Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Ikut Kekantor


__ADS_3

Sebuah plaster luka menempel pada kening Rey yang terluka. Jessica benar-benar menyesal karena telah membuat suaminya itu terluka.


Jika bukan karena Rey mengejutkannya, pasti Jessica juga tidak akan memukul kening pria itu dengan spatula, intinya itu bukan kesalahan Jessica sepenuhnya.


"Nah, selesai. Sebaiknya kau segera mandi. Aku akan melihat anak-anak dulu." Jessica bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


Sementara Rey langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ada meeting pagi ini. Rey harus membahas perihal proyek baru yang saat ini tengah di tangani oleh Lee Chan.


.


.


Suasana di ruang makan begitu tenang. Tidak ada perbincangan di antara semua orang yang duduk di meja makan. Tidak ada suara percakapan apalagi suara bising dua bocah yang saling bertengkar. Hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling bertentangan.


Dan setelah tiga puluh menit. Mereka menyelesaikan sarapannya. Tiba-tiba Laurent turun dari kursinya dan menghampiri Rey. Bocah perempuan itu naik ke atas pangkuan sang ayah dan menatap bingung pada plester yang merekat di keningnya.


"Papa, keningku kenapa? Kenapa sampai di plester begini? Apakah sakit?" tanya Laurent penasaran.


"Tidak apa-apa, hanya memar sedikit saja dan ini tidak sakit. Sebaiknya ambil tas sekolah kalian. Papa akan mengantar kalian ke sekolah," perintah Rey seraya menurunkan Laurent dari pangkuannya. Dan kedua bocah kembar itu mengangguk antusias.


Lalu pandangan Rey bergulir pada Jessica."Kau tidak ke rumah sakit hari ini?" tanya Rey melihat Jessica yang masih belum bersiap-siap juga.


Wanita itu menggeleng. "Aku mengambil cuti beberapa hari. Oya, bagaimana kalau aku ikut ke kantor saja? Aku terlalu malas jika harus berdiam diri di rumah tanpa melakukan apa-apa." Tuturnya.


"Bukan Malasah. Segeralah bersiap-siap dan aku akan menunggumu di luar." Rey bangkit dari duduknya dan melenggang meninggalkan meja makan.


Setelah berganti pakaian dan ber-make up. Jessica segera menghampiri suaminya yang sedang menunggunya di luar. Rey sudah masuk ke dalam mobilnya begitu pula dengan si kembar.


Kedua mata Jessica memicing pasalnya Rey sendiri yang duduk di balik kemudi, bukan Chan. Tidak biasanya Rey mengemudikan mobilnya sendiri.


"Di mana, Chan?Kenapa bukan dia yang mengemudikan mobilnya?" tanya Jessica penasaran. Wanita itu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping suaminya.


"Aku meminta dia membawa mobil yang lain. Pasang sabuk pengaman kalian dan kita berangkat sekarang."


"Oke, Papa."


.


.


Kedatangan Jessica di kantor Rey begitu menarik perhatian. Banyak pasang mata yang menatap padanya dengan berbagai ekspresi yang sulit di jelaskan dengan kata-kata. Mulai dari tatapan iri sampai tatapan benci.


Dan hal itu membuat Jessica merasa tidak nyaman. Tapi wanita itu tak ingin ambil pusing apalagi menghiraukannya. Jessica tetap berjalan tenang di samping suaminya.

__ADS_1


Sebuah ide tiba-tiba tercetus di otaknya. Jessica semakin mendekat pada Rey dan langsung memeluk lengannya dengan mesra. Seringai penuh kemenangan tampak di bibirnya.


Jessica merasa puas melihat orang-orang itu iri padanya. Sedangkan Rey hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah dan sikap istri cantiknya tersebut.


"Apa kau puas?"


"Sangat, kau lihat bagaimana ekspresi mereka tadi? Hahaha, rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak."


Dengan gemas Rey menjitak kepala coklat istrinya yang masih tertawa itu. "Dasar kau ini, aku ada meeting sepuluh menit lagi. Tidak apa-apa bukan jika aku meninggalkanmu sendirian di sini?"


Jessica menggeleng. "Tentu saja tidak. Kau bisa pergi dan tidak perlu memikirkanku."


"Baiklah, aku pergi dulu." Jessica mengangguk.


Sambil menunggu Rey yang sedang rapat. Jessica memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar kantor. Jika hanya berdiam diri saja itu akan membuatnya bosan.


Brugg...


Karena terlalu asik dan gak lihat-lihat jalan, tanpa sengaja Jessica bertabrakan dengan seseorang dan membuatnya nyaris terjatuh jika saja orang itu tidak lebih dulu menahan tubuhnya.


"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya orang itu memastikan. Jessica menggeleng, meyakinkan pada orang tersebut jika dia baik-baik saja.


Dan sementara itu... Rey yang melihat insiden tersebut dari dalam ruang rapat tampak menggerakkan tangannya. Jelas sekali terlihat jika Rey sangat tidak suka jika miliknya disentuh oleh orang lain. Apalagi orang itu memiliki masalah pribadi dengannya.


