Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Season 2 (Bab 2)


__ADS_3

...“Kata orang, cinta pertama itu tidak mudah dilupakan dan menyakitkan.”...


-


Setelah enam tahun lamanya menunggu untuk bertemu kembali, Luna akhirnya melihat wajah cinta pertamanya. Masih sangat segar dalam ingatan Luna ketika ia pergi dan meninggalkannya dalam sepi.


Dalam ingatan Luna, seseorang yang pertama kali mengajarkan arti dari 'cinta' padanya adalah Kevin. Sosok pemuda dingin dengan segala kelebihan dan kekurangan yang di milikinya.


Dia datang bagaikan oasis di padang pasir. Memberinya sebuah arti dan selalu membuat jantung Luna berdetak secara tidak normal. Meskipun selama mengenalnya Kevin selalu memperlakukannya dengan dingin. Tapi terkadang dia juga menunjukkan sisi hangatnya yang selama ini tertutupi dan tersembunyi di balik sikap dinginnya.


Luna hanya diam terpaku menatap sosok tinggi nan tampan yang berdiri beberapa meter di depannya. Pemuda itu menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Di samping pemuda itu, berdiri sosok lain yang berbeda gender darinya. Dan siapa lagi jika bukan Laurent.


"Yakk!! Kalian berdua, sampai kapan kalian hanya akan saling menatap dan tidak bertegur sapa?!" ujar Laurent sambil menatap Kevin dan Luna bergantian. Dia merasa gemas sendiri dengan mereka berdua.


"Ahhh, sudahlah terserah kalian saja. Sean, ayo kita pergi saja dari sini." Laurent memeluk lengan Sean dan menyeretnya pergi. Di sana menyisahkan Kevin dan Luna.


Seketika keheningan menyelimuti kebersamaan Kevin dan Luna. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir keduanya. Luna bingung harus memulainya dari mana, sedangkan Kevin tidak tau harus bicara apa. Ia bukan lagi anak-anak yang tidak memiliki rasa malu, meskipun sifat pendiam sangat tidak cocok untuknya yang sedikit bar-bar.


"Huft,"


Terdengar helaan napas keluar dari bibir Kevin. Pemuda itu menghampiri Luna dan kemudian memeluknya. Membuat Luna terpaku dan terkejut bukan main. Ia sungguh tidak menduga dengan reaksi Kevin.


"Aku merindukanmu, gadis bar-bar." Ucap Kevin sambil menutup rapat-rapat mata abu-abunya.


Luna tersenyum. Gadis itu mengangkat kedua tangannya dan dengan senang hati membalas pelukan Kevin. "Aku juga." Jawabnya dengan senyum yang sama.


Kebahagiaan yang Luna rasakan saat ini tidak bisa di lukis dengan kata-kata. Dia terlalu bahagia karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan Keanu. Dan untuk yang terjadi selenjutnya Luna akan menyerahkan semuanya pada takdir.


Dan sementara itu....


Laurent yang melihat mereka dari kejauhan hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. "Dasar mereka berdua. Tadi saja bersikap malu-malu kucing, dan sekarang malah berpelukan. Hiks, rasanya aku ingin menangis melihat pertemuan mengharukan itu." Ujar Laurent kemudian menenggelamkan wajahnya pada bahu Sean.


Sean yang memang dasarnya menyukai Laurent tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan yang dia miliki. Sean mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan memeluk Laurent.


"Kalau memang ingin menangis. Menangislah, karena bahuku selaku siap menampung semua air matamu." Ujar Sean sambil mengusap kepala coklat Laurent.


Brugg...


Buru-buru Laurent mendorong tubuh Sean hingga pemuda itu terhuyung ke samping. Sean merenggut kan wajahnya sambil mempoutkan bibirnya. "Dasar menyebalkan, aku kan hanya ingin menghiburku tapi kenapa kau malah mendorongku?" ujar Sean dengan mimik wajah sedih.

__ADS_1


"Cih, bilang saja kalau kau mau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku lapar, sebaiknya temani aku makan malam." Laurent memeluk lengan Sean dan menyeretnya menuju cafe yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Bukan lagi rahasia jika Sean tergila-gila pada Laurent. Dia mengejar gadis itu semenjak mereka duduk di bangku menengah akhir.


Sean jatuh cinta pada Laurent sejak pandangan pertama. Tapi selama empat tahun ia tetap tidak bisa memenangkan hatinya. Laurent terlalu sulit untuk di gapai. Dan gadis itu hanya menganggapnya teman tidak lebih.


Tapi menyerah begitu saja bukanlah pilihan yang tepat. Cinta perlu di perjuangkan dan Sean akan memperjuangkan cintanya pada Laurent.


-


Semilir angin malam berhembus menyentuh permukaan kulit putihnya. Bibir tipis itu melengkung membentuk senyuman lembut yang terpatri nyata di wajah cantiknya.


Luna mengangkat wajahnya karena kedatangan seseorang. Gadis itu tersenyum lembut seraya menerima minuman yang Kevin sodorkan padanya. "Thanks." Kevin mengangguk. "Oya, kapan kau tiba?" tanya Ellena memulai percakapan.


