
Puluhan orang berpakaian glamour memenuhi sebuah dek kapal pesiar yang tengah berlabuh mengarungi lautan.
Mereka semua turut memeriahkan resepsi pernikahan seorang CEO muda yang begitu terkenal dengan seorang dokter cantik yang telah memberinya sepasang permata yang tak akan pernah ternilai harganya. Dan pasangan pengantin itu adalah Rey dan Jessica.
Jika di tanya apakah Jessica bahagia dengan pernikahannya tersebut? Maka jawabannya tidak, dibandingkan dengan kata bahagia, bingung sepertinya lebih mewakili apa yang dirasakannya saat ini.
Bagaimana tidak, tanpa ada persiapan, tanpa ada rencana, tiba-tiba dia menikah. Jessica pikir, sebuah pesta di dalam kapal pesiar itu hanyalah sebuah pesta kecil-kecilan saja antara Rey dan rekan bisnisnya. Tapi siapa yang menyangka jika itu adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupnya.
"Selamat, atas pernikahan Anda, Tuan Lu."
Kedua mempelai tersenyum bahagia mendengar ucapan selamat dari keluarga serta rekan mereka. Meskipun bingung masih menyelimuti perasaan Jessica saat ini. Namun sebisa mungkin dia mencoba untuk bersikap biasa saja dan mengikuti alur cerita.
"Terima kasih, Tuan Park.." sahut Rey sambil menjabat tangan rekan bisnisnya tersebut dengan senyum di bibirnya yang sedikit mengembang.
Tak hanya para koleganya saja. Pesta itu juga dihadiri oleh orang-orang terdekat merekam. Bahkan Sunny juga turut hadir juga atas undangan Rey. Sunny datang bersama Antolin.
"Sica, selamat ya untukmu. Aku sangat-sangat bahagia dengan pesta pernikahanmu jni. Akhirnya keluarga kecil kalian bisa berkumpul dan bersatu. Aku benar-benar terharu." Kedua perempuan itu saling berpelukan dan berbagi perasaan.
Jessica tertawa renyah, tapi terdengar sedikit konyol lalu melepaskan pelukan Sunny. Ia menatap Sunny dan Antolin bergantian. "Kalian berdua terlihat sangat cocok. Kenapa tidak segera jadian saja? Tidak-tidak, sebaiknya cepat ajak Sunny menikah, aku jamin dia tida akan menolaknya," goda Jessica sambil terkikik geli dan Sunny melebarkan matanya kesal.
"Ck, apa yang kau bicarakan. Sebaiknya kau tidak berkata sembarangan. Lagipula mana mungkin aku dan senior akan menikah. Itu sangat mustahil mengingat... Ahh, sudahlah lupakan saja!!"
Tau sepertinya Antolin tidak sependapat dengan Sunny. Pria itu tiba-tiba meraih pinggang Sunny dan memeluknya . "Aku sudah siap menikah. Kalau perlu saat ini juga boleh." Antolin menyahuti sambil berkedip genit ke Sunny.
Sunny langsung gelagapan. Dengan kesal dia memukul bahu Antolin . "Apaan sih kau, Senior?!" hardik Sunny lalu kembali mengalihkan pandangannya ke Jessica. "Aku tidak menduga jika pernikahanmu akan di adakan di sebuah kapal pesiar yang mewah nan megah ini." Tutur Sunny menyampaikan kekagumannya.
"Jangankan kau, bahkan aku sendiri tidak menduganya. Saat anak-anak mengatakan akan ada pesta dalam perjalanan, aku pikir hanya sebuah pesta kecil saja. Tapi ternyata dugaanku salah," jawab Jessica seraya menggamit lengan suaminya.
"Dan ngomong-ngomong di mana si kembar?" tanya Antolin karena tidak melihat keberadaan Laurent dan Kevin.
"Mereka sedang bersenang-senang dengan kakek buyutnya."Jawab Rey menimpali.
__ADS_1
"Oya, Rey. Aku rasa sudah saatnya kalian memberikan adik pada si kembar. Mereka sudah besar dan memang sudah waktunya mendapatkan adik lagi,"
"Wah, ide yang bagus itu. Kalau tidak, Rey hyung bisa karatan nantinya. Hahaha..." ledek Jimin yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah diantara kedua mempelai dan Sunny serta Antolin.
"Hahaha.. Kau benar. Milik Rey bisa karatan kalau terlalu lama." Rico menampali dengan tersenyum genit pada Jessic.
Jessica mendecih dan bersemu merah karena malu. "Dasar para pria mesum!"
