
Halo kakak-kakak sekalian. Jangan lupa buat baca juga new novel Author yang baru netes ya. CINTA TULUS UNTUK KUPU-KUPU MALAM. Like koment selalu di tunggu 🙏🙏🙏
-
Luna terus menggerutu tidak jelas. Dia benar-benar kesal dan malu setengah mati. Bagaimana Kevin bisa melakukan hal semacam itu padanya? Dan bagaimana pula dia bisa begitu bodoh dan mengira jika Kevin akan mencium dirinya.
Sementara itu. Laurent yang juga melihat semuanya tertawa terbahak-bahak. Menurutnya kakak dan sahabatnya itu begitu menggemaskan. Dan Laurent merasa geli sendiri melihat ekspres Luna yang begitu menggemaskan.
Awalnya Laurent juga mengira jika Kevin akan mencium Luna, tapi dugaannya ternyata salah. Kevin bukannya ingin mencium Luna, tapi hanya ingin menggodanya. Dan Laurent sangat penasaran dengan kalimat yang Kevin bisikkan sampai-sampai membuat Luna kesal setengah mati.
Luna kembali ke kamar Laurent dan mendapati gadis itu tengah tertawa terbahak-bahak. Luna yang merasa kesal langsung melemparkan bantal kearahnya.
"Berhentilah tertawa seperti orang gila, Laurent Lu. Itu tidak lucu." Luna mempoutkan bibirnya. Laurent pun akhirnya berhenti tertawa, mencoba untuk tidak tertawa lagi lebih tepatnya.
"Oke, oke aku tidak akan tertawa lagi." Laurent mengangkat tangannya, jarinya membentuk huruf V.
Luna tak merespon. Gadis itu bangkit dari duduknya dan segera melesat pergi ke kamar mandi. Mungkin mengguyur tubuhnya dengan air dingin akan membuat hatinya yang panas menjadi dingin.
-
Suasana club malam tampak ramai seperti biasa, alunan music menggema menghentakkan telinga para pengunjung.
Kevin mengedarkan seluruh pandangannya, melihat banyaknya pengunjung club. Alasan keberadaan Kevin di club itu adalah Laurent. Laurent memaksa supaya dirinya mau ikut menghadiri pesta ulang tahun teman dekatnya. Karena jika Kevin tidak ikut, maka dirinya juga tidak mungkin bisa pergi. Kedua orang tua mereka tidak akan mengijinkannya.
Penampilan lelaki itu tidak bisa dibilang rapih. Sebuah kemeja hitam lengan terbuka yang di balut Leather Vest coklat serta jeans panjang dengan robekan di lutut yang senada dengan warna kemejanya.
Banyak perempuan berbisik saat melewati kursi yang Kevin duduki. Beberapa perempuan juga sempat mengedipkan matanya ke arah laki-laki itu. Kevin yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, ia acuh
__ADS_1
Baginya hal itu sudah biasa terjadi dimana pun dirinya berada. Salahkan saja dirinya, dimata para perempuan itu penampilan Kevin terlihat sexy, tidak heran para perempuan yang melihatnya seakan-akan ingin menerkamnya malam itu juga. Namun lagi-lagi Kevin tak mau peduli.
Kevin mengeluarkan sebatang rokoknya dan mulai menyalakan pemantik apinya. Pemuda itu menghembuskan asap rokoknya sambil memperhatikan sekelilingnya. Matanya memindai setiap pengunjung. Hampir semua yang datang adalah para penikmat one night, baik itu pria maupun wanita.
Kevin bangkit dari kursinya dan menghampiri seorang bartender yang sedang meracik minuman dan memesan.
Di bandingkan harus ikut Laurent dan teman-temannya yang saat ini sedang menggila di dance floor. Kevin lebih memilih menghabiskan waktunya dan menunggu di bar yang lebih tenang dan tidak sesak dengan orang. Jika boleh jujur, Kevin sangat benci keramaian dan lebih suka suasana yang tenang.
-
Suara hentakan music yang memekakan telinga masih terdengar menggema membuat benda-benda mati seakan ikut bergetar karena sangking keras iramanya, aroma minuman keras dan rokok mengisi udara di ruangan itu sama sekali tak mengganggu kegiatan berpuluh orang yang mengisi ruang club malam tersebut.
