Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
DRAMA


__ADS_3

Suasana di dalam begitu meriah, ratusan tamu undangan yang datang adalah orang-orang kaya semua. Mereka adalah para pemegang saham dan kolega bisnis keluarga Smit.


Derap langkah kaki yang sedikit menggema mengalihkan perhatian semua orang yang ada di sana. Semua mata kini tertuju pada satu sosok wanita yang sedang meliukkan tubuh dengan anggunnya.


Semua mata terpana melihat kecantikannya yang seperti bunga yang baru mekar.


Orang-orang saling berbisik, saling memuja dan tak sedikit yang merasa iri. Dan keriuhan yang tiba-tiba terjadi tentu membuat sang tuan rumah bertanya-tanya.


Tiffany Hong yang telah berganti marga menjadi ****, yang kini menjadi satu-satunya putri dalam keluarga itu terlihat beranjak dari tempatnya berdiri untuk melihat apa yang terjadi. Kedua matanya membelalak dan terkejut melihat siapa orang yang datang ke pesta orang tuanya.


Tiffany segera mencari ibu dan neneknya untuk memberitaukan kedatangan Jessica "Ibu, Nenek dia di sini, dia datang." panik Tiffany sambil menunjuk arah Jessica berada.


"Fanny-ya, ada apa? Memangnya siapa yang datang, dan kenapa kau begitu panik?" heran Kim Terra melihat kepanikan putrinya.


"Aku yang datang." Sahut seseorang dari arah belakang. Sontak ketiganya menoleh dan betapa terkejutnya Kim Terra dan nenek Smit mendapati kedatangan Jessica


"Apa kabar Nenek, Bibi, oh.. atau mungkin kau lebih pantas di panggil Ibu tiri atau simpanan ayahku?" Jessica tersenyum, memandang Terra dengan senyum meremehkan.


"Sudah lama tidak bertemu, kalian terlihat baik-baik saja. Dan aku sungguh merasa sedih karena kalian tidak memberitauku perihal pesta ini, beruntung temanku memberi tau jadi aku bisa menyempatkan diri untuk datang." ucap Jessica sedikit berbasa-basi.


Terra, nenek Smit dan Tiffany menatap penampilan Jessica dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mereka bertiga tau jika semua barang yang melekat di tubuh Jessica bukanlah barang murahan apalagi gaun dan anting berlian yang tersemat di telinganya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Memangnya siapa yang mengijinkanmu menginjakkan kaki di rumah ini lagi?" sinis Terra yang merasa tidak suka dengan kedatangan Jessica.


"Yang mengijinkanku datang ya, hahaha! Memangnya aku masih membutuhkan ijin saat ingin datang ke rumahku sendiri. Kau ini sangat lucu ibu tiri." Jessica mengangkat salah satu tangannya dan mengarahkan pada lehenya, seolah-olah memberi kode pada mereka bertiga.


Dan nenek Smit pun segera menyadarinya. Matanya membelalak. "Kalung berlian itu, bagaimana kalung itu bisa berada ditanganmu? Kembalikan kalung itu padaku, karena itu adalah harga berharga milik keluarga Smit. Kau tidak bisa memilikinya karena kau bukan lagi bagian dari keluarga ini, sejak kau melahirkan anak harammu itu dan di usir dari rumah ini."


Jessica melirik sekelilingnya dan orang-orang saling berbisik membicarakan dirinya. Kevin yang merasa tidak suka tentu tidak akan tinggal diam


"Tutup mulutmu itu, Nenek tua!! Kau fikir kau siapa bisa menghina Mami-ku seenak jidamu. Jika aku memang anak haram, lalu kenapa? Aku memang anak yang lahir diluar nikah, tapi bukan berarti aku tidak memiliki ayah. Meskipun Mamiku pernah tidur dengan seorang pria, tapi dia lebih terhormat dari kalian bertiga terutama kau.... Kau memiliki wajah yang sangat cantik tapi sayangnya kau memiliki hati yang busuk."


"DIAM KAU BOCAH SIALAN. SIAPA KAU BERANI SEKALI MENGHINAKU DAN KELUARGAKU. KELUAR KAU DARI SINI ATAU AKU SENDIRI YANG AKAN MENYERET KALIAN." amuk Tiffany.

