Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Kecemasan Lee Chan


__ADS_3

Brugg...


Rey melempar map berwarna merah itu ke atas meja dan menatap nyalang pada sosok wanita yang berdiri dihadapannya. Wanita itu terus menundukkan kepalanya dan tidak berani membalas tatapan Bossnya.


"Sudah berapa kali aku peringatkan padamu, berhenti meremehkan sebuah pekerjaan. Dan sampah seperti itu kau berikan padaku?! Jika kau masih tidak bisa merubah kebiasaan burukmu itu dan bekerja dengan sungguh-sungguh, silahkan keluar! Karena perusahaan ini tidak membutuhkan karyawan tak berguna sepertimu!!"


Lee Chan tampak berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan Rey. Ia sedang menghawatirkan salah satu kucing liarnya yang sedang dieksekusi di kantor Boss super killer nan perfeksionisnya. Dia khawatir dengan nasib kucing liarnya tersebut setelah keluar dari ruangan itu.


Bagaimana tidak khawatir? Rey di kenal sebagai Boss yang sangat horor, yang memiliki perusahaan dan karyawan terbaik di negeri ini. Khawatir akan nasib kucing liarnya yang sudah terombang-ambing di dalam otaknya. Chan berniat untuk masuk ke dalam tapi hal itu dia urungkan.


Lee Chan merinding sendiri mendengar bagaimana seramnya Rey ketika memarahi kucing liarnya itu. Dan Chan berani bersumpah, jika dia akan menangis tersedu-sedu setelah ini.


Cklekk...


"Chan...!!" tubuh Chan terhuyung kebelakang karena pelukan tiba-tiba wanita berpakaian super minim berwarna merah itu. Seperti yang telah Chan duga jika ia akan menangis tersedu-sedu. "Huhuhu, Boss memarahiku lagi. Aku sedih Chan, sangat-sangat sedih."


"Itulah jika kau tidak mau mendengarkanku. Bukankah berkali-kali aku menegaskan padamu jika Boss sangat membenci pegawai yang tidak profesional. Mulai besok ubah penampilanmu dan jangan pernah mengecewakan Boss lagi jika kau tidak ingin sampai kehilangan pekerjaanmu." Chan mengusap punggung wanita itu dengan gerakan naik turun.


"Aku sangat sedih, traktir aku makan siang." Chan melepaskan pelukannya dan mengangguk.


"Baiklah ayo."


-


Dari kejauhan Jessica melihat seorang wanita keluar dari ruang kerja suaminya dalam keadaan menangis tersedu-sedu. Wanita itu langsung memeluk Lee Chan yang berdiri di depan pintu ruang kerja Rey.


Jessica melihat Chan berusaha menenangkan wanita itu. Tapi sayangnya dia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena jaraknya yang agak jauh. Tapi satu hal yang Jessica yakini, jika wanita itu habis di marahi oleh suaminya, mengingat jika ini yang ketiga kalinya. Begitulah yang Jessica ingat.


Jessica melanjutkan kembali langkahnya setelah melihat mereka berdua pergi. Wanita itu masuk ke dalam ruangan Rey dan mendapati suaminya itu tengah duduk bersandar di sambil memijit pelipisnya. Kepalanya terasa pening.

__ADS_1


"Kau memarahinya lagi? Aku lihat dia keluar dari ruangan ini sambil menangis."


"Hn, dia membuat kesalahan yang sama dan itu membuatku muak. Jika bukan karena tiang bodoh itu, mungkin sudah sejak lama aku memecatnya." Tutur Rey.


"Mau datang kenapa tidak bilang-bilang?" Rey bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Jessica. Satu kecupan singkat Rey daratkan pada bibir ranum sang istri.


"Karena aku tidak merencanakannya. Oya, aku membawakan makan siang untukmu." Jessica mengangkat kotak makanan di tangannya dan menunjukkan pada Rey. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"


"Aku rasa bukan ide buruk."


Setelah menyantap makan siangnya. Mereka melanjutkan dengan kegiatan panas seperti yang biasa mereka lakukan. Saat ini Jessica tengah berada di bawah Kungkungan tubuh kekar suaminya. Dengan bibir Rey yang memagut bibir ranum istrinya. Dan mereka akan segera menyantap makanan penutupnya.


.


.


