
"PAPA..!!"
Tubuh Rey terhuyung kebelakang karna ulah seorang bocah perempuan yang melompat dan naik ke atas pangkuannya. "Laurent, apa yang kau lakukan di sini? Dan dengan siapa kau datang?" Heran Rey melihat kedatangan Laurent yang hanya seorang diri.
"Papa, Mama menindasku lagi. Pokoknya Papa harus menceraikan wanita itu. Laurent tidak mau memiliki Mama yang galak seperti Mama Tiffany. Pokoknya tidak mau."
"Jaga ucapanmu, Lu Laurent! Bisa-bisanya kau memfitnah Mamamu sendiri!! Jika bukan karena kau yang nakal, Mama juga tidak mungkin menghukummu. Kemari kau anak nakal, dan jangan coba-coba bersembunyi apalagi mencari perlindungan dari papamu."
BRAKKK..!!
Tiffany terkejut dan terlonjak kaget karena gebrakan pada meja. "CUKUP TIFFANY HONG
!! BERHENTI MEMPERLAKUKAN PUTRIMU SENDIRI DENGAN SANGAT BURUK. KAU IBU KANDUNGNYA, TAPI KENAPA KAU BERSIKAP SEPERTI SEORANG IBU TIRI!" Bentak Rey marah.
Kesabaran Rey benar-benar sudah sampai pada puncaknya. Meskipun Laurent adalah putrinya, tapi Tiffany tidak pernah memperlakukannya dengan hangat. Dia selalu bersikap kasar pada gadis kecil yang terlihat menggemaskan itu.
Tubuh Tiffany sedikit gemetar karna bentakkan Rey. Wanita itu sedikit ketakutan apalagi melihat tatapan dingin Rey yang begitu menusuk dan penuh dengan intimidasi.
Sudah delapan tahun mereka tinggal dalam satu atap sebagai sebagai suami-istri, tapi tak sekali pun Rey memperlakukannya dengan hangat. Rey menikahinya bukan karena cinta, tapi karena Tiffany sudah melahirkan putrinya.
"Ingat posisimu Tiffany Hong, berhenti menguji kesabaranku. Aku membiarkanmu tetap tinggal di rumahku karena kau adalah Ibu dari putriku, jadi jaga batasanmu jika kau tidak ingin aku sampai mendepakmu keluar." Rey membawa Laurent dalam pelukkannya dan meninggalkan Tiffany begitu saja.
Gyuttt,,!!
Tiffany mengepalkan kedua tangannya. Dengan marah dia menatap kepergian ayah dan anak tersebut.
"Rey Lu, lihat dan tunggu saja, jangan pernah panggil aku Tiffany Hong jika aku tidak bisa meluluhkan hatimu."
Dan entah sudah berapa kali Tiffany mengatakannya. Tapi nyatanya dia tidak pernah bisa meluluhkan hati Rey hingga detik ini. Rey terlalu tinggi untuk dia raih.
.
.
.
Rey menatap gadis kecik yang duduk disamping kanannya dan mendesah berat. Sejujurnya Rey merasa kasihan pada Laurent, sejak bayi dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Tiffany, bahkan Tiffany menolak dengan berbagai alasan ketika dia memintanya untuk memberikan asinya pada Laurent, Tiffany selalu memberinya susu formula.
Rey mengusap kepala coklat Laurent dengan penuh sayang. "Hei, Nak, kau ingin mampir ke suatu tempat?" tanya Rey.
Laurent mengangguk. "Lapar, Pa... bisakah kita mampir dulu ke cafe milik paman Dio?" Rey mengusap kembali kepala Laurent dan mengangguk
"Tentu, Nak."
Meskipun Rey terkenal sebagai CEO yang dingin. Tapi sikapnya akan berubah 180° ketika sudah berhadapan dengan Laurent. Hanya pada bocah itu dia bersikap hangat karena Laurent adalah sebuah pengecualian dalam hidupnya.
__ADS_1
"Pa, kapan kau akan menceraikan mama Tiffany?" Rey mengerutkan dahinya dan menatap putrinya itu tidak percaya.
"Jadi kau bersungguh-sungguh ingin agar Papa berpisah dengan mamamu? Tapi kenapa, bukankah dia adalah mama kandungmu, mama yang telah melahirkanmu?"
