Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Season 2 (Bab 12)


__ADS_3

Suasana di sore hari itu cukup dingin, awan tebal menyelimuti seluruh langit kota hingga seluruh gedung sudah menyalakan lampu-nya. Menurut prakiraan cuaca, memang malam ini bakal ada badai yang cukup kencang menghantam kota dan meminta warga tetap berada di dalam ruangan untuk menghindari peristiwa yang tidak di inginkan.


Di sebuah rumah minimalis berlantai dua. Terlihat seorang gadis berdiri di depan sebuah dinding kaca di kamarnya.


Melihat bagaimana buruknya cuaca hari ini membuat gadis itu mendengus kasar. Padahal ia berencana untuk pergi ke luar dan membeli bahan-bahan makanan, kulkas masih kosong dan belum banyak terisi selain buah-buahan segar dan beberapa sayuran serta daging.


Gadis itu menoleh mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Seorang pemuda yang hanya memakai celana jeans panjang dan kaos oblong tanpa lengan berjalan menghampirinya.


"Kenapa ekspresinya seperti itu?" tanya pemuda itu seraya melingkarkan tangannya di perut rata sang istri. Gadis itu yang pastinya adalah Luna hanya mendengus menanggapi pertanyaan suaminya. Kevin mendekatkan bibirnya dan mengecup pelan leher jenjang Luna.


"Cuaca hari ini sangat buruk, padahal aku berencana untuk pergi berbelanja hari ini. Tapi cuacanya sangat tidak mendukung." Ujarnya panjang lebar.


"Bukankah besok masih bisa, lagipula sangat berbahaya jika kita memaksakan untuk tetap pergi di tengah cuaca seperti ini." Ujar Kevin yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


Luna melepaskan pelukan Kevin lalu berbalik. Gadis itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Kevin dan sedikit menekuk wajahnya."Sangat menyebalkan, kenapa kau begitu tinggi dan aku pendek?" rengek gadis itu menggerutu.


Kevin menarik kursi yang ada di samping meja dengan kakinya lalu memindahkan ke samping Luna. "Baiklah, kursi itu akan membuatmu lebih tinggi." Luna tersenyum, dengan senang hati ia naik ke atas kursi tersebut. Dan benar, posisinya dan Kevin hampir sama, Dan jarak tinggi diantara mereka juga tidak terlalu jauh.


"Kalau begini aku kan bisa mencium mu lebih dulu." Luna memicingkan kepalanya dan bibirnya bergerak menuju bibir Kevin, lalu melum** singkat bibirnya. Sementara Kevin langsung menutup matanya.


Kevin yang memang dasarnya tak suka di dominasi segera mengambil alih ciuman tersebut. Kini ciuman sepenuhnya di kuasai oleh Kevin. Kevin menekan tengkuk Luna dan semakin memperdalam ciumannya. Tapi ciuman mereka tak berlangsung lama karena dering pada ponselnya.


Kevin hendak beranjak tapi di tahan oleh Luna. Luna kembali mencium bibir suaminya dan sekarang sedikit memagutnya. Dan Kevin pun tak bisa menolaknya, Kevin menarik pinggang Luna untuk lebih dekat dan membunuh jarak di antara mereka. Ciuman lembut mereka benar-benar berubah.


Kevin mengangkat tubuh Luna bridal style tanpa mengakhiri ciumannya. Dengan perlahan dan sangat berhati-hati. Kevin membaringkan tubuh Luna di atas tempat tidur.


Sekali lagi Kevin menyergap bibir Luna dan meremas ruas-ruas jari lentiknya. Dan semakin lama suasana semakin memanas, selanjutnya bukan lagi bibir mereka yang menyatu..Hari yang terasa dingin bagi orang lain justru terasa panas untuk mereka berdua.


.

__ADS_1


.


Luna membuka matanya dan melengkuh pelan. Gadis itu sedikit meringis ketika merasakan nyeri pada paha dalamnya, dan ingatannya membawa Luna pada kejadian beberapa jam yang lalu.


Pipinya memanas dan wajahnya bersemu merah. Mengingat bagaimana hebat dan panasnya Kevin tadi. Dan Luna sangat bersyukur karena sosis milik suaminya tak semenyeramkan apa yang ia bayangkan selama ini.


