Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
REY VERSI MINI


__ADS_3

Hampir dua jam duduk di dalam mobil tanpa melakukan apapun membuat Kevin merasa bosan. Berkali-kali bocah itu terlihat menghela nafas sambil memasang wajah datarnya, dan inilah yang paling dia benci saat bepergian jauh, hanya bisa duduk diam di dalam mobil dalam waktu yang cukup lama.


Berbeda dengan Kevin, Laurent justru terlihat begitu antusias, dia bernyanyi hampir disepanjang jalan sampai akhirnya tertidur pulas karena merasa lelah.


Jessica melihat putranya dari kaca spion dan mendengus geli, bukannya terlihat menyebalkan, wajah datar Kevin justru terlihat sangat menggemaskan.


"Apa dia selalu memasang muka datarnya saat kau ajak bepergian?" tanya Rey ditengah kesibukannya mengemudi, sesekali dia menatap Kevin kaca spion.


"Hem, dia paling benci saat aku mengajaknya bepergian yang waktu perjalanannya bisa sampai berjam-jam." jelas Jessica.


"Bagaimana jika kita istirahat dulu? Di depan sana ada tempat yang sangat pas untuk beristirahat." Rey menoleh, menatap wanita yang duduk disampingnya.


Jessica mengangguk, menyetujui usul Rey.


Rey menepikan mobilnya disebuah bukit yang ditumbuhi ribuan bunga Conola, saking luasnya padang bunga tersebut, sampai-sampai hanya warna kuning Canola yang tertangkap oleh netra mereka.


Ada sebuah gubuk kecil yang beratapkan pohon Sakura yang bunganya terus berguguran, Rey mengajak Jessica dan kedua buah hatinya untuk singgah di sana..


"Pa, sebenarnya kita sekarang ada di mana? Ini bukan tempat kakek buyut kan? Kita belum sampai tapi kenapa sudah berhenti?" tanya Laurent dengan mata setengah terbuka.


"Jika Laurent penasaran, sekarang buka matanya lebar-lebar dan lihat kita sekarang ada di mana!" ucap Rey


pada sosok mungil yang berada dalam gendongannya.


Perlahan-lahan Laurent membuka mata Hazelnya dan mata itu langsung berbinar seketika setelah dia sadar di mana dirinya saat ini berada.


"Ladang Canola." serunya riang "Huaaa..! Papa palli turunkan Laurent, Laurent ingin bermain di sana." pinta Laurent dengan berapi-api, segera Rey menurunkan bocah itu dari gendongannya.


Dan tanpa persetujuan dari Kevin, bocah perempuan itu menarik lengannya dan langsung membawanya berlari diantara bunga-bunga Canola.


"Yak, yak, bocah apa yang kau lakukan? Jangan menarikku seenaknya." protes Kevin namun diindahkan oleh Laurent.


Diam-diam Rey menarik sudut bibirnya. Melihat wajah riang mereka membuat hatinya semakin menghangat, meskipun awalnya Kevin terus saja menolak dan melayangkan protesnya pada Laurent, tapi sekarang dia justru terlihat menikmatinya juga.


Rey tidak menduga bila Kevin yang biasanya bersikap dingin bisa bersikap jahil juga. Tak jarang dia membuat Laurent berteriak karena kejahilannya.


Jessica menghampiri Rey kemudian berdiri disampingnya, menatap kedua buah hatinya dari kejauhan.


"Aku merasa sedih karena tidak bisa berada disisinya sejak dia masih bayi, dan melihatnya tumbuh. Aku merasa telah gagal menjadi seorang Ibu, aku benar-benar ibu yang tidak berguna, karena kebodohanku, dia tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang layak dan pelukkan hangat." tutur Jessica parau.


Rey meraih bahu Jessica dan membawa wanita itu kedalam pelukkannya, menjadikan kepala coklat Jessica sebagai sandaran dagunya.


"Ini bukan salahmu, tapi salah wanita Iblis itu, jika bukan karena kebusukannya, pasti kau tidak akan terpisah dari Laurent. Dan tidak perlu menyesali semua yang telah terjadi, semua sudah berlalu."


"Kita lupakan semuanya dan memulai lembaran baru. Aku, kau, Kevin dan Laurent, kita berempat akan hidup bahagia dan menjadi keluarga yang utuh." tutur Rey seraya mengeratkan pelukkannya pada tubuh Jessica.


"Mungkunkah bisa? Kita berdua belum saling mengenal dengan baik apalagi tidak ada ikatan cinta diantara kita berdua, apakah kita bisa membina keluarga jika tanpa cinta?" Jessica mengangkat wajahnya dan mengunci mata kanan Rey, ada keragukan yang Rey tangkap dalam mutiara hazel tersebut.


"Kenapa tidak? Dan cinta bisa tumbuh dengan sendirinya." jawab Rey , dan detik berikutnya bibir Jessica sudah berada dalam pagutan bibir Rey.


