Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Aksi Laurent dan Kevin


__ADS_3

Jessica menghampiri seorang gadis kecil pengidap Leukimia yang sedang duduk sendiri di taman rumah sakit. Wanita itu baru kembali dari memeriksa para pasiennya.


"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jessica memulai pembicaraan.


Kemudian gadis kecil itu menoleh dan tersenyum. "Melihat mereka bermain, aku ingin bermain seperti mereka, tapi aku tidak memiliki teman." Jawabnya menunduk.


Jessica pun merasa kasihan padanya. Anak itu terlihat begitu kesepian. "Bagaimana kalau kau bermain bersama Dokter saja? Kau ingin bermain ayunan?" tanya Jessica memberi penawaran.


Gadis kecil itu mengangguk. "Aku mau, Dokter." Jawabnya antusias.


"Cha, kita bermain sekarang." seru Jessica dan mulai mendorong ayunan tersebut.


Wajah muram gadis itu hilang seketika dan senyum lebar terlihat menghiasi wajah pucatnya. Dia merasa senang karena ada yang menemaninya bermain. Ibunya tidak selalu bisa menemaninya karena harus bekerja, sementara Ayahnya kabur sejak dirinya dinyatakan sakit Leukimia.


Tiba-tiba ponsel dalam saku jas kedokteran Jessica berdering dan nama Sunny tertera di sana. Jessica langsung menerima panggilan tersebut. "Ne Sunny-ya, ada apa?" tanya Jessica to the poin.


'Keruanganmu sekarang. Tuan Lu datang dalam keadaan terluka dan berlumur darah.'


"A-apa? Baiklah aku akan segera ke sana. Nak, maaf Dokter harus pergi sekarang, nanti kita main lagi ini karna ini sangat mendesak." gadis kecil itu mengangguk.


Brakk..!


Dobrakan keras pada pintu mengalihkan perhatian Rey, Jessica menghampiri laki-laki itu dengan langkah tergesa-gesa. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini?" tanya Jessica melihat sebagian wajah Rey yang berlumur darah. Wanita itu mengambil peralatannya dan membawanya pada Rey.


"Tiffany datang dan mengamuk di kantor. Dia melemparkan was yang sudah dia pecahkan pada kepalaku dan merobek pelipis kiriku serta melukai bawah mataku." Jelasnya.


Jessica mendesah berat. Dia tidak tau sampai kapan Tiffany akan terus berulah dan selalu membuat masalah.


"Lalu bagaimana dengan dia sekarang?" tanya Jessica memastikan.


"Aku menjebloskannya ke dalam penjara, dan sekarang dia sedang di interogasi oleh polisi. Kau terlihat lelah, sebaiknya istirahat dulu." Ucap Rey melihat wajah Lelah Jessica.


Wanita itu menggeleng. Meyakinkan pada Rey jika dia baik-baik saja. "Aku baik-baik saja, tidak perlu mencemaskan apapun. Aku akan menjahit lukanya dan mungkin ini akan sedikit menyakitkan." Rey mengangguk paham.


Setelah membersihkan darahnya dan menjahit lukanya. Jessica menutup luka dipelipis kiri Rey dengan perban dan plaster, sedangkan luka di bawah matanya di tutup plaster luka selebar dua jari orang dewasa.


"Aku akan membereskan ini dulu, sebaiknya kau istirahat saja di sini, dan tidak usah kembali ke kantor." saran Jessica yang terdengar seperti sebuah perintah.


Rey melepas kemeja putihnya yang berlumur darah lalu memasukkan ke dalam tong sampah di samping sofa, menyisahkan singlet putih yang mengikuti lekuk tubuhnya. Lalu dia memakai kembali Vest V-Necknya sebagai luaran singletnya


'Glukk'


Susah payah Jessica menelan salivanya saat berbalik dan mendapati Rey terlihat begitu panas dalam balutan pakaian yang ia pakai saat ini. Pakaian lengan terbuka itu memperlihatkan sebuah tribal pada lengan kanannya yang selalu mampu menarik semua atensinya. Dan tak ingin terlihat bodoh, sebisa mungkin Jessica menyembunyikan kegugupannya.


"Ini minum dulu obatnya. Obat ini akan mengurangi rasa sakitnya." Jessica memberikan beberapa butir obat pada Rey yang kemudian diminum bersamaan olehnya.


"Aku masih harus memeriksa para pasienku, kau tetaplah di sini." ucap Jessica yang kemudian di balas anggukan oleh Rey.


Selepas kepergian Jessica, di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Rey sendiri. Rey berbaring pada sofa dengan satu tangan menutupi sebagian wajahnya. Kepalanya sedikit pusing mungkin karena efek dari hantaman vas bunga tadi. Dan untuk sebentar saja, Rey ingin menutup matanya dan mengintirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.