Laurent langsung memasang wajah cemberut ketika Rey mengungkit hal yang paling tidak di sukaiya tersebut. "Itu benar. Mama Tiffany memang mamaku!! Tapi dia sangat kejam padaku , dan aku tidak menyukai mama seperti itu. Jadi aku mendukung Papa untuk berpisah dengannya."
Drett.. Drett.. Drett..!!
Perhatian Rey teralihkan oleh getar pada ponselnya. Terlihat nama Chan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Rey membiarkan ponselnya terus bergetar tanpa berniat untuk mengangkatnya.
Mobil sport hitam yang dikendarai oleh Rey tiba disebuah cafe. Laurent segera turun dari mobil tersebut di susul Rey yang berjalan dibelakangnya. "PAMAN." suara mirip lumba-lumba itu menyita perhatian semua orang di sana, termasuk tiga orang yang duduk di dekat jendela.
Bocah perempuan itu berlari menghampiri Dio yang sedang melayani para tamu, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti begitu saja. "Eoh, Bibi sangat cantik. Boleh aku tau nama Bibi?" tanya Laurent pada sosok wanita cantik yang langsung menarik perhatiannya.
Wanita itu tersenyum lembut. "Tentu, nama Bibi adalah Jessica, namamu siapa Nak?" tanya wanita itu yang ternyata adalah Jessica.
"Ahh, namaku adalah Laurent. Bibi sangat cantik dan hangat, aku menyukai bibi." Laurent tersenyum dengan begitu manis, membuat Jessica tidak tahan untuk tidak mencubit pipinya.
"Jangan menyukainya. Dia, Mamiku." Seru Kevin sambil bersidekap dada. "Hei bocah pendek, pergi sana dan jangan ganggu Mamiku." Usir Kevin namun diindahkan oleh Laurent.
Bocah perempuan itu terlihat menjulurkan lidah pada Kevin. Dengan manja dia memeluk lengan Jessica yang tertutup lengan tipis dressnya. Dan Jessica tidak bisa menolaknya.
"Tidak mau!! Bibi cantik saja tidak keberatan. Tapi kenapa malah kau yang keberatan? Kau seperti kebakaran jenggot." Sekali lagi Laurent menjulurkan lidahnya pada Kevin. "Bibi cantik, senang bertemu denganmu. Byebye, sampai jumpa lagi." Laurent mencium pipi Jessica dan memeluknya sebelum pergi dari sana.
Sementara itu, Rey yang melihat sikap putrinya tentu merasa terheran-heran. Bagaimana tidak, ini adalah pertama kalinya dia mau berinteraksi dengan orang lain apalagi dia bersikap begitu berbeda pada Jessica yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan mereka. Bahkan itu pertama kalinya mereka bertemu.
Jessica melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Sudah siang, sebaiknya kita pulang sekarang." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Sunny dan Kevin.
-
Rey Lu...! Siapa yang tidak mengenalnya. CEO muda pendiri Lu Empire yang terkenal dingin, arogan dan tidak kenal kata ampun pada siapa pun yang berani mencari masalah dengannya.
Tidak ada sisi hangat dalam diri Rey. Selain bermulut tajam dan irit bicara, Rey juga sangat minim ekspresi, dia tidak pernah bersikap hangat pada siapa pun termasuk Tiffany yang notbainnya adalah Istrinya. Tidak ada kehangatan dan keharmonisan dalam pernikahan mereka yang sudah berjalan selama delapan tahun, dan hanya pada putrinya dia bisa bersikap berbeda.
Tokk..! Tokk..!
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Rey dari tumpukan dokument yang ada didepannya. Decitan suara pintu terbuka terdengar selanjutnya dan sosok Tiffany terliha menghampiri Rey sambil menenteng sebuah kotak makanan yang dibungkus kain bermotif bunga.
Senyum di sudut bibir Tiffany mengembang lebar, tapi tidak dengan Rey, laki-laki itu menyikapi kedatangan Istrinya dengan dingin.
"Sedang apa kau di sini?"
