
Rey hanya menatap datar pria yang tengah duduk berhadapan dengannya. Sedari tadi pria itu hanya menundukkan kepalanya dan tidak berani membalas tatapan Rey yang terlihat tajam dan mengintinidasi.
Berkali-kali Diego menyeka peluh yang menetes di dahinya. Dia benar-benar gugup dan takut. Berhadapan dengan Rey sama saja dengan uji nyali. Begitulah yang dia pikirkan.
"Sampai kapan kau akan diam saja seperti orang bodoh dan membuang waktu berhargaku. Jika memang tidak ada hal penting yang ingin kau sampaikan, sebaiknya pergi saja. Kau sudah terlalu lama membuang waktuku!!"
"Tunggu, Rey. Sebenarnya aku kemari karena ingin minta maaf padamu. Selama ini aku sudah salah paham dan menuduhmu yang tidak-tidak, aku-"
"Bagus kalau kau menyadarinya!!" Rey menyela cepat. "Apa sekarang kau percaya dengan apa yang aku katakan. Jika tidak ada urusan lagi sebaiknya kau pergi. Aku masih ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!!"
Diego menatap Rey dan mendesah berat. Memang sangat sulit bicara dengan Rey jika dia sudah hilang kesabaran. Apalagi Rey bukanlah tipe orang yang mudah untuk memaafkan. Dan Diego menyadari jika semua adalah kesalahannya.
Tanpa menghiraukan Diego. Rey bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Diego terlalu banyak membuang banyak waktunya yang sangat berharga dan dia membenci hal itu.
-
Suasana ruang UGD yang mulanya hening berubah sedikit ribut ketika baru saja datang pasien yang di bawa mobile Ambulance. Tampak beberapa petugas rumah sakit dan suster sedang membawa ke salah satu ruang perawatan.
"Dokter Jessica, ada seorang pasien kecelakaan yang baru saja tiba. ia kehilangan cukup banyak darah dan harus mendapatkan pertolongan segera, dok," lapor salah seorang suster.
Dokter muda dan cantik yang baru saja akan duduk beristirahat setelah melakukan pemeriksaan dengan beberapa pasien sebelumnya langsung berdiri sambil berlari kecil menuju salah satu ruang perawatan yang di maksud suster itu.
Dengan cekatan, ia memeriksa detak jantungnya, tekanan darah, mata dan beberapa organ lainnya.
"Kondisi pasien sangat tidak stabil," gumamnya.
"Pasien mengalami benturan hebat di kepalanya. Dia kehilangan banyak darah dan harus membutuhkan donor darah secepatnya. Tapi stok darah yang sesuai dengan darah pasien sedang kosong, dokter. Dia memiliki golongan darah tipe O negatif," suster yang berada di samping dokter itu menambahkan.
Jessica berfikir sejenak. "Tidak ada pilihan lain. Ya sudah, sebaiknya gunakan darahku saja. Kebetulan golongab darah kami sama," ucap Jessica dan berlalu, sedangkan beberapa suster lainnya yang tetap tinggal di ruangan itu kembali membersihkan darah yang ada di wajah pasien.
Selang beberapa jam kemudian, Jessica pun kembali memeriksa keadaan pasien tersebut. Untuk memastikan apakah keadaannya sudah mulai stabil atau belum.
"Bagaimana keadaannya, sus?" tanyanya pada suster yang menjaga pasien itu.
__ADS_1
Suster itu menoleh. "Keadaannya semakin membaik, dia akan segera siuman, saat ini dia masih ada di bawah pengaruh obat bius. Dan untung saja ada Anda yang mendonorkan darah untuk pasien ini, Dokter. " Jawab suster itu. Jessica mengangguk sambil menghela napas panjang.
Senyum manis tersenyum di bibirnya. Menyelamatkan sebuah nyawa adalah kenikmatan yang berharga terutama untuk seorang dokter sepertinya. Lagipula itulah sumpah yang dia ambil ketika dia diLantik menjadi dokter.
-
Kevin menatap dingin beberapa anak laki-laki yang menghalangi jalannya. Bocah berusia enam tahun tersebut terlihat menghela napas. Dia tidak tau apa lagi yang mereka inginkan kali ini.
"Mau apa lagi kalian?"
"Serahkan uangmu, kami tau kau adalah anak orang kaya. Jadi cepat serahkan uangmu pada kami."
"Oh, jadi kalian ingin memalakku?"
"Kalau iya memangnya kenapa? Kau ingin melawan? Memangnya apa yang bisa di lakukan oleh bocah sepertimu?Jangankan melawan kami, di dorong sedikit saja kau pasti sudah jatuh."
