Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Tidak Pernah Menua


__ADS_3

Jessica bangkit dari tempat tidurnya, perlahan ia merapatkan cardigan rajutnya sambil berjalan ke arah jendela. Wanita itu tampak tertegun melihat pemandangan yang terlihat dari balik jendela kamarnya yang besar.


Sudah sejak lama pohon-pohon meranggas menyisakan batang-batang berwarna tua yang lembab. Jemarinya yang lentik menyentuh kaca jendela bening yang basah karena cuaca. Ia mendesah.


Tahun-tahun lagi telah berlalu. Musim selalu datang silih berganti, membawa kota ke dalam berbagai suasana. Seiring dengan berlalunya angin, di setiap triwulan aroma yang muncul dalam udara hari terasa berbeda dari waktu ke waktu.


Harum bunga di awal musim semi, harum matahari di dalam eksotika musim panas, angin kencang yang membawa gugurnya daun di musim gugur; dan kini semilir angin perlahan membawa suhu udara yang lebih rendah. Musim dingin telah tiba.


Dan kali ini masih samapl seperti tahun-tahun kemarin. Ketika menjelang natal, salju turun dengan intensitas tinggi setiap harinya, menimbun seluruh penjuru kota dalam selimut putih besar.


Lampu-lampu lebih cepat dinyalakan, membuat kota bagai arena karnaval dengan titik-titik cahaya memanjang di setiap ruas jalan. Orang-orang berjalan beriringan, saling merapat untuk menghalau rasa dingin yang mencekam.


Betapa waktu telah berlalu begitu cepat.


"Sedang apa kau di sini, Sayang?" bisik seseorang yang kini tengah memeluk Jessica dengan penuh kehangatan.


Jessica menggeleng. "Tidak ada, hanya sekedar melihat salju yang turun." Jawabnya.


Rey semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Jessica. Dagunya bersandar pada bahu kanan istrinya. Mereka memandang salju yang turun di luar dengan tatapan takjub. Dan ini adalah musim salju ke empat yang dia lewati bersama Rey.



Jessica tetaplah secantik empat tahun yang lalu. Semakin tua bukannya semakin jelek. Ibu dua anak itu malah terlihat semakin menawan. Dan begitu pula dengan Rey. Wajah baby face yang dia miliki membuat Rey terlihat tetap muda. Mereka berdua seperti tidak pernah menua.



Jessica melepaskan pelukannya dan kemudian berbalik. Posisi mereka saling berhadapan."Aku akan menyiapkan makan malam. Sebaiknya kau segera mandi." Jessica mengecup singkat bibir suaminya dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Kini Jessica menjadi begitu mahir dalam hal memasak. Ia sempat mengambil les memasak selama beberapa bulan, dan berhasil. Jessica menjadi jago memasak dan tidak perlu mengandalkan pelayan untuk menyiapkan sarapan.


Dan setelah berkutat hampir satu jam. Akhirnya lima menu berbeda tersaji di atas meja. Jessica tersenyum puas. Dia hanya perlu menunggu kedatangan suami serta kedua buah hatinya.


"Pagi, Ma." Sapa seorang gadis cantik seraya memeluk Jessica dari samping. Ibu dua anak itu sedikit menunduk ketika Laurent mencium salah satu pipinya. Ritual yang selalu mereka lakukan setiap pagi.


"Pagi juga sayang."



Putri kecilnya itu kini telah tumbuh menjadi gadis remaja berusia 12 tahun yang sangat cantik. Dan karena kecantikannya itu Laurent sering kali mendapatkan tawaran untuk bermain drama dan menjadi model iklan, tapi sayangnya tawaran itu segera di tolak tegas oleh Jessica. Bukan tanpa alasan, Jessica ingin putrinya tetap fokus pada sekolahnya.


"Di mana papa, Ma? Apa dia belum turun?"


"Mama rasa papamu masih ada di kamar, lalu di mana kakakmu?"


Laurent mengangkat bahunya. "Entah, aku sendiri tidak tau. Oya, Ma. Hari ini aku ada pelajaran tambahan dan mungkin akan terlambat pulang."