Rey melum** bibir atas dan bawah Jessica secara bergantian, dan ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik saja tanpa balasan. Kembali Rey merengkuh Jessica ke dalam pelukkannya.

__ADS_1


"Yakk! Kalian berdua, jangan berpelukkan saja, kami sudah kelaparan." seru Kevin dan memaksa keduanya untuk melepaskan pelukkannya.


"Yakk! Kakak Kevin, kenapa harus menggu mereka berdua? Kalau kau lapar kau bisa memberitauku tanpa mengganggu mereka. Meskipun aku masih bocah dan kekanakan, tapi begini-begini aku bisa diandalkan, lagi pula bukankah kau tadi sudah menyetujui kesepakatan kita untuk menyatukan mereka berdua, tapi kenapa sekarang kami malah mengganggunya."


Laurent melayangkan protesnya pada Kevin sambil berkacak pinggang. Bocah itu terlihat tidak suka karna Kevin sudah mengganggu kebersamaan Rey dan Jessica.


Kevin memicingkan matanya sambil bersidekap dada, kedua matanya tertutup rapat dengan punggung bersandar pada pohon Bunga Sakura.


"Memangnya kapan aku membuat kesepakatan denganmu? Jangan mengada-ada. Aku memang ingin mereka bersatu tapi tidak dengan cara mesum sepertimu, sudahlah aku lapar dan ingin makan, terserah jika kalian tidak mau makan."


Kevin membuka kembali kedua matanya seraya beranjak dari posisinya. Dengan acuh, bocah itu mengeluarkan semua perbekalan yang Jessica siapkan pagi ini dan memakannya.


Rey menatap Kevin tak percaya, bukan hanya mulut tajam dan sikap dinginnya saja yang menurun pada putra sulungnya, tapi hampir keseluruhan sifat yang ada pada dirinya, tidak salah jika Lee Chan pernah mengatakan jika Kevin adalah dirinya dalam versi mini.


Rey beranjak dari samping Jessica dan menghampiri Kevin. "Kelihatannya sangat lezat, apa kau tidak ingin membaginya dengan kami?"


"Jangan terkecoh, meskipun kelihatannya semua makanan-makanan ini sangat lezat tapi bukan Mami yang membuatnya, tapi Bibi Sunny. Selain keahliannya dibidang medis, Mami itu sangat payah dalam segala hal, terlebih-lebih memasak. Jika tidak ada aku, mungkin setiap malam dia akan kelaparan karena tidak ada yang memasak untuknya."


Buru-buru Jessica membekab mulut Kevin, sebelum bocah itu semakin banyak bicara lagi. Sekarang dirinya benar-benar kehilangan muka di depan Rey karena Kevin membuka rahasia besarnya.


"Aku bisa menjelaskan masalah itu, dan bisakah sekarang kita lupakan dulu mengenai hal ini? Sebaiknya sekarang kita makan sebelum ada semut-semut yang datang."


Jessica mencoba mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin semakin terpojok gara-gara kepayahannya dalam hal memasak. Rey mengacak pelan rambut panjang Jessica seraya mengurai senyum setipis kertas.


"Baiklah."


Dan setelah selesai menikmati makannya. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya karena Laurent sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan kakek buyutnya, dan tujuan Rey membawa Jessica serta Kevin ke Busan karena ingin mengenalkan mereka berdua pada kakek Lu. Rey ingin meminta restu pada kakeknya tersebut untuk segera menikahi Jessica.


Dari gerbang menuju mansion milik kakeknya membutihkan waktu sekitar sepuluh menit berkendara dan sepanjang jalan menuju mansion megah itu, kedua mata Jessica dimanjakan oleh bergabai jenis bunga yang tumbuh dengan subur di sisi kanan dan kiri jalan.


"Rumah siapa itu?" tunjuk Kevin pada bangunan megah yang berdiri kokoh di depan sana.


"Kakek buyutmu." jawab Rey sedikit datar.


Sementara itu. Di dalam Mansion yang megah dan mewah itu, hidup seorang pria tua yang terlihat begitu kesepian, tak ada sanak saudara yang tinggal bersamanya hanya ada beberapa pelayan dan penjaga saja. Rey adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki, tapi sayangnya dia tinggal terpisah darinya.


"Tuan besar, tuan muda dan nona kecil datang, mobil tuan muda baru saja melewati gerbang utama." lapor seorang pria berpakaian formal pada kakek Lu.


Pria tua itu mengangkat wajahnya. "Apa, cucu dan cicitku datang? Apakah mereka hanya berdua saja? Penyihir itu tidak ikut datang bersama mereka bukan?" tanya kakek Lu memastikan. Dia terlihat begitu gembira menerima kabar jika cucu dan cicitnya datang mengunjunginya.


"Menurut penjaga, nyonya Tiffany tidak ikut tapi tuan datang bersama seorang wanita dan anak laki-laki."


