
"Lee Chan, keruangan kerjaku sekarang juga."
Rasanya Chan ingin mengutuk Bossnya itu karena memintanya datang menemuinya padahal ini masih pukul tiga dini hari. Setelah mencuci muka dan mengumpulkan semua nyawanya. Chan segera menghampiri Rey diruang kerjanya. Dan Lee Chan tidak tau hal penting apa yang ingin Rey bicarakan padanya sampai-sampai begitu mendesak.
"Kau lama sekali, Lee Chan! Aku akan memotong gajimu bulan ini sebanyak 5%." Chan tidak bisa melayangkan protesnya karena Rey akan memotong lagi gajinya, dan itu artinya dia tidak bisa menghidupi kucing liarnya yang berjumlah lebih dari lima.
"Aku ingin kau menyelidiki sesuatu untukku. Cari tau apa yang terjadi pada malam itu, sembilan tahun yang lalu di Garden Hotel, aku ingin memastikan wanita itu benar-benar Tiffany atau bukan. Dan jika kau berhasil, aku akan menaikkan gajimu sebanyak 20%, aku akan memberimu liburan gratis ke Yunani bersama kucing-kucing liarmu. Tapi jika kau sampai gagal, aku akan memotong gajimu sebanyak 30%. Jadi berusahalah dengan keras dan jangan mengecewakan aku."
Mendengar naik gaji dan liburan gratis ke Yunani, membuat mata Chan langsung berbinar-binar apalagi Rey akan mengikutsertakan tujuh kucing liarnya.
"Oke, Boss! Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu dan kau akan mendapatkan hasilnya dalam waktu dekat. Dan bisakah sekarang kau ijinkan aku keluar, aku mengantuk, hoaaamm!"
Rey mendesah berat. "Dan satu hal lagi, lakukan dua tes DNA ini dan hasilnya jangan sampai tertukar. Aku mulai meragukan apakah Tiffany benar-benar Ibu kandung Laurent atau bukan. Dan kau boleh pergi sekarang."
Dan Rey tidak akan pernah memaafkan Tiffany jika dia terbukti telah membohonginya. Dan Rey telah menyiapkan sebuah kejutan untuknya yang tidak akan pernah bisa wanita itu lupakan sepanjang hidupnya.
Rey beranjak dari ruangan itu dan pergi kekamarnya yang berada di lantai dua, tapi langkahnya terhenti saat melihat Jessica keluar dari kamar Laurent dengan terburu-buru. "Kau mau kemana?" Tegur Rey dan mengejutkan Jessica.
"Omo!! Tuan Lu, Anda mentejutkan saya." Jessica mengusap dadanya dan setengah menggerutu. "Pihak rumah sakit baru saja menghubungiku dan ada kecelakaan beruntun, rumah sakit kekurangan dokter ahli bedah dan saya harus pergi ke sana." Ujarnya.
"Tunggu di sini, aku akan menemanimu." Rey beranjak dari hadapan Jessica dan pergi ke kamarnya. Tak berselang lama, CEO muda itu kembali dengan sebuah kunci mobil ditangannya."Jangan banyak berfikir, kita berangkat sekarang." Ucap Rey sambil memakai coatnya.
Setibanya di rumah sakit, Jessica segera turun dan meninggalkan Rey begitu saja. Keadaan dia sana benar-benar sangat kacau, puluhan orang terluka karena kecelakaan itu. Jessica segera menghampiri Sunny dan membantu wanita itu.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Jessica memastikan.
"Buruk, dia kehilangan banyak darah dan sebuah besi menancap pada dada kirinya, kita harus segera melakukan operasi darurat." Jelasnya.
"Segera siapkan ruang operasi, kita akan segera mengoprasinya." Ucap Jessica pada salah seorang perawat.
"Baik dokter."
-
Malam telah berlalu dan bulan telah kembali keperaduannya. Mentari yang hangat datang dan menggantikan posisi sang penguasa malam. Seorang wanita berparas cantik baru saja keluar dari ruang operasi, peluh terlihat menetes dari pelipisnya, lelah terlihat pada wajah cantiknya.
