
Malam yang dingin telah berlalu. Keberadaan bulan telah digantikan oleh sang mentari. Sinarnya yang hangat telah sampai di ujung cakrawal.
Di sebuah rumah yang memiliki dua lantai, terlihat dua bocah laki-laki dan perempuan tengah berdebat sengit karena makanan. Mereka terlihat seperti kucing dan tikus yang selalu bertengkar dan tidah akur.
"Yakk! Bocah kutub, kembalikan makanan itu padaku. Kau 'kan sudah punya sendiri, kenapa malah mengambil punyaku? Bibi cantik, Kevin nakal." Aduh Laurent pada Jessica yang baru saja tiba dari dapur.
"Kevin..!"
Bocah itu mendengus berat. "Ck, dasar nona muda manja. Begitu saja pakai mengadu segala, dasar menyebalkan." Kevin mendorong piring itu dan mengembalikan pada Laurent
"Mi, kau tidak pergi ke rumah sakit hari ini? Kalau kau ke sana, sebaiknya bawa bocah manja ini bersamamu, dan kembalikan dia pada Papanya. Aku harus bersiap-siap untuk pergi ke sekolah."
Ting Tung..!
Kevin menoleh setelah mendengar suara bel pada pintu. "Ck, orang gila dari mana sih bertamu di pagi buta seperti ini." Kemudian Kevin bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
"Pagi prince, lama tidak bertemu! Bagaimana kabarmu, hum?"
Kevin menyingkirkan tangan pria itu dari kepalanya dan menatapnya tidak suka. "Ck, jangan mengacak rambutku sembarangan. Aku tidak suka. Untuk apa kau datang? Ingin bertemu mami? Mami tidak ada, jadi pergi saja." Usir Kevin pada pria berwajah kebarat-baratan tersebut.
"Kalau mamimu tidak ada, lalu yang berdiri di sana siapa? Hantu? Kau tidak bisa membohongi Paman, Sayang. Paman masuk dulu, oke."
Kevin mendecih dan menatap punggung laki-laki itu yang semakin menjauh itu dengan tajam. "Mau mendekati mami-ku heh? Tidak semudah itu Jack Antolin. Karena aku di sini untuk menghalangimu." Kevin menyeringai dingin.
Kevin menutup kembali pintu rumahnya dan menghampiri Jessica yang sedang berbincang dengan Antokin, dari kejauhan, Kevin bisa melihat jika Laurent begitu tidak suka pada pria tersebut. Kevin menyeringai, sebuah ide muncul dikepalanya.
"Hei bocah, kemari kau. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Dan ini sangat penting." ucap Kevin sambil memberi kode pada Laurent agar ikut dengannya.
"Ada apa? Memangnya hal penting apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Laurent penasaran.
"Kenapa mukamu kusut seperti pakaian belum di setrika melihat mamiku dekat dengan naga Antolin itu?" tanya Kevin penasaran.
Laurent mencerutkan bibirnya dan mendesah berat. "Karena aku ingin bibi cantik menjadi mamaku, aku ingin supaya dia menikah dengan papa, bukan dengan pria lain." jawab Laurent.
__ADS_1
Kevin terdiam sejenak dan mempertimbangkan ucapan Laurent. 'Aku rasa dia masih lebih baik daripada naga itu. Meskipun sikapnya dingin, tapi dia memiliki sisi hangat dan tidak penuh dengan kepura-puraan.' ujar Kevin membatin.
Bocah itu mengambil nafas panjang dan menghelanya. "Baiklah aku ada di pihakmu kali ini, aku setuju dengan idemu dan untuk itu kita harus bekerja sama dan membuat mereka jauh. Bagaimana? Kau setuju bukan?" mata Laurent berbinar seketika, gadis itu mengangguk dengan begitu antusias.
Bagaimana pun caranya, dia akan membuat Jessica bersatu dengan papanya. Itulah yang menjadi tekad Laurent saat ini.
Antolin sendiri adalah senior Jessica saat di London dulu, seperti dirinya, Antolin juga seorang dokter ahli bedah. Mereka memang cukup dekat tapi kedekatan mereka tidak disukai oleh Kevin sama sekali. Bahkan Kevin selalu bersikap dingin pada Antolin setiap pria itu datang menemui Ibunya.
"Mi, jam berapa ini? Bukankah kau harus pergi bekerja, kau bisa terlambat nanti!" seru Kevin mengintrupsi perbincangan antara Antolin dan Jessica.
Antolin menghampiri Kevin dan membungkuk di depannya. "Kau tenang saja, Nak! Mamimu akan Paman antarkan dengan selamat. Jadi kau tidak perlu cemas, oke." Kevin menyentak tangan Antolin dari kepalanya dan menatapnya dingin.
"Tidak perlu, Mamiku bisa berangkat sendiri. Lagi pula aku tidak mau satu mobil dengan pria penuh tipu daya sepertimu. Sebaiknya Paman pergi saja, karena kedatanganmu di sini hanya merusak pagiku saja. Mami kau hampir saja terlambat, sebaiknya kita berangkat sekarang." Ucap Kevin dan pergi begitu saja. Diikuti Laurent yang mengekor dibelakangnya.
Antolin hanya bisa menatap kepergian mereka dan mendesah berat, sepertinya dia harus bekerja lebih keras lagi untuk bisa mendapatkan hati Kevin.
