Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Season 2 (Bab 6)


__ADS_3


Halo kakak-kakak sekalian. Jangan lupa buat baca juga new novel Author yang baru netes ya. CINTA TULUS UNTUK KUPU-KUPU MALAM. Like koment selalu di tunggu 🙏🙏🙏


-


Jika keluarga Lu dan keluarga Nero sangat dekat bukan lagi rahasia. Hans Nero adalah rekan bisnis Rey, di samping hal itu putra-putri mereka juga berteman dekat. Rey dan Hans sudah seperti saudara. Tak jarang Hans menitipkan putrinya pada Rey dan Jessica ketika dirinya harus pergi ke luar negeri.


Hans tidak tega jika harus meninggalkan putrinya sendiri dan kesepian selama dia tidak ada. Ibu Luna meninggal ketika Luna berusia lima belas tahun karena penyakitnya.


Lyra menderita penyakit jantung bawaan yang kemudian dia turunkan pada Luna. Sama seperti ibunya, Luna juga memiliki jantung yang lemah. Itulah kenapa Hans Nero begitu menjaga putrinya.


Seperti yang sudah-sudah, Hans kembali menitipkan Luna pada keluarga Lu. Ia harus pergi ke Dubai untuk perjalanan bisnis. Jessica maupun Rey sama sekali tak keberatan dan justru mereka menerima kedatangan Luna dengan tangan terbuka.


"Luna...."


Laurent berseru kencang dan langsung memeluk sahabatnya tersebut. Laurent bahagia tak terkira saat mengetahui jika sahabatnya itu akan tinggal bersamanya selama beberapa hari.


"Ma, Pa, Paman Hans, kami ke kamar dulu ya." Ucapnya.


Laurent langsung menarik lengan Luna dan membawanya menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sedangkan Jessica dan Rey hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan putri bungsunya.


Kedua gadis itu merebahkan tubuhnya pada kasur super empuk di kamar Laurent. Kemudian Laurent merubah posisinya menyamping menghadap Luna. "Wae, kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Luna melihat tatapan Laurent. Ia sungguh merasa tidak nyaman.


"Malam ini ada party di garden bar. Bagaimana kalau kita pergi ke sana? Aku akan mencari alasan supaya mama dan papa mengijinkannya."


"Malas,"


"Ayolah, Luna. Sekali ini saja, kau selalu menolak setiap kali aku mengajakmu ke bar. Kali ini Kevin akan ikut kok, jadi dia bisa menjaga kita. Dan jika ada yang berusaha berbuat yang tidak-tidak padamu. Pasti Kevin akan langsung menghajarnya. Ye, please." Mohon Laurent sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Luna mendesah berat. "Baiklah, aku akan ikut." Jawab Luna pada akhirnya.


"Yeee...!!Kau memang sahabatku yang terbaik. Aku akan menghubungi Teresa sekarang." Laurent bangkit dari berbaringnya dan meraih ponselnya yang ada di atas meja.


Laurent begitu bersemangat karena akhirnya Luna mau ikut pergi ke pesta ulang tahun Sean setelah ia membujuknya dengan begitu bersusah payah.

__ADS_1


Mengabaikan Laurent yang sedang mengobrol dengan Teresa. Luna berjalan ke arah balkon kamar sahabatnya itu. Dan dari sana dia melihat seorang pemuda yang sedang bermain basket di halaman belakang mansion mewah berlantai tiga tersebut.


Di bawah sana Kevin sedang memainkan bola basket di tangannya dengan sangat lihat. Dia hanya memakai kaos putih polos tanpa lengan dengan celana bahan selutut. Rambut hitamnya tampak lepek karena keringat. Baju bagian belakangnya juga tak jauh berbeda, basah.


"Kemarilah," seru Kevin saat menyadari keberadaan Luna yang saat ini sedang memperhatikan dirinya.


Luna tampak celingukan. Tidak ada siapapun di sana. Lalu dia menunjuk dirinya sendiri, Kevin mengangguk. Kemudian Luna beranjak dan menghampiri Kevin di halaman belakang rumahnya.


Luna duduk di dekat pagar pembatas sambil terus memperhatikan Kevin yang sedang bermain basket. Pemuda bermarga Lu itu begitu tampan.


Gadis bertubuh mungil itu memakai rok pendek berwarna hitam dan atasan putih berenda. Mereka sedang ada di halaman belakang kediaman Lu yang sangat luas. Selain taman bunga dan gazebo, ada juga lapangan basket, kolam renang dan kolam ikan hias.


Luna memberikan botol berisi air mineral ketika Kevin menghampirinya dan kemudian duduk disampingnya.


