
Luna duduk di depan meja makan dengan senyum ceria sambil menunggu Kevin yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Luna merengek meminta supaya suami tampannya itu menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Kevin menurutinya .
Luna tau, sejak kecil Kevin memang sangat pandai memasak. Di bandingkan dirinya, Kevin jauh lebih mahir dalam urusan memasak. Dan senyum di bibir Luna kian terkembang lebar mana kala ia melihat suaminya itu datang sambil membawa dua piring nasi goreng Special.
"Terima kasih, suamiku yang paling tampan," ucap Luna ceria kemudian mengambil sendok dari tempatnya. "Selamat makan,"
Dan Kevin hanya bisa mendengus melihat tingkah istrinya itu. Luna memang sangat sulit di tebak. Tapi inilah sifat dia yang sebenarnya. Ceria dan sedikit bar-bar. Jika belum mengenalnya dengan baik, pasti orang berpikir jika dia adalah wanita yang dingin dan sedikit pendiam. Namun kenyataannya tidak, Luna adalah perempuan yang sangat menyenangkan dan setia kawan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Kevin penasaran.
"Lezat, dan ini sangat enak. Kau memenang yang terbaik dalam urusan memasak,"
"Kalau begitu mulai besok aku yang akan menyiapkan sarapan dan makan malam untuk kita." Ucap Kevin dan sontak Luna mengangkat wajahnya.
"Kenapa? Apa kau meragukan kehebatanku dalam hal memasak?" Kevin menggeleng."Lantas?"
"Aku hanya tidak ingin jika kau sampai kelelahan, itu saja." Luna tersenyum mendengar jawaban Kevin.
Mungkin dia memang dingin dan terkadang menyebalkan. Tapi tak bisa Luna pungkiri bila Kevin adalah yang terbaik dari yang paling baik yang ada di dunia ini.
"Yaaa,. jangan berkata seperti itu.Kau membuatku malu saja." Ucap Luna sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Sedangkan Kevin hanya terkekeh pelan.
Kevin terkekeh geli. "Dasar kau ini, sudah cepat habiskan makan malam mu sebelum dingin," pinta Kevin yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. Selanjutnya makan malam mereka lewati dengan tenang. Tak ada percakapan lagi, hanya denting suara sendok dan piring yang memecah dalam heningnya malam.
.
.
Kevin memperhatikan cara jalan istrinya yang sedikit aneh itu dan mendengus geli. Sesekali Luna meringis karena perih pada paha dalamnya. Rasanya Luna ingin mengutuk Kevin yang sudah bermain dengan agak kasar tadi. Dan endingnya dia harus kesulitan berjalan seperti ini. Luna tidak tau jika rasanya begitu menyakitkan di awal tapi nikmat di akhir.
Kevin memicingkan matanya menatap Luna datar. "Terakhir kali kau tersenyum seperti itu saat kita melakukannya tadi," ujarnya dengan seringai misterius.
__ADS_1
Seketika Luna merasakan wajahnya memanas hingga telinga. "Ma-mana ada! Bukan itu!" sahut Luna sambil membuang muka ke arah lain. Ke mana saja asal jangan muka Kevin.
Kevin mendengus geli ia menatap Luna yang sedang salah tingkah. "Lalu kenapa?"
"Bukan apa-apa," Luna menyahut sambil menggelengkan kepala.
Kevin memajukan tubuhnya hingga wajahnya berada di depan Luna dalam jarak beberapa centimeter saja dan membuat jantung wanita berdebar dengan cepat. Ia menatap Luna dengan intens.
Kevin menelusupkan jari-jarinya ke dalam helaian rambut panjang Luna yang terurai. Pria itu menyeringai, dan selanjutnya sebuah benda lunak dan basah menyentuh dan menyapu permukaan bibirnya yang di susul pagutan lembut yang menuntut.
Ellena membalas remasan jari-jari Kevin pada ruas-ruas jarinya. Kedua matanya tertutup rapat saat merasakan ciuman Kevin semakin dalam. Malam yang dingin ini akan terasa panas dan menjadi malam panjang bagi mereka berdua.
-
Pagi menjelang di Seoul. Matahari menyinari pagi dengan pancaran sinarnya yang mampu membuat seluruh umat manusia terhipnotis untuk membakar semangatnya.