__ADS_1


Kevin menutup matanya dan mendesah panjang. "Ck, kau terlalu berlebihan Bibi. Dan sikapmu menunjukkan jika kau memang tidak memiliki etika sama sekali, terus terang aku sangat prihatin pada hidupmu itu. Kau masih muda dan cantik, tapi kau menggunakan cara licik untuk mendapatkan sesuatu, apa itu tidak memalukan?"


"Beginilah, jika seorang anak terlahir dari seorang Ibu yang tidak berpendidikan dan tidak memiliki tata krama. Aku sangat malu sebagai tetua dalam keluarga ini, Jessica Smit, kau sudah mencoreng nama baik keluarga ini untuk yang kesekian kalinya."


"Nenek, nenek, kau berbicara seperti kau adalah orang yang paling suci saja. Dan namaku bukan lagi Jessica Smit, tapi Jessica Astoria, karena sudah melepas nama itu sejak lama." Tutur Jessica.


"Ahh.. Apa kau lupa dengan perbuatan cucu kesayanganmu itu? Apa dia masih bisa dikatakan sebagai wanita yang baik setelah apa yang dia lakukan padaku tujuh tahun yang lalu? Atau kau memang ingin agar aku membongkar semua kebusukan kalian di depan semua orang? Karena aku memiliki sebuah bukti yang sangat akurat."


Plaakk..!


Jessica menahan lengan Terra saat wanita itu hendak menamparnya, dan menghempaskan tangan itu begitu saja. "Tutup mulutmu itu, anak sialan, kau benar-benar sudah sangat keterlaluan. Keluar sekarang juga atau kau akan menyesal." Alih-alih merasa takut, Jessica malah tertawa terbahak-bahak, menurutnya pertunjukkan yang dilakukan oleh mereka bertiga sangat luar biasa.


"Kalian sangat pandai dalam menciptakan drama, kenapa kalian tidak mencoba untuk membuat film saja? Pasti akan sangat menarik dan banyak peminatnya. Atau kalian ingin aku membantu kalian? Aku bersedia dan dengan senang hati akan membantu kalian bertiga." tutur Jessica sambil melihat jari-jarinya seolah-olah ingin menunjukkan Angel Heart yang tersemat di jari manisnya. Tiffany menarik lengan Jessica dan menatapnya tajam.


"Angel Heart, dari mana kau mendapatkannya?" tanya Tiffany meminta penjelasan. "****** CEPAT JAWAB, DARI MANA KAU MENDAPATKAN CINCIN ITU."


Jessica menunjukkan cincin itu pada Tiffany."Cincin ini? Aku mendapatkannya dari pria yang meniduriku malam itu, sembilan tahun yang lalu. Apa kau ingin mengetahui siapa dia? Tapi aku rasa tidak, karena aku yakin kau akan terkejut kemudian pingsan. Yang jelas dia adalah ayah biologis dari putra dan... Ya begitulah."


Angel Heart, siapa yang tidak mengetahui cincin legendaris milik keluarga Lu yang diberikan secara turun-temurun pada menantunya. Dan yang menjadi pertanyaan mereka, bagaimana mungkin cincin itu bisa berada ditangan Jessica, sementara Tiffany adalah menantu keluarga Lu dan semua orang sudah tau itu.


"Ibu tiri, aku adalah tamu di sini dan kau tuan rumah. Bisakah kau melayaniku? Aku sangat haus, bisakah kau mengambilkan minuman untukku? Atau kau ingin aku mengungkap sebuah rahasia yang akan membuat hidupmu hancur dalam hitungan detik?"


"Apa yang kau bicarakan?"


Jessica mendekati Terra dan berbisik ditelinganya. Kedua mata Terra membelalak saking kagetnya, wajahnya memucat dan terlihat dia sedikit terhuyung. "Bagaimana? Aku memiliki remakannya, ingin aku tunjukkan di depan semua orang? Jadi, ambilkan minuman untukku sekarang atau..?"


"JESSICA CUKUP!!" Bentak seseorang dari arah belakang. Tuan Smit datang dengan wajah memerah seperti menahan amarah.


"Apa-apaan kau ini? Apa kau sudah tidak memiliki otak, bagaimana bisa kau mempermalukan keluargamu sendiri?" amuk tuan Smit penuh amarah. Pria itu benar-benar tidak habis fikir dengan putranya tersebut.