"Beginikah caramu menyambut istrimu yang datang membawakanmu sarapan, kau belum sarapan pagi ini? Aku memasak banyak makanan kesukaanmu, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" usul Tiffany sambil menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
"Ayolah suamiku, sampai kapan kau akan mengabaikanku terus menerus? Kemarin kau berusaha mengusirku dan berniat untuk menceraikanku, tapi aku tidak marah dan memaafkanmu. Tidak adakah inisiatif dalam hatimu untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan kita?"
__ADS_1
Rey mengangkat wajahnya dan menatap Tiffany dingin. "Memangnya apa yang perlu diperbaiki? Bahkan sejak awal pernikahan kita sudah tidak sehat, ingat Tiffany Hong, posisimu dalam keluargaku tidak lebih dari Ibu Laurent. Jadi jangan pernah mengharapkan lebih dariku. Pergilah, aku sedang sibuk."
"Kita lihat, apa kau masih bisa menolakku lagi?" wanita itu menyeringai.
Tiffany naik keatas pangkuan Rey dan menakup wajahnya. Wanita itu mendekatkan wajahnya dan meyatuhan bibirnya dengan bibir Rey, memagutnya dengan paksa dan tanpa balasan
Brug'
Dengan kasar Rey mendorong tubuh Tiffany hingga wanita itu terjerembat kelantai "Kau.. dalam masalah besar Tiffany Hong." kemudian Rey beranjak dan meninggalkan Tiffany begitu saja.
Tiffany memukul lantai dengan emosi. Ia benar-benar kesal setengah pada pria dingin itu. Seberapa keras pun dia mencoba, namun tetap saja tidak bisa menggapai hatinya. Rey terlalu jauh untuk digapai.
"Omo? Apa yang sedang kau lakukan di sana? Apa Boss baru saja melemparmu dari pangkuannya? Kekeke, aku tidak bisa membayangkannya. Dan di mana Boss? Apa dia sedang keluar?"
"TERUS SAJA TERTAWA TIANG GILA, KAU FIKIR INI LUCU. KEMARI DAN BANTU AKU BERDIRI."
"Ye, kenapa malah aku yang harus membantumu. Aku tau jika kau tidak dalam keadaan lumpuh, jadi bangun sendiri saja, oke. Karna aku di sini untuk bertemu Boss, byebye."
"TIANG GILA...!!"
Chan terkekeh. "Ternyata seru juga menggoda penyihir itu." ucapnya lalu melanjutkan langkahnya. Ia harus menemui Rey karena ada hal penting yang harus dia sampaikan padanya.
"Aisshh! Kemana perginya rusa kutub itu? Kenapa cepat sekali menghilangnya." heran Chan sambil menggaruk tengkuknya.
Dari arah belakang, samar-samar Chan mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang.
Tiffany berjalan melewatinya begitu saja sambil terus mengoceh tidak jelas membuat Chanyeol bergidik sendiri. "Sepertinya dia baru saja kerasukkan setan lantai. Ihhh..! Menyeramkan." Chan bergegas pergi dan melanjutkan mencari Rey
"Kau melihat Boss?" tanya Chan pada salah satu pegawai.
"Dia baru saja pergi."
"Kau tau mau pergi ke mana dia?" pegawai itu menggeleng "Aissh! Kenapa dia malah menghilang di saat-saat yang penting seperti ini." keluh Chan setengah frustasi.
Sementara itu. Mobil yang Rey kendarai terlihat melaju kencang pada jalanan yang legang. Iris abu-abunya fokus pada jalanan beraspal yang ada didepannya. Tidak terlalu banyak kendaraan karna ini masih jam kerja selain beberapa kendaraan umum.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Rey memicingkan matanya melihat siapa yang menghubunginya. "Ada apa, apa Laurent membuat masalah lagi?" tanya Rey.
'Nona muda dari pagi rewel, Tuan! Nona muda ingin diantarkan ke kantor, tapi saya tidak berani tanpa ijin dari Anda.'
Rey mendesah berat. "Bilang padanya untuk tidak menangis lagi, aku akan tiba di rumah dalam dua puluh menit lagi." kemudian Rey memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.
Rey melemparkan benda tipis itu pada jok kosong samping kanannya. Rey menambah kecepatan pada mobilnya agar bisa segera tiba di rumah karena dia tidak ingin membuat Laurent menunggunya terlalu lama.
-
__ADS_1
Bersambung.