan oleh Laurent. Bocah itu berdiri di depan Tiffany sambil merentangkan tangannya dan menghalangi wanita itu untuk masuk.
"Cih, memangnya aku peduli apa, dia itu siapa tidak ada urusannya denganmu. Minggir kau anak pembawa sial, atau aku akan memukulimu sampai mati." ucap Tiffany mengancam.
Laurent menggeleng "Tidak boleh, pokoknya Mama tidak boleh masuk dan aku tidak akan membiarkan Mama masuk kembali ke rumah ini!!"
__ADS_1
"LU LAURENT, BERHENTI MENGUJI KESABARANKU, MINGGIR SEKARANG ATAU AKU BENAR-BENAR AKAN MEMUKULMU." amuk Tiffany sambil mengangkat tangannya dan bersiap untuk memukul Laurent.
"Tiffany Hong, hentikan."
Sontak keduanya menoleh pada asal suara, terlihat Rey datang dengan emosi berapi-api. Laurent langsung menghampiri ayahnya dan memeluknya.
"HUAAAA...! Papa, Mama jahat lagi padaku dan dia ingin memukulku sampai mati. Hiks, aku benci wanita ini, Papa harus berpisah dengannya." Adu Laurent pada Rey.
Gadis itu terlihar menjulurkan lidahnya pada Tiffany dan menatapnya dengan tatapan mengejek. "Kau fikir kau siapa bisa mengancam putriku dengan sesuka hatimu, Ibu macam apa kau ini sebenarnya, minta maaf sekarang atau aku akan mengurungmu di kamar mandi." Ucap Rey bersungguh-sungguh.
"Cih, meminta maaf pada bocah ini, aku tidak sudi."
PLAKK..!
Satu tamparan keras mendarat dengan mulus pada pipinya, saking kerasnya tamparan itu sampai-sampai membuat wajah Tiffany menoleh kesamping. Hingga rasa panas dan seperti terbakar seketika mendera wajah kanannya yang baru saja di tampar oleh Rey.
"Jangan sampai aku mengulang kata-kataku dan menyiksamu sampai mati." Ucap Rey dingin.
"Beginikah caramu memperlakukan wanita yang sudah memberimu keturunan? Apa kau tau bagaimana sulitnya hidupku saat mengandung anakmu itu, aku selalu dipandang sebelah mata dan diperlakukan tidak adil oleh semua orang karna aku hamil tanpa suami."
"Dan setelah aku melahirkan anak itu dengan bertaruh nyawa, lagi-lagi aku tidak mendapatkan sebuah keadilan." Teriak Tiffany kemudian menjatuhkan tubuhnya pada lantai yang dingin dan keras, dia mulai menangis.
Tak ada rasa iba sedikit pun dalam hati Rey setelah mendengar ucapan Tiffany, dia justru merasa jijik dan muak. Rey mendekati wanita itu kemudian berlutut di depannya.
"Sebaiknya jangan sia-siakan air mata buayamu itu di depanku, Tiffany Hong. Karena sampai air matamu kering pun aku tidak akan pernah bersimpatik padamu." Rey menepuk pipi Tiffany kemudian bangkit dari posisinya dan meninggalkan wanita itu begitu saja. Dengan membawa Laurent di gendongannya.
"REY LU, KAU MEMANG KETERLALUAN!! AKU MEMBENCIMU."
-
Bersambung.
__ADS_1