Sebuah pertanyaan yang keluar dari bibir salah satu peserta rapat menyadarkan Rey dari lamunan panjangnya. Dan Rey mengatakan jika dia puas dengan konsep yang orang itu berikan.


Cklekk...


Pintu yang terbuka mengalihkan perhatian semua orang di dalam ruangan itu termasuk Rey. Rey menatap sinis pada orang tersebut begitu pula dengan orang itu.


"Tidak bisakah Anda datang tepat waktu, Tuan Diego?!" ucap Rey tenang namun terdengar dingin.


"Maaf, Tuan Lu. Ada urusan penting yang harus saya selesaikan terlebih-"


"Apakah urusanmu itu lebih penting dari pertemuan ini?" Rey menyela cepat. "Dan aku tidak suka orang yang tidak tepat waktu!! Jika kau anggap kerjasama ini hanya permainan saja. Sebaiknya kita batalkan saja kerja samanya. Rapat hari ini cukup sampai di sini." Rey bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


Pria itu tertawa meremehkan. "Tetap saja arogan. Sungguh pria yang sangat menyebalkan!!" Diego bangkit dari duduknya dan kemudian pergi meninggalkan ruang rapat.


Diego menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah pemandangan yang langsung menarik semua perhatiannya. Rey tengah berbincang dengan perempuan yang tadi tidak sengaja bertabrakan dengannya.


Dahi Diego menyernyit melihat mereka yang begitu dekat, bahkan Rey tersenyum lebar dan memperlakukan perempuan itu dengan sangat hangat. Wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Jessica memeluk lengan Rey dengan mesranya dan keduanya berjalan beriringan menuju ruangan pria bermarga Lu tersebut.


"Siapa wanita itu sebenarnya? Kenapa mereka terlihat begitu dekat? Apakah Rey selingkuh dari Tiffany?" ujar Diego bergumam. Dan jika itu benar, Diego tidak akan membiarkannya, dia akan membuat perhitungan dengan Rey.

__ADS_1


"Tuan, sebaiknya kita pergi sekarang. Anda ada jadwal bertemu dengan pimpinan UQ Corp setelah ini."


"Aku tau,!!"


-


Jessica tak berkedip dan memandang takjub pada suaminya yang sedang serius dengan tumpukan dokumen-dokumen tersebut. Rey tetap terlihat sangat tampan meskipun tanpa jas kerjanya. Jasnya telah ditanggalkan menyisahkan Kemeja dan vestnya, di tambah lagi sebuah kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya malah membuat Rey semakin dewasa dan mempesona.


Sadar terus di perhatikan. Rey mengangkat kepalanya dan matanya bersirobok dengan sepasang mutiara hazel milik Jessica. Wanita itu bangkit dari duduknya dan kemudian menghampiri Rey.


"Kenapa kau terus memandangku seperti itu, hm?" tanya Rey sesaat setelah Jessica ada dihadapannya.


Wanita itu menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya saja aku mengangumi ketampanan suamiku ini." Wanita itu tersenyum dengan sumringah.


Dengan gemas Rey menjitak kepala coklat Jessica. "Dasar kau ini," dan sebuah ciuman manis langsung mendarat pada bibir ranumnya.


"Baiklah, segera selesaikan pekerjaanmu setelah ini kita makan siang bersama. Satu lagi, temani aku menjemput anak-anak di sekolah." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Rey.


"Tidak perlu,Mi. Karena kami ada di sini." Sahut seseorang dari arah pintu. Sontak saja Jessica menoleh dan mendapati Kevin serta Laurent memasuki ruangan.


"Kenapa jam segini sudah pulang? Jangan bilang kalau kalian membolos?" Jessica menatap kedua buah hatinya bergantian.


"Sekolah di liburkan selama beberapa hari karena terjadi insiden penculikan di sekitar sekolah." Jelas Kevin.


"Mama, kenapa kau semakin cantik saja? Kemarilah dan gendong aku," Laurent mengangkat tangannya dan kemudian mengangkat bocah itu ke dalam gendongannya.


"Wahh, ternyata anak Mama semakin berat saja, apa kau makan dengan baik, Nak?"


"Tentu saja, apalagi aku suka sayuran. Hahaha,"


"Sejak kapan kau menyukai sayuran? Jelas-jelas kau hanya suka makan daging doang."


"Stt, Kakak Kevin, jangan buka kartuku." Omel Laurent yang hanya di sikapi putaran mata jengah oleh Kevin.


Malas berdebat dengan adiknya. Kevin menghampiri Rey kemudian duduk di atas pangkuannya. "Pi, apa yang sedang kau kerjakan?" tanya Kevin penasaran.


"Tidak ada, Nak. Hanya memeriksa beberapa dokumen saja. Sudah waktunya makan siang. Sebaiknya kita pergi sekarang." Ucap Rey kemudian menurunkan Kevin dari pangkuannya.


"Yee, makan siang!!" dan Laurent langsung bersorak heboh. Bocah perempuan itu memang sudah sangat kelaparan.


-


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2