Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Teori Konyol


__ADS_3

Hujan masih mengguyur dengan derasnya bahkan hingga malam tiba. Terhitung sudah lima jam sejak tetes pertama turun dan membasahi apapun yang di laluinya.


Di sebuah rumah yang tidak bisa di katakan biasa-biasa saja terlihat seorang wanita berdiri di depan dinding kaca di sebuah ruangan yang seluruh bagiannya di dominasi warna putih.


Ditangannya menggenggam sebuah cangkir berisi Hot Chocolat yang masih mengepul. Sesekali Jessica menyeruput coklat panasnya.


Hujan di malam hari memang tidak menyisahkan apa-apa, selain warna suram yang menyelubungi langit malam. Bahkan langit terlihat lebih gelap dari malam-malam sebelumnya.


Aroma maskulin yang begitu khas langsung masuk dan berkaur di dalam hidungnya ketika pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok tampan yang baru saja keluar dari dalam sana.


Dan selanjutnya yang Jessica rasakan adalah sebuah kehangatan ketika sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. Jessica tersenyum. Tanpa melihat pun, tentu dia tau siapa yang saat ini tengah memeluknya itu.


"Sebaiknya segera kenakan pakaianmu, kau bisa sakit jika terus bertelanja** dada."


"Sebentar, biarkan aku memelukmu seperti ini."


Jessica menggenggam tangan Rey yang memeluk perutnya dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya yang tak tertutup apa-apa. Aroma maskulin yang berasal dari tubuh Rey semakin jelas berkaur di dalam hidungnya. Dan Jessica menyukai aroma itu.


Jessica melepaskan pelukannya kemudian berbalik. Posisinya dan Rey saling berhadapan. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Rey dan kemudian mengecup singkat bibirnya.


"Bukan begitu caranya berciuman, Nyonya. Tapi begini," Rey menarik pinggang ramping Jessica dan selanjutnya bibir mereka bertemu.


Tak ada penolakan dari Jessica, wanita itu menerima ciuman Rey dengan senang hati. Wanita itu bahkan mengijinkan lidah suaminya untuk masuk ke dalam mulutnya. Ciuman yang semula lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


Tangan Rey menarik pinggang Jessica lebih dekat hingga jarak diantara mereka tak ada lagi, sebelah tangannya menekan kepala belakang wanita itu untuk semakin memperdalam ciumannya.


Posisi mereka tidak lagi berdiri melainkan berbaring dengan Rey yang berada di atas tubuh Jessica. Kedua tangannya menggenggam tangan Jessica di sisi kepalanya.

__ADS_1


Sejauh ini tidak ada yang mengintrupsi ciuman mereka. Bahkan mereka tak terusik sedikit pun dengan dering pada ponsel milik Rey yang terus berbunyi. Sampai suara cempreng seorang gadis kecil mengejutkan mereka berdua dan membuat keduanya kelabakan karena panik.


"MA, PA, APA KALIAN SUDAH TIDUR?"


Buru-buru Jessica mendorong tubuh Rey dan bangkit dari posisinya. Jessica merapikan penampilannya kemudian menghampiri Laurent, sedangkan Rey pura-pura memainkan ponselnya.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kau belum tidur?" tanya Jessica penasaran.


"Aku tidak bisa tidur. Bisakah, Mama menemaniku sebentar?" tanya Laurent yang kemudian di balas anggukan oleh Jessica. Lalu pandangan Laurent bergulir pada sang ayah. Mata gadis kecil itu memicing. "Kenapa, Papa tidak pakai baju? Papa bisa sakit loh nanti, dan apa Apa tidak melihat wajah Mama yang sudah seperti kepiting rebus?"


"Apa yang kau katakan? Bukankah kau ingin tidur? Sebaiknya kita ke kamarmu sekarang. Mama akan menemanimu di sana." Jessica segera membawa Laurent keluar dari kamarnya sebelum bocah itu semakin banyak bicara.


.


.


Setelah menidurkan Laurent Jessica kembali ke kamarnya. Tapi setibanya di sana dia tidak melihat keberadaan Rey, sampai dia melihat pintu yang menghubungkan kamar dan balkon terbuka dan Jessica yakin Rey ada di sana.


"Apa bocah itu sudah tidur?" tanya Rey yang kemudian di balas anggukan oleh Jessica.


"Aku baru saja menidurkannya."


Rey melepaskan pelukan wanitanya kemudian berbalik dan mengangkat tubuh Jessica bridal style. "Kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi. Sebaiknya kita lanjutkan apa yang tadi tertunda. Dan malam ini akan ku buat kau terus menyeruhkan namaku."


-


Hari ini Jessica bangun dengan perasaan yang benar-benar malas. Pergulatannya dengan Rey semalam membuatnya sangat lelah. Dia tidak mengerti kenapa Rey selalu membuatnya tersisa setelah percintaan mereka.

__ADS_1


Jessica menyibak selimutnya dan kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Mungkin tubuhnya akan kembali segar setelah di bersihkan.


Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Jessica turun dan mendapati Rey tengah duduk di sofa ruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi pahit yang di buatkan oleh pelayan.


"Boss, aku datang."Seruan keras dari arah depan menyita perhatian Rey dan Jessica. Dari suaranya tentu saja mereka tau siapa yang datang. Dan tak lama berselang sosok Lee Chan datang sambil mengumbar senyum lebar.


"Tumben kau tiba pagi-pagi sekali?"


"Hahaha... Karena hari ini aku bangun lebih awal, Boss. Kucing-kucing liarku sedang berhalangan jadi tidak ada pertempuran yang melelahkan. Oya, Boss, mengenai proyek di Busan sudah berjalan 70%, dan setelah proyek itu terlaksana dan semua unit terjual habis pasti perusahaan kita akan mendapatkan untung yang sangat besar."


"Bagus sekali, jika keuntungan kita lebih dari yang di targetkan. Maka aku akan menaikan gajimu sebesar 10 persen."


Mata Lee Chan lantas membelalak. "Benarkah Boss?" Rey mengangguk. "Kkyyya, kau memang sangat baik Boss. Baiklah, aku akan berangkat ke Busan sekarang. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan di sana."


Rey memicingkan matanya. "Kau mau pergi lagi? Tumben, biasanya kau paling malas jika pulang-pergi antar kota karena jaraknya yang terlalu jauh?"


"Hahaha. Karena ada sesuatu yang sangat menarik yang membuatku selalu ingin pergi ke sana. Ya sudah, aku pergi dulu."


Rey mendengus. Lee Chan memang tidak pernah bisa berubah. Sekalinya playboy tetap saja playboy dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa di pungkiri.


Setelah Chan pergi, Jessica menghampiri Rey kemudian berdiri di depannya. "Apa anak-anak sudah berangkatu" tanya Jessica. Rey mendongak, dan mengangguk.


"Mereka baru saja di antarkan oleh sopir. Kau terlihat lebih segar pagi ini. Dan lihatlah, kau semakin cantik setelah kita sering melakukannya. Dan olah raga di malam hari sangat baik untuk sirkulasi darah dan kecantikan kulit."


Jessica memicingkan matanya. "Kau mendapatkan teori konyol seperti itu dari mana? Lagipula mana ada orang semakin cantik karena sering melakukannya? Dasar ngaco." Jessica beranjak dari hadapan Rey dan pergi begitu saja.


Rey terkekeh. Pria itu bangkit dari duduknya dan kemudian menyusul Jessica yang sedang berjalan menuju meja makan. Mereka hanya sarapan berdua saja karena di kembar berangkat lebih awal. Ada praktek di sekolah mereka dan mereka tidak boleh terlambat.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2