Dan jika boleh jujur. Kepasrahan Jessica malah membuat Rey ingin melahap wanitanya itu sekali lagi. Wanita itu memang selalu membuat Rey merasa tidak tahan saja. Tadinya ia biasa saja, tapi setelah melihat ekspresi polos istrinya membuat Rey ingin melahapnya di tempat untuk yang kedua kalinya. Tapi itu jelas tidak mungkin kan? Siapa suruh ekspresi polosnya itu begitu menggemaskan.


Kemudian Rey membawa Jessica masuk ke dalam sebuah ruangan khusus yang ada di dalam ruangan kerjanya. Di dalam ruangan itu terdapat tempat tidur yang berfungsi jikalau Rey harus lembur, tempat tidur luas dengan fasilitas kamar mandi juga di dalamnya.


Ia mengelus kening Jessica dengan lembut, memberi kenyamana dan membuat wanita itu lebih cepat menuju ke alam mimpi. Jessica yang mendapat perlakuan lembut nan nyaman itupun sudah tak kuasa menahan kantuk. Tapi ia terus berusaha melawannya dari tadi. Terbukti dari matanya yang terus terbuka dari tadi.


"Tidurlah!" Perintah Rey dengan nada yang pelan nan lembut namun tetap tegas.


"Tapi aku tidak biasa tidur siang, Rey. Lagipula aku harus kembali ke rumah sakit. Masih ada beberapa pasien yang harus aku periksa."


"Dengarkan aku kali ini dan jangan bandel." Rey mengecup kening Jessica dan pergi begitu saja. Dan Jessica hanya bisa mendengus, sepertinya dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti permintaan suaminya yang lebih terdengar seperti perintah itu.


-

__ADS_1


"Kakak Kevin!!"


Kevin yang sedang sibuk mengerjakan tugas di kamarnya menoleh setelah mendengar teriakan nyaring seorang bocah perempuan yang pastinya adalah Laurent. Bocah perempuan itu datang sambil membawa buku tugasnya dan Kevin tau apa maksud dari kedatangan bocah perempuan itu.


"Kerjakan saja sendiri. Tugasku masih menumpuk dan aku belum menyelesaikan semuanya."


"Kakak Kevin, bagaimana kau bisa tau apa tujuanku kemari. Padahal aku kan belum mengatakan apapun padamu, Daebak. Kau menang sangat jenius."


"Aku tidak akan luluh hanya dengan pujianmu. Sebaiknya kau keluar dan minta orang lain untuk membantumu. Tugasku masih terlalu banyak."


Laurent mencerutkan bibirnya. Ucapan Kevin terlalu tajam dan menusuk ke dalam hatinya. Tapi Laurent sudah terbiasa dan dia tidak merasa tersinggung dengan sikap dingin kakaknya.


Sambil menghentakkan kakinya. Laurent meninggalkan kamar Kevin. Dan setibanya di luar. Ia melihat mama dan papanya pulang bersama. Laurent berlari menghampiri mereka berdua dan memeluk Jessica.


"Mama, kakak Kevin jahat. Dia menolak untuk membantuku mengerjakan pr dan malah mengusirku keluar."


Rey mendesah berat. Lagi-lagi mereka ribut karena masalah sepele. Dan dia juga tidak bisa menyalahkan Kevin,memang begitulah sikap putra sulungnya itu.


"Tidak apa-apa. Nanti biar Mama saja yang membantumu mengerjakan PR. Sekarang Mama mandi dulu, sebaiknya Laurent tunggu di kamar saja ya." Ucap Jessica yang kemudian di balas anggukan oleh Laurent.


Jessica menatap kepergian putrinya dan mendesah berat. Wanita itu melangkahkan kakinya menuju kamar putranya. Ia perlu memberikan sedikit nasehat pada Kevin. Sedangkan Rey pergi ke kamar untuk membersihkan tubuh.


"Mami kemari pasti untuk mengomeliku bukan? Apa bocah itu mengadu padamu?" Kevin mengangkat wajahnya dan menatap datar ibunya.


"Setidaknya bersikaplah sedikit lebih manis padanya. Bagaimana pun juga dia adalah adikmu, kau tidak harus memperlakukannya sedingin itu. Dan sebagai seorang kakak. Sudah sewajarnya membantu adiknya. Segera selesaikan PR-mu dan jangan tidur terlalu malam." Jessica menepuk kepala putranya dan pergi begitu saja.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2