"Pagi ini. Papa menjemputku dan memaksaku untuk ikut pulang."


Kevin menoleh. Memperhatikan gadis yang duduk disampingnya. Menitih Luna dengan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak banyak yang berubah pada Luna, selain wajahnya yang bertambah cantik dan dan penampilannya yang anggun.


"Aku heran, sudah enam tahun tapi kau tidak mengalami perubahan sama sekali. Kau tetap saja pendek."


"Yakk!! Kau mau mati ya? Berhenti mencibirku, Kevin Lu. Lagipula orang pendek dan mungil sepertiku justru malah awet muda. Sudah enam tahun tapi mulutmu tetap saja tajam, dasar patung es menyebalkan." Luna menggerutu sambil berjalan menjauh dari Kevin.


-


"Sean, menurutmu bagaimana? Bagus tidak?"


Laurent menunjukkan sepasang anting pada Sean. Saat ini keduanya sedang berada di sebuah toko aksesoris. Laurent berniat membeli beberapa pasang anting, kalung serta jepitan rambut.


Mengoleksi aksesoris memang sudah menjadi hobinya dari kecil. Jadi tidak salah jika matanya selalu hijau saat melihat banyak aksesoris-aksesoris cantik.


"Bagus, bahkan kau terlihat sangat cantik memakainya. Kau ingin yang itu?" Laurent mengangguk. "Pilih yang mana pun kau mau, aku akan membelikannya untukmu."


"Tidak perlu, aku bisa membelinya sendiri. Lagipula aku tidak ingin di sebut sebagai gadis matre yang hobi memanfaatkan pria tampan!!"


"Omo!! Apa baru saja kau menyebutku tampan?" Sean menatap Laurent dengan mata berbinar-binar.


"Kau hanya salah dengar, lupakan. Bibi, tolong bungkus yang sudah aku pilih ini ya." Laurent tersenyum dan kemudian menyerahkan beberapa pasang anting dan aksesoris lain yang sudah ia pilih pada bibi pemilik toko.


"Baik, Nona."

__ADS_1


"Setelah ini kau mau kemana lagi?" tanya Sean, keduanya baru saja meninggalkan toko.


"Pulang. Papa bisa memarahiku jika aku pulang terlalu malam."


"Baiklah, aku akan mengantarkanmu." Laurent mengangguk.


-


Udara pagi menyapa, membelai rumput-rumput hijau dan dedaunan yang basah oleh embun, menyeruakkan aroma khas yang sarat akan segarnya pagi itu. Kicauan burungpun menambah indahnya suasana, mengabarkan dunia bahwa sang matahari siap kembali bekerja mendampingi hari.


Deringan jam weker mengusik seseorang yang masih berada dialam mimpi. Membuat sepasang kelopak mata yang semula tertutup rapat itu perlahan-lahan terbuka, enggan.


Tangan putihnya bergerak mencari sumber bunyi yang memaksa ruhnya memasuki tubuhnya yang masih dibalut selimut tebal miliknya.


‘BRUUUK!’


Jam weker terdiam saat tubuh utuhnya menghantam lantai dengan keras. Jarum jam, angka dan segala isi mesinnya berhamburan dan berserakan di lantai. Si pemilik membanting jam tak berdosa tersebut karena sudah mengganggu tidur nyenyaknya.


Setelah beberapa saat, pemuda itu pun membuka matanya, tubuhnya menggeliat dan menguap lebar. Matanya beberapa kali mengerjap, beradaptasi dengan sinar matahari yang mulai menggelitik obsidan abu-abunya.


Pemuda itu beranjak dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat.


Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Pemuda itu segera meninggalkan kamarnya dan bergabung bersama keluarga kecilnya untuk sarapan.


Tidak ada yang Special pada penampilannya. Hanya sebuah t-shirt putih polos berlengan pendek yang di balut Vest denim hitam serta celana jeans hitam yang terlihat robek pada lututnya. Tak ketinggalan separuh tangguh hitam bertali.


"Pagi, Mi, Pi, bocah," sapa pemuda itu pada tiga orang yang sedang berkumpul di meja makan."


"Pagi juga, Sayang." Balas Jessica seraya tersenyum lebar. Ibu dua anak itu terlihat begitu bahagia dan tak henti-hentinya mengurai senyum lebar semenjak kepulangan putra kesayangannya. "Mami sudah memasak banyak makanan kesukaanmu, ayo duduk dan kita sarapan bersama."


Laurent mencerutkan bibinya. "Mama jahat, sejak patung es ini pulang kau menjadi lebih memperhatikannya. Aku kan juga anak Mama,"


"Apa yang kau bicarakan, Princess. Mama tidak pernah memperlakukan kalian secara berbeda. Lagipula makanan kesukaan kalian berdua kan sama, jadi untuk apa Mama masak berbeda."


Dan selanjutnya sarapan mereka lewatkan dengan tenang. Tak ada perbincangan di antara mereka berempat. Hanya terdengar suara dentingan sendok, garpu dan piring yang saling bersentuhan.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2