__ADS_1


Baru saja Rey akan menutup matanya. Tapi tiba-tiba ponselnya yang ada diatas meja berdering. Laki-laki itu bangkit dari posisi berbaringnya dan mendapati nama Chanyeol tertera di sana. Rey menerima panggilan tersebut.


"Ada apa, Chan?" tanya Rey to the poin.


'Boss, betina itu melarikan diri dan kepolisian gagal menangkapnya. Aku sedang mengejar taxi yang dia tumpagi dan sepertinya dia menuju Mansion. Boss, mungkin nona muda dalam bahaya. sebaiknya kau...!'


Tut.. tut.. tut!


Panggilan tersebut terputus begitu saja. Rey mengakhiri panggilannya sebelum Lee Chan menyelesaikan kalimatnya.


"Rey, ada apa? Kenapa kau terlihat panik?" bingung Jessica melihat kepanikan Rey. Wanita itu baru kembali dari memeriksa pasiennya.


"Mungkin keselamatan Laurent berada dalam bahaya. Tiffany melarikan diri dari kantor polisi dan sekarang dia menuju mansion. Aku harus bergegas ke sana." Tutur Rey.


"Aku akan ikut denganmu." ucap Jessica yang kemudian di balas anggukan oleh Rey.


Dan Rey tidak akan melepaskan Tiffany jika dia sampai berani menyakiti apalagi sampai membahayakan keselamatan putri kecilnya. Rey akan membuat perhitungan dengan Tiffany dan memberikan pembalasan yang setimpal padanya.


-


Kevin dan Laurent terlihat sibuk mempersiapkan jebakkan untuk menyambut kedatangan Tiffany. Chan telah menghubungi Laurent agar dia bersembunyi karena Tiffany akan datang untuk menyakitinya.


Bukannya bersembunyi seperti yang Chan perintahkan, Laurent malah bekerja sama dengan Kevin membuat jebakan untuk menyanbut kedatangan wanita itu. Tapi dengan bantuan beberapa orang tentunya.


Di pintu masuk, Laurent telah menyiapkan satu ember tomat dan telur busuk yang telah dicampur dengan air sabun. Sedangkan di pintu kamarnya, di pasang kabel terbuka yang akan membuat siapa pun tersetrum saat menyentuhnya.


Laurent dan Kevin ingin mengajak Tiffany bersenang-senang sebentar sampai orang tua mereka datang.


Bocah itu mendapatkan sebuah ide lagi. Kevin tampak berfikir lalu mengangguk setuju. "Tidak buruk, cepat gih ambil minyaknya di dapur. Aku akan memasang jebakkan lain di sini." Laurent mengacungkan jempolnya dengan bersemangat.


"Oke." jawabnya begitu antusias.


Bocah perempuan itu pergi ke dapur untuk mengambil minyak goreng, sedangkan Kevin memasang tali transparan di dekat tangga, tali itu akan membuat Tiffany terjatuh saat salah satu kakinya menyentuhnya.


Setelah selesai. Laurent menghampiri Tao yang baru saja selesai memasang ember itu di atas pintu. "Paman Tao bagaimana?" tanya Laurent memastikan.


"Beres Nona Muda, dan aku dengar mobil nyonya Tiffany sudah melewati gerbang utama, dan dalam lima menit dia akan tiba di sini." ujar Tao


"Bagus sekali, Paman sebaiknya kau pergi dan ajak yang lain juga. Kita akan membuat suasana di rumah ini sesepi mungkin seolah hanya ada aku dan Oppa Kevin yang ada di rumah. Kalau papa dan bibi cantik datang, segera beri tau mereka juga kami, jangan sampai jebakan yang kami buat malah mengenai mereka." ucap Laurent panjang lebar.


"Beres Nona Muda, kalau begitu Paman sembunyi dulu dan melihat pertunjukkan kalian dari kejauhan." Laurent mengacungkan jempolnya.


Laurent menghampiri Kevin yang sedang duduk di sofa sambil melipat tangannya. Gadis kecil itu menatap sang kakak yang sedang menutup kedua matanya. "Kakak Kevin, aku baru sadar kalau kau itu sangat tampan, bagaimana jika setelah dewasa kita menikah saja?" ucap Laurent membuat kedua mata Kevin terbuka seketika.


Bocah laki-laki itu menatap Laurent datar dan menghadiahi sebuah jitakan pada kepala coktanya. "Appo, Kakak kenapa kau malah menjitakku? Apakah ada yang salah dengan ucapanku? Kau pria dan aku wanita, setelah dewasa pasti kita akan sangat cocok." ujarnya.


"Jangan sembarangan Lu Laurent, kita tidak bisa menikah karna kita berdua bersaudara. Kita berdua lahir dari rahim yang sama, dan lagi pula aku tidak sudi memiliki pasangan cenggeng dan manja sepertimu."