Jimin dan Rico tertawa. "Pokoknya harus membawa kabar baik setidaknya, satu bulan dari sekarang." Tapi kali ini justru Sunny yang membuka suaranya.
"Sunny .. Kenapa jadi ikut-ikutan mereka sih?" Jessica langsung memasang wajah sebal. Dan kata-kata Sunny membuat Jessica malah semakin memerah.
Rey terkikik lagi lalu merangkul pinggang sang istri. Pria itu berbisik pelan. "Sepertinya kita harus benar-benar berusaha, baby," bisik Rey dengan menjilat sekilas telinga Jessica dan membuat wanita itu merangsa**.
"Rey.. Sudahlah, hentikan dan jangan mulai.." rengek Jessica dengan menutupi wajahnya yang merona. Pasalnya semua orang meledeknya dan tertawa pelan membuat dirinya semakin malu di buatnya
"Hyung, harus sukses! Jangan sampai lemas!"
"Sica, fighting!"
-
Resepsi pernikahan sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Kini pasangan pengantin baru itu sedang berada di dalam kamar pengantin. Kamar itu telah di dekor dengan sedemikian rupa membuat kamar pengantin ini menjadi terlihat begitu mewah dan sangat mengagumkan.
Ribuan bahkan jutaan kelopak bunga mawar memenuhi lantai dengan kombinasi tiga warna. Merah, putih dan merah jambu. Sedangkan bentuk hati di atas tempat tidur hanya satu warna saja, yakni merah.
Jessica menatap takjub kamar tersebut. Antara bahagia dan terharu, berbagai perasaan kini bercampur aduk menjadi satu. Sampai-sampai Jessica tidak bisa menjabarkan lagi dengan kata-kata bagaimana bentuk kebahagiaannya. Semua terlalu sempurna.
"Bagaimana, Sayang. Apa kau menyukainya?" tanya Rey sambil memeluk Jessica dari belakang. Jessica mengangguk dalam posisi yang sama. "Dan semua ini aku persiapkan untukmu. Selamat ulang tahun, Sayangku." Bisik Rey.
Rey mengangkat tangannya dan sebuah kalung emas putih berliontin berlian berbentuk kelopak bunga Sakura menggantung di depan mata Jessica. Jessica membekap mulutnya, kemudian dia berbalik dan berhambur ke dalam pelukan Rey.
__ADS_1
"Terimakasih, aku menyukai kejutannya."
"Jadi kau menyukainya?" Jessica mengangguk.
Rey melepaskan pelukan Jessica kemudian memakaikan kalung itu di leher jenjangnya. Rey tersenyum puas, kalung itu begitu pas untuk Jessica pakai. Jessica tersenyum bahagia, dia tidak menduga jika kebahagiaan akan datang padanya setelah duka yang berkepanjangan dan seperti tiada akhir.
-
Dua orang bocah terlihat berdiri di depan sebuah kamar yang pintunya tertutup rapat. Telinga kanan mereka menempel pada daun pintu seperti sedang menguping sesuatu.
Si anak perempuan menjauhkan telinganya kemudian menatap bocah laki-laki di depannya.
"Kakak Kevin, apa kau mendengar sesuatu dari dalam sana? Kenapa aku tidak mendengar apapun ya?!" ucap bocah perempuan itu 'Laurent' sedikit kebingungan.
"Aku juga tidak tau. Mungkin saja mereka sedang ada di kamar mandi," jawab Kevin acuh tak acuh.
"Tapi kau sudah memasukkan obat itu ke dalam minuman mereka bukan?" tanya Laurent memastikan. Dia menatap Kevin penasaran. Tapi Kevin tak menjawab. "Kakak Kevin, kenapa kau diam saja? Aku sedang bertanya padamu!!" seru Laurent sedikit kesal, pasalnya Kevin mengabaikannya.
Kevin menoleh dan menatap Laurent dengan kesal. "Ck, kenapa kau ini cerewet sekali sih?! Persis seperti mami!!"
"Karena aku adalah putrinya!!" jawab Laurent membanggakan diri. Dan Kevin hanya memutar jengah matanya.
"Sebaiknya kau diam dan dengarkan baik-baik apa yang terjadi di dalam sana." Kevin memutar kepala Laurent dan menghadapkan pada pintu. Bocah perempuan itu mencerutkan bibirnya kesal.
"Kakak Kevin menyebalkan!!"
"Apa yang sedang kalian berdua lakukan di depan kamar paman Leon?"
Deg...!
"PAPA!!"
__ADS_1
-
Bersambung