"Kau sudah bangun?"Luna mengangkat wajahnya dan mendapati Kevin berjalan menghampirinya.


Pemuda itu memakai pakaian berbeda dari yang dia pakai sebelumnya. Kemeja hitam yang lengannya di gulung sampai siku di balut Vest abu-abu gelap dan celana yang senada dengan warna vestnya.


"Kau dari mana? Kenapa bibirmu sedikit membiru? Apa kau baru saja keluar?" tanya Luna memastikan.


Kevin menghampiri Luna kemudian duduk di sampingnya. Luna menangkupkan tangannya pada pipi Kevin yang terasa dingin. "Aku pergi keluar untuk menemui dokter. Tiba-tiba kau melengkuh kesakitan sambil memegangi dadamu, aku pikir kau tidak dalam keadaan baik." Tutur Kevin dan membuat mata Luna membelalak sempurna.


"Ke-Kevin, jadi kau tau mengenai penyakit yang selama ini aku idap?" Kevin mengangguk. Kemudian Luna menundukkan wajahnya dan mulai menitihkan air mata. "Pasti kau akan menganggap jika aku ini adalah wanita berpeyakitan yang tidak berguna, aku..."


Luna mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Kevin. "Terimakasih karena sudah menerimaku apa adanya." Ucap Luna sambil mengeratkan pelukannya.


"Sama-sama, Sayang. Karena memang sudah seharusnya seperti itu. Karena aku adalah suamimu, dan melindungimu sudah menjadi tugasku sebagai suamimu."


Luna melepaskan pelukan Kevin dan menatap langsung ke dalam manik abu-abunya. "Aku lapar, bisakah kau membuatkan makan malam untukku?" Luna menatap Kevin dengan pandangan memohon.


Pria itu mendengus geli. Dengan gemas ia menarik ujung hidung Luna. "Tentu saja, bangun gih. Setelah makan malam, langsung minum obatnya." Luna tersenyum dan mengangguk.


"Tentu."


-


Bukan Sean namanya jika tidak pandai memanfaatkan situasi. Ia sengaja datang berkunjung ke rumah Laurent saat tau ramalan cuaca hari ini sangat buruk. Karena sudah pasti Ibu Laurent akan melarangnya untuk pulang dan memintanya menginap.

__ADS_1


Selain keluarga Nero, keluarga Lu juga berteman baik dengan keluarga Sean, Teresa dan Bian. Itulah kenapa anak-anak mereka bisa bersahabat dan begitu dekat.


Saat ini Sean sedang makan malam bersama keluarga Lu. Dia begitu bahagia tapi tidak dengan Laurent, gadis itu sedikit sebal apalagi sedari tadi Sean terus menatapnya sambil tersenyum seperti orang bodoh.


"Sean, jangan sungkan dan tambah lagi jika kau masih lapar."


"Tentu, Bibi. Bibi Sica sangat baik deh, pantas saja Bibi juga memiliki putri yang sangat baik." Ucapnya sambil melirik Laurent.


Gadis itu mendecih sebal. "Dasar penjilat," ucapnya bergumam.


Dan selanjutnya tak ada lagi perbincangan diantara mereka. Mereka sama-sama diam dan hanya suara dentingan sendok serta garpu yang terdengar.


Usai makan malam. Mereka berkumpul di ruang keluarga untuk menikmati secangkir teh. Sean berbincang dengan Jessica dan Rey. Sedangkan Laurent berkali-kali mendecih dan menatap Sean tak suka.


"Sudah malam, pulang sana."


"Laurent, jangan keterlaluan. Di luar sedang badai dan sangat berbahaya jika Sean pulang sekarang. Dia akan menginap jadi minta pelayan menyiapkan kamar tamu untuknya."


"Kenapa harus aku. Bahkan dia tidak perlu kamar untuk tidur, di sofa saja cukup."


"Laurent!!"


"Iya, iya, dasar menyebalkan." Laurent bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


Dia benar-benar kesal karena orang tuanya begitu memperhatikan Sean. Sedangkan Sean mengulum senyum penuh kemenangan. Ini akan menjadi langkah awal bagi mereka dan kesempatan untuk semakin dekat dengan Laurent semakin terbuka lebar.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2