Setelah mencuci muka dan mengganti pakaiannya. Wanita itu pergi ke ruang prakteknya, mungkin tidur sebentar tidak ada salahnya. Dan setibanya di dalam, dokter cantik itu dikejutkan dengan keberadaan seorang pria yang sedang terlelap di sofa dengan salah satu tangan menutupi sebagain wajah tampannya.
"Tuan Lu? Aku fikir dia sudah pulang." Wanita itu 'Jessica' mendekati Rey dan memperhatikan wajah tampannya saat sedang terlelap, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah diwajah cantiknya
"Dia terlihat semakin tampan saat sedang tidur, seperti bayi, polos." Jessica menggerakkan jari-jarinya di atas wajah Rey dan mengusapnya dengan lembut, dia takut jika hal itu akan mengusik tidur pria bermarga Lu tersebut.
__ADS_1
Jessica hendak beranjak dari sana namun tarikan Rey pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya, kedua mata Jessica membelalak saat kedua tangannya bersentuhan dengan dada bidang Rey yang tersembunyi di balik vestnya.
Wajah mereka berada dalam jarak yang begitu dekat, saking dekatnya hingga keduanya dapat merasakan hembusan nafas masing-masing. Jessica mencoba bangkit dari atas tubuh Rey, tapi tangan Rey yang melingkari pinggangnya menghalanginya.
"Kau fikir bisa pergi begitu saja setelah menatapku begitu lama." Seringai terlihat pada bibir Rey.
"Tu-Tuan Lu, jangan bilang jika Anda tadi hanya berpura-pura ti... Eeemmpphh..!" Ucapan Jessica di potong oleh Rey yang langsung menyergap bibirnya.
Kedua mata Jessica membelalak saking kagetnya. Rey menciumnya, tepat dibibirnya.
Kedua tangan Rey membingkai wajah Jessica, dan bibirnya terus melum** bibir wanita itu, atas dan bawah secara bergantian. Meskipun sempat terkejut, tapi Jessica tidak bisa menolak ciuman Rey. Ia merasa sangat familiar dengan ciuman itu, ciuman dalam yang menuntut.
Dan hanya satu pria yang pernah menciumnya seperti ini, yaitu pria misterius yang pernah tidur dengannya sembilan tahun yang lalu.
Perlahan, Jessica menutup matanya dan membalas ciuman Rey. Jessica merasakan kehangatan serta rasa nyaman dalam ciuman tersebut
'Jessica Astoria, bumi memanggilmu!'
Cklekkk..!
Buru-buru Jessica mengakhiri ciuman Rey karena kedatangan Sunny, Sunny yang terkejut buru-buru berbalik badan. "Upss! Sepertinya aku datang di saat yang kurang pas, maaf aku tidak melihat apa-apa, kalian bisa lanjutkan lagi aku akan pergi sekarang juga." ucap Sunny dengan posisi memunggungi.
"Sepertinya dia salah paham soal tadi. Ano... Tuan Lu, a-aku masih ada pekerjaan, aku duluan ya." Jessica membungkukkan badannya dan meninggalkan Rey begitu saja. Diam-diam pria dingin itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum simpul.
"Menarik, jika orang yang malam itu bersamaku memang dirimu, jangan harap kau bisa lepas dariku."
-
Dua minggu telah berlalu tapi Rey mendapatkan informasi dari Chan. Selama dua minggu terakhir ini dia tidak menghubungi Rey sama sekali, padahal Rey sangat menunggu hasil dari penyelidikan Lee Chan.
Merasa geram pada asistennya tersebut, akhirnya Rey memutuskan untuk menghubunginya.
Tutt..! Tutt..! Tutt..!
Panggilan tersambung tapi tidak ada jawaban dari laki-laki jangkung tersebut. Tidak hanya satu kali saja, tapi Rey menghubunginya sebanyak empat kali, dan dia tidak akan berhenti menghubunginya sampai Lee Chan mau mengangkat panggilan darinya.
'Yakkk..! Siapa sih berani mengganggu kesenangan orang lain saja.' amuk Chan dari seberang sana, sepertinya dia belum tau siapa yang menghubunginya.