Bunga-bunga bermekaran indah di halaman belakang sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai. Menyegarkan pandangan mata yang sedikit tergelitik oleh angin-angin yang mampu membuat kita terlelap lagi dalam tidur. Burung-burung berkicauan dengan merdu bagaikan nyanyian pagi yang indah dan sejuk.
Begitu juga dengan gadis berparas bak boneka satu ini. Ia begitu semangat menjalani paginya hari ini meskipun rasa kesal terus menghampirinya.
"Kenapa kau masih di sini? Pulang sana,"
"Laurent, jaga bicaramu!! Bagaimana pun juga Sean adalah tamu di rumah ini dan seharusnya kau bersikap sopan padanya." Tegur Jessica melihat sikap putrinya. Laurent mendengus berat. Lagi-lagi sang ibu malah membela Sean dan hal itu pasti akan membuatnya besar kepala. "Kemarilah dan kita sarapan sama-sama."
"Di mana, papa?"
"Papamu baru saja berangkat. Dia ada meeting penting hari ini jadi berangkat lebih awal. Mama tidak bisa mengantarkanmu karena ada jadwal operasi satu jam lagi. Kau berangkat bersama Sean saja,"
"Aku tidak mau!!"
"Tapi aku mau!!" Sean menyela cepat.
__ADS_1
"Dasar penjilat."
Laurent tidak tau kapan pemuda itu akan berhenti merecoki hidupnya. Sean begitu menyebalkan karena terus saja mengganggu dirinya. Dan Laurent benci itu. Jika saja dia tidak bersikap begitu menyebalkan mungkin Laurent bisa bersikap sedikit lunak padanya.
-
"Bian,"
Bian menghentikan langkahnya mendengar seruan keras Teresa. Pemuda itu tersenyum dan melambai pada gadis itu. "Teresa, aku pikir kau masih tidak masuk hari ini." Ucap Bian. Keduanya berjalan beriringan menuju kelas masing-masing.
Teresa sangat bahagia bisa berjalan beriringan bersama pemuda yang diam-diam dia cintai itu.
Sudah lama Teresa memendam perasaannya pada Bian, tapi sayangnya dia tidak berani mengungkapkan apa yang dia rasakan itu karena Teresa tau jika Bian jatuh cinta pada Luna. Tapi sekarang Teresa mulai berani menunjukkan perasaannya itu.
"Aku membuatkan bekal untukmu, bagaimana kalau siang ini kita makan siang bersama?" usul Teresa yang segera di balas anggukan oleh Bian.
"Aku rasa bukan ide buruk." Teresa tersenyum lebar. Gadis itu merasa senang karena ia dan Bian bisa semakin dekat dan harapan untuk mendapatkan hatinya semakin terbuka lebar.
-
Luna dan Kevin duduk saling berhadapan. Luna sedang membantu suaminya mengganti perban pada pelipis kirinya. Luka itu Kevin dapatkan kemarin. Bagus Luna menghalanginya, jika tidak pasti dia sudah menghabisi Bastian.
"Nah selesai," Luna tersenyum melihat perban kembali menutup luka di pelipis kiri suaminya. Lukanya sudah membaik meskipun masih sedikit basah. "Aku mandi dulu. Kita ada kesal satu jam lagi,"
Kevin menahan lengan Luna membuat wanita itu mau tidak mau menghentikan langkahnya. Kevin menarik lembut lengan Luna lalu menempatkan sang istri di pangkuannya. "Aku malas datang ke kampus hari ini. Sebaiknya kita tetap di rumah saja." Ucapnya yang di balas anggukan setuju oleh Luna.
"Aku juga malas. Kegiatan kita semalam benar-benar membuatku kelelahan dan aku ingin tidur sepanjang hari."
"Kalau begitu kau mandi dulu. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita." Kevin menepuk kepala Luna dan pergi begitu Saja.
Wanita itu tersenyum dan balik menepuk kepalanya yang baru saja di tepuk oleh suaminya. Perasaan Luna menghangat, dia sangat bahagia memiliki Kevin di sisinya.
__ADS_1
-
Bersambung.