Laurent mencerutkan bibirnya. "Jahat, aku tidak manja dan tidak cenggeng. Memang kata siapa kita bersaudara, dan kita berdua lahir dari rahim yang sama? Kalau begitu mungkinkah aku ini adalah anak bibi cantik sama sepertimu? Apakah dia adalah mamaku yang sebenarnya?" Pekik Laurent tak percaya.

__ADS_1


"Dasar lamban, kenapa lama sekali otakmu mencernanya. Bukankah sudah sejak lama aku memberimu kode dengan memanggil papa Rey dengan sebutan papa, tapi kenapa kau tidak peka juga."


"Itu karna aku...!"


BRAKKK...!!


Ucapan Laurent terhenti karena dobrakkan pada pintu dan kedatangan seorang wanita yang ditangannya menggenggam pisau, dan wanita itu adalah Tiffany.


"Lu Laurent, akhirnya kita bertemu lagi. Mama sangat merindukanmu anakku." Tiffany menunjukkan belatinya sambil menyeringai. Dia mulai melangkahkan kakinya dan...


'Byurrrr'


Tubuhnya langsung di mandikan dengan satu ember tomat dan telur busuk. "APA-APAAN INI? YAKK..! BOCAH SETAN, APA INI PERBUATANMU." teriak Tiffany marah.


Tiffany kembali melangkahkan kakinya, dan lagi-lagi dia menyandung sebuah tali, Tiffany mendongak dan kedua matanya membelalak, satu ember tepung mengguyur tubuhnya detik itu juga. Laurent dan Kevin terkejut, mereka tidak ingat jika meminta Tao meletakkan tepung juga, tapi tidak buruk dan tepung itu membuat Tiffany terlihat seperti sebuah tempura raksasa yang siap di goreng.


"Kalian, berani-beraninya kalian melakukan hal ini padaku."


"Ck, diamlah bibi, kau sudah terlihat seperti nenek-nenek. Lihatlah wujudmu sekarang, kau mirip tempura raksasa."


"Diam kau bocah, memangnya siapa yang mengijinkanmu untuk bicara?" teriak Tiffany marah "Dan kalian harus dihukum."


Laurent bangkit dari duduknya. "Kalau kau bisa ayo lakukan dan kejar kami sekarang." tantang Laurent yang kemudian berlari menuju lantai dua.


Laurent dan Kevin berjalan hati-hati saat melewati tangga ke sepuluh di mana mereka menyiramkan minyak. Tiffany bergegas mengejar mereka "Yak! Jangan kabur kalian, kembali biar aku cincang tubuh kalian berdua." teriak Tiffany seperti orang gila.


Tiffany berjalan menaikit tangga dengan sedikit terburu-buru, namun di tangga kesepuluh tiba-tiba dia kehilangan keseimbangannya karna terpeleset minyak. Kedua mata Tiffany membelalak, tubuhnya roboh dan menggelinding ke bawah dengan tidak elitnya.


"Hahaha.."


Laurent tertawa melihat bagaimana tubuh Tiffany yang jungkir balik meluncur kebawah sedangkan Kevin tetap memasang muka datarnya "Aaahhh." wanita itu memekik saat kepalanya berbenturan dengan ujung meja. Akibatnya pelipis kirinya robek dan mengeluarkan banyak darah.


"Hei bibi, bukankah kau ingin mengejar kami? Kenapa kau malah tiduran di sana." Seru Kevin. Tiffany mengangkat wajahnya dan menatap bocah itu tajam.


"Diamlah kau bocah setan. Kali ini aku tidak akan melepaskan kalian lagi, aku akan menguliti tubuh kalian dan menjual organ kalian berdua ke pasar gelap dan aku akan untung besar."


"Jangan bicara saja. Buktikan jika kau memang mampu." Tantang Kevin.


Kevin dan Laurent buru-buru masuk ke dalam kamar lalu menutupnya. Mereka tak menyentuh sedikit pun gagang pintu yang sudah terpasang kabel, keduanya tidak ingin sampai hangus kesetrum dan membuat senjata makan tuan pada endingnya.


"Mama, kau bilang ingin organ kami. Kalau begitu cepat masuk." teriak Laurent kemudian terkekeh. Kevin dan Laurent mulai menghitung mundur ketika mendengar suara derap langkah kaki seseorang yang datang.


"Tiga, dua, sa....tu..!" tepat di hitungan ke satu mereka mendengar suara teriakan dari luar pintu.


Buru-buru Kevin mematikan strumnya dan membuka pintu itu, Tiffany terduduk di depan pintu dengan wajah menghitam dan rambut mengembang.


"Ka-kalian berdua. Aku pasti akan membunuh kalian, sebisa mungkin Tiffany mencoba untuk berdiri dan berjalan menghampiri kedua bocah itu sambil menggenggam erat pisaunya. Tiffany mengangkat tinggi-tinggi belatinya dan...


"Matilah kalian bocah setan..!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2