Para pengunjung terlihat asik meliukkan tubuhnya ke sana kemari di dance floor. Mereka menari seirama dengan musik yang di mainkan oleh DJ. Semua orang terhanyut dalam suasana.
Semakin malam mereka bukannya berhenti, semua orang malah semakin menggila, semua begitu menikmati dan malam ini menjadi semakin memanas. Di antara banyaknya manusia, ada satu orang yang terlihat kurang nyaman dengan suasana semacam ini. Dan jika bukan karena paksaan dari sabatnya, ia tidak akan terdampar di tempat mengerikan seperti ini.
"Di sini terlalu menyesakkan. Dadaku rasanya ingin meledak,"
"Baiklah, kalau begitu tunggu saja di bar. Keanu ada di sana." Ucap Laurent yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
Luna menghampiri Kevin yang sedang duduk di depan bar stool sambil menikmati minumannya yang tentu beralkohol. Luna menurunkan roknya yang tampak pendek bak kurang bahan itu. Jujur saja dia merasa tidak nyaman dengan apa yang dia pakai sekarang.
"Berikan O**range Jus untukku." Pinta Laurent pada bar tender yang sedang sibuk meracik minuman pesanan pelanggannya. Kemudian bartender itu mengerlingkan matanya dan jarinya membentuk huruf O.
"Kau sendirian, di mana Laurent?" tanya Kevin pada gadis di sebelahnya.
"Dia masih ada di bawah. Di sana terlalu sesak dan rasanya dadaku hampir meledak. Kenapa kau diam di sini sendirian dan tidak ikut bersenang-senang di bawah sana?"
"Hn, aku benci keramaian."
__ADS_1
"Sudah ku duga. Kau memang tidak berubah sama sekali, selain bertambah tinggi dan wajahmu yang semakin tampan. Tak banyak hal yang berubah darimu." Ujar Luna seraya tersenyum tipis.
Kevin tak merespon apa yang Luna katakan. Pemuda itu memilih diam sambil terus memainkan gelas berisi cairan berwarna keemasan di tangannya.
Entah kenapa hatinya terasa begitu hangat setengah mendengar apa yang Luna katakan. Memang banyak pujian yang datang padanya. Tapi rasanya begitu berbeda ketika Luna yang mengatakannya.
Sementara itu....
Di tempat Laurent. Laurent dan Teresa terlihat asik meliukkan tubuhnya di antara puluhan pengunjung yang datang. Mereka berdua begitu menikmati suasana panas malam ini.
Tak jauh dari tempat mereka menari,terlihat beberapa teman satu jurusan mereka yang juga sedang menari dengan lincahnya. Bahkan beberapa diantaranya ada yang menggila dan melepaskan bajunya.
Semua orang bersorak. Bukan karena terpesona dengan bentuk tubuh pemuda itu. Melainkan karena tubuhnya yang terlalu kurus. Tapi pemuda berkaca mata itu tak mau ambil pusing dan mengabaikannya. Dia tetap menari dengan hebohnya bersama teman-temannya.
"Laurent, kau bintangnya malam ini. Kau terlihat paling cantik dan paling menonjol diantara yang lainnya." Seru Sean setengah berteriak.
"Hahaha. Tentu saja, karena aku memang sangat cantik. Aku menyukai pestamu ini. Ini benar-benar sangat luar biasa."
"Apa kau menikmatinya?" tanya Sean yang segera di balas anggukan oleh Laurent.
"Ya, tentu saja. Pesta ini sangat meriah dan menyenangkan. Bagaimana mungkin aku tidak menikmatinya!!"
Sean merangkul bahu Laurent. Dan keduanya kembali menari. Sedangkan Tetesa sudah pergi entah kemana. Karena Teresa tak mengatakan apapun pada Laurent. Gadis itu terlihat memisahkan diri sejak beberapa saat yang lalu.
Tapi Laurent tak mau ambil pusing, dia ingin bersenang-senang. Dan dia yakin jika sahabatnya itu juga sedang bersenang-senang. Malam ini sempurna, club malam satu-satunya tempat yang memang sangat tepat untuk menemukan kesenangan sesaat.
-
Bersambung.
__ADS_1