"Sudah berani mengabaikanku dan sekarang malah membentakku? Bagus , Lee Chan, aku akan memotong gajimu bulan ini dan tidak ada sepeser pun bonus untukmu."
'WHATT!'
__ADS_1
Kedua mata Lee Chan langsung membelalak sempurna setelah mendengar suara orang yang menghubunginya
'BOSS, MAAF AKU TIDAK TAU JIKA ITU ADALAH DIRIMU. HUAA, JANGAN POTONG GAJIKU DAN MENCABUT BONUSKU, TANPA UANG LEBIH BAGAIMANA AKU BISA MENGHIDUPI KETUJUH KUCING LIARKU, HUAAAA...!'
Rey memutar matanya jengah. "Suruh wanita-wanitamu itu menyingkir dulu, aku muak mendengar ******* mereka." Ucap Rey yang langsung menyadari dengan apa yang tengah Lee Chan lakukan di seberang sana.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu? Informasi apa yang berhasil kau dapatkan?"
Diseberang sana wajah Chan langsung pucat seketika, bisa-bisa Rey akan menggantung dirinya hidup-hidup. Dan dia harus memutar otaknya supaya Rey tidak menghabisinya
'Hahahah! Maaf Boss, tapi hal ini tidaklah semudah yang aku bayangkan apalagi kejadiannya kan sudah sembilan tahun yang lalu, sudah tidak ada orang yang mengingatnya apalagi Manager lama sudah mengundurkan diri, jadi akan butuh lebih banyak waktu lagi.' Tutur Lee Chan panjang lebar.
Rey mendesah berat, Chan fikir apakah dia sebodoh itu sampai-sampai dengan mudah bisa dibohongi. "Baiklah jika menurutmu begitu, aku juga sudah memiliki keputusan sendiri, gajimu bulan ini akan dipotong 30% dan tidak ada bonus, liburan gagal dan aku akan menyerahkan tugas ini pada Tao."
"BOSS TUNGGU." seru Chan sebelum Rey memutuskan sambungan telfonnya.
"Jangan-jangan, beri aku satu kesempatan lagi dan aku bersumpah semua informasi yang kau butuhkan besok pagi akan sampai dimejamu dan hasil tes DNA sudah keluar dan aku sudah meminta seseorang mengirimkannya padamu , dan mungkin tak lama lagi akan sampai ketenganmu.'
Rey menyeringai mendengar ucapan Lee Chan, memang tidaklah sulit untuk menggertak pria jangkung itu. "Oke, aku akan memberimu satu kesempatan lagi dan jika besok pagi Informasi itu belum sampai ketanganku, bukan hanya gajimu saja yang akan aku potong , tapi aset berhargamu juga." kemudian Rey memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.
Rey melepas kaca matanya dan memijit keningnya. CEO muda itu mengangkat wajahnya saat mendengar ketukan pada pintu.
"Masuk." suara dingin terlewat datar itu mengintrupsi seseorang yang berdiri di depan pintu untuk segera masuk. "Ada apa, Maria? Apa ada berkas lagi yang harus aku tanda tangani lagi?" tanya Rey pada Sekretaris cantiknya yang bernama Maria.
Maria menggeleng kemudian menyerahkan sebuah map berwarna coklat pada Rey.
"Kurir bilang dari tuan Lee."
"Kau boleh keluar."
Kemudian Rey membuka map tersebut dan menemukan satu fakta yang begitu mengejutkan, dan hasil dari tes DNA itu menunjukkan hasil negatif pada Tiffany dan positif pada Jessica.
Dan hal itu membuktikan bila Jessica adalah Ibu kandung dari Laurent, dan artinya wanita yang ia tiduri malam itu bukanlah Tiffany melainkan Jessica.
Rey menutup kedua matanya dan mendesah berat, tangannya terkepal erat diatas meja, kedua mata itu kembali terbuka dan memperlihatkan sorot yang begitu tajam dan berbahaya.
Dan kali ini Rey tidak akan melepaskan Tiffany, dia akan memberikan balasan yang setimpal atas semua yang dia lakukan selama ini.
-
Bersambung.
__ADS_1