****
Berada di rumah sakit bukan berarti Rey lepas tanggung jawab pada semua keperjaannya. Rey tidak bisa mempercayakan pekerjaannya pada sembarangan orang termasuk Lee Chan.
"PAPA..!"
Rey mengangkat wajahnya saat mendengar dobrakan keras pada pintu disertai lengkingan keras seorang gadis kecil yang datang bersama sosok jelita berparas ayu, lengkap dengan jas kedokterannya.
"Laurent." Ucap Rey lalu membalas pelukkan putri kecilnya. "Wajahmu terlihat berseri-seri, apa yang membuatmu sebahagia ini?" Tanya Rey penasaran.
Kemudian Laurent menunjuk Jessica yang berdiri di belakangnya. "Bibi cantik, Laurent sangat senang tinggal bersamanya. Dia sangat baik dan hangat, semalam dia memeluk Laurent dengan erat, bahkan bibi cantik tidak marah meskipun Laurent ngompol di atas tempat tidurnya, dan ompol Laurent membasahi gaun tidurnya."
"Laurent sangat bahagia dan nyaman berada di samping bibi cantik. Papa, bagaimana jika setelah keluar dari rumah sakit kau ajak bibi cantik berkencan? Laurent akan sangat setuju." Ujar Laurent panjang lebar.
Rey menepuk kepala coklat Laurent dan tersenyum tipis. "Bagaimana bisa kau mengigau sementara kau tidak sedang tidur." Ucapnya.
Rey merasa tidak enak pada Jessica karena ucapan putrinya yang sedikit ngelantur itu.
__ADS_1
"Baiklah, bisakah Laurent turun dulu. Bibi cantik harus memeriksa Papa Laurent dan mengganti perbannya." Gadis kecil itu mengangguk. Kemudian Laurent turun dari atas tubuh Rey dan pergi ke sofa yang ada ditengah ruangan ruangan.
Jessica mendekati Rey sambil tersenyum lembut. "Bagaimana keadaan Anda, Tuan Xi? Apa Anda sudah merasa lebih baik? Apa masih ada yang terasa sakit lukanya?" Tanya Jessica memastikan. Rey menggeleng.
"Hanya mata kiriku yang dari semalam terus berkedut nyeri." Jawabnya datar.
"Baiklah, aku akan memeriksanya. Maaf, aku harus melepaskan lilitan perbannya." Rey mengangguk.
Rey menutup matanya rapat-rapat ketika mencium aroma semerbak yang menguar dari tubuh Jessica, bukan dari aroma parfum ataupun sabun yang dia pakai untuk mari, tapi ini aroma yang berasal dari tubuhnya.
Aroma yang sama yang Rey cium sembilan tahun yang lalu, entah hanya sebuah kebetulan saja atau mungkin ada rahasia besar dibalik ini semua. Tatapan Jessica, suara dan aroma tubuhnya, mengingatkah Rey pada peristiwa sembilan tahun yang lalu.
"Ada apa, Tuan Lu? Kenapa Anda menatap saya seperti itu? Apakah ada yang salah di wajah saya?" tanya Jessica ditengah kesibukkannya.
Rey menggeleng. Kemudian Jessica melanjutkan pekerjaannya, beberapa lukanya masih terlihat basah dan sedikit mengeluarkan darah. "Setelah Anda keluar dari sini, saya harap Anda tetap merawat luka-lukanya dengan benar apalagi cidera pada mata kiri Anda benar-benar membutuhkan penanganan khusus."
"Kau tidak perlu mencemaskan keadaan suamiku, karena sudah pasti aku akan merawatnya dengan baik." Sahut seseorang dari arah belakang.
Terlihat Tiffany memasuki ruangan Rey dan menghampiri mereka berdua. "Jika pekerjaanmu sudah selesai, sebaiknya kau pergi karena suamiku tidak membutuhkan dirimu lagi."
Jessica menegakkan tubuhnya dan menatap Tiffany dingin. "Kau tidak bisa melarangku dengan sesuka hatimu meskipun kau adalah Istrinya. Aku adalah dokternya dan aku memiliki tanggung jawab penuh atas kondisi pasienku. Dan dibandingkan dirimu, jelas aku jauh lebih mengerti keadaannya saat ini."
"Jangan mendebatku, Jess!! Atau kau akan menyesal."
Jessica menyeringai meremehkan. "Kau pikir ancamanmu mempan padaku? Aku bukanlah wanita lemah yang mudah kau tindas, Tiffany Hong. Tuan Lu karena tugas saya sudah selesai. Saya permisi dulu, Laurent ingin ikut bibi dokter." Laurent mengangguk dengan antusias. Gadis kecil itu segera turun dari sofa dan ikut keluar bersama Jessica.
Gyutt...!
Tiffany mengepalkan tangannya dengan kuat, Jessica benar-bebar membuatnya kesal setengah mati "Kenapa kau membiarkan putri kita bersama orang asing? Kenapa kau tidak melarangnya saat wanita itu membawanya pergi?"
Rey mengangkat wajahnya dan menatap Tiffany dingin. "Jika sudah selesai, sebaiknya kau keluar. Keberadaanmu di sini hanya akan membuat kepalaku semakin ingin pecah." Ujar Rey lalu pandangannya kembali fokus pada Laptopnya
Tiffany semakin emosi, Rey mengusirnya.Rasanya sangat sulit di percaya. Dan dengan perasaan marah, wanita itu meninggalkan ruang inap suaminya dan pergi begitu saja.
__ADS_1
-
Bersambung