
Tiffany kini menjadi pusat perhatian. Semua orang menatap padanya dan saling berbisik-bisik. Ada yang menyebutnya jahat, dan tidak memiliki hati dan ada pula yang menyebutnya murahan. Mereka mengenali betul siapa pemilik suara dalam rekaman tersebut, dan suara rekaman itu benar-benar tidak berkutik.
Salah seorang tamu menghampiri Tiffany lalu menyiram wajahnya dengan minuman ditangannya. "Dasar Iblis betina, di mana hati nuranimu, bisa-bisanya kau memisahkan seorang anak dari ibunya hanya demi kepentingan pribadimu sendiri." ucap wanita itu tak percaya. Dan aksi wanita itu menarik perhatian semua tamu undangan yang datang.
"YAKK! WANITA SIALAN, APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU?!!" amuk Terra pada wanita tersebut. "Fanny-ya, ayo pergi, sebaiknya kita masuk, kau perlu mengganti pakaianmu." ucap Terra.
Tiffany menyentak tangan Ibunya dan menatapnya tajam. "Pergi Ibu bilang? Bagaimana aku bisa pergi sebelum memberi pelajaran pada wanita kurang ajar itu." tunjuk Tiffany pada wanita yang menyiram wajahnya.
Tiffany menyambar minuman dari tangan neneknya lalu menyiramkan pada muka wanita tersebut ."Sialan kau, berani sekali kau menyebutku Iblis betina, kau fikir kau siapa hah? Aku tidak bisa menerima hal ini dan kau harus mati."
"Bukan dia, tapi seharusnya kau yang mati." Sahut wanita lain sambil menyiramkan sup pada kepala Tiffany. "Betina tak berhati sepertimu seharusnya tidak di biarkan tetap hidup." imbuhnya.
"Aaahhh..!" Tiffany memekik kencang saat merasakan sesuatu yang keras menghantam tubuhnya. "Yakk! Berani-berani kau." teriak Tiffany.
"Aaahh." wanita itu kembali berteriak saat sebuah gelas melayang dan menghantam keningnya membuat pelipis kirinya robek dan mengeluarkan banyak darah.
"KALIAN SEMUA? APA YANG KALIAN LAKUKAN? REY, TOLONG AKU, BAGAIMANA BISA KAU DIAM SAJA MELIHAT ISTRIMU DI TINDAS SEPERTI INI." teriak Tiffany sambil berurai air mata.
"Memangnya apa kau layak untuk di bela? Bagus aku tidak menyeretmu dan membuatmu membusuk di penjara."
"REY LU."
Jessica melipat kedua tanganya dan bersidekap dada. Wanita itu menatap Tiffany dengan pandangan mengejek, Jessica menarik sudut bibirnya dan menyeringai dingin. Dia begitu menikmati pertunjukkan tersebut. Tak ada niat dalam hati Jessica untuk menghentikan mereka karena menurutnya Tiffany memang layak mendapatkannya.
Plakk..!!
Terra menghampiri Jessica dan langsung menamparnya. Saking kerasnya tamparan tersebut sampai membuat kepala Jessica menoleh kesamping. Semua begitu terkejut termasuk Rey, baru saja Rey hendak membuat perhitungan dengan Terra, tapi didahuli oleh Kevin dan Laurent.
__ADS_1
"Hei nenek tua, apa kau sudah tidak menyayangi tanganmu lagi? Berani sekali kau menampar Mamiku."
"Anak tidak memiliki sopan santun, sebaiknya kau tidak ikut campur. Aku menampar Mamimu karena dia memang pantas mendapatkannya. Dan tidak seharusnya kalian berdua datang kepesta ini karena tidak ada yang mengharapkan kedatangan kalian berdua, apalagi anak haram sepertimu. Dan kau, apa kau tau seperti seperti apa Mamimu itu? Dia wanita ****** dan murahan, kau ada karna dia sudah tidur dengan banyak pria."
Dugghh...!
"Aaahh.." Terra berteriak kesakitan karena tendangan Kevin pada kakinya. "Yak! Apa yang kau lakukan anak haram? Berani sekali kau menendangku." teriaknya marah. "Aaaahh..!" Terra kembali berteriak saat sekali lagi Kevin menendang kakinya "Kau, anak setan beraninya kau..!"
PLAKK..!
Rey menahan tangan Terra sebelum tangan wanita itu menyentuh tubuh Kevin. "Sudah cukup Nyonya. Apa kau sadar putra siapa yang sudah kau sebut sebagai anak haram dan anak Iblis itu." ucap Rey datar. Tatapannya semakin dingin dan auranya semakin menggelap. Dia terlihat begitu berbahaya.