"Kalian sudah bosan hidup ya?! Berani sekali mengganggu Kakakku." Laurent datang sambil membawa sebuah minuman yang kemudian dia tumpahkan di atas kepala anak bertubuh gendut tersebut. "Minta maaf sekarang atau aku akan melaporkannya pada kepala sekolah?!"
"Aisshh...!! Dasar bocah menyebalkan!! Mengganggu kesenangan orang saja. Ayo pergi."
"Bagaimana aku bisa melawan mereka, jika kau tiba-tiba datang dan membuat mereka kabur semua." Kevin mengacak rambut panjang adik kembarnya.
"Itu karena aku lebih pemberani dari pada dirimu!!"
Kevin mendecih. "Sudahlah, sebaiknya kita kembali ke dalam kelas. Guru bisa memarahi kita dan kemudian melaporkannya pada mami, kau belum tau bagaimana mengerikannya mami jika sedang marah." Ucap Kevin dan kemudian pergi begitu saja.
"Kakak Kevin, tunggu!!" seru Laurent.
-
Mendung membentang di langit Seoul dengan kilat yang sesekali muncul tanpa suara menghiasnya. Pertanda jika hujan akan segera turun semakin jelas, semua orang mulai panik hingga berlarian untuk cepat mencari tempat berteduh.
Tak sedikit para pejalan kaki yang telah mengeluarkan payung dari tas-tas mereka. Persiapan sedini mungkin untuk menghadapi hujan yang sepertinya akan turun dengan lebat melihat keadaan langit yang tampak gelap gulita itu.
__ADS_1
Tak terkecuali wanita satu ini. Jessica baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan berencana untuk pulang. Tapi sepertinya keadaan tidak mendukung saat ini.
Awan di langit terlihat semakin mengelap, rintihan langit mulai terdengar. Tetes demi tetes air hujan turun membasahi apapun yang disentuhnya. Wanita itu hanya berdiri menikmati setiap tetesan air hujan yang turun dengan sangat derasnya.
Dingin, satu kata yang menggambarkan suhu udara saat ini.
Jessica bingung harus bagaimana sekarang. Sepertinya dia akan terjebak di rumah sakit dalam waktu yang lama jika hujan tidak segera reda.
"Kau belum pulang?" tegur seseorang dari arah belakang. Terlihat Antolin menghampiri Jessica sambil menggenggam sebuah payung di tangan kanannya. "Bagaimana kalau ku antar kau pulang? Aku yakin Rey tidak akan keberatan."
"Tidak usah sunbae, aku akan menunggu sampai hujan reda saja."
"Kau yakin? Bagaimana jika hujannya sampai malam? Apa kau mau terjebak di sini sampai selama itu?"
"Aku akan menghubungi Rey supaya menjemputku di sini."
"Kau yakin?" Jessica mengangguk. "Baiklah kalau begitu, aku duluan."
Jessica merapatkan mantelnya karena rasa dingin yang serasa semakin menusuk sampai ke persendian tulang. Cuaca memang sangat sulit untuk di prediksikan. Padahal tadi pagi langit terlihat cerah dan tak ada tanda-tanda jika hujan akan turun. Tapi lihatlah yang terjadi sekarang, hujan benar-benar turun dengan lebatnya.
Satu jam telah berlalu. Tapi hujan tak kunjung reda. Dan Jessica benar-benar terjebak. Ia memutuskan untuk kembali ke ruangannya sampai hujannya reda. Dan selama satu jam itu tak ada yang bisa dia lakukan selain bermalas-malasan di atas sofa di dalam ruangan tersebut.
Jessica mencoba menghubungi Rey supaya menjemputnya. Tapi ponselnya malah tidak aktif dan itu membuatnya sangat frustasi.
Cklekk....
Decitan suara pintu di buka dari luar mengalihkan perhatian Jessica yang sedang berbaring di atas sofa. Wanita itu menolehkan kepalanya dan mendapati Rey masuk dengan pakaian setengah basah. Sepertinya suami tampannya itu sempat menerobos hujan ketika keluar dari mobilnya.
Jessica bangkit dari posisinya dan menghampiri Rey. "Kau di sini?" ucapnya tak percaya.
"Hm, aku mencoba menghubungimu. Tapi ternyata ponselku habis batere. Hujan sudah agak reda, sebaiknya kita pulang sekarang." Ucap Rey yang kemudian di balas anggukan oleh Jessica.
"Baiklah."
__ADS_1
-
Bersambung.