"Begitukah? Siapkan red carpet untuk menyambut mereka dan minta para pelayan untuk segera menyiapkan makanan-makanan yang enak serta menyiapkan kamar untuk cucu dan cicitku serta kedua tamuku."


"Baik Tuan Besar."


.


.


.

__ADS_1


Rey menghentikan mobilnya di halaman luas sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai. Seorang pria langsung membukakan pintu untuknya, Rey segera turun dari mobilnya diikuti oleh Jessica, Laurent dan Kevin


"Tuan Muda, tuan besar sudah menunggu Anda di dalam."


Rey mengangguk "Pindahkan mobilku." kemudian menyerahkan kunci mobilnya pada pria tersebut.


Jessica terkejut melihat red carpet terbentang saat pintu utama dibuka. Beberapa pelayan dan penjaga datang menyambut mereka , dan dari jarak lima meter, Ia melihat seorang pria yang wajahnya mirip dengan Rey dengan kerutan yang memenuhi wajahnya tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka.


"KAKEK BUYUTT..!" seru Laurent melihat Kakek Lu membungkuk sambil merentangkan kedua tangannya.


Rey merangkul bahu Jessica yang terlihat ragu untuk melanjutkan langkahnya "Tidak apa-apa, kakekku bukan orang yang menyeramkan. Ayo, aku kenalkan kalian padanya." Bisik Rey dan meyakinkan pada Jessica jika semua akan baik-baik saja.


"Kakek buyut, aku ingin mengenalkamu pada seseorang. Dia bibi cantik dan dia akan menjadi Mama baruku , ini Kakak Kevin dia putranya, bukankah dia dan aku sangat mirip."


Jessica membungkuk dan memberi hormat pada kakek Lu.


"Tidak perlu sungkan Nak, selamat datang dan semoga kau merasa nyaman di sini." ucap Kakek Lu sambil mengusap kepala coklat Jessica,


Kesan pertama yang Kakek berikan pada Jessica sangat berbanding balik ketika Rey membawa wanita itu kemansionnya. Pada saat itu sangat jelas jika Kakek Lu menukkan ketidaksukaannya pada Tiffany.


"Memangnya harus ya sampai seheboh ini? Kau terlalu berlebihan, kakek tua."


Kakek Lu mendesah berat. "Tidak berusah, tetap dingin dan bermulut tajam." ucap Kakek Lu yang hanya dibalas decakan lidah oleh Rey


"Ayo, ayo silahkan duduk, kita berbincang diruang keluarga saja." Kakek Lu merangkul bahu Jessica dan meninggalkan Luhan begitu saja.


Laki-laki itu mendesah berat, memutar matanya jengah, Rey melangkahkan kakinya dan mengekor dibelakang mereka.


"Ngomong-ngomong apa yang terjadi pada mata kirimu, Rey?" tanya Kakek Lu melihat benda hitam bertali menutup mata kiri cucunya.


Rey menarik turun eyepacht itu dan terlihat ada bekas jahitan pada kelopaknya. "Mata kiriku mengalami cidera dan sekarang sudah tidak apa-apa, aku sengaja menutupnya agar tidak terkena debu dan cahaya matahari secara berlebihan." tutur Rey menjelaskan.


"Ngomong-ngomong siapa wanita cantik ini? Dan sepertinya cicitku sangat dekat dengannya dan sangat menyukainya sampai-sampai dia ingin agar nona ini menjadi Ibunya."


"Laurent, bisakah kau ajak oppamu bermain dihalaman belakang, ada hal penting yang ingin Papa bicarakan dengan kakek." bujuk Rey pada putrinya.


"Tentu, Pa. Kakak, ayo." Laurent turun dari pangkuan kakek Lu kemudian menarik Kevin menuju halaman belakang.


Kevin tidak memberikan respon apapun , tapi ekspresi wajahnya menunjukkan jika dia tidak senang.


Setelah kedua bocah itu pergi. Rey pun menceritakan yang sebenarnya pada Kakek Lu, siapa Jessica sebenarnya. Dan nyaris saja Kekek Lu sampai berteriak histeris saking kagetnya setelah mendengar cerita Rey mengenai kebenaran siapa Jessica sebenarnya


"Jadi maksudmu, Tiffany sudah menipu kita semua dengan mengaku-ngaku sebagai Ibu kandung Laurent yang sebenarnya adalah Jessica?" pekik Kakek Lu tak percayal.


Rey menganguk. "Insting Kakek tidak pernah salah, sejak awal Kakek sudah menduga jika wanita itu bukanlah wanita baik-baik. Dan artinya kakek bukan hanya memiliki satu cicit saja, tapi dua. Hahaha, bahagianya hati ini. Cucu menantuku, kemarilah biar kakek memelukmu." kakek Lu bangkit dari duduknya , merentangkan kedua tangannya dan membawa Jessica ke dalam pelukkannya.


Melihat pemandangan itu membuat Rey tidak tahan untuk tidak menarik sudut bibirnya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2