"Cu-Cucu menantu. Maaf karena keadaan ini sudah membuatmu tidak nyaman. Pasti kau terkejut dengan kekacauan yang disebabkan oleh Ibu dan anak itu. Kau tidak perlu cemas, aku akan segera mengusir mereka berdua untuk pergi dari sini, dan aku akan memerintah seseorang untuk memotong tangan orang yang sudah berani membuat Tiffany terluka. Dan masalah rekaman itu, kau tidak perlu menghiraukannya, itu hanya perbuatan orang yang tidak suka pada putriku." Ujar nenek Smit.
Jessica mendesah berat. "Aku tidak tau apa yang sudah mereka berikan padamu, sampai-sampai kau lebih membelanya dari pada putri kandungmu sendiri, Ayah!! Dan apalah sekarang air itu lebih kental dari darah?"
Kevin menyeringai dingin. Bocah itu menutup matanya dengan kedua tangan tersembunyi di dalam saku celananya. "Kau sedang dalam masalah besar pak tua." ucap Kevin seraya mengakat wajahnya dan menatap tuan Smit dengan pandangan meremehkan.
"Dan apakah kau masih berani menyebutku anak haram setelah tau siapa Ayah kandungku."
"Diamlah bocah, jika kau mengoceh terus akan ku robek mulutmu." Sahut nenek Smit.
Kevin mendecih. "Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh nenek tua sepeetimu hm?"
"Sikap kurang ajar dan mulut tajammu itu! Sangat jelas jika kau tidak berpendidikan dan tidak memiliki sopan santun. Aku tidak tau bajingan seperti apa yang meniduri Mamimu malam itu, dan pria seperti apa dia sampai-sampai menurunkan sifat buruknya padamu."
Kevin memijit pelipisnya. "Astaga, kalian semua benar-benar dalam masalah besar. Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu setelah ini, kecuali kalian mau berlutut kemudian meminta maaf dan mencium kaki Mamiku." ucap Kevin seolah mengerti apa yang akan terjadi setelah ini.
__ADS_1
"Diamlah Nak, kau terlalu banyak bicara. Penjaga, cepat seret wanita ini dan anaknya keluar dari sini." Perintah tuan Smit pada orang-orangnya.
"Melangkah satu inci saja kepala kalian akan pecah." Ucap Rey dan menghentikan langkah kedua laki-laki itu.
"Sudah cukup semuanya. Aku sudah cukup bersabar dan benar-benar muak dengan kalian semua. Apa kau sadar siapa yang sejak tadi kalian caci dan kalian maki? Kevin Smit, bukan anak haram karena dia adalah putra kandungku. Dan laki-laki yang meniduri Jessica sembilan tahun yang lalu bukanlah pria hidung belang, tapi orang itu adalah diriku!!"
Jlederrr...!
Bagaikana disambar petir di siang bolong. Tuan Smit, Terra dan Nenek Smit terkejut bukan main setelah mendengar pengakuan Rey. Wajah tua. Smit dan Terra langsung pucat seketika, karena itu artinya orang yang sedari tadi mereka bicarakan adalah Rey. Terra langsung pingsan. Bukan hanya mereka yang terkejut tapi juga semua tamu undangan yang hadir di pesta.
Laurent terkekeh, bocah perempuan itu turut menikmati pertunjukkan di pesta. "Padahal Kakak Kevin sudah mengingatkan kalian bertiga. Tapi kaliannya saja yang terlalu bodoh." ucap bocah itu.
"Dan bisakah kita pergi sekarang. Keluarga ini membuatku muak." Kata Kevin seraya beranjak dari posisi bersandarnya. Bocah itu menghampiri Rey "Pi, ayo pergi." Rey mengangguk.
Rey merangkul bahu Jessica, dan keempatnya meninggalkan kediaman keluarga Smit.
Tiba-tiba Jessica menghentikan langkahnya dan menghampiri sang ayah. "Aku akan memberi waktu pada kalian bertiga untuk berkemas. Tinggalkan rumah ini, aku akan memberi kalian waktu 24 jam. Rumah ini masih atas namaku dan kalian tidak memiliki hak lagi."
"JESSICA KAU...!"
"Urus mereka." Ucap Rey pada orang-orangnya.
Mereka melanjutkan langkahnya dan berjalan menuju halaman di mana mobil milik Rey diparkirkan. Kali ini bukan Lee Chan yang mengemudi karna laki-laki jangkung itu masih belum kembali, dan Rey meminta orang lain.
-
Bersambung.
__ADS_1