Jessica melipat tangannya dan menatap ayahnya dengan seringai meremehkan.


"Luar biasa, bahkan ayah kandungku sendiri membela orang asing, apa ini adalah konspirasi keluarga atau.. Aku malas mengataknnya. DAN AKU PERINGATKAN PADA KALIAN BEREMPAT, TIDAK ADA SATU PUN DARI KALIAN YANG BISA MENGUSIRKU KELUAR DARI RUMAH INI KARENA AKU JESSICA!!! ADALAH SATU-SATUNYA PEWARIS YANG SAH DAN AKU PEMEGANG STEMPEL KELUARGA." Jessica berbicara dengan sangat lantang agar semua orang yang ada di tempat itu bisa mendengar semuanya.

__ADS_1


Wanita itu juga menunjukkan stempel yang menjadi bukti nyata jika dia adalah pewaris utama seluruh kekayaan keluarga Smit. "Dan jika kalian tidak suka, kalian bisa pergi dan angkat kaki dari rumah ini."


Kevin memutar matanya jengah. "Benar-benar memuakkan." Bocah itu kemudian beranjak dan pergi menuju tempat makanan, dari pada melihat orang dewasa berdebat lebih baik dia mengisi perutnya yang kosong.


Di waktu bersamaan, tiba-tiba Rey datang. Dia tidak hanya sendiri tapi dengan beberapa pria berpakaian serba hitam yang mengawal dibelakangnya.


Tuan Smit buru-buru menyambut menantunya tersebut. "Menantuku, akhirnya kau datang juga. Maaf kalau situasinya membuatmu tidak nyaman karna terjadi sedikit keributan. Jessica, sebaiknya segera minta maaf pada Kakak Iparmu ini. Jangan sampai nama baik keluarga kita buruk dimatanya. Hahaha, sekali lagi saya minta maaf. Dan mari silahkan dan selamat menikmati acaranya."


Tuan Smit mempersilahkan Rey, laki-laki itu terlihat menggerlingkan matanya pada Jessica dan Laurent mengacungkan jempolnya.


Tiba-tiba Laurent menghentikan langkahnya.


"Aahh, itukan kakak Kevin. Pa, aku akan pergi menemui kakak Kevin ya?"


"Tidak boleh." Tiffany menghalangi dan tidak mengijinkan Laurent menghampiri Kevin. "Kau tidak boleh dekat dengan dia karena dia tidak sederajat dengan kita, apalagi bocah itu tidak tau sopan santun dan bermulut kasar. Tetap di sini bersama Mama dan Papa."


Laurent menyentak tangan Tiffany. "Tidak mau, jangan seenaknya mengatur-atur diriku karena aku bukan lagi putriku. Apa kau lupa jika kau dan Papa sudah resmi bercerai dan hal itu tertulis di sini. Kau sudah menandatangani surat perceraian ini, kau memang Mama yang melahirkanku tapi aku tidak pernah menyukaimu karena kau jahat dan tidak berhati. Pa, sekarang kau dan dia tidak ada hubungan apapun lagi."


Tiffany mendekati Laurent dan menatapnya dengan lembut. "Nak, apa yang sebenarnya kau bicarakan? Pasti ada orang yang menyuruhmu berbicara seperti ini bukan? Mana mungkin Mama bisa berbuat jahat pada putri kandungnya sendiri, jadi tunjukkan siapa yang menyuruh dan mengancammu biar Mama...!"


'Aku ingin kau menutup mulutmu selamatnya, jika wanita itu telah melahirkan anak kembar. Kau hanya boleh menyerahkan bayi laki-laki ini padanya karna bayi perempuan ini milikku.'


'Tapi nyonya..!'


'Aku akan memberimu bayaran yang setimpal. Segera tinggalkan negeri ini dan pergi sejauh mungkin.'


DEGG..!


Tiffany tersentak kaget mendengar sebuah rekaman yang isi di dalamnya adalah perbincangan antara dirinya dan dokter yang membantu persalinan Jessica sembilan tahun yang lalu. Tiffany kebingungan mencari dari mana asal suara rekaman itu berasal dari tidak bisa menemukannya.


Tiffany sudah pucat karena terlalu panik. Sementara itu, terlihat Jessica menyeringai dingin kearahnya.


"Tiffany Hong , terimalah kehancuranmu."

__ADS_1


-


Bersambung


__ADS_2