"Kau lelah?" tanya Luna memulai percakapan.


"Hn. Lumayan. Kapan kau datang?"


"Setengah jam yang lalu. Papa harus pergi ke Dubai, dan untuk itu dia menitipkan aku di sini." Jelas Luna yang kemudian di balas anggukan paham oleh Kevin.


Kevin menoleh. Menatap gadis yang duduk di sampingnya. Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa enam tahun telah berlalu. Dan seiring berjalannya waktu, perasaan suka itu tumbuh dengan subur di hatinya. Kevin sendiri tidak jauh sejak kapan perasaan itu muncul dan menghiasi hatinya.


"Lun, apa kau pernah jatuh cinta?"


Luna tersentak saat Kevin tiba-tiba bertanya dan menatapnya. Cepat-cepat Luna menatap ke arah lain seolah-olah tidak melihat jika Kevin sedang memperhatikan dirinya.


"Jatuh cinta?" Luna mengulang pertanyaan Kevin. Pemuda itu mengangguk.


"Ya, apa kau pernah merasakannya?"


Luna tampak gugup. Dengan kaku gadis itu menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Luna mengangkat kembali wajahnya dan membalas tatapan Kevin. "Sepertinya begitu."


"Pada siapa?" pemuda itu tampak begitu penasaran.


"Tentu saja laki-laki."

__ADS_1


Kevin mendengus panjang. "Dasar bodoh!! Aku juga tau kau akan jatuh cinta dengan laki-laki. Tapi bukan itu yang aku maksud." Kevin menatap Luna dengan intens. "Siapa nama laki-laki itu?"


"Um, rahasia."


Kevin tiba-tiba berdiri dari duduknya lalu menggendong tubuh mungil Luna dengan satu gerakan. Dan membuat Luna memekik kaget karena Kevin menggendongnya bridal style.


"Kevin, apa yang kau lakukan?! Turunkan aku, bagaimana kalau bibi Jessica dan paman Rey sampai melihatnya dan salah paham pada kita?" ujar Luna setengah panik.


"Masih mau main rahasia dariku?" tanya Kevin dengan seringai mengejek. "Beri tau aku atau aku akan menciummu?!" ancam Kevin dan kemudian membuat mata Luna membelalak.


"Ja-jangan sembarangan. Aku tidak akan membiarkan kau menodai kesucian bibirku. Lagipula kenapa kau begitu ingin tau pada siapa aku jatuh cinta?" Luna menundukkan wajahnya. Di sadari atau tidak kini wajahnya memerah.


"Jujur saja aku penasaran. Siapa laki-laki kurang beruntung itu." Luna langsung mengangkat wajahnya dan menatap Kevin dengan tatapan bertanya.


"Kurang beruntung?" Kevin mengangguk. Luna mencerutkan bibirnya. Ia tersinggung dengan ucapan Kevin.


Kevin menyeringai. Pemuda itu menurunkan Luna dari gendongannya. "Ya, karena di cintai oleh gadis cerewet sepertimu. Jujur saja aku prihatin pada laki-laki itu. Malang sekali nasibnya," ujarnya lalu berjalan meninggalkan lapangan basket.


"Yakk!! Kevin Lu, kau menyebalkan." Teriak Luna yang hanya di sikapi acuh oleh Kevin.


Gadis itu mencerutkan bibirnya. Kevin berjalan santai meninggalkan Luna yang saat ini sedang mengejar dirinya. Sudut bibirnya tertarik ke atas mendengar ocehan gadis itu.


Dughh...!!


"Aaakkhhh.."


Buru-buru Kevin menahan tubuh Luna yang nyaris saja terjungkal kebelakang setelah menubruk punggungnya. Kevin berhenti secara mendadak dan hal tersebut mengejutkan Luna.


Posisi mereka kini saling berdekatan. Kevin memeluk pinggang Luna dengan tangan kanannya, sedangkan Luna mengalungkan salah satu tangannya pada leher Kevin. Luna mengedipkan matanya berkali-kali melihat Kevin tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya.


Nafasnya yang hangat langsung menerpa wajahnya. Jantung Luna berdegup tak karuan. Gadis itu mati-matian menahan gejolak hebat di dalam hatinya. Sementara itu, Kevin tersenyum melihat Luna yang sedang menutup rapat matanya. Kevin kembali mendekatkan wajahnya dan....


"Kenapa kau menutup mata, apa kau pikir aku akan mencium mu?" bisik Kevin dan membuat kedua mata Luna membelalak sempurna. Pemuda itu terkekeh geli melihat ekspresi Luna saat ini.


"Kevin Lu, kau sangat memyebalkan!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2