Laurent mendecih dan menatap sebal pada saudara kembarnya itu. "Cih, tau apa kau?! Kita beda kelas dan jurusan, jadi mana mungkin kau tau aku ada pelajaran tambahan atau tidak. Dan dari pada kau sibuk ikut campur. Urus saja urusanmu sendiri." Laurent menjulurkan lidahnya pada Kevin yang hanya memutar jengah matanya.



Sama halnya dengan Laurent. Kevin juga tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan dan berwajah menggemaskan. Tak salah jika dia menjadi idola banyak anak perempuan sebayanya, baik itu teman sekelas atau adik kelasnya. Kevin begitu popular.


Semakin dewasa, sifat dinginnya malah semakin menjadi. Tapi hal itu tak membuat para gadis berhenti mengejarnya, sikap dingin dan mulut tajamnya malah menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang Kevin Lu.


Rey yang melihat perdebatan kedua buah hatinya hanya bisa mendengus. Dan pemandangan semacam ini tentu bukanlah sesuatu yang baru baginya. Karena hampir setiap hari mereka bertengkar dan itu hanya karena masalah sepele saja.

__ADS_1


"Sudah cukup kalian berdua. Sebaiknya kita sarapan atau kalian akan terlambat datang ke sekolah." Tegur Rey menengahi perdebatan si kembar.


Dan jika Rey sudah angkat bicara, mereka berdua langsung tidak berlutut sedikit pun. Tanpa mengatakan apapun, Laurent dan Kevin berjalan menuju meja makan. Dan selanjutnya sarapan mereka berempat lewatkan dengan tenang.


-


Hiruk pikuk suasana perkantoran sudah mulai terasa. Jam masih menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, tetapi sudah banyak karyawan yang datang. Padahal jam kerja baru dimulai pukul setengah delapan.


Dan pemandangan semacam ini tentu saja sudah bukan lagi sesuatu yang baru. Mereka tidak ingin keduluan Boss-nya yang super perfeksionis.


Bukan lagi rahasia jika Rey sangat membenci ketidakdisiplinan. Karena bagi Rey waktu adalah uang, dan waktu sangat berharga lebih dari apapun. Rey tidak akan segan-segan memecat karyawannya yang suka bermalas-malasan dan selalu merugikan kantor. Jadi tidak salah jika dia di juluki sebagai Boss killer oleh para karyawan dan staf yang bekerja di kantornya.


Tepat pukul 7 pagi Rey tiba di kantornya. Semua bilik-bilik itu telah terisi penuh dan para karyawan sudah menempati posisi masing-masing. Rey masuk ke dalam ruangannya di ikuti oleh Lee Chan yang sedari tadi berjalan mengekor di belakangnya.


"Boss, ini adalah hasil keuangan bulan ini. Pendapatan perusahaan kembali mengalami peningkatan hingga 30%, dan perusahaan kita menempati posisi ke dua dalam bursa saham dunia."


Rey menerima map tersebut dan tersenyum puas. "Kerja bagus, pastikan pendapatan mengalami kenaikan setiap minggunya. Dan proyek baru kita di kawasan Gangnam aku serahkan padamu. Urus proyek itu, dan jika berhasil, aku akan menaikkan gajimu sebesar 10%. Tapi jika kau gagal, aku akan memotongnya sebesar 15%," terang Rey dan langsung membuat wajah Chan memucat.


Baru saja dia di terbangkan ke angkasa, Tapi dalam sekejap mata Rey menjatuhkannya ke dasar bumi. Sungguh tega sekali kau Rey. Chan mengangguk.


"Aku mengerti Boss, dan aku tidak akan mengecewakanmu."


"Kalau begitu keluarlah, dan satu lagi. Sebaiknya awasi kucing liarmu itu dengan baik. Jika kau tidak ingin aku sampai memecatnya juga. Jika bukan karena kau merengek dan memohon. Aku tidak sudi mempertahankannya di perusahaan ini!"


"Hahahha...! Kau memang yang terbaik, Boss. Kau tenang saja. Aku pasti akan mengurusnya dengan sangat baik. Kalau begitu saya permisi dulu."


Rey mendengus berat dan menggelengkan kepala. Hanya Lee Chan satu-satunya orang yang berani berbicara tanpa sopan santun padanya seperti itu dan menatap matanya secara langsung. Dan Rey tidak mempermasalahkannya. Selama dia bisa menjaga sikapnya di depan orang lain, maka Rey akan membiarkannya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2